TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#28
Rising Beats
Spoiler for Rising Beats:
Hari ini berlangsung seperti hari – hari kemarin yang tergolong biasa, bangun tidur, sarapan, berangkat ke sekolah, dan menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru, selebihnya? Mungkin di rumah aku menonton TV hingga tertidur.
Karena itulah aku menjadi bosan, hanya melewati sesuatu yang aku sudah tahu persis kronologinya, bagaikan robot yang sudah diperintah menjalani tugas.
Dan sekarang, permohonanku untuk menghilangkan rasa bosan ternyata dikabulkan, yang sayangnya harus dibayar dengan sesuatu yang sangat tidak kuinginkan.
Jantungku berdebar – debar, bukan karena rasa gembira yang berlebihan seperti orang yang baru menang lotre, namun karena rasa takut serta cemas.
Pikiran di kepalaku kini tengah berkecamuk, dan prasangka positif yang ingin menghilangkan pemikiran – pemikiran mengerikan malah berefek terbalik, membuatku menjadi semakin panik.
Langkah kaki semakin kupercepat, menelusuri koridor sekolah menuju tempat dimana siswa yang mendadak sakit beristirahat sampai jam terakhir.
Aku tidak tahu kenapa dengan jelas kenapa aku menjadi seperti ini, yang pasti, selain merasa ketakutan serta cemas, di sepanjang jalan aku malah selalu mengingat... Kematian ibu.
Ahh... Yang penting, sekarang aku harus menemuinya sekarang, memastikan bahwa pemikiran – pemikiran di kepalaku tidak sama dengan kenyataan.
Memasuki UKS, seperti biasa, ruangan ini terasa dingin dan terisi oleh rak – rak berbagai macam obat, juga dipenuhi oleh aroma disinfektan, bau yang membuat hidungku menjadi gatal, yang sayangnya sekarang aku tidak punya waktu untuk itu.
Aku menengok ke ujung kiri ruangan ini, tempat di mana dua kasur UKS berada. Tanpa membuang waktu lagi aku menghampiri dan membuka gorden pemisahnya.
Dan ternyata benar, masih memakai baju olah raga sekolah, adikku kini sedang duduk beristirahat di kasur UKS.
“Ka... Kak? Baga-“
Tanpa memperdulikan reaksinya, aku langsung mendekati dan memeluk dia dengan erat.
“Terima kasih Tuhan!”
Dan setetes air mata tiba – tiba mengalir di pipiku.
“Err... K-kak? Uhh...”
Tersadar dia merasa tidak nyaman, aku langsung menyudahi pelukanku. Sambil mengusap air mata di pipi dengan cepat menggunakan telapak tangan kiri.
Dan setelah menyeret salah satu kursi UKS ke sebelah kasurnya, aku mulai bertanya kenapa dia bisa sampai di ruang UKS, karena saat memeluknya aku sama sekali tidak merasakan badannya seperti kena demam.
Di luar dugaan, dia membuka selimut yang membungkus bagian badan bawahnya, menunjukkan pergelangan kakinya sedikit membesar serta diperban.
“Aku tadi terkilir saat lari jarak pendek.”
Oh.. Kini aku mengerti kenapa dia masih memakai baju olah raga.
Mengetahui alasannya, aku merogoh Handphonedari saku, lalu mulai menelpon seseorang.
“Huh? Kakak menelpon siapa?”
“Rumah tempat kau melakukan kerja sambilanmu, untuk memberitahu bahwa kau tidak bisa mengajar sekarang.”
Mendengar perkataanku, adikku langsung memasang wajah sungkan.
“E-eh? T-tidak usah repot – repot! Aku masih bisa mengajar kok!”
Namun sebelum aku membalas ocehan adikku, panggilanku diangkat.
“Deng-Halo? Ya, apa ini...”
Sambil berbicara pada penerima, aku keluar dari tempat ini agar adikku tidak mengganggu.
Beberapa menit pun berlalu, dan aku kembali masuk ke ruang UKS dengan wajah yang puas.
“Mereka bilang tidak apa – apa, kau bisa beristirahat untuk beberapa hari ke depan.”
Dan ekspresi adikku menjadi takut.
“E-eh, tapi? Bagaimana dengan...”
“Mereka bilang tidak akan memotongnya.”
“Huh?”
Dia memiringkan kepalanya, keheranan dengan jawabanku.
“Mereka bilang seperti itu, dan juga ‘Semoga cepat sembuh’.”
“Huft.. Syukurlah.”
“Kau benar – benar bekerja keras ya? Sepertinya keputusanmu menjadi guru privat memang tepat.”
Dia hanya tersenyum lebar, benar – benar senyuman yang penuh akan kemenangan.
“Kalau begitu, aku akan berusaha lebih keras darimu!”
