Kaskus

Story

jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
• •• •• •
emoticon-Hot Newsemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow 6th Story emoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbowemoticon-rainbow
Spoiler for "The Menu":


emoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari5th Story : Wrap Your Heartemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahariemoticon-Matahari
Spoiler for "The Menu":


emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing4th Story : Irreplaceable emoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucingemoticon-kucing
Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
anasabilaAvatar border
samsung66Avatar border
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53KAnggota
Tampilkan semua post
jumpingwormAvatar border
TS
jumpingworm
#885
3. Hello, Classmate!
Siang hari yang terik melanda seluruh kota.
Matahari menyengat dengan hebatnya tanpa ampun.
Murid-murid kelas 9-3 sedang mengambil nilai di lapangan.
Mereka mengambil nilai lari untuk pelajaran olahraga.

Vega sendiri mendapatkan giliran akhir karena namanya diawali huruf 'V'.
Sambil menunggu gilirannya, Vega bersandar dibawah pohon yang terletak di tepi lapangan.
Dia paling membenci udara panas terik seperti ini.
Rasanya seluruh tubuh menjadi lengket dan malas bergerak tersengat panas.

Tiba-tiba dari arah gedung sekolah, terdengar suara gemertak yang lumayan keras.
Spontan, seluruh murid menoleh ke arah asal suaranya tersebut.
atap gedung sekolah bergerak-gerak dan mendadak bagian kirinya ambruk.
Teriakan dan pekikan nyaring memenuhi seisi lingkungan sekolah.

Tidak terkecuali, Vega yang langsung bangkit dan spontan menoleh ke arah asal suara tersebut.
Dengan pupil mata melebar, baru disadarinya, kelas 9-3 terletak persis di bawah atap yang rubuh tersebut.
Atau bisa dikatakan, seluruh kelasnya tertimbun di bawah atap berwarna merah kecoklatan itu.

Suasana berubah menjadi ricuh.
Pak Sariman, guru olahraga di SMP itu langsung meniup peluit untuk menertibkan murid-muridnya yang heboh.
Beberapa dari mereka segera mengeluarkan handphone dari saku untuk mengabadikan peristiwa tersebut lewat kamera.
Baru kemudian disadari dengan bodohnya, soal peraturan 'dilarang membawa telepon genggan ke sekolah'.
Alhasil, kantong penyitaan penuh berisi perangkat seluler milik anak-anak orang kaya tersebut.

Beberapa guru dan murid yang sedang belajar juga ikut keluar dari kelas.
Takut kalau-kalau bagian gedung lainnya ikut roboh dan menimbun mereka di bawahnya.

"Ayoo....kumpul di lapangan! Jangan terpencar-pencar! Jangan ada yang ke kantin!" guru sejarah memberi komando seolah bernostalgia kembali ke jaman penjajahan Belanda.

Suasana baru mulai mereda ketika pesuruh-pesuruh sekolah naik dan mengecek atap yang roboh tersebut.
Diketahui penyebabnya adalah kayu yang menjadi penyangga tiang utama tepat di atas kelas 9-3 reyot dimakan rayap.
Memang, diantara semua kelas hanya kelas 9-3 yang letaknya paling ujung merupakan bekas gedung lama.
Sementara bagian gedung lainnya sudah diperbaiki sebelum tahun ajaran dimulai.

Rencananya, sisa bangunan sekolah lainnya akan dipugar awal tahun ajaran depan.
Namun kenyataannya atap yang sudah tua tersebut ambruk, sepertinya pihak sekolah tidak memiliki pilihan selain melakukan perbaikan total lebih cepat.

"Tas dan barang kalian yang terletak di kelas sudah dikeluarkan hampir seluruhnya oleh para pegawai sekolah." Pak Sariman berkata. "Silakan berbaris untuk bergiliran mencari tas kalian dari tumpukan itu.

Pak Sariman menunjuk setumpuk tas sekolah yang diletakkan di samping tangga untuk naik ke kelas 9-3.
Vega sedikit bernafas lega bahwa dia tidak harus berenang dalam lautan debu dan genteng untuk mencari tasnya.
Meskipun warna tasnya oranye dan telah berubah kecoklatan karena debu.
Dipungutnya tas yang tertimbun barang teman-temannya itu.

