- Beranda
- Stories from the Heart
My Heart Goes to Jeddah
...
TS
electra78
My Heart Goes to Jeddah
Dear gan... ane mo berbagi cerita, mungkin ini setengah biography dan setengah fiksi... tentang beberapa tahun yang lalu... semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua gan... cerita akan bergulir secara acak, maklum ini ada di catatan diary dahulu... semoga menarik.
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Disini ada 2 tokoh sentral, sebut saja si Dinda(gender wanita biasa disebut Pinkan diawal waktu), berasal dari Palembang keturunan Arab bermarga "S". dan si AKU adalah Joko (gender lelaki biasa disebut Sayang oleh Pinkan). Perkenalan awal si Pinkan ini adalah seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah SMA "Y" di Slipi Jakarta Barat. Joko seorang disain majalah musik & lifestyle "G" lokal ternama di Indonesia.
tapi sebelumnya maaf2 ya gan
kalo salah dan lama posting ... maklum newbie dan jarang OL dimalam hari
Quote:
Diubah oleh electra78 04-04-2014 15:45
anasabila memberi reputasi
1
7.2K
55
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
electra78
#15
Makan Malam di Sebuah Warung Baso Tyson
Agustus2004
Tat tit tut tiii tut... kupencet sebuah nomor handphone dengan nomor mentari
“Hallo Assalamu’alaikum!”sapaku di seberang suara handphone
“Kumsalaam.“sahutmu kudengar sayup-sayup karena suara bising anak-anak sekolah ikut berpartisipasi masuk kependengaranku.
“Hai lagi ngapain? Masih ngajar?”tanyaku dengan senangnya
“Bentar lagi sih sekitar 15menit lagi masuk ngajar.”ujarmu dengan tanpa semangat
“Cape ya? Mau dipijit?”usil mengalir begitu aja pertanyaanku.
Waktu itu jam istirahat sudah menunjuk pukul 11.45 siang dengan Matahari mulai menampakkan amarahnya. Disebuah institusi pendidikan milik yayasan "Y" itu kamu mengajar murid-murid SMU kelas 2 bahasa Inggris. Sekolahan yang letaknya dikepung jalanan Tanjung Duren dan jalan Salak Samir Raya. Kira-kira hampir setahun kamu telah mengajar disitu. Suka duka mulai terajut di sekolah itu mulai dari riuh rendahnya anak-anak belajar dan bermain sampai gosip seputar guru. Pasti seru deh…
“Nanti sepulang ngajar aku telpon kamu ya.”harapmu penuh seakan ingin meluapkan kerinduan seusai mengajar murid-murid kesayanganmu.
Seperti biasa jam 14.00siang hari bunyi bel sekolah berdentang, menandakan semua aktifitas belajar mengajar selesai.
“Assalamu’alaikum... hei lagi ngapain?”sapamu dengan penuh hangat
“Wa’alaikum salam warahmatullah... aku masih kerja nih. Biasa ngedit beberapa halaman.”sahutku sambil masih memegang mouse ditangan kananku dengan tangan kiri memegang ujung kiri keyboard di depan komputerku, sementara handphone terjepit diantara leher dan bahuku.
“Nanti malam kemana? Ketemu yuk! Jalan kemana kek. Bete nih dirumah mulu.” ujarmu sangat berharap. Wajar saja waktu itu kamu masih tinggal dengan saudara sepupumu yang terletak di belakang Hotel Ibis Slipi. Pasti bete dan tidak bebas beraktifitas, bingung mo jalan kemana tiada teman mengiringi…ooo kasiman eh kasihaaan.
“Iya insya Allah nanti malam aku datang... aku jemput tempat biasa ya depan Slipi Jaya.” balasku tak kalah kangennya.
Mungkin segudang rindu ini tak cukup untuk Adindaku Pinkan...