Kami berdua langsung tertawa, karena aku yang mengakui kekalahan. Yah, sepertinya aku juga harus tersenyum lebih pada pelanggan agar mendapat uang lebih banyak.
Karena itulah aku menjadi bosan, hanya melewati sesuatu yang aku sudah tahu persis kronologinya, bagaikan robot yang sudah diperintah menjalani tugas.
Dan sekarang, permohonanku untuk menghilangkan rasa bosan ternyata dikabulkan, yang sayangnya harus dibayar dengan sesuatu yang sangat tidak kuinginkan.
Jantungku berdebar – debar, bukan karena rasa gembira yang berlebihan seperti orang yang baru menang lotre, namun karena rasa takut serta cemas.
Pikiran di kepalaku kini tengah berkecamuk, dan prasangka positif yang ingin menghilangkan pemikiran – pemikiran mengerikan malah berefek terbalik, membuatku menjadi semakin panik.
Langkah kaki semakin kupercepat, menelusuri koridor sekolah menuju tempat dimana siswa yang mendadak sakit beristirahat sampai jam terakhir.
Aku tidak tahu kenapa dengan jelas kenapa aku menjadi seperti ini, yang pasti, selain merasa ketakutan serta cemas, di sepanjang jalan aku malah selalu mengingat... Kematian ibu.
Ahh... Yang penting, sekarang aku harus menemuinya sekarang, memastikan bahwa pemikiran – pemikiran di kepalaku tidak sama dengan kenyataan.
Memasuki UKS, seperti biasa, ruangan ini terasa dingin dan terisi oleh rak – rak berbagai macam obat, juga dipenuhi oleh aroma disinfektan, bau yang membuat hidungku menjadi gatal, yang sayangnya sekarang aku tidak punya waktu untuk itu.
Aku menengok ke ujung kiri ruangan ini, tempat di mana dua kasur UKS berada. Tanpa membuang waktu lagi aku menghampiri dan membuka gorden pemisahnya.
Dan ternyata benar, masih memakai baju olah raga sekolah, adikku kini sedang duduk beristirahat di kasur UKS.
“Ka... Kak? Baga-“
Tanpa memperdulikan reaksinya, aku langsung mendekati dan memeluk dia dengan erat.
“Terima kasih Tuhan!”
Dan setetes air mata tiba – tiba mengalir di pipiku.
“Err... K-kak? Uhh...”
Tersadar dia merasa tidak nyaman, aku langsung menyudahi pelukanku. Sambil mengusap air mata di pipi dengan cepat menggunakan telapak tangan kiri.
Dan setelah menyeret salah satu kursi UKS ke sebelah kasurnya, aku mulai bertanya kenapa dia bisa sampai di ruang UKS, karena saat memeluknya aku sama sekali tidak merasakan badannya seperti kena demam.
Di luar dugaan, dia membuka selimut yang membungkus bagian badan bawahnya, menunjukkan pergelangan kakinya sedikit membesar serta diperban.
“Aku tadi terkilir saat lari jarak pendek.”
Oh.. Kini aku mengerti kenapa dia masih memakai baju olah raga.
Mengetahui alasannya, aku merogoh Handphonedari saku, lalu mulai menelpon seseorang.
“Huh? Kakak menelpon siapa?”
“Rumah tempat kau melakukan kerja sambilanmu, untuk memberitahu bahwa kau tidak bisa mengajar sekarang.”
Mendengar perkataanku, adikku langsung memasang wajah sungkan.
“E-eh? T-tidak usah repot – repot! Aku masih bisa mengajar kok!”
Namun sebelum aku membalas ocehan adikku, panggilanku diangkat.
“Deng-Halo? Ya, apa ini...”
Sambil berbicara pada penerima, aku keluar dari tempat ini agar adikku tidak mengganggu.
Beberapa menit pun berlalu, dan aku kembali masuk ke ruang UKS dengan wajah yang puas.
“Mereka bilang tidak apa – apa, kau bisa beristirahat untuk beberapa hari ke depan.”
Dan ekspresi adikku menjadi takut.
“E-eh, tapi? Bagaimana dengan...”
“Mereka bilang tidak akan memotongnya.”
“Huh?”
Dia memiringkan kepalanya, keheranan dengan jawabanku.
“Mereka bilang seperti itu, dan juga ‘Semoga cepat sembuh’.”
“Huft.. Syukurlah.”
“Kau benar – benar bekerja keras ya? Sepertinya keputusanmu menjadi guru privat memang tepat.”
Dia hanya tersenyum lebar, benar – benar senyuman yang penuh akan kemenangan.
“Kalau begitu, aku akan berusaha lebih keras darimu!”
Kami berdua langsung tertawa, karena aku yang mengakui kekalahan. Yah, sepertinya aku juga harus tersenyum lebih pada pelanggan agar mendapat uang lebih banyak.
Fin
Diubah oleh lacie. 10-04-2013 18:26
0
Kutip
Balas