TS
lacie.
[Orific] My World, My Feeling
berawal dari sebuah kegalauan karena UTS matematika 
Source : Google
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...

Spoiler for Character:
Spoiler for Aku/Kakak (Zael):
Spoiler for Adik (Elza):
Source : Google
Spoiler for Warning:
Oh ya, tulisan di sini ada konten Incestnya, jadi kalo yang gak kuat, mending gak usah baca
Spoiler for Index:
PART 1 : WORLD; SUMMER
Daily Life
Lacrimosa
Raindrops and Puddles
Extreme Condition
Night
Luxury Time
Crisis
Creeping Shadow
Conversation
PART 2 : WORLD; FALL
Tension
Disorderly Design
Irreparable Mistake
Rising Beats
Just Being Near You
Conflicting Impressions
To You
Gigantic Silhoutte
Being Congenial
Hotpot
Memory
Shadow of the Truth
A Determined Heart
Result
New Days
Beyond the Sky
Oh Dear...
In the Middle of a Dream
Ruins
Down
For Tomorrow
Uneasiness
Breathlessly
While I Think...
Diubah oleh lacie. 26-06-2013 12:08
1
7K
Kutip
88
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
lacie.
#12
Luxury Time
Spoiler for Luxury Time:
“Mari, kita lakukan hal terlarang.”
Begitu menangkap kalimat tersebut, aku menghentikan langkah, lalu
menengok kepada adikku yang berdiri tepat di belakangku, sambil memegang ujung kausku.
Waktu yang kulalui sekarang adalah malam hari, tepatnya jam 9 malam, dan keadaan badan serta pikiranku sudah jauh di bawah normal, benar – benar butuh istirahat, membuatku mengira kalimat itu hanya sebuah bentuk halusinasi.
Namun ketika melihat ekspresi wajahnya, aku sadar bahwa dia benar – benar serius.
Pikiranku kembali bekerja, namun yang sedang proses olenya bukanlah sesuatu yang waras, melainkan fantasi yang aneh – aneh.
Apa karena mengantuk dia menjadi seperti itu?
Kedua tanganku memegang bahunya, lalu aku berkata.
“Kalau begitu, ayo kita lakukan.”
Hah? Kenapa kalimat yang keluar dari mulut malah berbeda? Bukankah otakku menyuruh mulutku untuk berkata “lebih baik kau tidur saja”?
Dia tersenyum, lalu menggenggam tanganku dan menyeretku ke arah...
Ruang tengah? Bukankah dia seharusnya menyeretku ke... Upss, kenapa aku daritadi berpikir aneh terus ya?
Kesampingkan dulu hal tersebut, ruang tengah di sini sih memang terlihat seperti biasa, ada TV, sofa, serta hamparan karpet.
Namun ada satu hal yang membuat tempat ini berbeda, terlihat tumpukan kotak hitam serta beberapa kantong... Snack?
“Kalau begitu, ayo kita mainkan filmnya!”
Adikku berteriak dan langsung mengambil salah satu kotak hitam, yang ternyata adalah tempat DVD.
Oh, jadi hal terlarang adalah begadang? Hmm... sepertinya memang itu adalah hal terlarang, bagaimana ibu dulu selalu marah bila salah satu dari kami begadang, entah karena bermain Gameatau mengerjakan PR.
Aku langsung duduk di sofa, yah, karena ini bukanlah hal yang sama dengan... Pikiranku, lagipula aku sudah setuju untuk melakukannya.
“Jadi, film apa yang akan kita tonton?”
Adikku yang sedang merobek bungkus Snack menjawabku tanpa menoleh.
“Film drama, atau tepatnya kisah romantis.”
Aku mengerutkan dahi, kaget dengan pilihan adikku yang aneh.
“Hah? Bukankah lebih tepat film horor di keadaan malam seperti ini?”
“Dan kakak langsung meloncat dibalik sofa karena menontonnya?”
Mendengar ucapannya yang sedikit ketus, aku langsung tertawa, teringat bahwa aku tidak kuat mental untuk menonton film horor.
Tapi, kenapa aku bisa sampai lupa yah kalau diriku takut film horor? Apa itu karena otakku yang tiba – tiba menjadi aneh? Ahh... Sudahlah, lebih baik aku menikmati hal yang terlarang ini, sebuah waktu yang tergolong sangat mewah bagi kami berdua.
Begitu menangkap kalimat tersebut, aku menghentikan langkah, lalu
menengok kepada adikku yang berdiri tepat di belakangku, sambil memegang ujung kausku.
Waktu yang kulalui sekarang adalah malam hari, tepatnya jam 9 malam, dan keadaan badan serta pikiranku sudah jauh di bawah normal, benar – benar butuh istirahat, membuatku mengira kalimat itu hanya sebuah bentuk halusinasi.
Namun ketika melihat ekspresi wajahnya, aku sadar bahwa dia benar – benar serius.
Pikiranku kembali bekerja, namun yang sedang proses olenya bukanlah sesuatu yang waras, melainkan fantasi yang aneh – aneh.
Apa karena mengantuk dia menjadi seperti itu?
Kedua tanganku memegang bahunya, lalu aku berkata.
“Kalau begitu, ayo kita lakukan.”
Hah? Kenapa kalimat yang keluar dari mulut malah berbeda? Bukankah otakku menyuruh mulutku untuk berkata “lebih baik kau tidur saja”?
Dia tersenyum, lalu menggenggam tanganku dan menyeretku ke arah...
Ruang tengah? Bukankah dia seharusnya menyeretku ke... Upss, kenapa aku daritadi berpikir aneh terus ya?
Kesampingkan dulu hal tersebut, ruang tengah di sini sih memang terlihat seperti biasa, ada TV, sofa, serta hamparan karpet.
Namun ada satu hal yang membuat tempat ini berbeda, terlihat tumpukan kotak hitam serta beberapa kantong... Snack?
“Kalau begitu, ayo kita mainkan filmnya!”
Adikku berteriak dan langsung mengambil salah satu kotak hitam, yang ternyata adalah tempat DVD.
Oh, jadi hal terlarang adalah begadang? Hmm... sepertinya memang itu adalah hal terlarang, bagaimana ibu dulu selalu marah bila salah satu dari kami begadang, entah karena bermain Gameatau mengerjakan PR.
Aku langsung duduk di sofa, yah, karena ini bukanlah hal yang sama dengan... Pikiranku, lagipula aku sudah setuju untuk melakukannya.
“Jadi, film apa yang akan kita tonton?”
Adikku yang sedang merobek bungkus Snack menjawabku tanpa menoleh.
“Film drama, atau tepatnya kisah romantis.”
Aku mengerutkan dahi, kaget dengan pilihan adikku yang aneh.
“Hah? Bukankah lebih tepat film horor di keadaan malam seperti ini?”
“Dan kakak langsung meloncat dibalik sofa karena menontonnya?”
Mendengar ucapannya yang sedikit ketus, aku langsung tertawa, teringat bahwa aku tidak kuat mental untuk menonton film horor.
Tapi, kenapa aku bisa sampai lupa yah kalau diriku takut film horor? Apa itu karena otakku yang tiba – tiba menjadi aneh? Ahh... Sudahlah, lebih baik aku menikmati hal yang terlarang ini, sebuah waktu yang tergolong sangat mewah bagi kami berdua.
Fin
0
Kutip
Balas