- Beranda
- The Lounge
Sejarah "BABAD PATI" Jawa Tengah
...
TS
irengdoop
Sejarah "BABAD PATI" Jawa Tengah
Kabupaten Pati, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Pati. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Rembang di timur, Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan di selatan, serta Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara di barat.
Sejarah Pati
Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara".
Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kani" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.
Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.
Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa
Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.
Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan
Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan
Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama "Sapanyana".
Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.
Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkimpoian putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).
Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkimpoiaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkimpoian antara " Raden Jasari " dan " Rara Rayungwulan " gagal total.
Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.
Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikimpoikan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ".
Kadipaten Pesantenan
Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar " Adipati Jayakusuma di Pesantenan.
Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.
Kabupaten Pati
Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.
Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.
Pati Bagian dari Majapahit
Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.
Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.
Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.
Hari Jadi Pati
Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.
Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala " KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI " yang bermakna " Dengan bekerja keras dan penuh do'a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah ". Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Pati".
Sejarah Pati
Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: "keris rambut pinutung dan kuluk kanigara".
Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu "keris rambut pinutung dan kuluk kani" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan.
Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.
Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa
Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri.
Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan
Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan
Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama "Sapanyana".
Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.
Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkimpoian putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik).
Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkimpoiaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkimpoian antara " Raden Jasari " dan " Rara Rayungwulan " gagal total.
Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.
Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikimpoikan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ".
Kadipaten Pesantenan
Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar " Adipati Jayakusuma di Pesantenan.
Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu " Raden Tambra ". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.
Kabupaten Pati
Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.
Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ..... Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar "Rakai", Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya.
Pati Bagian dari Majapahit
Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ..... Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.
Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit.
Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323.
Hari Jadi Pati
Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati.
Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala " KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI " yang bermakna " Dengan bekerja keras dan penuh do'a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah ". Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai "Hari Jadi Kabupaten Pati".
0
37.3K
28
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irengdoop
#1
Nama-Nama Adipati/Bupati Pati (Versi Pemda)
Dari Parang Garuda sampai dengan sekarang
Jabatan & Tempat
