- Beranda
- Fanstuff
AI : Because February is A Month of Love [February Romance Fic Compilation Thread]
...
TS
st_illumina
AI : Because February is A Month of Love [February Romance Fic Compilation Thread]
"When the power of Love Conquer the Love of Power,
World Will Know True Peace"
World Will Know True Peace"
Spoiler for Doki-Doki Suru:
Spoiler for Ai no Chikara:
Thread Kompilasi Cerita Romance.
Bagi yang mau ikutan, cukup posting ceritanya di sini,
yang mau komen ceritanya juga cukup posting di sini juga,
yang mau diskusi juga posting di sini aja dulu.
Ini hanyalah Thread buat para penghuni FS mengekspresikan cinta nya.
Cerita cinta yang kayak apa? Terserah.
yang penting one-shot, langsung tamat, karena capek juga baca cerita cinta fitri yang sampe 8 season.....
Well Lets Get Started
Bagi yang mau ikutan, cukup posting ceritanya di sini,
yang mau komen ceritanya juga cukup posting di sini juga,
yang mau diskusi juga posting di sini aja dulu.
Ini hanyalah Thread buat para penghuni FS mengekspresikan cinta nya.
Cerita cinta yang kayak apa? Terserah.
yang penting one-shot, langsung tamat, karena capek juga baca cerita cinta fitri yang sampe 8 season.....
Well Lets Get Started
Spoiler for Index Librorum Amor Fabula:
-
- The Anomaly One Elf.qiwil
- Me & The Shy Girl - Mca_Trane
- Letter From The Heart - Shian
- Bottle - BiasaAjaKale
- The Unwritten - VermilionHelix
- Hetalia : Another Point in Timeline : Nengpuu3
- Pantai - Baliwa
- Hana - ChronosXIII
- This Might Be NIJIKON Love Story - Ekka
- Minggu - Ucokberingas
- Sadness - Raivac
- Satu Milimeter - Dantd
- Erodere - Its Yourdoom so Deal With It
- The Lost One - Doomreaper
- Suara Tak Berbunyi - Sangar
- Memori - Giande
- Pieces - Lea Han
- Aku Benci Valentine - Approach (temannya Kerdus)
- A Princess in My Sight - AnglerfishHero
- Ya Mengapa Tidak? -Striferser
- Krisantia - st_illumina
Spoiler for RULE:
Screw The Rule, You are here to show your love, not to be bound with some rule :3
If you have courage to break the rule, you better prepare an awesome Story
- Tema : The Power of Love
- Semua kisah cinta di perbolehkan, tapi karena ini forum umum, kisah cinta yang menyinggung SARA secara eksplisit (menjurus ke perendahan agama, baik agama sendiri maupun orang lain), NSFW secara eksplisit (hingga intercourse di jelaskan dengan gamblang) incest eksplisit, yuri/yaoi eksplisit (sampai intercourse) tidak di perkenankan,kecuali diberikan peringatan, spoiler berlapis, dan udah dapat persetujuan dari saya.(Untuk implisit dan borderline, just post it selama masih aman)
- Panjang kisah maksimal 3 postingan di Kaskus (30 ribu karakter) (welp, selama masih one shot gapapa lah, asal menarik)
- Dateline 25 Februari 2012 BATAS POSTING FICTION (karena kalo ga dikasih dateline kalian pada tarsok)
25 Februari-28 Februari Voting Period
1 Maret Pengumuman Pemenang (kalau ada)
Spoiler for Puresento:
Juara 1 : Id Donatur 2 Bulan
Juara 2 : Id DOnatur 1 Bulan
Juara 3 : GRP + 50
Romance Story Compilation Senbatsu
Periode Voting CLOSED
The Winner
Announcement
Selamat Buat Para Juara ^_^
Tunggu Event Fanstuff Berikutnya,
All the story here is so good...
Diubah oleh st_illumina 07-03-2013 21:42
0
12.3K
Kutip
245
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
Elf.Qiwill
#20
The Anomaly One
Jadi 5 post gapapa kan 
oneshot kok
anyway, Newbie ijin ikutan
“Eh, Man…” Seseorang dengan suara akrab memanggilku dari kejauhan.
“Apa, Li?” Balasku sambil tidak melihat ke arahnya.
“Tungguin dong…” Balas Ali dengan nada ngos-ngosan.
