Kelas, sebuah ruangan yang bisa menampung 30 orang kurang, tempat di mana remaja sepertiku menghabiskan waktunya selama 12 tahun.
Meski ini hanya sebuah ruangan yang terlihat monoton, hanya meja, kursi papan tulis sebagai komponen ruangan utamanya, ini bukanlah sebuah ruangan biasa.
Sebuah ruangan yang fungsi utamanya adalah mencari ilmu, bagaikan internet dengan cakupan yang lebih kecil, karena hanya membahas pengetahuan yang paling umum untuk digunakan di masa depan, seperti matematika, sains, bahasa dan sastra, serta sosial.
Namun seperti halnya sebuah
Talent Show, terkadang kelas menjadi ajang menunjukkan diri terhadap satu sama lain, entah itu hobi, bakat, dan hal – hal favorit, membuat kelas semakin berwarna meski cat temboknya hanya abu – abu.
Dan aku? Hanya sebagai pengamat di sini, tidak terlalu aktif seperti pembuat masalah yang bisa membuat seisi kelas tertawa, cukup senang karena memantau keadaan di sini.
Tapi... itu juga bukan berarti aku tidak pernah terlibat masalah, aku pernah beberapa kali menjahili guru, malah pernah sampai di skors beberapa hari dari sekolah.
Namun, ada satu hal yang dapat membuat seisi kelas menjadi satu, bukan karena tawa oleh sebuah lelucon, melainkan...
Tekanan.
Ya, meski ruangan ini sekarang sangat hening, namun siswa – siswa yang berada di sini merasa seperti sedang di-
Pressoleh mesin pabrik, tidak terkecuali diriku.
Satu – persatu teman kelasku dipanggil ke depan, untuk mendapatkan kertas yang menuntukan apakah dia akan di eksekusi atau tidak.
Keringat dingin menetes dari daguku, mengetahui giliranku kian mendekat.
Pikiranku semakin kacau, malah menyumpahi diriku akan di eksekusi, membuatku menjadi merasa sangat bersalah, tapi kalau kuingat lagi, sepertinya aku baik – baik saja dalam menjalani tes kemarin, atau itulah yang kupikirkan.
Yah, yang terjadi, terjadilah... Aku sudah tidak peduli lagi.
“Zael.”
Begitu namaku dipanggil, aku langsung berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri guru di meja depan, untuk mengambil kertas berisi nilai – nilai tes tengah semester.
Lalu setelah kembali ke kursiku. Dengan tangan yang bergetar serta mata yang sedikit enggan, aku melihat angka – angka yang menunjukkan kemampuanku di sini.
“Sialan, sepertinya aku akan menjalani pelajaran tambahan dan mendengar ceramahan dia lagi.”
Fin