Foreword
Thread ini berisi kumpulan cerpen yang aku buat.
Alasan aku membuat thread ini adalah berbagi pengalamanku dalam menulis cerita, dan tentu saja, mendapat saran dan kritik dari pembaca, karena saran dan kritik adalah cambuk dan dorongan terbaik agar penulis berusaha lebih baik dari sebelumnya. Aku menerima segala macam saran dan kritik, baik yang pedas maupun yang manis, jadi, silahkan tulis apa yang kalian pikirkan dengan jujur
Akhir kata, selamat membaca, semoga kalian menikmatinya :3
Cerita baru yang saya buat untuk Aksarayana, though gagal dikirim karena saya ketiduran dan miss deadline OTL
Well, cerita ini adalah semacam spiritual sekuel dari Parallel/Story dan memiliki setting yang sama. Belum baca Parallel/story? No problem, cerita ini masih bisa dinikmati kok .
Akhir kata selamat membaca, dan semoga bisa menghibur pembaca
Spoiler for Ikat Mati part 1:
Berapa banyak jiwa yang dibutuhkan untuk kisah balas dendam tanpa akhir?
Pertama, perkenalkan, saya adalah si pembawa cerita yang akan memandu anda. Mengapa saya jadi pembawa cerita , tanya anda? Ah, anda pasti jenis orang yang bertanya kepada pemancing, kenapa dia memancing? Mengapa si penulis menulis? Tidak usah dipikirkan, jika anda tidak senang saya menjadi pembawa cerita, silahkan tutup mata, tutup telinga, tutup mulut, dan silahhkan pergi dari sini.
Mohon maaf, tampaknya saya memulai cerita ini dengan perkenalan yang tidak jelas dan berkesan tidak penting. Akan tetapi, perkenalan ini penting, karena saya, sekalipun sebagai pembaca cerita, memiliki peran penting di akhir cerita yang akan saya bawakan untuk anda. Tentu saja, peran yang saya maksud bukan sekedar membawakan cerita, tapi juga penting dalam alur kisah ini. Bisa dikatakan, saya adalah tokoh yang kadar pentingnya mendekati peran utama dalam sebuah cerita. Jadi, tanpa panjang lebar, karena waktu saya terbatas, mari kita mulai kisah ini.
Kisah ini dimulai di suatu kota yang dilanda hujan besar. Di suatu kafe yang berada di pusat kota, seorang pria dengan penampilan berantakan sedang berteduh. Si pria memiliki muka yang lesu, rambutnya panjang tidak terurus, bulu jenggotnya lebat, dan jaket yang dikenakannya kotor dan banyak noda akibat sudah sekian bulan tidak dicuci. Nama pria itu tidak penting, oleh karena itu, marilah kita panggil dia sebagai si jenggot.
Si jenggot menikmati kopi pahit yang hitam pekat, tanpa gula dan krim. Pandangannya tertuju pada keluarga di depannya. Seorang suami istri dengan anaknya yang terlihat akrab. Bagi si Jenggot, pemandangan tersebut terlalu menyilaukan. Dia adalah seseorang dengan masa kecil yang pahit, jauh lebih pahit dari kopi yang diminumnya.
Di usia kanak-kanak, si Jenggot adalah korban kekerasan rumah tangga. Ayahnya adalah seorang preman yang sering pulang dalam keadaan mabuk. Saat si ayah pulang dalam keadaan mabuk, si Jenggot (yang waktu itu masih kecil dan belum jenggotan) menjadi korban pelampiasan amarah yang entah datang dari mana. Sabuk, pipa besi, obeng, rokok, semua alat yang punya fungsinya sendiri diubah menjadi alat kekerasan oleh ayah si Jenggot.
Bagaimana dengan ibu si Jenggot? Ibu Jenggot lari meninggalkan keluarganya demi menikah dengan seorang pebisnis kaya saat si Jenggot berumur lima tahun. Frustasi dan amarah karena ditinggal istrinyalah yang membuat ayah si jenggot tenggelam dalam racun alkohol dan menjadikannya monster yang cinta dengan kekerasan.
