- Beranda
- Stories from the Heart
...
TS
jumpingworm





6th Story 



Spoiler for "The Menu":




5th Story : Wrap Your Heart




Spoiler for "The Menu":




4th Story : Irreplaceable 




Spoiler for The Menu:
Diubah oleh jumpingworm 16-07-2017 00:41
samsung66 dan anasabila memberi reputasi
2
102.7K
1.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jumpingworm
#873
1. First Encounter
Bel tanda istirahat berdentang perlahan.
Murid - murid kelas 9-3 berhamburan keluar untuk makan siang.
Kecuali 1 orang yang sibuk dengan earphone melekat di telinga.
Vega mengambil secarik kertas di hadapannya dan menulis beberapa baris kalimat.
Dia berusaha menyelesaikan soal latihan yang tertulis di papan tulis.
Menyerah, Vega meremas kertas di hadapannya.
Sekarang sedang waktunya istirahat, tapi Vega tidak berniat untuk makan di kantin sama sekali.
Direbahkan kepalanya di atas tangan yang terlipat di atas meja.
Terlihat jelas betapa antisosialnya gadis yang menginjak usia 15 tahun ini.
Sejak awal masuk sekolah, memang dia bukan tipe teman favorit.
Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk diam dan asik sendiri dengan gadget di tangannya.
Bahkan teman yang pernah sebangku dengannya mengaku depresi hanya dengan duduk diam di samping Vega.
Sering mengantuk dan datang ke sekolah dengan babak belur, membuatnya terlihat misterius dan sering dibicarakan negatif.
Merasa sudah diambang kelulusan, Vega tidak berusaha meluruskan gosip miring tentangnya.
Toh nanti ketika lulus dan masuk perguruan tinggi, dia tidak akan bertemu lagi dengan teman - temannya ini.
Ya...Vega tidak butuh yang namanya teman hanya untuk sekedar bergaul dan bercanda ria.
Dari pintu kelas, Chery sedang melambaikan tangan ke arah Vega sambil memanggil - manggil namanya.
"Vega...! Tugas matematikanya mana? Bu guru suruh kumpul..."
Tidak menyadari earphone yang melekat di telinga Vega, Chery mengulangi panggilannya.
"Vega!"
Tidak ada respon dari Vega yang tampaknya sedang tertidur, Chery mengambil ballpoint dari sakunya dan melempar tutup pen itu ke arah Vega.
Secepat kilat, tutup pen itu mengenai pelipis Vega dengan keras.
Spontan ia tersentak dan mendongakkan kepala.
Chery sadar telah membangunkan singa tertidur, langsung kabur menghilang sebelum Vega bangun.
Dilemparnya pen tanpa tutup itu ke lantai dan ngibrit pergi.
Tepat saat itu, lewatlah Milo yang tanpa sengaja menginjak pen itu.
Selalu ada sisi Yin dan Yang; begitu pula eksistensi Milo berkebalikan dari Vega.
Tidak ada satupun siswa di sekolah yang tidak tahu tentang Milo.
Darah Perancis mengalir dalam tubuh pemuda yang lahir di Indonesia ini.
Kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung tergantung diantara sepasang bola mata biru tua itu membuat tercengang siapapun yang melihatnya.
Rambutnya yang hitam kecoklatan memberi sentuhan glamor pada keseluruhan penampilannya.
Bahkan konon menurut siswa yang pernah wisata kemping bersama Milo, mereka terkesima melihat Milo sehabis bangun tidur.
Keadaan kucel pun, dia tetap tampan hingga menembus logika manusia normal.
Berlebihan, tapi siapapun tidak berniat meralat pernyataan itu.
Milo memungut ballpoint yang terbaring di lantai dan tidak sengaja terinjak olehnya.
Dahinya merenyit dan mengamati pen tersebut.
Merk 'Rotring' tercetak di permukaannya.
"Elo yang ngelempar gue?" Vega langsung menyemprot Milo tanpa basa basi.
Entah datang dari mana, Vega sudah muncul di hadapan Milo.
"Hah?" Milo memasang wajah cengo.
Vega mengenali cowok blasteran yang berdiri di hadapannya.
Bukan mengidolakan, tapi mustahil siswa disini tidak mengenali rambut kecoklatan dan satu - satunya siswa pemilik bola mata berwarna biru tua.
Pastilah dia Milo, artis lokal yang dipuja cewek satu sekolah.
Menyadari lawan di hadapannya, Vega makin geram.
Pasti dia tipe cowok angkuh yang suka terlihat keren dengan hobi mengerjai murid lain hanya untuk kesenangan.
Vega loncat pada kesimpulan subjektifnya sendiri.
"Nih liat sendiri hasil perbuatan lo." Vega mendekatkan pelipisnya dan menampakkan bercak merah bekas lemparan.
"Maksudnya?" Milo terheran - heran.
