TS
st_illumina
[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
All is fair in love and war
---
---
Spoiler for Sekapur Sirih:
Perang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia, karena demi perang teknologi diciptakan, dan dari perang teknologi maju,
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
Spoiler for War:
![[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread](https://dl.kaskus.id/dl.dropbox.com/u/108710157/Fullscreen%20capture%203192013%2090419%20PM.jpg)
Spoiler for rule of war:
All is Fair in Love and War
War End : 20th April
Maximum War Entry : 4 Post
Spoiler for War Journal Entry Index:
The Fiery Rom - Lacie
Its Urdoom
Red Zone - ElfQiwil
Maret Datang Bersama Topan - Andesko
AKB0048 Liberation of Metrostar - Make.A.Train
Laye 13.5 - Vermilionhelix
Kasur - Giande
Spoiler for War Prize:
-t.b.a-
Diubah oleh st_illumina 20-04-2013 23:34
0
7.7K
Kutip
138
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
Elf.Qiwill
#70
Red Zone
Spoiler for The Epic Escape:
Selama hidupku, aku jarang sekali memiliki mimpi yang seru. Namun sekalinya aku memimpikannya, aku pasti dibangunkan oleh sesuatu yang sangat tidak mengenakan. Seperti sekarang ini.
*TUIT *TUIT *TUIT
Alarm bahaya menggema ke seluruh base camp sementara kami, membangunkan diriku yang masih tertidur. Base camp kami berupa rumah kayu sementara yang berada di tengah-tengah gunung batu berbentuk ‘U’ di tengah padang pasir di sekitar tanah Arab. Aku bilang base camp ‘kami’ karena pada dasarnya aku dan 3 temanku yang menjaga daerah sini. Tapi tampaknya aku ditinggal oleh teman-temanku yang sadar akan bahaya lebih dulu. Mereka pastinya sudah mencoba untuk membangunkanku, tapi aku yakin ketika itu aku masih terlelap.
Alarm itu berasal dari jebakan pertama yang kami semua pasang di depan mulut lembah ini. Berupa tali tipis yang akan putus dengan mudah ketika disentuh oleh kaki orang ataupun kendaraan berat yang lewat. Ketika tali itu putus, tentu ada yang melewati tali itu kan? Tentu saja alarm itu bukan dari teman-temanku yang sadar akan jebakan yang mereka pasang sendiri. Aku bisa memastikan 2 hal. Temanku sudah cukup jauh dari sini. Dan, yang sekarang datang adalah musuh.
Aku pun langsung berlari menuju teras depan di mana binokular dipasang di sana. Aku picingkan mataku. Aku melihat jelas 2 truk tentara sedang mengarah ke rumah ini. Dilihat dari warna truk itu, dan lagi, dari bendera Israel yang dipasang di spion truk itu, dan juga dari berita kemarin malam, aku yakin, truk itu adalah musuh. Aku perkirakan dari kecepatan truk itu, kira-kira akan sampai ke sini dalam waktu 20 menit.
Aku pun langsung mengambil binokular itu dan langsung memasukannya ke dalam rumah itu. Mengumpulkan semua bahan yang bisa kugunakan agar bisa kabur. Aku hanya memiliki pistol dengan silencer berisi 10 peluru. Jaket anti fosfor putih dan anti peluru. 3 granat. 5 bom asap. 1 Flashbang. 3 senter. Beberapa plastik berwarna. 4 tabung propana. Flamethrower kecil yang gasnya sudah hampir habis. 1 bayonet. Helm kevlar. Wig berwarna pirang. 10 meter benang layangan. 1 bom C4. 1 mangkok besi besar, yang biasanya digunakan untuk menutup bom yang mau meledak dan sudah tidak ada waktu lagi untuk men-defuse bom itu. 3 meter tali tambang yang sudah lapuk, beberapa lampu LED yang nyalanya cukup terang dan yang terakhir adalah otakku. Mungkin granat percobaanku, kacamata hitam dan radio perekam juga bisa berguna.
Aku melihat truk itu dari kejauhan lagi. Mereka hanya tinggal sampai 10 menit lagi. Aku melihat, satu truk menampung sekitar 5 tentara dan 1 sopir. Aku bisa menganggap bahwa truk yang satunya lagi juga begitu. Baiklah. Akan kugunakan semua bahan yang ada di sini dengan efektif.