Aku Firman, hanya seorang murid biasa yang bersekolah di sekolah biasa juga. Bukan sekolah luar biasa yang isinya adalah orang-orang yang juga luar biasa, baik guru maupun muridnya. Aku sudah bersekolah di sekolah ini selama 3 semester. Kini aku masih kelas 11 dan baru saja masuk di semester 2. Sementara orang yang ada di sampingku ini adalah Ali, teman sekelas sejak kelas 10 dan sebangku juga sejak kelas 10.
“Ini udah telat, Li…” Aku pun menarik tangan Ali agar dia sedikit lebih cepat.
“Atuh, Man, Gimme a break!” Ali pun sudah terdengar kelelahan. Terlihat dia berlari dari rumahnya yang tergolong dekat dari sekolah, tapi bagaimanapun juga lari tanpa henti sejauh 200 meter dengan membawa beban buku pelajaran itu sangat melelahkan. Manusia mana yang tidak akan berkeringat setelah melakukan itu?
Aku dan Ali akhirnya bisa masuk kelas dengan tepat waktu. Beruntung ketika itu kelas masih kosong. Aku dan Ali pun duduk di bangku kami yang berada di tembok sebelah kanan baris kedua.
“Fuuh, Save… aku selamat…” Ali pun menghembuskan napas dengan leganya, pertanda dia sangat kelelahan, tapi rasa lelah itu terasa tergantikan karena dia berhasil mencapai finish dengan selamat.
“Kamu ini… rumah dekat, tapi selalu telat…” Kataku dengan nada sinis.
“Kamu juga tadi telat kan?” Balas Ali.
“Yah… wajar karena rumahku jauh dari sini…” Balasku dengan alasan yang masuk akal. “…Aku berangkat dari rumah jam 6 pagi kok…”
Kami pun saling menjatuhkan satu sama lain dan saling menertawakan satu sama lain. Dia tertawa pada kebodohan kita dan aku pun juga begitu. Tapi momen itu sedikit terganggu ketika ada seorang perempuan hendak memanggilku meminta bantuan untuk membenarkan komputer kelas yang rusak sistemnya. Aku pun dengan reflek mencondongkan tubuhku menjauh dari perempuan itu. Ali pun mengerti sinyal itu.
“Ya… Ya… Elsa… dia bakal benerin tuh komputer kok.” Kata Ali dengan nada mirip seperti memberi isyarat pada Elsa agar menjauh dariku.
“Kenapa sih? Toh kita ga bakal membuat Firman mati kan?” Tanya Elsa dengan nada kesal. “…Lebay amat.”
“Oh begitu yah?” Ali pun menginjak kecoa yang kebetulan lewat di bawahnya dan mengambil bangkai kecoa yang masih bergerak-gerak.
“Bagaimana? Kau masih bisa pegang ini?” Tanya Ali pada Elsa dengan nada memancing. Wajah Elsa terlihat seperti ketakutan. “…Toh… ini juga ga bakal ngebunuh kamu, kalau kau masih ragu, tidak ada tuh kasus kematian di dunia yang penyebabnya adalah kecoa, lebay amat sampai takut ama mahluk kecil ini. Sementara banyak sekali kasus kematian yang disebabkan oleh perempuan… jadi aku rasa wajar jika Firman takut kan?”
“I… Menjijikan!” Elsa pun kabur dan kembali ke bangkunya.
“Makanya, jangan sekali-kali menertawakan fobia orang!” Teriak seseorang di belakang bangkuku pada Elsa, yang mungkin dia kebetulan mendengar pembicaraan tadi.
“Makasih, Ivan, Li…” Kataku sambil mendesah lega. “…Tapi, Li… tadi itu sedikit keterlaluan.”
“Ya… ya… tapi dia sudah sering diingatkan…” Ivan yang tadi menolongku akhirnya ikut berbicara. “…Bahwa Firman di sini punya fobia yang unik… tapi setelah diingatkan dia tetap berbicara padamu seakan-akan tidak terjadi apa-apa.”
“Tapi, Man… kalau gini terus… kamu nikah gimana nanti?” Tanya Ali penasaran.
“Entahlah… itu hal nanti kan?” Balasku dengan nada enteng.
Aku pun mengangkat bokongku dari tempat ku duduk dan segera membenarkan komputer yang sistemnya rusak. Ada orang bodoh yang mengotak-atik OS di sini, dan memasukan flashdisk yang memiliki banyak virus sality, dan bodohnya lagi dia malah mengaktifkan sality itu. Dan parahnya, komputer kelas tidak memiliki antivirus. Hanya perlu 20 menitan untuk membenarkan komputer itu. Dan saat komputer itu sudah sehat kembali, guru pelajaran pertama yang sudah telat cukup lama akhirnya datang juga.
