TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#17
Conversation
Spoiler for Conversation:
“Kupikir aku akan bekerja sambilan.”
Aku langsung tersedak ketika sedang meminum air dingin, karena mendengar suaranya yang terdengar sangat serius.
Setelah mengelap mulut serta menaruh gelas di meja, aku mulai berbicara pada adikku yang sedang duduk di kursi meja makan.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Ekspresi adikku kini berubah menjadi ragu, tidak seperti suaranya yang sangat yakin tadi.
“H-habis, ki-kita kan ti-tidak h-hanya...”
Bibirnya berhenti bergerak, namun aku tahu apa yang ingin dia katakan.
“Bergantung pada bantuan dari luar saja?”
Perlahan dia mengangguk, dan aku langsung menghela nafas.
Yah, kupikir ini adalah masalah yang sangat krusial, karena semenjak kematian ibu kami terus bergantung pada bantuan dari luar, seperti donasi yayasan yatim piatu, sementara untuk tabungan ibu digunakan oleh kami untuk keperluan sekolah saja.
“Lalu, kau ingin bekerja apa? Menjadi penjaga kasir?”
Kali ini dia menjawabnya dengan serius, mendengar ucapanku yang seperti bukan melarang, namun menantangnya.
“Menjadi guru privat anak SD atau SMP mungkin?”
Hmm... Ucapannya masuk akal juga, melihat prestasinya di atas rata – rata, dan juga karena anak SD atau SMP, kupikir dia bisa mengatasinya.
“OK, mungkin kakak setuju, tapi... Bukankah kau sangat sibuk? Dari mengurus rumah ini serta kegiatan OSIS?”
“Itu sih gampang, ada kok teman OSIS-ku yang juga kerja sambilan, mungkin aku akan meminta izin. Dan untuk pekerjaan rumah... Bukankah kakak bisa membantunya juga?”
Aku menghela nafas, merasa tidak mungkin untuk menahannya lagi, melihat dirinya yang bersungguh – sungguh.
“Ya sudah kalau itu keinginanmu, kakak akan mendukungnya.” ucapku sambil berjalan ke ruang tengah, “Dan mungkin, kakak akan melakukan hal yang sama sepertimu.”
Mendengar ucapanku, adikku balik bertanya dengan nada tidak percaya.
“Kakak ingin menjadi guru privat juga?”
Aku menoleh ke tempat adikku berada.
“Tidak, kakak paling menjadi penjaga kasir atau semacamnya, lagipula mana mungkin kakak menjadi guru privat, nilai akademik saja rendah seperti tinggi badanmu.”
Adikku terlihat ingin tertawa mendengar aku mengakui kebodohanku, namun karena disamakan dengan tinggi badannya, dia menjadi kesal.
“KAKAK! Kenapa kebodohan kakak disamakan dengan tinggiku sih!?!”
Aku langsung tertawa, berpikir kebodohanku ternyata ada sedikit manfaatnya juga.
Yang pasti...
Mana ada kakak yang bergantung pada adiknya sendiri?
Aku langsung tersedak ketika sedang meminum air dingin, karena mendengar suaranya yang terdengar sangat serius.
Setelah mengelap mulut serta menaruh gelas di meja, aku mulai berbicara pada adikku yang sedang duduk di kursi meja makan.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Ekspresi adikku kini berubah menjadi ragu, tidak seperti suaranya yang sangat yakin tadi.
“H-habis, ki-kita kan ti-tidak h-hanya...”
Bibirnya berhenti bergerak, namun aku tahu apa yang ingin dia katakan.
“Bergantung pada bantuan dari luar saja?”
Perlahan dia mengangguk, dan aku langsung menghela nafas.
Yah, kupikir ini adalah masalah yang sangat krusial, karena semenjak kematian ibu kami terus bergantung pada bantuan dari luar, seperti donasi yayasan yatim piatu, sementara untuk tabungan ibu digunakan oleh kami untuk keperluan sekolah saja.
“Lalu, kau ingin bekerja apa? Menjadi penjaga kasir?”
Kali ini dia menjawabnya dengan serius, mendengar ucapanku yang seperti bukan melarang, namun menantangnya.
“Menjadi guru privat anak SD atau SMP mungkin?”
Hmm... Ucapannya masuk akal juga, melihat prestasinya di atas rata – rata, dan juga karena anak SD atau SMP, kupikir dia bisa mengatasinya.
“OK, mungkin kakak setuju, tapi... Bukankah kau sangat sibuk? Dari mengurus rumah ini serta kegiatan OSIS?”
“Itu sih gampang, ada kok teman OSIS-ku yang juga kerja sambilan, mungkin aku akan meminta izin. Dan untuk pekerjaan rumah... Bukankah kakak bisa membantunya juga?”
Aku menghela nafas, merasa tidak mungkin untuk menahannya lagi, melihat dirinya yang bersungguh – sungguh.
“Ya sudah kalau itu keinginanmu, kakak akan mendukungnya.” ucapku sambil berjalan ke ruang tengah, “Dan mungkin, kakak akan melakukan hal yang sama sepertimu.”
Mendengar ucapanku, adikku balik bertanya dengan nada tidak percaya.
“Kakak ingin menjadi guru privat juga?”
Aku menoleh ke tempat adikku berada.
“Tidak, kakak paling menjadi penjaga kasir atau semacamnya, lagipula mana mungkin kakak menjadi guru privat, nilai akademik saja rendah seperti tinggi badanmu.”
Adikku terlihat ingin tertawa mendengar aku mengakui kebodohanku, namun karena disamakan dengan tinggi badannya, dia menjadi kesal.
“KAKAK! Kenapa kebodohan kakak disamakan dengan tinggiku sih!?!”
Aku langsung tertawa, berpikir kebodohanku ternyata ada sedikit manfaatnya juga.
Yang pasti...
Mana ada kakak yang bergantung pada adiknya sendiri?
Fin
0
Kutip
Balas