TS
st_illumina
[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
All is fair in love and war
---
---
Spoiler for Sekapur Sirih:
Perang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia, karena demi perang teknologi diciptakan, dan dari perang teknologi maju,
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
Spoiler for War:
![[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread](https://dl.kaskus.id/dl.dropbox.com/u/108710157/Fullscreen%20capture%203192013%2090419%20PM.jpg)
Spoiler for rule of war:
All is Fair in Love and War
War End : 20th April
Maximum War Entry : 4 Post
Spoiler for War Journal Entry Index:
The Fiery Rom - Lacie
Its Urdoom
Red Zone - ElfQiwil
Maret Datang Bersama Topan - Andesko
AKB0048 Liberation of Metrostar - Make.A.Train
Laye 13.5 - Vermilionhelix
Kasur - Giande
Spoiler for War Prize:
-t.b.a-
Diubah oleh st_illumina 20-04-2013 23:34
0
7.8K
Kutip
138
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
undesco
#77
Spoiler for Maret Datang Bersama Topan:
Maret Datang Bersama Topan
“Lihat abangmu itu, dia berhasil jadi anggota Garda Hitam.”
“Abangnya si Tayfun itu anggota elit pasukan darat negara kita, lho.”
“Dia gagah, ‘kan, Mbak. Lihat ini lukisannya dengan seragam lengkap.”
Ibu selalu begini. Dia selalu membanggakan Abang, dan meskipun dengan berat hati, harus kuakui Abang memang pantas dibanggakan. Volkan, nama abangku yang berarti gunung berapi, adalah anggota Garda Hitam, orang-orang terbaik di bidang militer dari seluruh negeri.
Dibayang-bayangi kehebatan Abang, aku jarang sekali menerima pujian dari Ibu—Ayah sudah wafat dalam perang tujuh tahun yang lalu. Bukan, aku bukan seorang yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku berhasil lulus dari Akademi Ilmi dan diangkat menjadi salah satu guru di akademi tersebut. Namun di negara ini, tampaknya nyaris seluruh orang tua hanya bisa membanggakan anak laki-lakinya pada tetangga-tetangga jika anaknya berada di posisi tinggi di bidang militer atau menjadi pahlawan perang.
Harga diri diukur dengan keberhasilan membela negara. Anak adalah aset untuk membuat orang tua bangga dengan bertarung di medan perang. Kultur kegagahan para prajurit. Tampaknya semua itu tertanam di hati ibu-ibu di negara yang selalu mencoba melebarkan kekuasaannya ini.
Ibuku memang tidak pernah mengatakan apapun dengan cara hidupku sebagai guru. Tidak ada pujian maupun komplain; tidak ada apa-apa. Ibuku membiarkanku bekerja sebagai guru, dan meskipun gaji yang kuterima cukup tinggi, tetap saja Ibu tidak pernah memujiku.
Mereka bilang lawan dari cinta bukanlah benci, tapi ketidakpedulian. Ibu tidak membenciku, aku tahu itu. Aku juga yakin bahwa Ibu mencintaiku; Ibu mana yang tidak cinta pada anaknya? Tapi aku tidak bisa membuang perasaan aneh yang membuatku berpikir kalau Ibu tidak peduli padaku.
***
“Nama saya Tayfun, Pak!”
“Angin topan, eh? Nama yang bagus. Garang.” Kapten di depanku mendekatkan wajahnya padaku. Napasnya terasa panas di telingaku. “Tapi matamu terlalu lembut,” tandasnya tajam.
Aku memutuskan untuk masuk ke angkatan darat. Motivasi yang paling besar adalah keinginan untuk diakui oleh Ibu. Negara sedang merekrut pasukan untuk persiapan invasi ke negara tetangga di seberang teluk. Bersama dengan pemuda-pemuda tetangga—yang umurnya jauh lebih muda dariku, tiga hari yang lalu aku berangkat ke Benteng Kizil.
Saat tiba di sana, semua calon anggota menjalani tes keahlian berpedang. Mereka yang memang sudah ahli atau terlihat bakat berpedangnya dimasukkan ke Pasukan Satu, bagian angkatan darat yang menjadi kebanggaan negara. Sementara yang tidak bisa, kebanyakan dimasukkan ke skuad senapan—senjata akar rumput. Skuad senapan terdiri dari orang-orang biasa karena cara memakai senjata mudah diajarkan ke orang banyak dengan daya serang yang cukup tinggi, sementara pasukan berpedang terdiri dari putra-putra bangsawan dan mereka yang ahli.
