aku di mobil berdua dengan jodi menuju ke kantor polisi, melihat aldo dengan marsha tadi sungguh mengingatkanku dengan lili
“kak” jodi mengagetkan lamunanku
“ya jod”
“maaf kak lancang, tapi boleh gak aku nanya?”
“silahkan aja jod, kamu kan udah aku anggap seperti adik kandungku sendiri”
“kenapa yah kak selama ini setelah aldo kelas 4 sd dia itu mulai berubah yah sama kakak”
“ya kakak juga gak tau jod, emangnya aldo gak pernah yah cerita sama kamu?”
“gak kok, soalnya tiap jodi mau tanya ke aldo, aldo selalu aja ngehindarin pembicaraan”
“ngehindarin gimana?”
“ya gitu tiap jodi mau tanya, aldo selalu aja nyari bahan pembicaraan lain yang gak menyangkut tentang kakak”
“kaka ga tau yah jod, eh ngomong ngomong kita udah sampai nih, turun dulu yuk”
kantor polisi pagi ini tidak seramai seperti terakhir kali aku pergi kesini, 15 meniat mengantri namaku sudah dipanggil, setelah selasai mencabut berkas dan mengurus administrasi aku dan jody pun pulang.
Sesampainya di mobil, karena sudah sore dan aku harus ke kantor papa untuk survey dan mengatur pekerja disana aku hanya menurunkan jodi di depan rumah sakit dan menitip salam untuk lili saja.
Suasana di kantor papa pada sore itu tak terlalu berbeda seperti 10 tahun yang lalu ketika aku dan aldo masih kanak kanak, di kantor ini kami menyandarkan penghidupan kami, papa mempunyai perusahaan pengolahan kayu, suara mesin solar yang sangat bising tak pernah berubah dan keramaian para pekerja yang mengolah, menggotong kayu tetap menjadi trendmark gudang kayu papa.
“bos”
seorang pekerja yang telah bertahun tahun bersama kami sosok wanita paruh baya bernama wana menyapaku, ini kali pertama dia memanggilku dengan sebutan bos setelah papa mengumumkan kepada para pekerja dan karyawan di kantor terkait pemindah alihan jabatan kepadaku, aku terbiasa dengan panggilan “nak” dari ibu wana dan tak terbiasa dengan panggilan “bos”
“ya? Ibu jangan panggil aku bos yah, panggil aja seperti dulu dulu aku lebih terbiasa dipanggil “nak” sama ibu”
“iya nak alvin, ini ada dokumen yang harus ditanda tanganin, dan yang map kuning ini laporan keluar-masuk barang”
sambil menyerahkan 2 map warna kuning dan cokelat kepadaku
“oh, iya bu, saya check dulu yah”
“iya nak alvin”
bu wana keluar dari ruanganku, seiring dengan keluarnya bu wana dering handphoneku pun berbunyi, ternyata dari tere
“halo?”
“ya?”
“lo udah dimana?”
“di kantor ter, kenapa?”
“kantor polisi maksudnya? Gpp lo inget kan kalau malam ini kita mau ketemuan?”
“iyalah kantor polisi masa kantor hansip” aku bercanda kepadanya, mengetahui kebohonganku hampir saja ketahuan
“iya.. eh gimana ingat kan?”
“inget apa yah?”
“malam ini.. grrr”
“ada apa yah malam ini”
“jangan pura pura bego deh tuan intelijen”
“haha iya inget kok, lo tuh udah kaya adzan tau gak nginetin gue 5 kali sehari”
“takut aja tuan intelijen kecewa dan nanti gue di sel”
“takut atau too excited?” aku menggodanya dan tersenyum kecil dibalik telfon
“apa deh.. jangan ke gr an deh, inget yah di roof top pelangi jam 7”
“siap bu jendral 86 86”
“apa deh.. sok banget”
“yaudah gue sibuk nih, sampai nanti malam yah”
“iya sampai nanti malam”
**********
maghrib menjelang malam, aku baru saja pulang dari kantor papa, berhubung kantor papa dan rumahku tak begitu jauh dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja, aku dengan cepat sampai di rumahku dan bersiap siap untuk mandi dan bertemu dengan tere.
Baru saja aku duduk di kursiku dan melepaskan dasiku lili mengirimkan sms kepadaku
“cie yang malam ini mau ketemuan di roof top pelangi.. jangan lupa makan malam yah.. oops kan makan malamnya sambil suap suapan”
aku terduduk lama membaca sms itu, aku sedih, dan hatiku bergejolak dibuatnya, tak tahu harus kubalas bagaimana, aku berfikir bisa bisanya aku asyik asyikan dengan tere sedangkan lily harus berada di rumah sakit menjaga adikku satu satunya, lelaki macam apa aku ini, dan tak lama kemudian satu sms baru masuk ke hand phone ku.
“tuan intelijen saya sudah bersiap disini yah, jangan lama lama datangnya karena saya cantik jadi saya takut sendirian habis banyak yang godain sih”
sepotong pesan itu, tiba tiba membuat hatiku sangat lega yang tadinya bercampur aduk jadi berbunga bunga, tetapi kenapa harus berbunga bunga..