"Pak, terus kita belajar gimana dong?" Chery, ketua kelasnya bertanya kepada Pak Sariman.

"Sebentar, para guru diminta ke ruang guru untuk rapat darurat. Kalian untuk sementara ganti dulu baju olahraganya...lalu nongkrong-nongkrong dulu lah..." Pak Sariman menjawab setengah gaul.

Diantara semua guru sekolah ini, Pak Sariman termasuk yang paling akrab dengan murid.
Sebab selain umurnya yang belum terlalu tua, dia termasuk guru yang santai.
Tidak ada peraturan ketat yang diberlakukan sepanjang pelajarannya.
Hanya, tata krama dan disiplin tetap berlaku sebagaimana mestinya.

Vega mengganti pakaian dengan seragam yang untungnya tadi sempat dia masukkan ke dalam kantong plastik sebelum terkena runtuhan atap.
Beberapa siswa lain yang meletakkan seragamnya asal di atas meja terpaksa tetap bertahan dengan seragam olahraga yang bau keringat itu.
Sebab, warna putih yang ditutup debu berwarna abu-abu kecoklatan itu otomatis akan membuat sekujur tubuh mereka gatal.
Belum lagi rayap atau binatang apapun yang mungkin jatuh bersama atap tersebut.

Setelah murid-murid ricuh di korridor, ruang guru terbuka pintunya.
Murid-murid mulai mengerumuni guru yang pertama kali keluar dari sana.
Situasi ini persis artis yang terlibat kasus perceraian dikerubuni oleh wartawan.
Pertanyaan bertubi-tubi terlontar hingga mustahil untuk dijawab.

"Ayo semuanya tenang dulu. Bapak kepala sekolah yang akan mengumumkan hasil rapatnya." Pak Sariman yang membuka suara.

Perlahan, suara mulai berkurang dan murid-murid tampaknya tahu diri untuk tidak menyerang dengan pertanyaan lebih lanjut.

"Kelas 9-3 untuk sementara diungsikan."

"Kemana Pak?!" langsung suara menyerobot untuk merespon.

Jika ada hadiah Guinness Book World of Record, pasti anak itu mendapat rekor tercepat untuk pertanyaan tanggapan.

"Kelas kalian akan dipecah....Sebagian ke kelas 9-1. Sebagian lagi ke kelas 9-2."

"Yaaaahhh...!!!" spontan murid-murid menggumamkan kekecewaannya.

"Nggak bisa belajar di aula aja pak?" salah seorang murid mengusulkan.

"Ruang aula, tidak memadai untuk dijadikan kelas. Lagipula, sekarang sudah menjelang ujian kelulusan. Ada baiknya kalian berbaur dengan kelas lain untuk saling berbagi ilmu."

Alasan yang sangat 'akademis' tersebut membuat murid-murid tidak sanggup membantah lebih jauh.
Dengan instruksi, para murid kelas 9-3 bernomor absen Ganjil masuk ke dalam kelas 9-1 dan murid bernomor absen genap masuk ke dalam kelas 9-2.
Sayangnya pembagian kelas di sekolah ini dinilai berdasarkan skor.
Para siswa yang menduduki ranking2 tertinggi di kelas 8 dimasukkan ke dalam kelas 9-1, nilai menengah dimasukkan ke 9-2 dan nilai terendah dimasukkan ke 9-3.

Tatapan kosong terpancar dari mata Vega saat menerima kenyataan bahwa nomor absennya ganjil.
9-1 adalah kelasnya bersemayam selama 6 bulan ke depan.
Hanya bisa menghela nafas, Vega masuk ke dalam ruang kelas yang sedang ricuh tersebut.
Diabaikannya tatapan asing 'pemilik' kelas 9-1 terhadapnya.

Vega berhenti pada sebuah meja yang terletak paling belakang dan hanya ada sebuah tas di salah satu bangkunya.
Itu artinya, pada meja berkapasitas 2 orang ini masih tersisa tempat untuk 1 orang.
Vega suka duduk paling belakang.
Seperti para murid introvert lainnya, paling belakang adalah area yang tidak perlu berinteraksi dengan siapapun.

