Aku hanya menatap kosong, pada seseorang wanita yang kukenal sejak diriku masih bayi, tengah beristirahat di sebuah peti di depan diriku.
Tangan kananku menyentuh badannya, merasakan betapa dinginnya dia sekarang, berbeda dengan kehangatannya yang menemaniku di hari – hari sebelumnya.
“Ibu...”
Pikiranku terasa seperti warna putih, sangat hampa, jangankan untuk mengeluarkan air mata, memasang sebuah ekspresi saja sudah sangat sulit.
Namun ketika aku menatap sekeliling ruangan ini, aku merasakan sebuah atmosfer yang kelam, gelap seperti sebuah jurang yang dalam.
Ya, kerabat serta kenalan ibu sedang terlarut kesedihan di sini, bahkan ada sebuah wajah yang tidak pernah aku lihat.
Mereka menangis layaknya mereka adalah orang terdekat ibu, membuatku tidak habis pikir, apakah mereka harus melakukan hal tersebut, padahal bertemu dengannya saja bukan setiap hari seperti aku serta adikku.
Dan karena itu juga, darahku menjadi bergejolak.
Empati? PERSETAN DENGAN HAL TERSEBUT.
MEREKA BAHKAN TIDAK MENCOBA MENGHIBUR ATAU MEMBANTU KAMI, MALAH MENANGISI ORANG YANG TELAH TIADA.
APA MEREKA TOLOL? APA MEREKA TIDAK MERASAKAN BAGAIMANA BINGUNGNYA UNTUK MENGHADAPI MASA DEPAN YANG TIDAK PASTI?
YANG LEBIH PARAH, TELINGAKU MENANGKAP SEBAGIAN DARI MEREKA TENGAH BERBICARA BAGAIMANA NASIB RUMAH YANG DIMILIKI IBU, MEMBUATKU LANGSUNG BERDIRI HENDAK MENGHAJAR MEREKA.
Tapi sebelum melakukannya, sebuah genggaman lemas terasa di lengan kiriku.
“K-Kak?”
Aku langsung menoleh, melihat adikku di sebelahku berusaha berbicara karena isak tangisnya.
“K-kak, ba-b-bagaimana dengan ki-kita?”
Pertanyaan tersebut benar – benar menusuk diriku, aku bahkan terdiam dulu sebelum menjawabnya.
“Ka-kakak tidak tahu, nanti kita lihat saja.”
Jawaban yang sangat pahit, sepahit senyumku sekarang, dan itu membuat isak tangisnya semakin keras.
Seketika aku langsung memeluknya, berusaha sebisa mungkin untuk menenangkannya, meski aku tahu aku tidak memiliki kekuatan.
“Sssh... Tenang, tenang, kakak akan selalu berada di sampingmu, tidak peduli bagaimana keadaannya.”
Tangisannya yang nyaring mulai mereda, sementara aku sekarang menahan air mataku yang ingin keluar, karena jika aku melakukannya, maka hal yang sudah kulakukan hanya akan menjadi sebuah kebohongan.
Fin