- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.9K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#889
4. Friends
"Makan siang yuk." Milo mengajak Vega tepat saat bel istirahat berbunyi.
Dengan tatapan memelas, Vega mengangkat kepalanya yang mengantuk dari atas meja.
"Jangan tidur lagi ayo, pelajaran barusan udah kelar tuh..."
Vega mengacuhkan ajakan Milo dan meletakkan kepalanya kembali ke atas tangannya.
Milo cemberut sendiri dan duduk di sebelah Vega.
Ini sudah hari ketiga dia duduk sebangku dengan Vega.
Milo flashback ke 2 hari yang lalu, saat dia tahu bahwa teman sebangkunya adalah Vega.
Begitu menatap dari kejauhan, darahnya mendesir.
Sepertinya adrenalin kekaguman yang dialaminya saat melihat Vega berbeladiri membelanya di taman belakang masih tersisa.
Berlebihan memang, tapi ini pertama kalinya Milo kagum terhadap seorang cewek kuat seperti ini.
Milo dibesarkan dengan seorang kakak perempuan dan ibunya.
Kedua wanita di dekatnya memiliki sosok lemah lembut dan penyayang.
Ibunya yang berasal dari Indonesia memang membesarkan dia dan kakaknya seorang diri sepeninggal ayahnya karena sakit jantung.
Karena itulah, Milo dibesarkan menjadi sosok yang santun seperti ibunya.
Tidak pernah terpikir baginya untuk belajar beladiri atau sejenisnya.
Toh selama ini Milo tidak pernah memiliki musuh.
Milo tidak memiliki banyak teman cowok yang akrab, karena perangai dan cara bergaul mereka yang kasar.
Tapi dengan Vega, rasanya lain.
Sebab Milo tahu, Vega yang membelikannya kemeja ganti karena rasa sesal pastilah memiliki sifat dasar yang baik.
Karena rasa kagum dan penasaran inilah makanya Milo berusaha menjadi 'teman sebangku' yang baik.
Dibandingkan anak cewek lain di kelas yang menatapnya penuh kekaguman seolah ingin melahapnya bulat-bulat, Vega yang lebih sering hanya tidur di kelas dan sesekali mendengarkan musik selagi pelajaran.
Cewek itu hampir setiap jali menyelipkan earphone di balik rambutnya yang berpotongan short bob.
Kabel earphone yang dijuntai ke belakang membuatnya sukses tidak tertangkap oleh guru sepanjang pelajaran.
Sifat 'rebel' dan 'tidak ambil pusing'nya membuat Milo tidak risih berada di dekatnya.
Namun satu dugaan Milo yang meleset.
Vega yang sering tidur di kelas ini ternyata tidak masuk ke dalam kandidat 'calon tinggal kelas'.
Terbukti ketika mengumpulkan PR ataupun mengerjakan latihan, Vega selalu berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Bukan nilai sempurna, tapi nilai 80 masih dikantongi oleh Vega.
"Mau nitip makanan aja? Gue beliin deh."
Vega mengibas-ngibaskan tangannya tanpa mengangkat kepala mengisyaratkan Milo untuk pergi ke kantin saja sendiri.
Sudah mulai maklum dengan perangai Vega, Milo bangkit berdiri dan berjalan ke kantin.
Sepanjang jalan ke kantin, beberapa anak cewek meng'hai' kan dirinya.
Sudah menjadi rutinitas baginya untuk membalas lambaian tangan mereka.
Sesampai di kantin, Milo membeli sepotong roti isi kari ayam.
Diliriknya teh botol dingin yang ada di dalam mesin pendingin.
Jika Vega tidak ingin makan, pastilah setidaknya dia haus.
Milo membelikan sebotol untuk Vega kemudian berjalan kembali ke kelas.
"Ini buat elo." Milo meletakkannya di sebelah Vega yang masih tertunduk di atas meja.
Vega tidak merespon apapun.
Sepertinya dia sudah tertidur.
Milo mengunyah roti kari ayam di tangannya.
Istirahat di sekolah ini memang cukup lama. setengah jam lamanya.
Biasanya ketika Milo istirahat, dihabiskannya di luar kelas.
Bukan 'gaya' Milo untuk duduk sendirian di kelas.
