TS
st_illumina
[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread
All is fair in love and war
---
---
Spoiler for Sekapur Sirih:
Perang adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia, karena demi perang teknologi diciptakan, dan dari perang teknologi maju,
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
perang memajukan bangsa, sekaligus memusnahkan bangsa lain,
tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin merasakan kerasnya perang dan penderitaan karenanya,
tetapi, tetap saja perang terjadi,
karena hal hal remeh seperti wilayah, agama, ideologi,
karena perbedaan, antara dua individu yang independen,
konflik, tak bisa dihindarkan,
Perang tak bisa dihindarkan,
Karena, dari pengorbanan pejuang, di perang sebelumnya,
kita bisa merasakan kedamaian.
Spoiler for War:
![[Anthology] March to War - Fanstuff War Fiction Compilation Thread](https://dl.kaskus.id/dl.dropbox.com/u/108710157/Fullscreen%20capture%203192013%2090419%20PM.jpg)
Spoiler for rule of war:
All is Fair in Love and War
War End : 20th April
Maximum War Entry : 4 Post
Spoiler for War Journal Entry Index:
The Fiery Rom - Lacie
Its Urdoom
Red Zone - ElfQiwil
Maret Datang Bersama Topan - Andesko
AKB0048 Liberation of Metrostar - Make.A.Train
Laye 13.5 - Vermilionhelix
Kasur - Giande
Spoiler for War Prize:
-t.b.a-
Diubah oleh st_illumina 20-04-2013 23:34
0
7.7K
Kutip
138
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
lacie.
#30
The Fiery Room
flash fic gpp kan? 
PREKUEL

Spoiler for The Fiery Room:
Ruangan ini adalah ruangan keluarga biasa.
Terlihat dari bagaimana komponen di ruangan ini, ada TV, sofa, karpet, vas bunga, serta debu yang menempel pada benda – benda tersebut.
Namun komponen ruang keluarga ini tidak berada dalam posisi yang benar, terlihat dari sofa yang terbalik, TV yang layarnya pecah, vas yang ambruk ke lantai dengan bunganya yang layu, serta karpet yang sobek.
Debu – debu yang menempel mungkin adalah debu biasa, yang dapat membuat orang – orang menjadi bersin dan terbatuk, tapi penyebab debu tersebut muncul bukanlah karena benda di ruangan ini tidak pernah di bersihkan.
Dan tanpa di undang sama sekali, seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan ini, dan langsung duduk di belakang sofa, dengan nafasnya yang berat, seakan habis melakukan lari maraton.
Sambil mengintip dari balik sofa, orang tersebut sesekali mengecek Revolver-nya, melihat silindernya hanya terisi oleh satu peluru.
“OK, OK, tenang, tenang, Tim... Kau bisa melakukannya, di tanganmu ada Revolver, kan? Yah, seolah – olah bisa menembak 2 orang dengan 1 peluru.”
Seseorang yang memanggil dirinya Tim, terlihat seperti seorang remaja, serta memakai celana panjang serta kaus oblong biasa, namun terlihat sangat kotor seperti baru tercebur pada lumpur.
Kulitnya yang sebetulnya putih sekarang kelihatan sangat kusam, wajah serta tangannya penuh luka gores, dan matanya yang bulat besar kini penuh air karena kemasukan debu, bahkan rambut pirang miliknya terlihat kecoklatan di ujungnya.
kini menutup matanya sambil mengendalikan nafasnya yang seperti suara mesin tua.
Tapi lalu matanya kembali terbuka, ketika sebuah suara langkah kaki terdengar dari pintu ruangan.
"Di mana kau... Bocah pirang jelek? Apa kau berpikir bisa kabur setelah memakan roti kami?"
Keringat mengucur dari dahi Tim, dan matanya kini diselimuti oleh perasaan takut.
Tim kembali menggerakkan bibirnya, berbisik pada dirinya sendiri.
“O-OK? K-kejutan? Ya, itu akan berhasil...”