Pulang seperti biasa sore itu jam 5 lebih seperempat. Kulihat Ahmad Kurnia Mushadeq telah pulang dari kerjanya. Dasar bujangan begitu pulang ga langsung ganti baju, tapi malah asyik kongkow diteras depan rumah kos. Sementara itu disampingnya si kecil Raihan keponakan dari ibu kos sedang asyik bermain ayunan kuda dari rotan.
“Hai bro tumben lu pulang sore. Biasanya ngeronda di kantor.”tanya Mus melihat kedatanganku.
“Kampret luh…emang gue hansip?! Gue mo jalan neh ke Slipi... lu mo ikut ga?”balik tanyaku ke dia.
“Ogah ah... males gue kalo cuma jadi kambing congek.”sahutnya sambil menghisap aroma Mild ditangannya.
“Lah bukannya elu doyannya rumput.”timpalku tak mau kalah
“Ha ha ha …dasar lu bewok!!”serunya kesel. Si Mus ini orangnya memang gampang tertawa, apalagi kalo sudah nge cengin orang... pasti ketawa paling kenceng. Dasar orang IT memang rada-rada gila, mungkin begitulah pergaulan orang-orang IT dituntut berpikir cepat, dengan otak prosesor kenceng didukung memory yang luas. Dijamin gampang nyambung dengan celaan... atau mungkin suka menghibur diri disaat stres... he he he...
Btw waktu mulai menjelang maghrib... so aku harus cepat-cepat mandi dan berangkat menjemput sang putri Palembang. Tak lupa sholat Maghrib dulu... tapi ah jam berapa ya? Ataukah sehabis Isya saja aku jalan. Mengingat perjalanan Bintaro – Slipi bisa 1 jam lebih.
Yaa Allah tak sabar hati ini bertemu dengannya, perjalanan menuju Slipi terasa begitu jauh. Mungkin karena macet ini yang menambah gusar hati ini.
Sesampai di depan Slipi Jaya segera kuhubungi Dinda Pinkan agar segera menuju tempat biasa kami bertemu.Tak sampe 1/2jam muncullah putri cantik pujaan hati, dengan kaos warna biru muda dibungkus jaket sweeter dan jins biru tua kau hampiri aku.
“Hai sudah lama nunggu ya? Maaf ya kalo kelamaan..”ucapmu penuh sesal. Lalu kusodorkan helm kecil untuk dia sambil kuberi 2buah permen kiss.
“Nyari tempat makan yuk!”ajakku segera memacu motorku di sepanjang jalan Kemanggisan ini.
“Makan baso aja..cari tempat yang enak ya.”ujarmu dengan hati ceria. Kebahagiaan terpancar di balik spion kanan motorku, tampak sekali kamu ingin bebas lepas. Tak menghiraukan komentar sodara-sodara sepupumu nanti jika kamu pulang kemalaman.
Jalan aku putar dari Slipi Jaya ke arah Kemanggisan, melalui bawah Flyover. Belok ke kiri ikutin jalan... kanan terus ke kiri lagi, ketemu pertigaan lampu merah aku ambil kanan. Mentok sampe ketemu jalan raya Panjang dan kususuri perlahan...
“Hi lihat didepan ada tempat Baso…!” segera kuperlambatkan laju motor ini, lantas berhenti pas didepan. Kami lihat terpampang tulisan Baso Tyson di spanduk depan warung baso itu. Tampak rapi dan bersih warung ini. Terlihat pramusaji nya tampak professional dalam menyambut tamu-tamu.
“Emh kamu pesen gih basonya... oh engga... i..ni sudah ada daftar menunya.”kulihat daftar menu dan Dina Adinda pun segera mencatat pesanan kami. Selesai mencatat... seorang laki-laki pramusaji segera menghampiri kami. Tak lebih dari 15 menit pesanan kami pun diantar.
“Eh ini ada kupon dari teh botol Sosro... emh diisi ga ya?”iseng-iseng kutunjukkan sebuah kupon ke Dinda. Dan dia pun menyetujui untuk mengisinya, siapa tahu kali aja Allah berbaik hati memberi rejeki nomplok... he..he...