“Baik anak-anak, sekarang kita belajar Dinamika Rotasi Benda Tegar…” Kata Bapak Guru itu dengan nada semangat. Dia tidak membawa buku satupun dan hanya membawa spidol berbagai macam warna. Dia menjelaskan materi dengan mantap, walaupun cepat tapi kita mengerti. “…Gaya torsi yang bekerja di yoyo yang berjari-jari 20 cm ini, ketika di tarik adalah 60 N, maka berapa kecepatan putaran yoyo tersebut?”
Baiklah, kurasa itu perkenalan yang cukup untuk diriku, yang menderita, atau mengalami fobia terhadap perempuan sejak kelas 4 SD. Aku di masa laluku adalah anak yang lemah, sering di-bully oleh orang-orang se sekolah. Baik perempuan maupun laki-laki. Aku menjadi seorang yang anti terhadap sosial. Tapi itu berubah ketika aku SMP. Laki-laki tidak seburuk yang aku kira, tapi perempuan di mata ku semakin buruk. Sekarang aku menjadi anti banget terhadap perempuan. Aku hanya mau dipegang oleh perempuan yang sudah aku kenal baik, seperti ibuku dan saudara-saudara ku. Sisanya? Aku anggap sebagai ‘yang belum dijinakkan’. Aku harus bisa ‘menjinakan’ perempuan itu agar aku merasa tenang di dekatnya. Tapi pada nyatanya, menjinakan hewan buas itu menakutkan. Kalian harus coba menjinakan harimau buas sekali-kali.
Soal cinta? Ketika SMP, aku pernah disukai oleh seorang cewek. Aku berusaha untuk menganggap itu adalah hanya berita bohong dan tetap berkomunikasi dengan batasan tertentu dengan cewek itu yang sudah ‘kujinakkan’. Dan kini, aku pernah merasakan cinta untuk pertama kalinya di kelas 10. Walaupun terdengar aneh melihat orang yang fobia terhadap perempuan jatuh cinta pada perempuan, tapi ini terjadi padaku. Aku berusaha membuang jauh-jauh rasa takutku pada perempuan. Aku rasa, sekarang aku sudah menduduki bangku SMA, aku rasa aku harus tidak fobia lagi, bagaimanapun juga. Aku pun menyatakan perasaanku pada dia. Ditolak ataupun tidak itu bukan masalah, yang jelas aku menunjukan bahwa aku sudah berusaha. Tapi ternyata jawabannya bukan itu.
“Hahaha… kau bercanda lagi, Man…” Balas perempuan itu dengan tawa lembutnya. “…Mana mungkin seorang fobia sepertimu bisa suka pada perempuan.”
“Aku tidak…” Aku pun hendak segera membalas perkataan yang tidak benar itu. Memang benar, aku masih belum bisa membersihkan imejku yang fobia terhadap perempuan. Tapi perkataanku segera dipotong oleh dia.
“Kau benar-benar bisa membuatku tertawa hari ini, Man!” Dia pun tertawa pelan sambil melangkah pergi.
Menyerah? Tentu saja tidak, hari demi hari, bulan demi bulan. Aku tunjukan tentang perasaanku dengan bukti-bukti yang kulakukan. Saat FB dia di-hack oleh seseorang dan hampir mencemarkan nama baik dia. Aku segera hack balik FBnya dan membersihkan segala posting-posting di Facebook yang membuat martabatnya turun. Dan memberikan FB itu kembali pada dia. Kemudian, aku bersedia membeli buku yang dia hendak dia baca dan aku pinjamkan pada dia. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka membaca buku non-fiksi, tapi ini demi membuktikan perasaanku. Sekarang lokerku penuh akan buku non-fiksi yang ternyata berguna juga. Kemudian banyak sekali bukti-bukti yang aku tunjukan pada dia. Tapi dia tidak merasakannya dan masih menganggap bahwa aku ini hanya bercanda selama ini. Apakah semua perempuan adalah seorang heartlessseperti ini? Aku tidak meminta kau menjalin hubungan denganku, tapi setidaknya kau harus menghargai atau setidaknya menyadari perlakuanku selama ini kepadamu. Aku pun akhirnya menyerah saja. Aku tidak sengaja mengingat masa SMP ku ketika seorang cewek suka padaku dan dia melakukan persis yang aku lakukan sekarang. Dan, aku melakukan ke cewek itu dengan perlakuan yang sama dengan dia kepada aku. Apakah ini karma? Tapi aku tidak peduli, aku menjadi putus asa terhadap perempuan. Perempuan adalah mahluk paling heartless di dunia! Sejak saat itu aku berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan perempuan yang melebihi dari batas teman. Aku akan melawan dunia ini sendiri tanpa pendamping hidup! Itu komitmenku, silahkan kalian tertawa walaupun ini bukan acara komedi sama sekali. Hal itu membuat rasa anti-ku terhadap perempuan makin besar. Yang awalnya luka itu terasa hendak disembuhkan, ternyata malah disiram oleh air panas yang mengandung garam, lalu luka itu digaruk-garukan oleh garpu besi yang besar dan akhirnya luka itu yang ada malah semakin besar dari sebelumnya.
