- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#892
5. Chosen
Vega menginjakkan kakinya ke dalam halaman sekolah.
Menyeberangi pelataran dekat parkiran guru, Vega masuk ke dalam kelas 9-1 yang terletak paling dekat dengan ruang kepala sekolah.
Ketika sampai di bangkunya, masih kosong.
Milo belum tiba.
Entah mengapa, Vega berharap Milo sudah datang lebih dulu sebelumnya.
Namun cepat-cepat ditepuknya pipinya sendiri.
Sudah hampir sebulan mereka duduk bersebelahan.
Rasanya perlahan-lahan sekolah tidak lagi menyebalkan bagi Vega.
Panjang umur, Milo yang baru saja dipikirkannya datang.
Tunggu,...Vega memikirkan Milo?
Ah, pasti dia kurang tidur semalam.
Makanya pikirannya bisa ngelantur begini.
"Pagi Ve..." Milo menyapa seperti biasa.
"Ya..." Vega juga menyahut seadanya seperti biasa.
"Udah bikin PR?" Milo bertanya basa basi. Kemudian mengeluarkan buku Pr dari tasnya. "Nih, masih keburu buat nyalin."
Vega mendengus atas sikap Milo yang meremehkannya.
Kejadiannya 2 minggu lalu, ketika Vega pada malam harinya terlalu lelah setelah berlatih taekwondo.
Dia tertidur lelap hingga pagi.
Barulah diingatnya dia lupa membuat PR.
Hari itu, seperti kebakaran jenggot Vega datang ke sekolah secepatnya dan meminjam PR Milo.
Dengan tulisan berantakan karena buru-buru, Vega menyalin dari buku Milo.
Begitu pula Milo membantu mendiktekan setiap kalimatnya agar lebih cepat selesai.
Sejak kejadian panik tersebut, Milo sering mengolok-oloknya 'boneka bedak'.
"Habisnya, kalo elo panik, mukanya pucet, putihhhh banget kayak pake bedak sekilo!" Ledekan Milo hanya ditanggapi wajah garang Vega.
Awalnya Milo langsung terdiam setiap kali wajah Vega berubah galak.
Lama kelamaan, seperti sudah kebal Milo tetap santai saja ditatap setajam apapun.
Sebenarnya Vega sama sekali tidak pernah marah dengan ledekan Milo.
Malah, di dalam hatinya Vega merasa panggilan itu khusus dibuat untuknya, terdengar lucu.
Pak Sariman, guru olahraga masuk ke dalam kelas.
Menenteng buku pelajaran, itu tandanya hari ini tidak ada kegiatan olahraga di lapangan.
"Sebelum mulai pelajaran, bapak umumkan dulu. Untuk ujian kelulusan, bapak ingin kalian membuat kelompok senam."
Sekelas tercengang dengan sambaran petir Pak Sariman pagi itu.
"Senam kan' buat ibu-ibu, pak!" seorang murid menyeletuk.
"Nah, justru itu maksud bapak. Selama ini, imej senam melekat ke ibu-ibu saja. Untuk itu, tantangan untuk kalian adalah....membuat koreografi senam powerful untuk anak muda."
Sekelas kembali tercengang untuk yang kedua kali.
Beberapa anak berspekulasi Pak Sariman salah makan sarapan tadi pagi sehingga memunculkan ide ujian yang begitu absurd.
Ada juga yang berbisik, Pak Sariman pasti habis bertengkar dengan istrinya maka melampiaskan kekesalan untuk memberi penderitaan kepada murid-muridnya.
"Kelompoknya dibagi berdasarkan..."
"Pilih sendiri aja ya pak?" Salah seorang anak cewek mengedipkan mata seperti kelilipan biji kacang hijau.
Setelah mengedipkan mata penuh arti, cewek itu menoleh ke Milo.
Vega yang duduk di sebelahnya, kontan ikut melihat gelagat cewek itu.