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat dengan sofa yang terbalik, dan ketika seseorang yang terlihat berumur 30-an berada di garis yang sama dengan tempat duduknya Tim.
BANG!
"Eh?"
RevolverTim mengeluarkan sedikit asap, pertanda bahwa sebuah peluru ditembakkan.
Pria berumur 30-an itu pun melihat dadanya, nampak sebuah lubang yang mengeluarkan cairan merah kental, sebelum akhirnya terjatuh di tempatnya berdiri.
“AP- BOCAH TENGIK! SEENAKNYA SAJA KAU MENEMBAK TEMANKU!”
Wajah Tim yang terlihat kaget ketika menembak kini menjadi terlihat panik, karena mendengar sebuah teriakan lagi.
“Oh i-iya, s-s-satu lagi.”
Sadar bahwa yang mengejarnya bukan hanya 1 orang, Tim melihat Revolver yang digenggamnya, seakan melihat terisi penuh oleh peluru, lalu memejamkan mata dan mulutnya pun mulai bergerak, mulai berdoa pada sang Pencipta.
Beberapa tembakan langsung menembus sofa, tapi yang mengejutkan, tidak ada satu peluru yang menembus badan Tim yang ramping.
“A-aku hi-hidup?”
KLEK
Sebuah bunyi yang sangat familiar bagi pengguna senjata api, yang juga menandakan ketidak-beruntungan.
“SIALAN, KENAPA DI SAAT SEPERTI INI SIH!?!”
Sementara teman orang yang baru terbunuh tersebut mengumpat sambil mengisi peluru, Tim yang terdiam menatap kosong padanya, menyadari bahwa keberuntungan ternyata masih berpihak padanya, segera mengambil Revolver milik mayat yang berada di sebelahnya.
Tanpa mengulur waktu, dengan tangan yang mengenggam kuat seperti sebuah kunci inggris, Tim mengarahkan dan menembak orang yang mencoba membunuhnya tadi.
Untuk kedua kalinya, Tim membunuh orang dewasa yang memiliki badan lebih besar dari miliknya, karena tembakan tersebut tepat mengenai kepala.
“Haahh...”
Helaan nafas pun keluar dari mulut Tim, dan setelah beristirahat sejenak, dia segera mengecek apa yang dimiliki oleh 2 orang dewasa yang baru dia bunuh.
Setelah mengambil sebuah botol berisi air minum serta Revolver lengkap
dengan peluru yang banyaknya dapat digenggam oleh telapak tangannya.
Dia tersenyum lebar, seperti seorang anak yang baru di beri uang jajan oleh orang tuanya. Dan berjalan keluar dari ruangan yang sebagian dindingnya telah hilang, menuju jalanan kota yang juga sebuah bekas medan perang antar saudara.
Terlihat dari bagaimana komponen di ruangan ini, ada TV, sofa, karpet, vas bunga, serta debu yang menempel pada benda – benda tersebut.
Namun komponen ruang keluarga ini tidak berada dalam posisi yang benar, terlihat dari sofa yang terbalik, TV yang layarnya pecah, vas yang ambruk ke lantai dengan bunganya yang layu, serta karpet yang sobek.
Debu – debu yang menempel mungkin adalah debu biasa, yang dapat membuat orang – orang menjadi bersin dan terbatuk, tapi penyebab debu tersebut muncul bukanlah karena benda di ruangan ini tidak pernah di bersihkan.
Dan tanpa di undang sama sekali, seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan ini, dan langsung duduk di belakang sofa, dengan nafasnya yang berat, seakan habis melakukan lari maraton.
Sambil mengintip dari balik sofa, orang tersebut sesekali mengecek Revolver-nya, melihat silindernya hanya terisi oleh satu peluru.
“OK, OK, tenang, tenang, Tim... Kau bisa melakukannya, di tanganmu ada Revolver, kan? Yah, seolah – olah bisa menembak 2 orang dengan 1 peluru.”