Ivan, di saat masa-masa kehancuranku, tanpa dia mengetahui kejadian tadi, memberiku dunia yang lebih seru. Dunia di mana perempuan terlihat jinak namun ganas, tapi perempuan itu tidak akan menyentuhku karena aku dan perempuan-perempuan di dunia itu tidak akan pernah bertemu denganku. Yaitu dunia anime. Aku menjadi tenggelam di dunia itu, ditambah dengan lukaku yang semakin membesar dan meminta untuk disembuhkan dengan cepat, tentu aku semakin tenggelam ke dunia itu. Perhatianku kini teralih menuju ke perempuan yang ada di anime. Orang-orang boleh mengatakan aku adalah orang aneh atau apapun. Semua itu terserah pada orang yang memanggilku. Toh, aku sudah kehilangan yang jauh lebih berharga lagi. Dan orang-orang tidak mengerti akan itu. Aku tidak meminta orang-orang untuk mengerti keadaanku, karena aku sudah berkomitmen untuk melawan dunia sendirian. Tanpa perlu pendamping hidup yang selalu berada di sampingku. Karena aku masih punya banyak teman yang bisa diajak bekerja sama sehingga aku tidak perlu takut sendiri.

oneshot kok
anyway, Newbie ijin ikutan

Spoiler for An Anomaly (1):
“Eh, Man…” Seseorang dengan suara akrab memanggilku dari kejauhan.
“Apa, Li?” Balasku sambil tidak melihat ke arahnya.
“Tungguin dong…” Balas Ali dengan nada ngos-ngosan.
Aku Firman, hanya seorang murid biasa yang bersekolah di sekolah biasa juga. Bukan sekolah luar biasa yang isinya adalah orang-orang yang juga luar biasa, baik guru maupun muridnya. Aku sudah bersekolah di sekolah ini selama 3 semester. Kini aku masih kelas 11 dan baru saja masuk di semester 2. Sementara orang yang ada di sampingku ini adalah Ali, teman sekelas sejak kelas 10 dan sebangku juga sejak kelas 10.
“Ini udah telat, Li…” Aku pun menarik tangan Ali agar dia sedikit lebih cepat.
“Atuh, Man, Gimme a break!” Ali pun sudah terdengar kelelahan. Terlihat dia berlari dari rumahnya yang tergolong dekat dari sekolah, tapi bagaimanapun juga lari tanpa henti sejauh 200 meter dengan membawa beban buku pelajaran itu sangat melelahkan. Manusia mana yang tidak akan berkeringat setelah melakukan itu?
Aku dan Ali akhirnya bisa masuk kelas dengan tepat waktu. Beruntung ketika itu kelas masih kosong. Aku dan Ali pun duduk di bangku kami yang berada di tembok sebelah kanan baris kedua.
“Fuuh, Save… aku selamat…” Ali pun menghembuskan napas dengan leganya, pertanda dia sangat kelelahan, tapi rasa lelah itu terasa tergantikan karena dia berhasil mencapai finish dengan selamat.
“Kamu ini… rumah dekat, tapi selalu telat…” Kataku dengan nada sinis.
“Kamu juga tadi telat kan?” Balas Ali.
“Yah… wajar karena rumahku jauh dari sini…” Balasku dengan alasan yang masuk akal. “…Aku berangkat dari rumah jam 6 pagi kok…”
Kami pun saling menjatuhkan satu sama lain dan saling menertawakan satu sama lain. Dia tertawa pada kebodohan kita dan aku pun juga begitu. Tapi momen itu sedikit terganggu ketika ada seorang perempuan hendak memanggilku meminta bantuan untuk membenarkan komputer kelas yang rusak sistemnya. Aku pun dengan reflek mencondongkan tubuhku menjauh dari perempuan itu. Ali pun mengerti sinyal itu.