Dalam hati, Vega mengangguk maklum.
Pantas saja Milo pernah bilang padanya bahwa anak cewek lain seolah ingin menelannya bulat-bulat.
Ditatap seperti memantrai ilmu santet seperti itu, jelas Milo ngeri.
"Baiklah. Kelompoknya pilih sendiri masing-masing 4 orang." Pak Sariman menyelesaikan kalimatnya yang terpotong.
"Nanti kita sekelompok ya."
"Hah??" Vega membalas dengan ekspresi melompong ke arah Milo.
"Yang barusan Pak Sariman bilang. Kita kelompokan ya." Milo mengulang perkataannya.
"Bukannya anak cewek sama anak cewek,...anak cowok sama cowok juga ya?"
"Bapaknya nggak bilang begitu kok. Bebas mau cowok cewek." Milo berkelit. "Elo kan jago olahraga Ve... pasti bisa bikin koreografi bagus."
"Gue Taekwondo, bukan ibu-ibu senam hamil." Vega lagi-lagi menolak halus.
"Bantuin temen lah... oke? oke?" Milo memasang wajah memelas.
Wajah Milo seperti ini yang membuat Vega tidak bisa berkata 'tidak'.
Sebenarnya, tugas membuat koreografi tidak sulit.
Vega bisa saja melakukannya.
"Vega..." terdengar suara memanggilnya.
Saat Vega menoleh, tampak Chery sedang memanggilnya.
"Masih bisa nambah satu orang?" Chery bertanya padanya.
"... masih." Vega menjawab.
Dari kejauhan, tampak anak-anak cewek lain bersahut-sahutan memanggil nama Milo dan mengajaknya sekelompok bersama.
Dalam hati, Vega tertawa kecil.
Seandainya cewek-cewek itu tahu Milo memintanya pertama kali untuk sekelompok bersama, pasti 3/4 dari mereka langsung mati berdiri...
Dan sisa 1/4nya dilarikan ke rumah sakit jiwa karena shock berat.
Menyeberangi pelataran dekat parkiran guru, Vega masuk ke dalam kelas 9-1 yang terletak paling dekat dengan ruang kepala sekolah.
Ketika sampai di bangkunya, masih kosong.
Milo belum tiba.
Entah mengapa, Vega berharap Milo sudah datang lebih dulu sebelumnya.
Namun cepat-cepat ditepuknya pipinya sendiri.
Sudah hampir sebulan mereka duduk bersebelahan.
Rasanya perlahan-lahan sekolah tidak lagi menyebalkan bagi Vega.
Panjang umur, Milo yang baru saja dipikirkannya datang.
Tunggu,...Vega memikirkan Milo?
Ah, pasti dia kurang tidur semalam.
Makanya pikirannya bisa ngelantur begini.
"Pagi Ve..." Milo menyapa seperti biasa.
"Ya..." Vega juga menyahut seadanya seperti biasa.
"Udah bikin PR?" Milo bertanya basa basi. Kemudian mengeluarkan buku Pr dari tasnya. "Nih, masih keburu buat nyalin."
Vega mendengus atas sikap Milo yang meremehkannya.
Kejadiannya 2 minggu lalu, ketika Vega pada malam harinya terlalu lelah setelah berlatih taekwondo.
Dia tertidur lelap hingga pagi.
Barulah diingatnya dia lupa membuat PR.
Hari itu, seperti kebakaran jenggot Vega datang ke sekolah secepatnya dan meminjam PR Milo.
Dengan tulisan berantakan karena buru-buru, Vega menyalin dari buku Milo.
Begitu pula Milo membantu mendiktekan setiap kalimatnya agar lebih cepat selesai.
Sejak kejadian panik tersebut, Milo sering mengolok-oloknya 'boneka bedak'.
"Habisnya, kalo elo panik, mukanya pucet, putihhhh banget kayak pake bedak sekilo!" Ledekan Milo hanya ditanggapi wajah garang Vega.
