Sebetulnya, keadaan hari ini tidak ada yang spesial, bagaimana teriknya matahari saat
Summer, anak kecil yang bermain dengan riang di taman bermain, dan toko es krim yang dipenuhi oleh para pembeli.
Namun sayangnya, keadaan di kamarku sekarang sangat spesial, hingga aku benar – benar ingin menjadi normal kembali.
Berpuluh – puluh halaman kertas tertumpuk di salah satu ujung meja belajarku, mengantri hingga terisi oleh tinta berwarna hitam pulpen kepunyaanku.
Aku meminum teh dingin yang sudah kusediakan, terus berpikir positif pada hal yang selalu melandaku bertahun – tahun.
Jari – jariku sedang disiksa tanpa belas kasihan, dipaksa terus bergerak hingga sepertinya mereka harus copot dari tanganku.
Sementara di wajahku, mengucur keringat dingin seperti air terjun, meski kamar ini sebetulnya terasa seperti pemanggangan.
Penglihatanku juga sepertinya sudah mulai buram, membuatku selalu harus mengulang – ulang pekerjaanku karena salah tempat.
Dan ternyata, bukan bagian badanku saja yang sudah menolak perintahku, otakku juga sudah mengalami malfungsi, sudah tidak bisa untuk berpikir lurus, tidak bisa fokus untuk melakukan apa yang mesti kulakukan sekarang.
Sesekali aku melihat ke atas dinding, melihat benda bulat sang penunjuk waktu, dan itu biasanya sangat manjur untuk menyadarkanku bahwa aku masih memiliki kewajiban di dunia.
Sayangnya, krisis ini ternyata lebih kuat dari yang kukira.
“ARRGHHH!!!”
Pulpen kulempar, dan aku langsung loncat ke kasurku, sambil berharap diriku terkena
Amnesia, melupakan sesuatu yang terus menghantuiku.
Namun sesaat sebelum menutup mata, aku tersadar, bahwa aku masih memiliki sebuah bala bantuan.
“ELZAAAA!!”
Tanpa waktu yang lama, pintu kamarku pun langsung terbuka keras.
“KAKAK! Apa – apaan sih teriak seperti itu!?! Bisa kedengaran tetangga tahu!”
Aku langsung bangun dari kasurku, lalu segera memerintah dirinya.
“ITU TIDAK PENTING! Lebih baik kau bantu kakak untuk menyelesaikan soal – soal ini!”
“Hah?” ucapnya kaget, “Kakak belum selesai? Bukankah itu PR yang diberikan guru pada saat sebelum liburan ?”
“BANYAK TANYA! PR ini dikumpulkan besok, jadi, cepat bantu kakak!”
Bukannya menuruti perintah, dia malah menjulurkan lidah.
“Siapa suruh bermalas – malasan, aku saja yang banyak kegiatan sudah selesai! Tanggung sendiri akibatnya!”
“Hey! Elza, HEY!”
Dia menutup pintu kamar dari luar, meninggalkanku untuk menghadapi sendiri krisis ini.
Keesokan harinya, sudah bisa kutebak, aku membersihkan seluruh di toilet di sekolah, terkecuali toilet untuk gadis tentunya.
Fin