Kedua truk itu sampai di depan base camp-ku. Satu truk parkir menyamping beberapa meter di depan pintu depan. sementara truk satunya lagi parkir di sampingnya dan bagian belakang truk langsung berhadapan dengan rumahku. Sehingga para tentara Israel itu bisa langsung melompat dan menyerbu base camp ini dari belakang.
5 tentara berjalan pelan, saling mengcover satu sama lain menuju pintu belakang. Di saat mereka melewati pelan suatu jendela. Aku langsung meledakan 4 bom asap yang ku punya. Aku nyalakan senter yang sudah kulapisi dengan plastik berwarna-warni. Aku melompati jendela dan mendarat mulus di tengah-tengah mereka. Tentu mereka serentak mengarahkan moncongnya pada diriku. Hanya saja, suasana ketika itu penuh dengan asap dan sorotan cahaya berwarna-warni. Ditambah lagi, Wig pirang yang kugunakan menambah keraguan mereka untuk menarik pelatuknya.
“Hey, where am I?” Gumanku dalam Bahasa Inggris. Aku berpura-pura kebingungan.
“Hey! Who the hell are you!” Teriak salah satu tentara padaku sambil mengacungkan senjatanya ke kepalaku. Aku berpura-pura sebagai civilian dengan mengangkat tanganku.
“Hey, Hey, no need to rush, dude!” Balasku dengan nada friendly. “…At least tell me what time is it.”
“Of course, 8 AM you idiot!” Balas tentara satu lagi dengan nada kasar.
“That’s not what I mean, I mean, can you tell me what year’s now?” Balasku dengan nada sewot.
“Hah? Of course 2013…” Balas Tentara yang satu lagi, namun dipotong olehku.
“WHAT! REALLY!” Balasku keras. “…This is fantastic! We did it!”
“What you were did?” Tanya tentara yang mengacungkan senjatanya pada pipiku.
“Time Travelling! I just came here by time travelling! I came from 2033!!!” Balasku dengan nada senang dan girang.
Aku sengaja menciptakan suasana ini. Sorot lampu berwarna warni, wig pirang, LED yang berwarna warni, kepulan asap. Menciptakan suasana yang sedikit futuristik.
“I must telling everyone! Bye folks!” Aku pun berlari meninggalkan mereka sambil meledakan satu lagi granat asap dan satu flashbang.
“Shit! I can’t see a damn thing!” Teriak salah satu tentara. Selagi mereka kaget. Aku sudah bersembunyi di balik batu dan semak-semak. Ada kemungkinan mereka akan mencariku, maka dari itu aku mempersiapkan pistolku.
Setidaknya dengan ini aku sudah bisa menghindar pertarungan face-on-face.
“Okay! You! Sergeant 1, find that damn time traveller!” Teriak salah satu dari mereka. Tampaknya dia adalah kapten dari regu itu. “…We storming this house from this fucking ass! Right?!”
“Sir! Yes Sir!” Balas sersan 1.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah itu, yang kini penuh dengan jebakan mematikan. Sementara sersan 1 mencariku ke arah bebatuan. Orang manapun akan berpikir itu adalah tempat yang paling bagus untuk bersembunyi.
“Damn that time traveller!” Guman sersan 1. “…I just can’t find the fucking him anywhere!”
Di saat yang sudah dekat. Aku menembak kepala sersan itu tanpa suara. Kematian dengan cepat tanpa konflik berkepanjangan, beruntung si sopir truk fokus pada pintu depan sehingga dia tidak melihat yang berada di sampingnya. Hanya saja suara dia jatuh ke tanah membuat si kapten menanyakan keadaannya.
“Sergeant! What happening!? Have you find that fucking time traveller!?” Tanya kapten dari radionya. Aku pun menggunakan hasil rekaman tadi dan menyalakan rekaman itu di depan radionya.
“Damn that time traveller! I just can’t find the fucking him anywhere!” Rekaman itu tercipta dengan sempurna.