Aku? Tentu saja aku masuk ke skuad senapan. Aku masih terlalu kecil ketika Ayah mengajarkan Abang cara berpedang dan sejak dulu aku memang tidak berminat dengan hal-hal fisik; aku bahkan tidak bisa berenang. Kalau tahu Ibu hanya akan memuji dan membanggakanku jika aku masuk ke militer, mungkin aku akan mempelajari cara berpedang dan berlatih otodidak atau mencari guru berpedang. Tapi yang sudah lalu biarlah berlalu. Aku sudah menjadi calon anggota skuad senapan, sekarang yang perlu kulakukan sebelum menjadi anggota resmi militer negara hanyalah melewati kamp latihan ini dengan sukses.
“Sekarang, ambil senapan kalian dari sana, lalu kembali ke sini!” Kapten memberi perintah dengan suara keras. “Ayo gerak, gerak!”
Hal pertama yang kupelajari adalah senapan itu ternyata cukup berat.
“Sudah semua?” tanyanya sambil memantau. “Hei, jalanmu macam bekicot! Kalau ini perang, kau sudah mati!”
Untunglah bukan aku yang tertinggal. Pemuda yang dibentak itu menundukkan kepalanya dan mulai berlari ke barisan.
“Yah, apa yang bisa diharapkan dari kalian? Kalian tidak bisa masuk ke Pasukan Vultur, dan itu artinya kalian hanya bisa memakai senapan. Senjata para pengecut. Senjata petani akar rumput. Senjata kelas tiga.” Kapten menghunuskan pedang tipis di pinggangnya. “Kalian lihat ini? Ini baru senjata pria sejati. Pria sejati menghadapi lawannya secara langsung. Pengecut macam kalian memakai senapan dari jarak jauh.”
Aku melirik pemuda di kananku. Wajahnya memerah ketika dikatai pengecut. Aku tahu dia berang, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.
“Sekarang berlutut dan bidikkan senapan kalian ke depan!”
Semua melakukan seperti yang diperintahkan. Ada sekitar lima puluh orang yang berada di grup ini dan semuanya berlutut nyaris serentak, menghasilkan semacam bunyi derap. Aku pun berlutut bersama mereka dan mengangkat senapan dan menyandarkan popor senapan ke bahuku.
Kapten dan dua orang asistennya mulai berkeliling dan memeriksa barisan.
“Punggungmu bungkuk!” kata salah satu asisten sambil memukul punggung seseorang di bagian kanan dengan tongkat kayu. Mendengar ini, aku meluruskan badanku.
“Senapanmu tidak lurus! Kau mau menembak tanah? Bego.” Mendengar ini aku meluruskan laras senjataku.
“Jari jangan ada di pelatuk sampai ada perintah. Hoi, ngapain kau lihat-lihat ke sini? Mata ke depan!”
“Sandarkan pantat senapan ke pundakmu! Apa kau mau matamu hilang pas nembak?”
Untunglah aku berada di barisan tengah, jadi aku sempat mencuri-curi informasi tentang cara memegang senapan yang sempurna. Ketika Kapten memeriksa posisi menembakku, dia hanya membuang napas pendek.
“Tetap di posisi ini sampai makan siang. Setelah itu kalian boleh istirahat makan siang,” perintah Kapten sebelum berbalik dan pergi dari area latihan.
***
Hari kedua, kami mulai diajarkan cara mengisi peluru dan menembakkan senjata.
“Bakar sumbu, masukkan mesiu, masukkan peluru, padatkan. Pastikan ada mesiu di flash pan, kalau tidak ada, masukkan mesiu dan tutup flash pan-nya. Bidik, tarik pelatuk,” ujar Kapten sambil menyiapkan senapannya. “Bahkan monyet pun bisa memakai senapan.”
Kapten kemudian berlutut, mengambil posisi menembak yang sempurna dan membidikkan senapannya ke cangkir tuak dari tanah liat yang berada cukup jauh. Suara tembakan bergema di pagi hari itu dan cangkir tanah liat tadi pecah berkeping-keping. Aku hanya bisa tercengang melihat kemampuan Kapten.