“Ya… Ya… Elsa… dia bakal benerin tuh komputer kok.” Kata Ali dengan nada mirip seperti memberi isyarat pada Elsa agar menjauh dariku.
“Kenapa sih? Toh kita ga bakal membuat Firman mati kan?” Tanya Elsa dengan nada kesal. “…Lebay amat.”
“Oh begitu yah?” Ali pun menginjak kecoa yang kebetulan lewat di bawahnya dan mengambil bangkai kecoa yang masih bergerak-gerak.
“Bagaimana? Kau masih bisa pegang ini?” Tanya Ali pada Elsa dengan nada memancing. Wajah Elsa terlihat seperti ketakutan. “…Toh… ini juga ga bakal ngebunuh kamu, kalau kau masih ragu, tidak ada tuh kasus kematian di dunia yang penyebabnya adalah kecoa, lebay amat sampai takut ama mahluk kecil ini. Sementara banyak sekali kasus kematian yang disebabkan oleh perempuan… jadi aku rasa wajar jika Firman takut kan?”
“I… Menjijikan!” Elsa pun kabur dan kembali ke bangkunya.
“Makanya, jangan sekali-kali menertawakan fobia orang!” Teriak seseorang di belakang bangkuku pada Elsa, yang mungkin dia kebetulan mendengar pembicaraan tadi.
“Makasih, Ivan, Li…” Kataku sambil mendesah lega. “…Tapi, Li… tadi itu sedikit keterlaluan.”
“Ya… ya… tapi dia sudah sering diingatkan…” Ivan yang tadi menolongku akhirnya ikut berbicara. “…Bahwa Firman di sini punya fobia yang unik… tapi setelah diingatkan dia tetap berbicara padamu seakan-akan tidak terjadi apa-apa.”
“Tapi, Man… kalau gini terus… kamu nikah gimana nanti?” Tanya Ali penasaran.
“Entahlah… itu hal nanti kan?” Balasku dengan nada enteng.
Aku pun mengangkat bokongku dari tempat ku duduk dan segera membenarkan komputer yang sistemnya rusak. Ada orang bodoh yang mengotak-atik OS di sini, dan memasukan flashdisk yang memiliki banyak virus sality, dan bodohnya lagi dia malah mengaktifkan sality itu. Dan parahnya, komputer kelas tidak memiliki antivirus. Hanya perlu 20 menitan untuk membenarkan komputer itu. Dan saat komputer itu sudah sehat kembali, guru pelajaran pertama yang sudah telat cukup lama akhirnya datang juga.
“Baik anak-anak, sekarang kita belajar Dinamika Rotasi Benda Tegar…” Kata Bapak Guru itu dengan nada semangat. Dia tidak membawa buku satupun dan hanya membawa spidol berbagai macam warna. Dia menjelaskan materi dengan mantap, walaupun cepat tapi kita mengerti. “…Gaya torsi yang bekerja di yoyo yang berjari-jari 20 cm ini, ketika di tarik adalah 60 N, maka berapa kecepatan putaran yoyo tersebut?”
Baiklah, kurasa itu perkenalan yang cukup untuk diriku, yang menderita, atau mengalami fobia terhadap perempuan sejak kelas 4 SD. Aku di masa laluku adalah anak yang lemah, sering di-bully oleh orang-orang se sekolah. Baik perempuan maupun laki-laki. Aku menjadi seorang yang anti terhadap sosial. Tapi itu berubah ketika aku SMP. Laki-laki tidak seburuk yang aku kira, tapi perempuan di mata ku semakin buruk. Sekarang aku menjadi anti banget terhadap perempuan. Aku hanya mau dipegang oleh perempuan yang sudah aku kenal baik, seperti ibuku dan saudara-saudara ku. Sisanya? Aku anggap sebagai ‘yang belum dijinakkan’. Aku harus bisa ‘menjinakan’ perempuan itu agar aku merasa tenang di dekatnya. Tapi pada nyatanya, menjinakan hewan buas itu menakutkan. Kalian harus coba menjinakan harimau buas sekali-kali.