Yah, setidaknya sekarang dia juga tidak sendirian.
Ada Vega yang tertidur di sebelahnya.
"Duh..." mendadak Vega bersuara.
Secepat kilat, dia bangkit dari kursinya lalu berlari ngibrit keluar dari kelas.
Milo bengong melihat Vega menghilang cepat dari pandangannya.
Sekitar 5 menit kemudian dia kembali sambil merapikan kemejanya.
"Kenapa?" Milo terheran - heran.
"Abis dari WC. Kebelet mendadak."
Tawa Milo meledak mendengar jawaban Vega.
Ternyata sedari tadi dia pura-pura tertidur.
Akhirnya kepura-puraannya terbongkar saat HIV alias 'Hasrat Ingin Vivis' nya kambuh.
"Gue penasaran..." mendadak Vega angkat bicara. Seketika, Milo berhenti tertawa. "Ngapain elo baikin gue?"
Pertanyaan Vega agak menggelitik batin Milo.
Dia tidak menyangka bahwa Vega akan mempertanyakan hal ini straight forward kepadanya.
"Nggak perlu alesan untuk baik sama orang..." Milo menjawab dengan cool.
"Justru itu yang bikin gue curiga."
Seolah efek layar kaca retak dengan jawaban Vega.
Memangnya gelagat Milo mencurigakan baginya?
"Seisi sekolah takut sama gue. Kenapa justru elo satu-satunya yang baik sama gue? Pake beliin minuman segala..."
Milo terbata-bata, bingung ingin menjawab apa.
Alasannya karena ditolong? Ah... pasti Vega merasa Milo baik hanya karena hutang balas budi.
Tapi jika disebutkan karena Milo kagum padanya?
Alasan itu lebih menakutkan lagi daripada yang pertama.
"Gue...mau belajar jadi lelaki sejati."
Jika ada lubang tidak berdasar, Milo ingin loncat ke dalamnya.
Jawaban paling bodoh yang dapat dia berikan, justru itulah yang terucap.
Mungkin karena tatapan Vega yang tidak sabar menanti jawaban mendorong otak Milo untuk berfikir jauh dari akal sehat.
"Emangnya elo homo?"
Dan ternyata pertanyaan Vega juga sederajat menusuknya.
"Enggak lah!" Milo membantah secepat yang dia bisa.
Jika dia memberi jarak antara bantahannya, pasti Vega akan berfikir sebaliknya.
Bahwa Milo cuma 'menyangkal' kenyataan.
"Sejak kecil, gue diasuh sama nyokap dan kakak doang... Jadi, nggak ada yang pernah ngajarin gue caranya jadi lelaki sejati."
Vega melipat kedua tangannya tanda menyimak.
"Waktu itu elo belain gue dengan bela diri,..."
"Taekwondo." Vega meralat. "Itu Taekwondo."
"....iya. Dengan Taekwondo,..." Milo mengoreksi kalimatnya. "Gue merasa nggak ada lagi di dunia ini yang lebih tepat selain elo!"
Gaya menggebu-gebu Milo membuatnya bangkit dari bangku.
"Jadi,...mau kan kita temenan?"
Sedetik..dua detik...tiga...
Tawa Vega membludak sekeras-kerasnya.
Entah harus malu atau bangga melihat Vega tertawa.
Malu, karena jelas Milo-lah objek yang dia tertawakan.
Bangga,...karena untuk pertama kalinya mungkin dalam sejarah sekolah ini Vega tertawa.
Di luar dugaan, Vega bisa tertawa begitu lepasnya.
Alisnya yang biasa merenyit ke dalam kini terangkat setinggi-tingginya.
Matanya menyipit dan pipinya memperlihatkan tulang pipi yang tinggi.
Ternyata Vega tidak menyeramkan jika dia tertawa seperti ini.
"Elo adalah cowok paling aneh yang pernah gue kenal." Vega akhirnya membuka suara.
"Jadi,...kita bener temenan gak??" Milo mengulang pertanyaan yang memalukan itu lagi.
"Yah... kandidat pertama deh." Vega kembali dengan wajah sok-coolnya.
Tapi kali ini, segaris senyum tersungging di sudut bibirnya.
Vega kembali duduk di bangkunya, dan hanya tersenyum simpul.