Segera kuisi seperlunya kupon ini dan aku kirim sms ke nomor penerangan yang tertuju ke teh botol Sosro tentunya.
Malam ini begitu cerah secerah hati kami, penuh khusyuk hati kami berdua bercengkrama... sampai larut malam. Lebih dari jam 11malam kuantar Dinda pulang ke belakang hotel IBIS Slipi... dan besok kami harus kembali bekerja.
See u honey bunny...
Tat tit tut tiii tut... kupencet sebuah nomor handphone dengan nomor mentari
“Hallo Assalamu’alaikum!”sapaku di seberang suara handphone
“Kumsalaam.“sahutmu kudengar sayup-sayup karena suara bising anak-anak sekolah ikut berpartisipasi masuk kependengaranku.
“Hai lagi ngapain? Masih ngajar?”tanyaku dengan senangnya
“Bentar lagi sih sekitar 15menit lagi masuk ngajar.”ujarmu dengan tanpa semangat
“Cape ya? Mau dipijit?”usil mengalir begitu aja pertanyaanku.
Waktu itu jam istirahat sudah menunjuk pukul 11.45 siang dengan Matahari mulai menampakkan amarahnya. Disebuah institusi pendidikan milik yayasan "Y" itu kamu mengajar murid-murid SMU kelas 2 bahasa Inggris. Sekolahan yang letaknya dikepung jalanan Tanjung Duren dan jalan Salak Samir Raya. Kira-kira hampir setahun kamu telah mengajar disitu. Suka duka mulai terajut di sekolah itu mulai dari riuh rendahnya anak-anak belajar dan bermain sampai gosip seputar guru. Pasti seru deh…
“Nanti sepulang ngajar aku telpon kamu ya.”harapmu penuh seakan ingin meluapkan kerinduan seusai mengajar murid-murid kesayanganmu.
Seperti biasa jam 14.00siang hari bunyi bel sekolah berdentang, menandakan semua aktifitas belajar mengajar selesai.
“Assalamu’alaikum... hei lagi ngapain?”sapamu dengan penuh hangat
“Wa’alaikum salam warahmatullah... aku masih kerja nih. Biasa ngedit beberapa halaman.”sahutku sambil masih memegang mouse ditangan kananku dengan tangan kiri memegang ujung kiri keyboard di depan komputerku, sementara handphone terjepit diantara leher dan bahuku.
“Nanti malam kemana? Ketemu yuk! Jalan kemana kek. Bete nih dirumah mulu.” ujarmu sangat berharap. Wajar saja waktu itu kamu masih tinggal dengan saudara sepupumu yang terletak di belakang Hotel Ibis Slipi. Pasti bete dan tidak bebas beraktifitas, bingung mo jalan kemana tiada teman mengiringi…ooo kasiman eh kasihaaan.
“Iya insya Allah nanti malam aku datang... aku jemput tempat biasa ya depan Slipi Jaya.” balasku tak kalah kangennya.
Mungkin segudang rindu ini tak cukup untuk Adindaku Pinkan...
Pulang seperti biasa sore itu jam 5 lebih seperempat. Kulihat Ahmad Kurnia Mushadeq telah pulang dari kerjanya. Dasar bujangan begitu pulang ga langsung ganti baju, tapi malah asyik kongkow diteras depan rumah kos. Sementara itu disampingnya si kecil Raihan keponakan dari ibu kos sedang asyik bermain ayunan kuda dari rotan.
“Hai bro tumben lu pulang sore. Biasanya ngeronda di kantor.”tanya Mus melihat kedatanganku.
“Kampret luh…emang gue hansip?! Gue mo jalan neh ke Slipi... lu mo ikut ga?”balik tanyaku ke dia.
“Ogah ah... males gue kalo cuma jadi kambing congek.”sahutnya sambil menghisap aroma Mild ditangannya.