Awalnya Milo langsung terdiam setiap kali wajah Vega berubah galak.
Lama kelamaan, seperti sudah kebal Milo tetap santai saja ditatap setajam apapun.
Sebenarnya Vega sama sekali tidak pernah marah dengan ledekan Milo.
Malah, di dalam hatinya Vega merasa panggilan itu khusus dibuat untuknya, terdengar lucu.
Pak Sariman, guru olahraga masuk ke dalam kelas.
Menenteng buku pelajaran, itu tandanya hari ini tidak ada kegiatan olahraga di lapangan.
"Sebelum mulai pelajaran, bapak umumkan dulu. Untuk ujian kelulusan, bapak ingin kalian membuat kelompok senam."
Sekelas tercengang dengan sambaran petir Pak Sariman pagi itu.
"Senam kan' buat ibu-ibu, pak!" seorang murid menyeletuk.
"Nah, justru itu maksud bapak. Selama ini, imej senam melekat ke ibu-ibu saja. Untuk itu, tantangan untuk kalian adalah....membuat koreografi senam powerful untuk anak muda."
Sekelas kembali tercengang untuk yang kedua kali.
Beberapa anak berspekulasi Pak Sariman salah makan sarapan tadi pagi sehingga memunculkan ide ujian yang begitu absurd.
Ada juga yang berbisik, Pak Sariman pasti habis bertengkar dengan istrinya maka melampiaskan kekesalan untuk memberi penderitaan kepada murid-muridnya.
"Kelompoknya dibagi berdasarkan..."
"Pilih sendiri aja ya pak?" Salah seorang anak cewek mengedipkan mata seperti kelilipan biji kacang hijau.
Setelah mengedipkan mata penuh arti, cewek itu menoleh ke Milo.
Vega yang duduk di sebelahnya, kontan ikut melihat gelagat cewek itu.
Dalam hati, Vega mengangguk maklum.
Pantas saja Milo pernah bilang padanya bahwa anak cewek lain seolah ingin menelannya bulat-bulat.
Ditatap seperti memantrai ilmu santet seperti itu, jelas Milo ngeri.
"Baiklah. Kelompoknya pilih sendiri masing-masing 4 orang." Pak Sariman menyelesaikan kalimatnya yang terpotong.
"Nanti kita sekelompok ya."
"Hah??" Vega membalas dengan ekspresi melompong ke arah Milo.
"Yang barusan Pak Sariman bilang. Kita kelompokan ya." Milo mengulang perkataannya.
"Bukannya anak cewek sama anak cewek,...anak cowok sama cowok juga ya?"
"Bapaknya nggak bilang begitu kok. Bebas mau cowok cewek." Milo berkelit. "Elo kan jago olahraga Ve... pasti bisa bikin koreografi bagus."
"Gue Taekwondo, bukan ibu-ibu senam hamil." Vega lagi-lagi menolak halus.
"Bantuin temen lah... oke? oke?" Milo memasang wajah memelas.
Wajah Milo seperti ini yang membuat Vega tidak bisa berkata 'tidak'.
Sebenarnya, tugas membuat koreografi tidak sulit.
Vega bisa saja melakukannya.
"Vega..." terdengar suara memanggilnya.
Saat Vega menoleh, tampak Chery sedang memanggilnya.
"Masih bisa nambah satu orang?" Chery bertanya padanya.
"... masih." Vega menjawab.
Dari kejauhan, tampak anak-anak cewek lain bersahut-sahutan memanggil nama Milo dan mengajaknya sekelompok bersama.
Dalam hati, Vega tertawa kecil.
Seandainya cewek-cewek itu tahu Milo memintanya pertama kali untuk sekelompok bersama, pasti 3/4 dari mereka langsung mati berdiri...
Dan sisa 1/4nya dilarikan ke rumah sakit jiwa karena shock berat.
0