Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.8K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.3KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#904
6. Unloving Father
Milo memencet bel rumah Vega.
Rumah yang terlihat modern minimalis ini terlihat nyaman dari luarnya.
Masih belum ada yang menjawab, Milo memencet bel sekali lagi.
Tiba-tiba pintu pagar dibuka dari dalam dan Vega keluar menyambutnya.

"Masuk aja..." Vega mempersilakan Milo.

Ketika memasuki halaman melewati jalan setapak dari batu, terdapat sebuah garasi persis di depan pintu pagar tadi.
Milo harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk masuk melalui pintu utama yang langsung menuju ke lantai 2.
Cukup unik untuk bentuk rumah jaman sekarang.

"Mbak, tolong ambilin minum." Vega berbicara kepada pembantunya yang sedang duduk di ruang tamu dan menonton TV.

Pembantunya menoleh dan kemudian bergegas bangkit menuju dapur.
Milo mengikuti Vega masuk ke dalam pintu yang terletak di samping tangga.
Ternyata ada ruangan yang jalan masuknya menurun di samping tangga.
Asumsi Milo, ruangan itu tepat di atas garasi mobil.

Pintu tebal yang terbuat dari kayu dibukanya.
Saat Vega menyalakan lampu, Milo takjub dengan ruangan ini.
Seluruh permukaannya dilapis oleh kain sampai ke langit-langit.
Terdapat sebuah kaca besar yang berhadapan dengan pintu masuk.

Di dalamnya, tidak kurang 3 buah gitar berbaris di guitar stand.
Ada sebuah piano di seberang lainnya.
Ruang ini jelas adalah ruang musik.

"Dulu bokap nyokap gue sering main gitar bareng di sini katanya. Tapi, lama nggak dipake jadi maklum ya kalo agak berdebu."

Milo hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi empuk yang ada di sana.

"Kita latihan senam nya di sini?" Milo bertanya.

"Iya. Soalnya ini satu-satunya ruangan yang ada kaca gede, dan peredam suara. Jadi kita bebas latihan tanpa gangguin tetangga."

"Bokap nyokap elo kemana?"

"Bokap..ke luar negeri. Ngurus restoran di Aussie. Kalo nyokap..." Vega terdiam dan tertegun sesaat. Mengambil jeda di antara kalimatnya. "Nyokap nggak ada." Vega menyelesaikan kalimatnya.

"Nyokap pergi juga?" Milo bertanya penasaran sambil memegang-megang piano yang ada di sana dengan iseng.

"Maksud gue,...udah nggak ada."

Milo baru menyadari dia salah mengajukan pertanyaan.
Selama ini diantara mereka tidak pernah ada percakapan berarti, sehingga Milo tidak menanyakan apapun mengenai keluarga Vega.
Tapi kini dia tahu, ibunya sudah meninggal.
Rasa bersalah menyusupi perasaan Milo.

"..tenang aja lagi. Gue nggak sedih lagi." Vega cepat-cepat menyambung.

Sepertinya Vega tersadar ekspresi Milo yang langsung muram, Milo cepat-cepat memperbaiki ekspresi wajahnya.

"Iya...syukurlah kalo elo tegar."

Vega mengangguk pelan.

"Kalo boleh tau, kenapa meninggalnya...?" Milo bertanya dengan suara sepelan mungkin dan sehati-hati mungkin agar tidak menyinggung Vega.

Bagi Milo yang dibesarkan hanya oleh ibu dan kakaknya, tentu mengerti bagaimana arti kehadiran seorang ibu baginya.
Sangat berarti melebihi apapun.
Jadi kehilangan seorang ibu pasti juga adalah peristiwa paling menyakitkan.

"Nggak inget. Waktu itu gue belom sampe setaon umurnya..." Vega menjelaskan. "Sini deh, ikut..."

Vega berjalan keluar dari ruang musik dengan Milo berjalan di belakangnya.
Disusulnya menuju sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat.
Saat dibuka, samar-samar Milo bisa melihat cahaya matahari menyusup dari balik jendela yang tirainya tertutup.
Vega menyibak tirai besar yang menutupi jendela itu.

Partikel debu beterbangan memenuhi ruangan itu.
Tapi Milo lebih kaget melihat rak-rak tinggi memenuhi seisi ruangan.
Setiap rak itu berisi buku-buku tebal yang tampaknya sudah agak tua.
Lebih tepatnya karena tidak pernah tersentuh, debu menumpuk di permukaan sampul bukunya.

Pandangan Milo teralihkan menuju bingkai berisi foto yang dicetak kanvas di antara 2 rak besar.
Letaknya sangat menyolok dan dapat dikenali oleh siapapun, itu adalah foto sepasang suami istri yang tampak sangat bahagia.
Foto pernikahan dengan gaun pengantin wanitanya terjuntai hingga ke lantai.
Mahkota kecil yang tersemat di puncak kepalanya menempel pada wedding veil berwarna putih tipis.

"Itu bokap nyokap. Namanya Marco sama Lauren." Vega mulai bercerita. "Kata bokap...sebelum mereka nikah, nyokap emang udah pernah kena penyakit serius... sesuatu yang berhubungan sama otak,

darah, dan sejenisnya..."

Milo mengamati baik-baik wajah ibunya Vega.
Cantik sekali ibunya.
Wajahnya lembut dan senyumnya menggambarkan figur penyayang.
Sayang sekali ibunya harus meninggal terlalu dini.