Soal cinta? Ketika SMP, aku pernah disukai oleh seorang cewek. Aku berusaha untuk menganggap itu adalah hanya berita bohong dan tetap berkomunikasi dengan batasan tertentu dengan cewek itu yang sudah ‘kujinakkan’. Dan kini, aku pernah merasakan cinta untuk pertama kalinya di kelas 10. Walaupun terdengar aneh melihat orang yang fobia terhadap perempuan jatuh cinta pada perempuan, tapi ini terjadi padaku. Aku berusaha membuang jauh-jauh rasa takutku pada perempuan. Aku rasa, sekarang aku sudah menduduki bangku SMA, aku rasa aku harus tidak fobia lagi, bagaimanapun juga. Aku pun menyatakan perasaanku pada dia. Ditolak ataupun tidak itu bukan masalah, yang jelas aku menunjukan bahwa aku sudah berusaha. Tapi ternyata jawabannya bukan itu.
“Hahaha… kau bercanda lagi, Man…” Balas perempuan itu dengan tawa lembutnya. “…Mana mungkin seorang fobia sepertimu bisa suka pada perempuan.”
“Aku tidak…” Aku pun hendak segera membalas perkataan yang tidak benar itu. Memang benar, aku masih belum bisa membersihkan imejku yang fobia terhadap perempuan. Tapi perkataanku segera dipotong oleh dia.
“Kau benar-benar bisa membuatku tertawa hari ini, Man!” Dia pun tertawa pelan sambil melangkah pergi.
Menyerah? Tentu saja tidak, hari demi hari, bulan demi bulan. Aku tunjukan tentang perasaanku dengan bukti-bukti yang kulakukan. Saat FB dia di-hack oleh seseorang dan hampir mencemarkan nama baik dia. Aku segera hack balik FBnya dan membersihkan segala posting-posting di Facebook yang membuat martabatnya turun. Dan memberikan FB itu kembali pada dia. Kemudian, aku bersedia membeli buku yang dia hendak dia baca dan aku pinjamkan pada dia. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu suka membaca buku non-fiksi, tapi ini demi membuktikan perasaanku. Sekarang lokerku penuh akan buku non-fiksi yang ternyata berguna juga. Kemudian banyak sekali bukti-bukti yang aku tunjukan pada dia. Tapi dia tidak merasakannya dan masih menganggap bahwa aku ini hanya bercanda selama ini. Apakah semua perempuan adalah seorang heartlessseperti ini? Aku tidak meminta kau menjalin hubungan denganku, tapi setidaknya kau harus menghargai atau setidaknya menyadari perlakuanku selama ini kepadamu. Aku pun akhirnya menyerah saja. Aku tidak sengaja mengingat masa SMP ku ketika seorang cewek suka padaku dan dia melakukan persis yang aku lakukan sekarang. Dan, aku melakukan ke cewek itu dengan perlakuan yang sama dengan dia kepada aku. Apakah ini karma? Tapi aku tidak peduli, aku menjadi putus asa terhadap perempuan. Perempuan adalah mahluk paling heartless di dunia! Sejak saat itu aku berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan perempuan yang melebihi dari batas teman. Aku akan melawan dunia ini sendiri tanpa pendamping hidup! Itu komitmenku, silahkan kalian tertawa walaupun ini bukan acara komedi sama sekali. Hal itu membuat rasa anti-ku terhadap perempuan makin besar. Yang awalnya luka itu terasa hendak disembuhkan, ternyata malah disiram oleh air panas yang mengandung garam, lalu luka itu digaruk-garukan oleh garpu besi yang besar dan akhirnya luka itu yang ada malah semakin besar dari sebelumnya.
Ivan, di saat masa-masa kehancuranku, tanpa dia mengetahui kejadian tadi, memberiku dunia yang lebih seru. Dunia di mana perempuan terlihat jinak namun ganas, tapi perempuan itu tidak akan menyentuhku karena aku dan perempuan-perempuan di dunia itu tidak akan pernah bertemu denganku. Yaitu dunia anime. Aku menjadi tenggelam di dunia itu, ditambah dengan lukaku yang semakin membesar dan meminta untuk disembuhkan dengan cepat, tentu aku semakin tenggelam ke dunia itu. Perhatianku kini teralih menuju ke perempuan yang ada di anime. Orang-orang boleh mengatakan aku adalah orang aneh atau apapun. Semua itu terserah pada orang yang memanggilku. Toh, aku sudah kehilangan yang jauh lebih berharga lagi. Dan orang-orang tidak mengerti akan itu. Aku tidak meminta orang-orang untuk mengerti keadaanku, karena aku sudah berkomitmen untuk melawan dunia sendirian. Tanpa perlu pendamping hidup yang selalu berada di sampingku. Karena aku masih punya banyak teman yang bisa diajak bekerja sama sehingga aku tidak perlu takut sendiri.
0
Kutip
Balas