BUKK
Terkadang, pagi adalah hal yang paling indah ketika kita membuka mata, matahari yang belum menyilaukan, udara yang segar, dan oh yang selalu kusuka, yaitu... Sarapan.
Namun keindahan tersebut jarang aku raih, karena kasurku yang sangat empuk, bagaikan domba – domba yang selalu kuhitung dulu waktu kecil.
Sayangnya, karena aku terlalu menempel padanya, kasurku menjadi benci, dan itu biasanya berakhir denganku mencium benda yang semestinya kuinjak.
“Sialan, merusak
Moodsaja.”
Sama seperti yang biasa kulalui, baju basah karena bercampur keringat dan liur, rambut pagi yang terlihat bagai ikan buntal, nafas yang sangat menjijikan, serta mata yang menolak untuk melakukan tugasnya.
Dan penyembuhnya adalah, mengingat sesuatu yang harus kulakukan setiap hari.
Baju basahku terganti oleh sebuah pakaian yang menunjukkan identitasku sebagai remaja, rambutku bagai rumput yang baru dipangkas, nafas sesegar udara pagi, dan mata yang terbuka lebar.
Tangga kuturuni, dan sebuah aroma langsung memikat hidungku.
“Waw, cukup meriah untuk sebuah sarapan.”
Dan adikku, selaku koki pagi ini, segera merespon perkataanku dari salah satu ujung meja.
“Kebetulan kemarin ada diskon, jadi kubeli saja.”
Aku langsung duduk di salah satu kursi, lalu mengambil piring yang diisi oleh kentang, daging asap, serta telur mata sapi lengkap dengan saus tomat diatasnya.
“Terlihat seperti
Fastfood yang kadang kumakan.” komentarku sambil mengambil garpu di tengah meja.
“Kakak membandingkan makanan buatanku sendiri dengan
Fastfood? Apa kakak bercanda?”
Aku langsung tertawa, sementara dia sudah memasang muka masam.
“Yah, cukup jarang untuk sebuah sarapan. Tidak biasa dengan yang selalu kulalui.”
Ekspresinya mendadak berubah tersenyum, seperti menganggap omonganku sebagai komplimen.
Kadang, sebuah hal kecil yang berbeda ini bisa sampai membuatku terkejut, sebagaimana aku membenci bila mendapati mencium lantai, dan hal tersebut disebabkan oleh yang bernama...
“Ok, silahkan naik putri yang terhormat.”
Adikku langsung menaiki kursi belakang sepeda, namun sambil mengomentari ucapanku.
“Selalu memakai kata yang sama, apa kakak tidak bosan?”
Aku mulai mengayuh, sambil mencoba menjawab pertanyaannya.
“Tidak, kakak tidak bosan.”
“Kenapa?”
“Karena itulah kehidupan kakak sehari – hari.”
Ya, itulah yang membuatku selalu semangat menjalani hidup, karena semua hal baru akan terkesan luar biasa bila bersama dengannya.
Fin