“Kalian ingat ketika kubilang senapan ini senjata pengecut? Memang benar kalau pria sejati melawan musuhnya dengan saling berhadapan. Tapi kalian harus ingat, senjata pengecut ini mematikan.” Kapten berhenti sejenak. “Dan kalian harus berani menarik pelatuknya untuk menghilangkan nyawa lawan.”
Rasa menggigil yang aneh muncul di tulang ekorku dan menjalar menuju tengkuk.
“Aku sudah mengajarkan kalian cara mengisi peluru, tapi sampai latihan sore, kalian hanya akan latihan menembak tanpa peluru. Kalian harus membiasakan diri menarik pelatuk tanpa rasa takut dan menembak tanpa memejamkan mata, dan juga menahan hentakan pada pundak kalian.”
Pagi sampai siang itu, suara tembakan terdengar bersahut-sahutan di Benteng Kizil. Sesekali diselingi oleh teriakan para pelatih skuad senapan. “Mata jangan ditutup! Kau punya biji, gak?”. “Tangan kirimu kurang ke atas”. “Ibumu pasti kecewa punya anak pengecut macam kau”.
Aku sendiri cukup berhasil dalam latihan kali ini—aku hanya dibentak sekali oleh Kapten. Awalnya suara tembakan yang sangat dekat membuat telingaku berdenging keras, tapi setelah beberapa kali mendengarnya, sedikit banyak aku mulai terbiasa.
Makan siang sama seperti kemarin, sup dengan roti keras. Masakan Ibu di rumah jauh lebih enak, jelas. Seperti kemarin, hari ini aku juga makan sendirian di salah satu sudut. Beberapa orang yang latihan bersamaku hanya menyapa basa-basi lalu makan dan berbincang dengan anggota lainnya. Mungkin karena aku memancarkan aura terpelajar. Mungkin.
Latihan sore dimulai dengan instruksi ulang cara pengisian peluru, lalu calon anggota mulai menembakkan senapan masing-masing satu per satu. Beberapa orang tangannya terpeleset ketika memasukkan peluru berbentuk bola, beberapa menghabiskan peluru cukup banyak sebelum menembak target yang jaraknya jauh lebih dekat dari yang ditembak Kapten tadi pagi.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba giliranku. Sumbu senapan sudah kubakar dan posisinya sudah terkunci. Senapan kuberdirikan dan aku mulai menuangkan serbuk mesiu dari botol kecil yang kugantung di leher. Kemudian kuambil peluru dari kantung kulit yang terikat di pinggangku dan kumasukkan dari ujung laras. Pipa panjang kugunakan untuk memadatkannya. Senapan kembali kupegang dengan posisi horizontal dan sedikit mesiu untuk pembakaran kutuangkan ke flash panyang kemudian langsung kututup. Ujung senapan kuarahkan ke piring tanah liat yang menjadi target.
Aku mengatur napasku. Kemudian kutarik pelatuknya dengan jari telunjukku.
Suara tembakan meraung, kemudian langsung diikuti oleh suara piring pecah.
Mataku terbelalak, begitu juga dengan beberapa calon anggota skuad senapan lainnya. Aku nyaris tidak percaya. Aku berhasil mengenai target pada tembakan pertama.
“Impresif. Mungkin kau memang segarang namamu, Tayfun,” puji Kapten dengan satu alis terangkat. Kemudian raut wajahnya kembali serius, “Atau mungkin itu hanya kebetulan. Coba kau tembak target itu sekali lagi.”
Aku mengulangi proses pengisian peluru yang panjang, sementara seseorang menggantikan target yang sudah pecah tadi, kemudian senapan kuarahkan kembali ke target yang sudah diganti.
Aku berhasil lagi. Denging yang dihasilkan menusuk gendang telingaku mengisi tubuhku dengan perasaan yang aneh dan mendebarkan. Kali ini banyak calon anggota yang bertepuk tangan dengan riuh. Bahkan Kapten pun ikut menepukkan tangannya tiga kali.
“Bakat alami? Kau akan jadi aset berharga pasukan ini, Tayfun.”
“Terima kasih, Kapten.”
0
Kutip
Balas