Tepat saat itu, bel istirahat usai berbunyi.
Dengan tatapan memelas, Vega mengangkat kepalanya yang mengantuk dari atas meja.
"Jangan tidur lagi ayo, pelajaran barusan udah kelar tuh..."
Vega mengacuhkan ajakan Milo dan meletakkan kepalanya kembali ke atas tangannya.
Milo cemberut sendiri dan duduk di sebelah Vega.
Ini sudah hari ketiga dia duduk sebangku dengan Vega.
Milo flashback ke 2 hari yang lalu, saat dia tahu bahwa teman sebangkunya adalah Vega.
Begitu menatap dari kejauhan, darahnya mendesir.
Sepertinya adrenalin kekaguman yang dialaminya saat melihat Vega berbeladiri membelanya di taman belakang masih tersisa.
Berlebihan memang, tapi ini pertama kalinya Milo kagum terhadap seorang cewek kuat seperti ini.
Milo dibesarkan dengan seorang kakak perempuan dan ibunya.
Kedua wanita di dekatnya memiliki sosok lemah lembut dan penyayang.
Ibunya yang berasal dari Indonesia memang membesarkan dia dan kakaknya seorang diri sepeninggal ayahnya karena sakit jantung.
Karena itulah, Milo dibesarkan menjadi sosok yang santun seperti ibunya.
Tidak pernah terpikir baginya untuk belajar beladiri atau sejenisnya.
Toh selama ini Milo tidak pernah memiliki musuh.
Milo tidak memiliki banyak teman cowok yang akrab, karena perangai dan cara bergaul mereka yang kasar.
Tapi dengan Vega, rasanya lain.
Sebab Milo tahu, Vega yang membelikannya kemeja ganti karena rasa sesal pastilah memiliki sifat dasar yang baik.
Karena rasa kagum dan penasaran inilah makanya Milo berusaha menjadi 'teman sebangku' yang baik.
Dibandingkan anak cewek lain di kelas yang menatapnya penuh kekaguman seolah ingin melahapnya bulat-bulat, Vega yang lebih sering hanya tidur di kelas dan sesekali mendengarkan musik selagi pelajaran.
Cewek itu hampir setiap jali menyelipkan earphone di balik rambutnya yang berpotongan short bob.
Kabel earphone yang dijuntai ke belakang membuatnya sukses tidak tertangkap oleh guru sepanjang pelajaran.
Sifat 'rebel' dan 'tidak ambil pusing'nya membuat Milo tidak risih berada di dekatnya.
Namun satu dugaan Milo yang meleset.
Vega yang sering tidur di kelas ini ternyata tidak masuk ke dalam kandidat 'calon tinggal kelas'.
Terbukti ketika mengumpulkan PR ataupun mengerjakan latihan, Vega selalu berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada.
Bukan nilai sempurna, tapi nilai 80 masih dikantongi oleh Vega.
"Mau nitip makanan aja? Gue beliin deh."
Vega mengibas-ngibaskan tangannya tanpa mengangkat kepala mengisyaratkan Milo untuk pergi ke kantin saja sendiri.
Sudah mulai maklum dengan perangai Vega, Milo bangkit berdiri dan berjalan ke kantin.
Sepanjang jalan ke kantin, beberapa anak cewek meng'hai' kan dirinya.
Sudah menjadi rutinitas baginya untuk membalas lambaian tangan mereka.
Sesampai di kantin, Milo membeli sepotong roti isi kari ayam.
Diliriknya teh botol dingin yang ada di dalam mesin pendingin.
Jika Vega tidak ingin makan, pastilah setidaknya dia haus.
Milo membelikan sebotol untuk Vega kemudian berjalan kembali ke kelas.
"Ini buat elo." Milo meletakkannya di sebelah Vega yang masih tertunduk di atas meja.
Vega tidak merespon apapun.
Sepertinya dia sudah tertidur.
Milo mengunyah roti kari ayam di tangannya.
Istirahat di sekolah ini memang cukup lama. setengah jam lamanya.
Biasanya ketika Milo istirahat, dihabiskannya di luar kelas.
Bukan 'gaya' Milo untuk duduk sendirian di kelas.
Yah, setidaknya sekarang dia juga tidak sendirian.
