TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#22
Disorderly Design
Spoiler for Disorderly Design:
“Huaahh...”
Kedua tangan kurentangkan ke atas, menandakan bahwa kini aku sudah terbangun dari status berada di dunia mimpi.
Meski aku sadar bahwa sekarang sudah harus memulai aktifitas, ternyata sebagian tubuhku menolak hal tersebut.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan bagian punggungku, yang menolak perintah dari otakku untuk bangun dari kasur, malah bersikeras berusaha untuk kembali menempel ke benda empuk tersebut.
Pada akhirnya keinginan badanku telah mengalahkan keinginan pikiran, yah tapi, kupikir tidur lagi tidak ada salahnya juga.
Tapi sebelum menutup kedua mataku lagi, aku merasa salah satu bagian badanku sangat bersemangat, dan itu... Oh sialan, sepertinya aku harus ke toilet sekarang.
“Ahh... Enaknya...”
Bunyi siraman air toilet terdengar memenuhi ruangan, sementara aku menarik resleting sambil melepaskan suara yang sangat bahagia.
Hmm... Mungkin karena pengaruh angin Fallyang dingin membuat panggilan alam terasa lebih besar dari biasanya.
Ahh... Karena sudah terbangun, lebih baik aku menuruti perintah perutku saja sekarang.
Aneh.
Itulah yang kupikirkan sekarang, dan walaupun sekarang hari libur, normalnya ketika aku sedang menuruni tangga lantai dua, akan tercium oleh hidung sebuah aroma masakan.
Dan sekarang, hal itu tidak terjadi, bahkan TV yang biasanya dinyalakan saat pagi hari olehnya, sekarang tidak terdengar suaranya.
Sesuatu telah terjadi, ya, dan hal tersebut memicu terbesitnya prasangka – prasangka buruk di kepalaku.
Aku segera menghampiri kamar adikku, kemudian mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok!
“Elza?”
Tidak ada jawaban, aku pun mengulangi ketukan dan perkataanku lagi.
Tok, tok, tok!
“Elza? Kau dengar tidak? Sekarang sudah pagi!”
Namun sama seperti sebelumnya, hanya keheninganlah yang menjawab ucapanku, merasa ada yang tidak beres, kali ini aku mencoba untuk mendobrak pintunya.
Ketika aku memegang gagang pintunya, diluar dugaan ternyata pintunya sama sekali tidak dikunci, hal yang cukup aneh sebenarnya.
Kamar milik adikku sih hampir sama sebetulnya seperti kepunyaanku, ada jendela, kasur satu orang, meja belajar, serta kipas angin.
Tapi cukup berbeda karena pendekorasiannya, beberapa koleksi boneka hewannya, juga... Gumpalan selimut biru?
“Arrgghh...”
Sebuah erangan terdengar dari buntalan itu, membuatku sedikit kaget, tapi mengingat di rumah ini hanya ada kami berdua, aku berjalan menghampiri kasur adikku.
Aku kini duduk di tepi kasurnya, dan mulai bertanya.
“Kau kenapa Elza?”
Dia hanya bergoyang sedikit, membuat aku kembali bertanya.
“Kau kenapa sih? Ini sudah pagi, hey!”
Kali ini dia menjawabku, namun seperti sambil menahan rasa sakit.
“Teh... Dingin.”
“Apa kau bercanda? Bukannya sekarang masih pagi ya?”
Tiba – tiba gumpalan tersebut menyeruduk diriku, membuatku langsung terlempar ke lantai rumah yang terasa sangat dingin.
“Ugh!”
Serudukan bukan sesuatu yang kukira, dan yah, meski kepala terasa pusing, aku mencoba menengok ke arah adikku berada.
Wajahnya kini nampak di tengah – tengah gumpalan selimut, memasang ekspresi yang marah bercampur menahan sesuatu.
Oh... Sekarang aku mengerti apa yang sedang terjadi.
“AKU TIDAK PEDULI YANG PENTING KAKAK SEKARANG AM-UGHH!”
Dia meringkuk, sepertinya karena merasa kesakitan kembali.
Tanpa bertanya lagi, aku berjalan keluar dari kamarnya, segera melakukan apa yang dia suruh.
Brengsek... Kenapa kekacauan ini terjadi lagi sih!?!