Seseorang yang memanggil dirinya Tim, terlihat seperti seorang remaja, serta memakai celana panjang serta kaus oblong biasa, namun terlihat sangat kotor seperti baru tercebur pada lumpur.
Kulitnya yang sebetulnya putih sekarang kelihatan sangat kusam, wajah serta tangannya penuh luka gores, dan matanya yang bulat besar kini penuh air karena kemasukan debu, bahkan rambut pirang miliknya terlihat kecoklatan di ujungnya.
kini menutup matanya sambil mengendalikan nafasnya yang seperti suara mesin tua.
Tapi lalu matanya kembali terbuka, ketika sebuah suara langkah kaki terdengar dari pintu ruangan.
"Di mana kau... Bocah pirang jelek? Apa kau berpikir bisa kabur setelah memakan roti kami?"
Keringat mengucur dari dahi Tim, dan matanya kini diselimuti oleh perasaan takut.
Tim kembali menggerakkan bibirnya, berbisik pada dirinya sendiri.
“O-OK? K-kejutan? Ya, itu akan berhasil...”
Suara langkah kaki terdengar semakin dekat dengan sofa yang terbalik, dan ketika seseorang yang terlihat berumur 30-an berada di garis yang sama dengan tempat duduknya Tim.
BANG!
"Eh?"
RevolverTim mengeluarkan sedikit asap, pertanda bahwa sebuah peluru ditembakkan.
Pria berumur 30-an itu pun melihat dadanya, nampak sebuah lubang yang mengeluarkan cairan merah kental, sebelum akhirnya terjatuh di tempatnya berdiri.
“AP- BOCAH TENGIK! SEENAKNYA SAJA KAU MENEMBAK TEMANKU!”
Wajah Tim yang terlihat kaget ketika menembak kini menjadi terlihat panik, karena mendengar sebuah teriakan lagi.
“Oh i-iya, s-s-satu lagi.”
Sadar bahwa yang mengejarnya bukan hanya 1 orang, Tim melihat Revolver yang digenggamnya, seakan melihat terisi penuh oleh peluru, lalu memejamkan mata dan mulutnya pun mulai bergerak, mulai berdoa pada sang Pencipta.
Beberapa tembakan langsung menembus sofa, tapi yang mengejutkan, tidak ada satu peluru yang menembus badan Tim yang ramping.
“A-aku hi-hidup?”
KLEK
Sebuah bunyi yang sangat familiar bagi pengguna senjata api, yang juga menandakan ketidak-beruntungan.
“SIALAN, KENAPA DI SAAT SEPERTI INI SIH!?!”
Sementara teman orang yang baru terbunuh tersebut mengumpat sambil mengisi peluru, Tim yang terdiam menatap kosong padanya, menyadari bahwa keberuntungan ternyata masih berpihak padanya, segera mengambil Revolver milik mayat yang berada di sebelahnya.
Tanpa mengulur waktu, dengan tangan yang mengenggam kuat seperti sebuah kunci inggris, Tim mengarahkan dan menembak orang yang mencoba membunuhnya tadi.
Untuk kedua kalinya, Tim membunuh orang dewasa yang memiliki badan lebih besar dari miliknya, karena tembakan tersebut tepat mengenai kepala.
“Haahh...”
Helaan nafas pun keluar dari mulut Tim, dan setelah beristirahat sejenak, dia segera mengecek apa yang dimiliki oleh 2 orang dewasa yang baru dia bunuh.
Setelah mengambil sebuah botol berisi air minum serta Revolver lengkap
dengan peluru yang banyaknya dapat digenggam oleh telapak tangannya.
Dia tersenyum lebar, seperti seorang anak yang baru di beri uang jajan oleh orang tuanya. Dan berjalan keluar dari ruangan yang sebagian dindingnya telah hilang, menuju jalanan kota yang juga sebuah bekas medan perang antar saudara.
Fin
PREKUEL
Diubah oleh lacie. 30-03-2013 20:24
0
Kutip
Balas