Kaskus

News

pearlcure89Avatar border
TS
pearlcure89
Gak Bisa Bedain antara Laptop/Netbook pejabat DINAS mendadak TAJIR
DPRD Kabupaten Boyolali dan Masyarakat Transparansi Boyolali, mengaku dibanjiri aduan dari kalangan guru sertifikasi di wilayah itu.

Para guru tersebut merasa DIPAKSA untuk membeli laptop yang difasilitasi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) setempat.

Presidium Masyarakat Transparansi Boyolali, Bramastia mengemukakan pihaknya menerima banyak keluhan dari para guru sertifikasi karena mereka, termasuk yang sudah memiliki laptop, diwajibkan untuk membeli laptop yang difasilitasi Disdikpora. Harga yang ditawarkan untuk pembelian laptop tersebut sekitar Rp5,6 juta, yang juga bisa dibayar dengan sistem kredit.

Penawaran itu juga diperkuat dengan adanya surat edaran (SE) di tingkat UPTD ke sekolah-sekolah. Menurut Bramastia, semestinya pihak Disdikpora juga mempertimbangkan kebutuhan para guru sertifikasi tersebut.

“Apakah para guru itu butuh atau tidak? Sudah punya atau belum? Jangan kemudian mewajibkan, padahal saya yakin sebagian besar guru itu saat ini juga sudah punya laptop,” kata Bramastia ketika ditemui wartawan di Gedung DPRD Boyolali, Kamis (20/9/2012).

Ternyata Bukan Laptop

Jika Disdikpora beralasan laptop yang ditawarkan itu dilengkapi dengan software yang menunjang, menurut Bramastia, seharusnya bukan merujuk pada pengadaan laptop, melainkan software.

“Jadi kalau yang dibutuhkan software-nya, ya cukup software-nya saja yang diinstal, tidak perlu harus membeli laptop,” tegasnya.

Di sisi lain, jika melihat dari ukuran dan spesifikasinya, Bramastia menilai tidak tepat jika itu pengadaan laptop. “Seharusnya pengadaan netbook karena ukurannya hanya 11 inchi. Nah kalau netbook harga rata-rata hanya Rp2,5 juta hingga Rp3 juta. Kalau ini kan sampai Rp5,6 juta? Sementara kalau melihat jumlah guru sertifikasi di Boyolali yang jumlahnya mencapai 5.000 orang,
berapa besar keuntungan yang bisa diraup?” tandasnya.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Boyolali, Fuadi, juga mengakui pihaknya juga menerima banyak keluhan dari para guru sertifikasi tersebut. Dijelaskan dia, saat uji kompetensi guru sertifikasi, kalangan guru itu, khususnya guru sekolah dasar (SD), diwajibkan beli laptop dengan harga Rp5,6 juta jika sistem kredit dananya dari Bank Pasar Boyolali.

Padahal kalau di luar [bukan melalui Disdikpora], harganya sekitar Rp2,8 juta. Banyak guru yang resah, tapi takut untuk menolak kebijakan itu,” kata Fuadi.


Ini penampakan laptop versi DISDIKPORA
Spoiler for lepi/netbook??:


LINK Daftar guru sertifikasi di Kabupaten Boyolali
guru sertifikasi kab boyolali


Quote:


sumber

UPDATE #1

UPDATE #2

UPDATE #3

UPDATE #4

UPDATE #5

Diubah oleh pearlcure89 01-03-2013 11:15
0
39.5K
461
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.5KThread59.1KAnggota
Tampilkan semua post
pearlcure89Avatar border
TS
pearlcure89
#260
UPDATE #4
Quote:


Boyolali : Guru Dipaksa Beli Laptop Ternyata Notebook


....................................................................................................

“Apakah butuh atau tidak? Sudah punya atau belum?. Jangan asal diminta membeli,”tuding Bramastia, kemarin. Jika alasannya laptop yang ditawarkan dilengkapi dengan software yang menunjang, SEHARUSNYA BUKANmerujuk padapengadaan laptop, melainkan software. Pihaknya juga menyoroti spesifikasi ukuran laptop yang layarnya hanya berukuran 11 inchi. Seharusnya layarnya laptop berukuran 13 inchi ke atas.

Dengan ukuran sebesar itu, dia menilai tidak tepat jika yang “diwajibkan” dibeli oleh para guru itu disebut laptop.

“Seharusnya netbook karena ukurannya hanya 11 inchi. Kalau netbook harganya rata-rata hanya Rp.2,5-3 juta,” tandasnya.

Sehingga harga Rp.5,6 juta yang ditawarkan patut dicurigai. Dengan jumlah guru sertifikasi yang mencapai 5.000, maka bisa diukur berapa keuntungan yang diraup.

Untuk itu, dirinya mengimbau para guru sertifikasi tegas menolak membeli laptop jika keberatan atau sudah memiliki.

Salah seorang guru SD di Boyolali saat ditemui suarakpk.com mengaku DIWAJIBKAN membeli laptop saat dapat dana sertifikasi. “Alasannya untuk peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia). Kemarin,waktu sertifikasi cair, saya langsung dipotong Rp.1,7 juta,” terangnya sambil meminta namanya tak dicantumkan karena khawatir dimutasi.

Dia melanjutkan, ternyata yang dibeli secara kredit itu bukan laptop melainkan netbook ukuran 11 inchi dengan merek Acer.

“Yang saya tahu, totalnya nanti saya harus membayar Rp.6,8 Juta,”ungkapnya. emoticon-Matabelo

...........................................................

Baca Selengkapnya............

Quote:


Quote:
Diubah oleh pearlcure89 04-02-2013 22:23
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.