waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam,karena lamanya antrian di kantor polisi dan macetnya ibu kota, , kami berdua pulang kembali ke rumah sakit.
Aku berjalan ke koridor rumah sakit,aku khawatir dengan adikku apakah dia sudah tersadar atau belum, di depan pintu kamar aldo,kudapati lili terduduk.. oh tidak,lili ternyata tertidur sambil memeluk rantang makanan, kuhampiri lili
“sayang”
dia terkaget karena teguranku
“eh kamu udah dateng? kalian pasti belum makan kan? Ibumu ada di dalam, tadi kutelfon nomormu tapi gak aktif, akhirnya aku telfon mama dan katanya kamu lagi ngurusin masalah ini di kantor polisi dengan temannya aldo,jadi sengaja kubuat dua porsi buat kalian berdua”
kulihat mata lili bengkak habis nangis,dia sepertinya telah mengeluarkan air mata yang banyak sebelum mencoba tegar dihadapanku
“belum nih sayang,gak sempat tadi, loh kenapa kamu belum pulang sayang?bukannya dititipin aja makanannya ke mama?”
“aku sekalian nungguin kamu, sekalian aku lihat perkembangannya aldo,aku khawatir sama aldo,jadi kalian mau makan apa gak nih?”
“mau sih kak..”
jody menyela pembicaraan kami berdua, terlihat jelas dari mukanya bahwa dia sangat kelaparan.
jody menyantap makanan lili dengan sangat lahap.. aku terbengong dalam sekejap makanan itu sudah habis ditangannya
“ya ampun kak..ini makanan terenak buat aku semenjak kelas 5 SD aku belum pernah makan,makanan seenak ini lagi”
lili tersenyum
“iya itu buatan kakak sendiri jod,loh ada kok kelas 5 SD?”
aku menyesal tidak mencegah lili dari pertanyaan polosnya
“jadi ibuku meninggal waktu aku kelas 5 SD kak, dan dia itu adalah koki yang terhebat yang aku tau..tapi aku baru ketemu ada orang yang hampir bisa nyamain masakan ibu”
“oh.. maaf yah jod kakak gak tau”
“gak apa apa kok kak”
jawab jody dengan senyuman yang kutahu itu bukan senyuman jody
jody dan aldo udah bareng semenjak mereka masih kecil, cuma aldo yang bisa mengerti jody, dan begitupun kebalikannya dan jody kecil harus mencoba kuat dan tegar mengikhlaskan kepergian wanita yang disayanginya dan cuman aldo orang yang selalu ada disaat jody memang lagi butuh orang untuk menemaninya.
****
akhirnya kami pulang ke rumah, tetapi aku harus mengantar lili dan jody dulu ke rumahnya.
*di dalam mobil
“jadi tadi ada cewek yang nyundul belakang mobil kak Alvin kak” jody membuka pembicaraan
“oh yah? Terus gimana tuh ?ceweknya ganti rugi gak?”
“gak kak, sialan dia malah kabur sambil ngejatuhin dua lembar uang seratus ribuan,kurang ajar banget yah”
“loh,kenapa gak dikejar sama kamu vin?”
aku terdiam memikirkan alasan
“emang ceweknya tadi lagi buru buru sih sayang,ya udahlah penyoknya juga gak parah parah amat kok”
“oh ya udah deh gak papa,asal semuanya baik baik aja”
sampai di rumah jody,karena sudah larut malam kami tidak singgah dulu,
akhirnya aku langsung mengantar lili pulang ke rumahnya
“gimana sama tere?udah dekat”
“hmmm belum ada waktu sayang”
“kamu janji sama aku dong,kamu gak akan lama, sebulan aja terus habis itu putusin yah, aku yakin kok sebulan aja dia udah sayang sama kamu, siapa sih yang bisa resist charm kamu”
kita berdua tertawa
“iya sayang tenang aja jangan khawatir,makasih yah sayang udah mau ngerti”
“iya aku ngerti,untuk kita masih pacaran,kalau udah nikah terus kamu minta izin beginian aku penggal kamu”
kita berdua kembali tertawa
aku telah sampai dirumahku setelah mengantar lili pulang ke rumahnya..aku merasa gerah dan aku langsung mandi tadi.. sekarang aku berada dikasurku, teringat kembali.. tere
aku menelfonnya, setelah lama kutunggu akhirnya telfonnya diangkat
“halo..”
terdengar suara lembut itu lagi dari balik telfon..