"Itu...pen yang elo pegang. Sakit jidat gue disambit ginian, tau!"
Vega mengambil pen tersebut dan seperti korek api, dipatahkan menjadi dua.
Spontan isi tintanya muncrat mengenai hampir separuh kemeja sekolah Milo hingga ke wajahnya.
Tempramen yang tidak terkendali menorehkan kesan negatif yang makin mendalam tentang Vega.
"Mampus!" Vega memasukkan patahan pen itu ke saku baju Milo dan berjalan pergi ke arah toilet.
Sesampai di toilet, Vega mencuci tangannya yang terkena cipratan tinta.
Dengan emosi yang sedikit mereda, Vega membayangkan ulang kejadian tadi.
Tiba - tiba Chery muncul dari pintu.
"Vega..." Chery memanggil pelan.
Vega hanya menoleh dan menatap Chery sekilas.
"Kenapa Cher?" Vega bertanya singkat pada teman sekelasnya itu.
Dengan ragu - ragu, Chery mengatur kalimatnya dengan sangat hati - hati.
Dia berdiri di jarak aman dari jangkauan Vega.
"Sori sebelumnya...gue mau minta maaf."
"Kenapa?" Vega membalik badan karena terkejut mendengar pernyataan Chery.
"Itu...gue pokoknya mau minta maaf dulu."
"Iya, tapi sebabnya kenapa?" Vega bersikeras bertanya.
"Tadi yang ngelempar tutup pen...bukan Milo. Tadi,...gue yang nggak sengaja ngelempar..."
Suasana hening menyelimuti mereka.
Vega mengerutkan dahi dan mendadak kepalanya terasa berat.
Dia menyadari sebuah kebodohan luar biasa yang telah dilakukannya.
Berarti dia sudah berbuat buruk pada Milo yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.
"Maksud elo, yang bikin jidat gue begini sebenernya elo?" Vega bertanya memperjelas.
"Sebenernya niatnya gue cuma mau manggil. Tapi nggak sengaja..." suara Chery melemah. "Pokoknya, gue udah minta maaf. Udah ya,...gue duluan."
Chery segera ngacir dari sana secepat kilat, takut kalau - kalau Vega berubah pikiran dan memutuskan untuk memberinya pelajaran yang sama seperti yang dilakukannya kepada Milo.
Di sisi lain, Vega sedang tertimpa badai shock yang cukup berat.
Sebab, mengetahui bahwa dia sudah menghakimi secara asal kepada Milo, plus mengotori kemejanya dengan tinta hitam.
Vega berusaha menarik nafas panjang dan menuju ke koperasi sekolah.
Dia membeli sepotong kemeja di sana, kemudian kembali ke kelas dan menyimpannya hingga pelajaran usai.
"Lagi-lagi gue bertindak bodoh..." Vega bergumam dengan berat hati kepada dirinya sendiri.
Murid - murid kelas 9-3 berhamburan keluar untuk makan siang.
Kecuali 1 orang yang sibuk dengan earphone melekat di telinga.
Vega mengambil secarik kertas di hadapannya dan menulis beberapa baris kalimat.
Dia berusaha menyelesaikan soal latihan yang tertulis di papan tulis.
Menyerah, Vega meremas kertas di hadapannya.
Sekarang sedang waktunya istirahat, tapi Vega tidak berniat untuk makan di kantin sama sekali.
Direbahkan kepalanya di atas tangan yang terlipat di atas meja.
Terlihat jelas betapa antisosialnya gadis yang menginjak usia 15 tahun ini.
Sejak awal masuk sekolah, memang dia bukan tipe teman favorit.
Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk diam dan asik sendiri dengan gadget di tangannya.
Bahkan teman yang pernah sebangku dengannya mengaku depresi hanya dengan duduk diam di samping Vega.
Sering mengantuk dan datang ke sekolah dengan babak belur, membuatnya terlihat misterius dan sering dibicarakan negatif.
Merasa sudah diambang kelulusan, Vega tidak berusaha meluruskan gosip miring tentangnya.
Toh nanti ketika lulus dan masuk perguruan tinggi, dia tidak akan bertemu lagi dengan teman - temannya ini.
Ya...Vega tidak butuh yang namanya teman hanya untuk sekedar bergaul dan bercanda ria.
Dari pintu kelas, Chery sedang melambaikan tangan ke arah Vega sambil memanggil - manggil namanya.
"Vega...! Tugas matematikanya mana? Bu guru suruh kumpul..."
Tidak menyadari earphone yang melekat di telinga Vega, Chery mengulangi panggilannya.
"Vega!"
Tidak ada respon dari Vega yang tampaknya sedang tertidur, Chery mengambil ballpoint dari sakunya dan melempar tutup pen itu ke arah Vega.
Secepat kilat, tutup pen itu mengenai pelipis Vega dengan keras.
Spontan ia tersentak dan mendongakkan kepala.
Chery sadar telah membangunkan singa tertidur, langsung kabur menghilang sebelum Vega bangun.