Ada Vega yang tertidur di sebelahnya.
"Duh..." mendadak Vega bersuara.
Secepat kilat, dia bangkit dari kursinya lalu berlari ngibrit keluar dari kelas.
Milo bengong melihat Vega menghilang cepat dari pandangannya.
Sekitar 5 menit kemudian dia kembali sambil merapikan kemejanya.
"Kenapa?" Milo terheran - heran.
"Abis dari WC. Kebelet mendadak."
Tawa Milo meledak mendengar jawaban Vega.
Ternyata sedari tadi dia pura-pura tertidur.
Akhirnya kepura-puraannya terbongkar saat HIV alias 'Hasrat Ingin Vivis' nya kambuh.
"Gue penasaran..." mendadak Vega angkat bicara. Seketika, Milo berhenti tertawa. "Ngapain elo baikin gue?"
Pertanyaan Vega agak menggelitik batin Milo.
Dia tidak menyangka bahwa Vega akan mempertanyakan hal ini straight forward kepadanya.
"Nggak perlu alesan untuk baik sama orang..." Milo menjawab dengan cool.
"Justru itu yang bikin gue curiga."
Seolah efek layar kaca retak dengan jawaban Vega.
Memangnya gelagat Milo mencurigakan baginya?
"Seisi sekolah takut sama gue. Kenapa justru elo satu-satunya yang baik sama gue? Pake beliin minuman segala..."
Milo terbata-bata, bingung ingin menjawab apa.
Alasannya karena ditolong? Ah... pasti Vega merasa Milo baik hanya karena hutang balas budi.
Tapi jika disebutkan karena Milo kagum padanya?
Alasan itu lebih menakutkan lagi daripada yang pertama.
"Gue...mau belajar jadi lelaki sejati."
Jika ada lubang tidak berdasar, Milo ingin loncat ke dalamnya.
Jawaban paling bodoh yang dapat dia berikan, justru itulah yang terucap.
Mungkin karena tatapan Vega yang tidak sabar menanti jawaban mendorong otak Milo untuk berfikir jauh dari akal sehat.
"Emangnya elo homo?"
Dan ternyata pertanyaan Vega juga sederajat menusuknya.
"Enggak lah!" Milo membantah secepat yang dia bisa.
Jika dia memberi jarak antara bantahannya, pasti Vega akan berfikir sebaliknya.
Bahwa Milo cuma 'menyangkal' kenyataan.
"Sejak kecil, gue diasuh sama nyokap dan kakak doang... Jadi, nggak ada yang pernah ngajarin gue caranya jadi lelaki sejati."
Vega melipat kedua tangannya tanda menyimak.
"Waktu itu elo belain gue dengan bela diri,..."
"Taekwondo." Vega meralat. "Itu Taekwondo."
"....iya. Dengan Taekwondo,..." Milo mengoreksi kalimatnya. "Gue merasa nggak ada lagi di dunia ini yang lebih tepat selain elo!"
Gaya menggebu-gebu Milo membuatnya bangkit dari bangku.
"Jadi,...mau kan kita temenan?"
Sedetik..dua detik...tiga...
Tawa Vega membludak sekeras-kerasnya.
Entah harus malu atau bangga melihat Vega tertawa.
Malu, karena jelas Milo-lah objek yang dia tertawakan.
Bangga,...karena untuk pertama kalinya mungkin dalam sejarah sekolah ini Vega tertawa.
Di luar dugaan, Vega bisa tertawa begitu lepasnya.
Alisnya yang biasa merenyit ke dalam kini terangkat setinggi-tingginya.
Matanya menyipit dan pipinya memperlihatkan tulang pipi yang tinggi.
Ternyata Vega tidak menyeramkan jika dia tertawa seperti ini.
"Elo adalah cowok paling aneh yang pernah gue kenal." Vega akhirnya membuka suara.
"Jadi,...kita bener temenan gak??" Milo mengulang pertanyaan yang memalukan itu lagi.
"Yah... kandidat pertama deh." Vega kembali dengan wajah sok-coolnya.
Tapi kali ini, segaris senyum tersungging di sudut bibirnya.
Vega kembali duduk di bangkunya, dan hanya tersenyum simpul.
Tepat saat itu, bel istirahat usai berbunyi.
0