1. Raden Tambranegoro
Adipati di Kadipaten Pesantenan dan Pati
Sekitar Tahun 1300
2. Raden Tandanegara
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1330
3. Kayu Bralit
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1511-1518
(de Graff)
4. Ki Ageng Penjawi
Adipati di Kadipaten Pati setelah meninggalnya Aryo Penangsang (penguasa Jipang Panolan)
Tahun 1568-15..
5. Raden Sidik bergelar Djajakoesoema I
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1577-1601
6. Djajakoesoema II
Adipati di Kadipaten Pati (Adipati Pragola I)
Tahun 1601-1628
7. Ki Aryo Panggedongan/Penjaringan
(Djajakoesoema III
Adipati di Kadipaten Pati (Adipati Pragola II)
Tahun 1628-1640
8. Setelah pemerintahan Adipati Pragola III, pemerintahan kosong / tidak didirikan Adipati, akan tetapi pemerintahan pecah menjadi 2 (dua) Ketemenggungan dan 7 (tujuh) Kademangan, yaitu;
Katemenggungan :
· Tumenggung Wetenan
· Tumenggung Kulonan
Kademangan :
· Demang Tenggeles
· Demang Selowesi
· Demang Cengkalsewu
· Demang Glonggong
· Demang Paselehan
· Demang Maergotuhu
· Demang Juana
9. Mangung Oneng I
(Lepek)
Adipati di Kadipaten Pati
S/d Tahun 1670 (Pakem)
10. Mangun Oneng II
(Widjo)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1678-1682
11. Tumenggung Tirtono
(adik Mangoen Oneng II)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1682-1690 (Pakem)
12. Mangoen Oneng III
(Abroenoto)
Adipati di Kadipaten Pati (Putra Mangoen Oneng II)
Tahun 1690-1701
13. Soemodipoero (Putra Pangeran Kudus)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1701-1718
14. Pangeran Koming
(Pamegat Sari I)
Adipati di Kadipaten Pati (Putra Sumodipuro)
Tahun 1718-1720
15 Pangeran Kuning
(Pamegat Sari II)
Adipati di Kadipaten Pati (wafat dan makamnya di Kudus)
Tahun 1720
16 Pamegat Sari III (Raden Wiratmodjo)
Adipati di Kadipaten Pati (Pakem, hal 131, no. 16 zie sejarah 7/407)
Tahun 1761 dimukimkan di Dukuh Muktisari,Desa Muktiharjo
17 Pangeran Aryo (Megatsari III)
Adipati di Kadipaten Pati (Zaman Deandels zie sejarah 9/407)
Diasingkan ke Belanda dan makamnya di Surabaya
18 · Sosrodiningrat
· Mangunskusumo
Bupati Wetan
Bupati Kulon
Tahun 1807-1808
Tahun 1807-1812
19 Kiai Adipati Tjonronegoro
Bupati Pati/pindahan dari Bupati Lamongan
Tahun 1808-1812
20 Adipati Raden Tjonronegoro
Bupati Pati, dimakamkan di Desa Puri, Pati
Tahun1812-1829
21 Raden Bagus Mita bergelar Kanjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegoro
Bupati Pati
Tahun 1829-1895 dapat dibaca pada prasasti berdirinya Masjid Gambiran Pati
22 Raden Bagus Kasan bergelar Raden Adipati Ario Tjondro Adinegoro
Bupati pati
Tahun 1896-1904 (23 Januari)
23 Raden Tumenggung Prawiro Werdoyo
Bupati pati
Tahun 1904-1907
24 Raden Adipati Ario Soewondo
Bupati pati
Tahun 1907-1934
Wafat 4 Juni 1934 dimakamkan di Puri
25 K.G.P. Dipokoesoemo
Bupati pati
(enam bulan)
Tahun 1934-1935
26 R.T.A. Milono
Bupati pati,kemudian menjadi Residen Pati
Tahun 1935-1945
Tahun 1945-1948
27 M. Murjono Djojodigdo
Bupati pati
Tahun 1945-1948 tahun 1948 terjadi perebutan kekuasaan oleh PKI/Muso. Mulai Desember 1948 clash II, pd. Bupati Pati ditunjuk Sukemi, Wedono Tayu. Pemerintahan RI di Todanan.
28 Raden Soebijanto
Bupati pati
Tahun 1950-1952
29 Raden Doekardji
Mangoen Koesoemo
Bupati pati
Tahun 1952-1954
30 Palal Al Pranoto
Palal Al Pranoto
Bupati pati
Kepala Daerah Swatantra
Tahun 1954-1957
Tahun 1957-1959
31 M.Soemardi Soero Prawiro
Pegawai Tinggi diperbantukan Pemda Tingkat II
Tahun 1957-1959
32 M, Soetjipto
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1959-1967
33 A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1967-1973
34 Kol.Pol.Drs, Edy Rustam Santiko
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1973-1979
35 Kol.Inf.Panoedjoe Hidayat
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1979-1981 menjabat 18 bulan/meninggal dunia
36 Drs. Soeparto
Residen Pati merangkap Pj. Bupati Kdh. Tingkat II Pati
S/d Agustus 1981
37 Kol.Art. Saoedji
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
6 Agustus 1981
s/d
20 September 1991
38 Kol.Kav. Sunardji
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
20 September 1991 s/d
20 September1996
39 Kol.Art.H.Yusuf
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
20 September 1996
40 Muhammad Tasiman
Bupati Pati
Tahun 2001-2011
41. Haryanto Joyo Sudirjo
Bupati Pati (Putra asli Juwana)
Tahun 2012-2017
Jabatan & Tempat
1. Raden Tambranegoro
Adipati di Kadipaten Pesantenan dan Pati
Sekitar Tahun 1300
2. Raden Tandanegara
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1330
3. Kayu Bralit
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1511-1518
(de Graff)
4. Ki Ageng Penjawi
Adipati di Kadipaten Pati setelah meninggalnya Aryo Penangsang (penguasa Jipang Panolan)
Tahun 1568-15..