Dilemparnya pen tanpa tutup itu ke lantai dan ngibrit pergi.
Tepat saat itu, lewatlah Milo yang tanpa sengaja menginjak pen itu.
Selalu ada sisi Yin dan Yang; begitu pula eksistensi Milo berkebalikan dari Vega.
Tidak ada satupun siswa di sekolah yang tidak tahu tentang Milo.
Darah Perancis mengalir dalam tubuh pemuda yang lahir di Indonesia ini.
Kulitnya yang putih dan hidungnya yang mancung tergantung diantara sepasang bola mata biru tua itu membuat tercengang siapapun yang melihatnya.
Rambutnya yang hitam kecoklatan memberi sentuhan glamor pada keseluruhan penampilannya.
Bahkan konon menurut siswa yang pernah wisata kemping bersama Milo, mereka terkesima melihat Milo sehabis bangun tidur.
Keadaan kucel pun, dia tetap tampan hingga menembus logika manusia normal.
Berlebihan, tapi siapapun tidak berniat meralat pernyataan itu.
Milo memungut ballpoint yang terbaring di lantai dan tidak sengaja terinjak olehnya.
Dahinya merenyit dan mengamati pen tersebut.
Merk 'Rotring' tercetak di permukaannya.
"Elo yang ngelempar gue?" Vega langsung menyemprot Milo tanpa basa basi.
Entah datang dari mana, Vega sudah muncul di hadapan Milo.
"Hah?" Milo memasang wajah cengo.
Vega mengenali cowok blasteran yang berdiri di hadapannya.
Bukan mengidolakan, tapi mustahil siswa disini tidak mengenali rambut kecoklatan dan satu - satunya siswa pemilik bola mata berwarna biru tua.
Pastilah dia Milo, artis lokal yang dipuja cewek satu sekolah.
Menyadari lawan di hadapannya, Vega makin geram.
Pasti dia tipe cowok angkuh yang suka terlihat keren dengan hobi mengerjai murid lain hanya untuk kesenangan.
Vega loncat pada kesimpulan subjektifnya sendiri.
"Nih liat sendiri hasil perbuatan lo." Vega mendekatkan pelipisnya dan menampakkan bercak merah bekas lemparan.
"Maksudnya?" Milo terheran - heran.
"Itu...pen yang elo pegang. Sakit jidat gue disambit ginian, tau!"
Vega mengambil pen tersebut dan seperti korek api, dipatahkan menjadi dua.
Spontan isi tintanya muncrat mengenai hampir separuh kemeja sekolah Milo hingga ke wajahnya.
Tempramen yang tidak terkendali menorehkan kesan negatif yang makin mendalam tentang Vega.
"Mampus!" Vega memasukkan patahan pen itu ke saku baju Milo dan berjalan pergi ke arah toilet.
Sesampai di toilet, Vega mencuci tangannya yang terkena cipratan tinta.
Dengan emosi yang sedikit mereda, Vega membayangkan ulang kejadian tadi.
Tiba - tiba Chery muncul dari pintu.
"Vega..." Chery memanggil pelan.
Vega hanya menoleh dan menatap Chery sekilas.
"Kenapa Cher?" Vega bertanya singkat pada teman sekelasnya itu.
Dengan ragu - ragu, Chery mengatur kalimatnya dengan sangat hati - hati.
Dia berdiri di jarak aman dari jangkauan Vega.
"Sori sebelumnya...gue mau minta maaf."
"Kenapa?" Vega membalik badan karena terkejut mendengar pernyataan Chery.
"Itu...gue pokoknya mau minta maaf dulu."
"Iya, tapi sebabnya kenapa?" Vega bersikeras bertanya.
"Tadi yang ngelempar tutup pen...bukan Milo. Tadi,...gue yang nggak sengaja ngelempar..."
Suasana hening menyelimuti mereka.
Vega mengerutkan dahi dan mendadak kepalanya terasa berat.
Dia menyadari sebuah kebodohan luar biasa yang telah dilakukannya.
Berarti dia sudah berbuat buruk pada Milo yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian ini.
"Maksud elo, yang bikin jidat gue begini sebenernya elo?" Vega bertanya memperjelas.
"Sebenernya niatnya gue cuma mau manggil. Tapi nggak sengaja..." suara Chery melemah. "Pokoknya, gue udah minta maaf. Udah ya,...gue duluan."
Chery segera ngacir dari sana secepat kilat, takut kalau - kalau Vega berubah pikiran dan memutuskan untuk memberinya pelajaran yang sama seperti yang dilakukannya kepada Milo.
Di sisi lain, Vega sedang tertimpa badai shock yang cukup berat.
Sebab, mengetahui bahwa dia sudah menghakimi secara asal kepada Milo, plus mengotori kemejanya dengan tinta hitam.
Vega berusaha menarik nafas panjang dan menuju ke koperasi sekolah.
Dia membeli sepotong kemeja di sana, kemudian kembali ke kelas dan menyimpannya hingga pelajaran usai.
"Lagi-lagi gue bertindak bodoh..." Vega bergumam dengan berat hati kepada dirinya sendiri.
0