Tidak tahan dengan perlakuan ayahnya, si Jenggot membuat rencana untuk melarikan diri. Suatu hari, ketika si ayah hendak menghantamnya dengan linggis, si Jenggot melawan. Dia menghindar linggis yang diayunkan ayahnya, dan memukul dagu si ayah hingga dia terjatuh. Begitu ayahnya terjatuh dan terbaring tanpa bisa berbuat apa-apa, si Jenggot melompat dan menginjak kepala ayahnya. Si Jenggot yang sudah pantas dipanggil si jenggot saat itu berusia 15 tahun, dan memiliki berat badan 40 kg dengan tinggi badan 160 cm sukses memanfaatkan berat badannya untuk menghancurkan wajah ayahnya. Ayahnya mati seketika. Tengkoraknya pecah, darah bercecer mengotori lantai rumah si Jenggot.
Setelah membunuh ayahnya, si Jenggot lari, dan menjalani kehidupan yang penuh kekerasan. Dia mencuri, merampok, membunuh, dan segala tindakan kejahatan lainnya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. Si Jenggot menjadi sosok yang tidak jauh beda dari ayahnya yang dia benci. Tidak, bahkan lebih buruk. Setidaknya, ayahnya hanya melepaskan kekerasan dalam rumah tangganya, tidak melebar keluar seperti yang dilakukan si Jenggot.
Baiklah, cukup dengan cerita tentang masa lalu si Jenggot. Sekarang, dia sedang mengikuti keluarga yang diincarnya. Si Jenggot punya rencana yang sangat-sangat buruk pada keluarga tersebut. Dia mengikuti mereka hingga mereka tiba di rumah si keluarga, rumah bertingkat dua yang berada di daerah elit. Si jenggot menunggu hingga malam tiba sebelum dia menjalankan rencananya.
Bulan bersinar terang di langit sana, dan si Jenggot mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah keluarga yang diikutinya. Si Jenggot masuk melalui jendela yang tidak terkunci. Dengan hati-hati, dalam gelap dia jalan berjinjit tanpa suara. Dia masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci. Dia menemukan calon korban pertamanya. Anak laki-laki dari keluarga tersebut. Si Jenggot melihat wajah polos anak yang tertidur. Tanpa ragu, si Jenggot mengeluarkan pisau yang disimpan dalam kantung jaketnya yang bau. Dia tancapkan pisau ke kepala si anak. Si anak mati tanpa mengetahui bahwa dia dibunuh.
Begitu keluar dari kamar si anak, si Jenggot menemukan korban kedua, si ibu yang baru saja turun dari lantai dua. Saat si ibu melihat si Jenggot, mulutnya terbuka, hendak berteriak dengan sekuat tenaga. Akan tetapi tidak ada suara yang keluar, karena si Jenggot telah memutuskan pembuluh darah di leher si ibu. Alih-alih teriakan, yang keluar adalah suara tersedak dari darah yang mengumpul di tenggorokan. Tubuh si ibu jatuh ke lantai dengan suara bedebam yang keras.
Mendengar suara yang keras, si ayah yang sedang bersantai di ranjang terlompat bangun. Dia segera berlari ke lantai bawah. Yang dilihatnya adalah pemandangan istrinya yang tergeletak dalam genangan darah. Dia melompati beberapa anak tangga, dan mencoba melihat kondisi istrinya. Saat itulah, si Jenggot melompat keluar dari sudut mati si ayah. Dia tancapkan pisaunya ke dada si ayah.
Si ayah dan si jenggot saling bertatapan. Jarak mereka begitu dekat. Si Jenggot mencabut pisau yang menancap si ayah dengan satu tarikan mantap. Nafas si ayah megap-megap, dia tidak bisa mengeluarkan suara. Darah dari lubang di dadanya mengalir deras, membasahi lantai rumahnya.
Si Jenggot menatapnya dengan pandangan yang keji. Si ayah balas menatapnya dengan amarah tanpa memperdulikan lamanya. Tidak lama, si ayah tewas, dan tubuhnya jatuh tergeletak di lantai.
Si Jenggot segera lari dari rumah tersebut, lalu...