"Waktu hamil...dan ngelahirin gue, nyokap maksa pingin lahir normal." Vega melanjutkan. "Padahal semua dokter udah kasih saran untuk operasi caesar aja. Mengingat pernah ada riwayat gangguan otak dan

darah...resikonya tinggi kalau nyokap gue ada dibawah tekanan melahirkan normal."

"Gue tebak...tapi pada akhirnya nyokap elo tetep melahirkan normal?"

Vega menjawab dengan anggukan kepala dan kemudian menatap lurus ke wajah ibunya.

"Akhirnya setelah melahirkan,...kondisinya langsung drop. Memburuk, selama hampir setengah tahun bolak balik rumah sakit, ICU, dan akhirnya meninggal."

Milo merasakan kepahitan dalam kalimat Vega yang lancar terucap itu.
Sepertinya Vega tidak ingin menunjukkan kesedihan itu.

"Gue sempet menyalahkan nyokap...kenapa maksain diri untuk melahirkan normal. Apakah dia nggak sayang sama gue? Pada akhirnya dia meninggal sebelum sempet ngerawat gue dengan baik..."

Milo baru akan membantah ketika Vega lanjut berbicara.

"Tapi,...pada akhirnya gue sadar. Dengan nyokap bertahan mengandung dan melahirkan gue, hingga sekarang gue ada ke dunia semua pasti karena rasa sayang dia yang sangat besar. Gue bersyukur atas

hal itu."

Milo mengangguk dengan percakapan satu arah ini.
Sekarang sepertinya Vega hanya butuh pendengar, bukan komentator.
Dan meskipun bukan peristiwa yang besar, tapi Milo merasa tersentuh.
Baru kali ini Vega terbuka padanya dan menceritakan masalahnya yang bisa dibilang cukup berat.

"Karena kehilangan nyokap, jadi elo menutup diri dari semua...dari keceriaan elo?" Milo bertanya frontal.

Dia yakin dengan perangai Vega, pertanyaan itu tidak akan menyinggungnya.
Tapi Vega menjawabnya dengan gelengan kepala.

"Nyokap hanya meninggalkan gue karena terpaksa. Karena memang udah waktunya dia dipanggil Tuhan. Tapi bokap gue, atas dasar rasa cintanya yang sangat besar kepada nyokap...dia menyalahkan

keberadaan gue."

"Maksudnya?!" Milo terkejut karena penjelasan Vega.

"Enggak sih,...bokap gue nggak pernah bilang dia menyalahkan gue. Tapi sejak itu semua urusan mengasuh gue diserahin ke oma dan mbak,...lalu dia sibuk ngurus restoran, buka cabang sana-sini sampe

ke luar negeri. Seolah nggak peduli dengan apa yang terjadi sama gue di sini..."

"Jangan negatif thinking Ve..." Milo akhirnya buka suara. "Justru menurut gue, bokap elo sayang sama elo. Dia tahu, sekarang cuma dia tempat elo bergantung dan bersandar kelak. Pasti sekarang bokap elo

bekerja sekeras-kerasnya untuk diwarisin ke elo kelak. Buktinya, elo masih diasuh dengan baik, tinggal di rumah yang bagus, dan diberi makan yang layak. Seandainya bokap elo emang menyalahkan elo,

pasti saat itu juga elo akan disumbangin ke panti asuhan."

Vega bengong dan menatap Milo yang berkotbah panjang lebar.
Wah, sepertinya Milo sudah kelewatan.
Dia sadar kalimatnya barusan secara tidak langsung ingin ikut campur dan sok menasehati Vega.
Padahal dia hanya mendengar cerita barusan sekilas.
Namun di luar dugaan, Vega tersenyum perlahan.

"Bener juga ya..." Vega bergumam. "Gue belom pernah mikir sampe ke sana..."

Milo menghembuskan nafas lega.

"Makanya neng....banyakin cerita dong sama orang lain. Yah..paling enggak, banyak-banyak cerita ke gue. Jadi jangan cepat-cepat mandang sesuatu dari sudut pandang elo aja. Setiap orang hidup itu, perlu

sosialisasi dan masukan orang lain, tau." Milo berkata dengan gaya sok menggurui.

Suasana mencair di antara mereka.
Satu lagi kemajuan di antara mereka.
Milo lega sekali akhirnya Vega mau mulai membuka diri kepadanya.
Ditemukannya satu lagi hal menarik yang dipelajarinya dari Vega dan patut diingat.
Ternyata segala hal itu ada penyebabnya.
Untuk kasus Vega, dia menutup dirinya karena takut dijauhi orang lain seperti ayahnya menjauhinya.
Pada dasarnya, Vega hanya butuh perhatian dan seseorang untuk diajak bicara.

"Non...ada temennya satu lagi dateng..." mendadak pembantunya muncul dari pintu.

"Iya. Yuk mulai latihan senamnya." Vega berjalan keluar perpustakaan untuk berlatih senam di ruang musik, diikuti Milo.

Sepanjang sisa hari itu, lebih banyak obrolan dimulai antara Vega dan Milo.
Syukurlah juga, kehadiran Chery yang ceriwis tapi smart melengkapi kombinasi mereka.
Saling memberi masukan diselingi canda dan tawa, mereka berlatih senam.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.