"Gue nggak akan duduk situ kalo jadi elo." salah seorang cewek di sebelahnya. "Elo bakal jadi karung tinju cewek sekelas."

Tidak paham perkataannya, Vega hanya mengerutkan dahi.

"Masih nggak bangun juga?" cewek itu bertanya dengan nada tinggi.

Jelas inilah perwakilan kualitas kelas 9-1.
Belum sampai 5 menit duduk, Vega sudah disambut dengan nada tinggi.
Otak mereka mungkin berisi segala rumus dan mata pelajaran yang dihafal mati, sehingga tidak ada tempat untuk menghafal tata krama.

"Bego...! Jangan cari gara-gara!" seorang temannya menarik lengan cewek itu. "Dia si ...'itu' lho!"

Vega tahu persis dia sedang diumpat-umpat dalam hati.
Julukan 'itu' terdengar seperti mahluk spesies lain.
Tapi Vega terlalu malas untuk membantah julukan itu.
Sebab setidaknya mereka berdua pergi menjauh dari meja Vega.

Angin berhembus memasuki jendela ruang kelas.
Bel kemudian dibunyikan pertanda pelajaran sudah hampir dimulai.
Beberapa anak kelas 9-3 sudah membaur dan menemukan teman mereka yang kebetulan berada di kelas 9-1 ini.
Bu Hanny, guru IPA masuk ke dalam kelas.

Seumur-umur Vega hanya pernah diajari olehnya saat guru kelas 8-nya Pak Joni cuti karena istrinya melahirkan.
Satu image yang melekat di otak Vega, dia guru yang sangat killer, sinis, narsistik, dan ... pokoknya kepribadiannya sangat tidak menyenangkan.

"Saya menyesuaikan dengan 'pendatang' baru kita..." Bu Hanny menekankan kata tersebut dengan gaya menaikkan sebelah alis.

Mengingatkan Vega kepada Deddy Corbuzier sedang memulai aksi sulapnya.
Bedanya, jidat Bu Hanny sempit.
Konon, lebar jidat seseorang menggambarkan kepandaian otaknya.
Sehingga disimpulkan, hanya sesempit itulah kepandaian Bu Hanny.
Ups. Vega jadi ikut sinis.

"Pertama-tama, saya ucapkan selamat datang, dan selamat...kepada pendatang baru kita dari kelas 9-3. Di kelas ini, saya mengajarkan Biologi." Bu Hanny menyampaikan informasi mubazir pada menit-menit pertamanya di kelas.

Seluruh sekolah ini sudah tahu mata pelajaran yang dia ajarkan.

"Saya memang tidak pernah mengajar di kelas 9-3..."

Yang merupakan sebuah keberuntungan luar biasa tidak diajari olehnya.

"Tapi dengan keinginan kalian bergabungnya ke dalam kelas ini...untuk belajar IPA dengan saya,...saya merasa tersanjung."

Helloooo?? Atap kelas kami roboh, Bu. Bukan 'ingin' bergabung tapi 'terpaksa' bergabung.

"Dan...kita menggunakan buku paket yang sama dengan kelas kalian sebelumnya..."

Kalimat bodoh berikutnya terlontar.

"Untuk itu,.... mari kita buka halaman 75..."

Nah, akhirnya Bu Hanny berhenti mengumbar kebodohannya.

"Sebelumnya, Milo baca dulu kalimat pertama di halaman ini..."

Vega terdiam saat sekelas, terutama Bu Hanny menoleh ke arahnya.

"Oh? Milo ke mana ya?" Bu Hanny membetulkan letak kacamatanya.

"Saya di sini bu." Suara tenor yang mengalun dari pintu itu diikuti mata seisi kelas. "Maaf habis dari WC."

"Nggak apa... ayo silakan duduk." Bu Hanny tersenyum sumringah.

Vega menggigit bibirnya.
Pandangannya mengikuti Milo yang berjalan menuju ke arahnya.
Ah, tidak. Lebih tepatnya ke sebelahnya.
Seperti mendapat jackpot hukuman penjara seumur hidup, Milo duduk di sebelahnya.

"Hai." Milo menyapa Vega di sebelahnya.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.