Kedua tangan kurentangkan ke atas, menandakan bahwa kini aku sudah terbangun dari status berada di dunia mimpi.
Meski aku sadar bahwa sekarang sudah harus memulai aktifitas, ternyata sebagian tubuhku menolak hal tersebut.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan bagian punggungku, yang menolak perintah dari otakku untuk bangun dari kasur, malah bersikeras berusaha untuk kembali menempel ke benda empuk tersebut.
Pada akhirnya keinginan badanku telah mengalahkan keinginan pikiran, yah tapi, kupikir tidur lagi tidak ada salahnya juga.
Tapi sebelum menutup kedua mataku lagi, aku merasa salah satu bagian badanku sangat bersemangat, dan itu... Oh sialan, sepertinya aku harus ke toilet sekarang.
“Ahh... Enaknya...”
Bunyi siraman air toilet terdengar memenuhi ruangan, sementara aku menarik resleting sambil melepaskan suara yang sangat bahagia.
Hmm... Mungkin karena pengaruh angin Fallyang dingin membuat panggilan alam terasa lebih besar dari biasanya.
Ahh... Karena sudah terbangun, lebih baik aku menuruti perintah perutku saja sekarang.
Aneh.
Itulah yang kupikirkan sekarang, dan walaupun sekarang hari libur, normalnya ketika aku sedang menuruni tangga lantai dua, akan tercium oleh hidung sebuah aroma masakan.
Dan sekarang, hal itu tidak terjadi, bahkan TV yang biasanya dinyalakan saat pagi hari olehnya, sekarang tidak terdengar suaranya.
Sesuatu telah terjadi, ya, dan hal tersebut memicu terbesitnya prasangka – prasangka buruk di kepalaku.
Aku segera menghampiri kamar adikku, kemudian mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok!
“Elza?”
Tidak ada jawaban, aku pun mengulangi ketukan dan perkataanku lagi.
Tok, tok, tok!
“Elza? Kau dengar tidak? Sekarang sudah pagi!”
Namun sama seperti sebelumnya, hanya keheninganlah yang menjawab ucapanku, merasa ada yang tidak beres, kali ini aku mencoba untuk mendobrak pintunya.
Ketika aku memegang gagang pintunya, diluar dugaan ternyata pintunya sama sekali tidak dikunci, hal yang cukup aneh sebenarnya.
Kamar milik adikku sih hampir sama sebetulnya seperti kepunyaanku, ada jendela, kasur satu orang, meja belajar, serta kipas angin.
Tapi cukup berbeda karena pendekorasiannya, beberapa koleksi boneka hewannya, juga... Gumpalan selimut biru?
“Arrgghh...”
Sebuah erangan terdengar dari buntalan itu, membuatku sedikit kaget, tapi mengingat di rumah ini hanya ada kami berdua, aku berjalan menghampiri kasur adikku.
Aku kini duduk di tepi kasurnya, dan mulai bertanya.
“Kau kenapa Elza?”
Dia hanya bergoyang sedikit, membuat aku kembali bertanya.
“Kau kenapa sih? Ini sudah pagi, hey!”
Kali ini dia menjawabku, namun seperti sambil menahan rasa sakit.
“Teh... Dingin.”
“Apa kau bercanda? Bukannya sekarang masih pagi ya?”
Tiba – tiba gumpalan tersebut menyeruduk diriku, membuatku langsung terlempar ke lantai rumah yang terasa sangat dingin.
“Ugh!”
Serudukan bukan sesuatu yang kukira, dan yah, meski kepala terasa pusing, aku mencoba menengok ke arah adikku berada.
Wajahnya kini nampak di tengah – tengah gumpalan selimut, memasang ekspresi yang marah bercampur menahan sesuatu.
Oh... Sekarang aku mengerti apa yang sedang terjadi.
“AKU TIDAK PEDULI YANG PENTING KAKAK SEKARANG AM-UGHH!”
Dia meringkuk, sepertinya karena merasa kesakitan kembali.
Tanpa bertanya lagi, aku berjalan keluar dari kamarnya, segera melakukan apa yang dia suruh.
Brengsek... Kenapa kekacauan ini terjadi lagi sih!?!
Fin
Diubah oleh lacie. 09-05-2013 13:18
0
Kutip
Balas