“Then… you fucking move your ass and find him!” Balas kapten itu dengan keras dan marah. Tentu saja, di balas dengan bawahan dengan nada kasar membuat atasan apapun naik pitam.
Baiklah, sekarang untuk sementara aku bisa sembunyi di sini. Kita lihat apakah mereka jatuh ke dalam jebakanku.
Mereka berempat masuk dengan hati-hati. Terlihat di dalam rumah itu sangat berantakan. Injakan kaki saja bisa menimbulkan suara berdecit. Mereka pun menjadi terlalu fokus pada yang di depan mereka, bukan di bawah mereka sehingga sehingga mereka menginjak tali layangan yang tipis sehingga tali itu putus. Mereka tidak sadar akan ada tali itu sampai flamethrower kecil menyemburkan api di depan pintu belakang yang mereka masuki tadi.
“What a sudden heart attack…” Salah satu tentara yang paling belakang merasa sedikit kaget akan api dari flamethrower itu.
“Hey… what the hell of this stench?” Guman kapten itu sambil mengendus-enduskan hidungnya mencium bau gas bocor. Tapi sedetik kemudian, flamethrower kecil itu tiba-tiba menyemburkan apinya ke arah mereka dengan cepat. Tidak hanya itu, bagian belakang rumah meledak mengeluarkan api yang begitu dahsyat.
Asal kalian tahu saja, aku menyimpan flamethrower kecil di situ untuk menutup satu-satunya jalan keluar kalian.
Ledakan itu membuat tentara gelombang kedua kaget dan langsung membuka pintu depan untuk melihat keadaan. Tapi, itu adalah tindakan yang bodoh juga. Tepat di belakang pintu depan, aku sudah memasang C4 yang sudah ku set waktunya hanya 1 detik. Hanya saja pemicu bomnya belum di aktifkan saja. Bom itu hanya aktif jika kawat tali yang menyangga picunya putus. Dan picu itu putus ketika pintu itu dibuka ke arah manapun karena gagang pintu sudah dipasangi tali layangan yang menghubungkan dengan kawat penyangga. Belum lagi di bagian belakang bom C4 itu aku pasang mangkok besi besar yang disangga oleh tali tambang. Bagian lengkungan itu menghadap ke arah pintu depan sehingga ketika C4 itu meledak, sebagian besar ledakan itu mengarah ke pintu depan. dan…
*DUAR!!!
Ledakan C4 itu cukup keras. Kini bagian belakang dan depan rumah itu hancur. Angin dari ledakan itu cukup membuat truk di depannya miring dan jatuh. Sopir dari truk yang tidak terkena ledakan langsung turun dari truknya dan segera mengecek keadaan mereka. Tapi, sebelum itu aku sudah tembak kepala dia terlebih dahulu. Aku lihat dia sedang membawa senjata negaranya, UZI. Aku ambil senjata itu untuk aku gunakan.
Truk yang jatuh miring menjadi sasaran empuk bagiku. Karena tangki bensinya sudah menghadap padaku seakan-akan minta ditembak olehku. Aku tembak tangki bensinnya dengan UZI yang baru kuambil sampai habis. Namun peluru terakhir UZI hanya bisa membuat tangkinya bocor saja, tapi aku masih punya pistol. Aku menembakan satu peluru saja ke tangki bensin truk yang miring itu.
*BLUM
Truk itu hancur, ku rasa orang-orang yang di dalam pun juga begitu. Aku melihat ke dalam truk yang masih tersisa. Rupanya truk ini berisi persediaan senjata yang cukup banyak.
Aku pun kabur dari tempat itu dengan menggunakan truk ini. Menyusul teman-temanku yang sudah kabur duluan.
“Maaf ya, tapi sekali saja kau menampakan kebodohanmu, maka kau akan mati…” Gumanku pelan. “…Memang itu terdengar kejam, tapi karena di sini adalah medan perang, semua hal itu adil dalam perang… itu kata kalian sendiri kan?”
Sambil berkendara, aku berpikir, ternyata, berita tadi malam itu adalah sungguhan. Aku masih tidak begitu mengerti tentang politik luar negeri, tapi… efeknya sampai membuat Israel berubah sikap menjadi arogan seperti tadi.
0
Kutip
Balas