5. Raden Sidik bergelar Djajakoesoema I
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1577-1601
6. Djajakoesoema II
Adipati di Kadipaten Pati (Adipati Pragola I)
Tahun 1601-1628
7. Ki Aryo Panggedongan/Penjaringan
(Djajakoesoema III
Adipati di Kadipaten Pati (Adipati Pragola II)
Tahun 1628-1640
8. Setelah pemerintahan Adipati Pragola III, pemerintahan kosong / tidak didirikan Adipati, akan tetapi pemerintahan pecah menjadi 2 (dua) Ketemenggungan dan 7 (tujuh) Kademangan, yaitu;
Katemenggungan :
· Tumenggung Wetenan
· Tumenggung Kulonan
Kademangan :
· Demang Tenggeles
· Demang Selowesi
· Demang Cengkalsewu
· Demang Glonggong
· Demang Paselehan
· Demang Maergotuhu
· Demang Juana
9. Mangung Oneng I
(Lepek)
Adipati di Kadipaten Pati
S/d Tahun 1670 (Pakem)
10. Mangun Oneng II
(Widjo)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1678-1682
11. Tumenggung Tirtono
(adik Mangoen Oneng II)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1682-1690 (Pakem)
12. Mangoen Oneng III
(Abroenoto)
Adipati di Kadipaten Pati (Putra Mangoen Oneng II)
Tahun 1690-1701
13. Soemodipoero (Putra Pangeran Kudus)
Adipati di Kadipaten Pati
Tahun 1701-1718
14. Pangeran Koming
(Pamegat Sari I)
Adipati di Kadipaten Pati (Putra Sumodipuro)
Tahun 1718-1720
15 Pangeran Kuning
(Pamegat Sari II)
Adipati di Kadipaten Pati (wafat dan makamnya di Kudus)
Tahun 1720
16 Pamegat Sari III (Raden Wiratmodjo)
Adipati di Kadipaten Pati (Pakem, hal 131, no. 16 zie sejarah 7/407)
Tahun 1761 dimukimkan di Dukuh Muktisari,Desa Muktiharjo
17 Pangeran Aryo (Megatsari III)
Adipati di Kadipaten Pati (Zaman Deandels zie sejarah 9/407)
Diasingkan ke Belanda dan makamnya di Surabaya
18 · Sosrodiningrat
· Mangunskusumo
Bupati Wetan
Bupati Kulon
Tahun 1807-1808
Tahun 1807-1812
19 Kiai Adipati Tjonronegoro
Bupati Pati/pindahan dari Bupati Lamongan
Tahun 1808-1812
20 Adipati Raden Tjonronegoro
Bupati Pati, dimakamkan di Desa Puri, Pati
Tahun1812-1829
21 Raden Bagus Mita bergelar Kanjeng Pangeran Ario Tjondro Adinegoro
Bupati Pati
Tahun 1829-1895 dapat dibaca pada prasasti berdirinya Masjid Gambiran Pati
22 Raden Bagus Kasan bergelar Raden Adipati Ario Tjondro Adinegoro
Bupati pati
Tahun 1896-1904 (23 Januari)
23 Raden Tumenggung Prawiro Werdoyo
Bupati pati
Tahun 1904-1907
24 Raden Adipati Ario Soewondo
Bupati pati
Tahun 1907-1934
Wafat 4 Juni 1934 dimakamkan di Puri
25 K.G.P. Dipokoesoemo
Bupati pati
(enam bulan)
Tahun 1934-1935
26 R.T.A. Milono
Bupati pati,kemudian menjadi Residen Pati
Tahun 1935-1945
Tahun 1945-1948
27 M. Murjono Djojodigdo
Bupati pati
Tahun 1945-1948 tahun 1948 terjadi perebutan kekuasaan oleh PKI/Muso. Mulai Desember 1948 clash II, pd. Bupati Pati ditunjuk Sukemi, Wedono Tayu. Pemerintahan RI di Todanan.
28 Raden Soebijanto
Bupati pati
Tahun 1950-1952
29 Raden Doekardji
Mangoen Koesoemo
Bupati pati
Tahun 1952-1954
30 Palal Al Pranoto
Palal Al Pranoto
Bupati pati
Kepala Daerah Swatantra
Tahun 1954-1957
Tahun 1957-1959
31 M.Soemardi Soero Prawiro
Pegawai Tinggi diperbantukan Pemda Tingkat II
Tahun 1957-1959
32 M, Soetjipto
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1959-1967
33 A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1967-1973
34 Kol.Pol.Drs, Edy Rustam Santiko
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1973-1979
35 Kol.Inf.Panoedjoe Hidayat
Bupati Kdh. Pati
Tahun 1979-1981 menjabat 18 bulan/meninggal dunia
36 Drs. Soeparto
Residen Pati merangkap Pj. Bupati Kdh. Tingkat II Pati
S/d Agustus 1981
37 Kol.Art. Saoedji
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
6 Agustus 1981
s/d
20 September 1991
38 Kol.Kav. Sunardji
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
20 September 1991 s/d
20 September1996
39 Kol.Art.H.Yusuf
Bupati Kdh. Tingkat II Pati
20 September 1996
40 Muhammad Tasiman
Bupati Pati
Tahun 2001-2011
41. Haryanto Joyo Sudirjo
Bupati Pati (Putra asli Juwana)
Tahun 2012-2017
0