“Lah bukannya elu doyannya rumput.”timpalku tak mau kalah
“Ha ha ha …dasar lu bewok!!”serunya kesel. Si Mus ini orangnya memang gampang tertawa, apalagi kalo sudah nge cengin orang... pasti ketawa paling kenceng. Dasar orang IT memang rada-rada gila, mungkin begitulah pergaulan orang-orang IT dituntut berpikir cepat, dengan otak prosesor kenceng didukung memory yang luas. Dijamin gampang nyambung dengan celaan... atau mungkin suka menghibur diri disaat stres... he he he...
Btw waktu mulai menjelang maghrib... so aku harus cepat-cepat mandi dan berangkat menjemput sang putri Palembang. Tak lupa sholat Maghrib dulu... tapi ah jam berapa ya? Ataukah sehabis Isya saja aku jalan. Mengingat perjalanan Bintaro – Slipi bisa 1 jam lebih.
“...salam sayang kasih sayang...
...salam sayang cinta sayaang...”
...salam sayang cinta sayaang...”
Yaa Allah tak sabar hati ini bertemu dengannya, perjalanan menuju Slipi terasa begitu jauh. Mungkin karena macet ini yang menambah gusar hati ini.
Sesampai di depan Slipi Jaya segera kuhubungi Dinda Pinkan agar segera menuju tempat biasa kami bertemu.Tak sampe 1/2jam muncullah putri cantik pujaan hati, dengan kaos warna biru muda dibungkus jaket sweeter dan jins biru tua kau hampiri aku.
“Hai sudah lama nunggu ya? Maaf ya kalo kelamaan..”ucapmu penuh sesal. Lalu kusodorkan helm kecil untuk dia sambil kuberi 2buah permen kiss.
“Nyari tempat makan yuk!”ajakku segera memacu motorku di sepanjang jalan Kemanggisan ini.
“Makan baso aja..cari tempat yang enak ya.”ujarmu dengan hati ceria. Kebahagiaan terpancar di balik spion kanan motorku, tampak sekali kamu ingin bebas lepas. Tak menghiraukan komentar sodara-sodara sepupumu nanti jika kamu pulang kemalaman.
Jalan aku putar dari Slipi Jaya ke arah Kemanggisan, melalui bawah Flyover. Belok ke kiri ikutin jalan... kanan terus ke kiri lagi, ketemu pertigaan lampu merah aku ambil kanan. Mentok sampe ketemu jalan raya Panjang dan kususuri perlahan...
“Hi lihat didepan ada tempat Baso…!” segera kuperlambatkan laju motor ini, lantas berhenti pas didepan. Kami lihat terpampang tulisan Baso Tyson di spanduk depan warung baso itu. Tampak rapi dan bersih warung ini. Terlihat pramusaji nya tampak professional dalam menyambut tamu-tamu.
“Emh kamu pesen gih basonya... oh engga... i..ni sudah ada daftar menunya.”kulihat daftar menu dan Dina Adinda pun segera mencatat pesanan kami. Selesai mencatat... seorang laki-laki pramusaji segera menghampiri kami. Tak lebih dari 15 menit pesanan kami pun diantar.
“Eh ini ada kupon dari teh botol Sosro... emh diisi ga ya?”iseng-iseng kutunjukkan sebuah kupon ke Dinda. Dan dia pun menyetujui untuk mengisinya, siapa tahu kali aja Allah berbaik hati memberi rejeki nomplok... he..he...
Segera kuisi seperlunya kupon ini dan aku kirim sms ke nomor penerangan yang tertuju ke teh botol Sosro tentunya.
Malam ini begitu cerah secerah hati kami, penuh khusyuk hati kami berdua bercengkrama... sampai larut malam. Lebih dari jam 11malam kuantar Dinda pulang ke belakang hotel IBIS Slipi... dan besok kami harus kembali bekerja.
See u honey bunny...
Diubah oleh electra78 04-11-2013 13:21
0