- Beranda
- The Lounge
Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan bantahan terhadap WAHABI
...
TS
arzalcvl
Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan bantahan terhadap WAHABI

Quote:
Sbelumnya TS minta maaf karna thread ini kepanjangan. mudah2an gak
, 
Pesan TS sebelumnya:
TS bukan Wahhabi
Dari Abu Hurairah, beliau mengatakan bahwa Rasululah bersabda:
"Jauhilah prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta (bohong)." (HR. Muttafaq 'alaihi)
Mohon dibaca baik2 secara keseluruhan
, 
Pesan TS sebelumnya:
TS bukan Wahhabi
Dari Abu Hurairah, beliau mengatakan bahwa Rasululah bersabda:
"Jauhilah prasangka (buruk), karena sesungguhnya prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta (bohong)." (HR. Muttafaq 'alaihi)
Mohon dibaca baik2 secara keseluruhan
Quote:
Thread ini TS bagi mnjadi:
1. Pengantar.
2. Perjalanan Beliau Menuntut Ilmu
3. Perjalanan Dakwah Beliau
4. Wahabi dan Bantahannya
5. Karya Beliau
1. Pengantar
Nasab dan Kelahiran Beliau
1. Pengantar.
2. Perjalanan Beliau Menuntut Ilmu
3. Perjalanan Dakwah Beliau
4. Wahabi dan Bantahannya
5. Karya Beliau
1. Pengantar
Spoiler for pengantar:
Keadaan Umat di Najd Pada Masa Sebelum Beliau
1. Keadaan Sosial Politik Najd Kala Itu.
Mayoritas dari penduduk Najd kala itu terdiri dari kabilah-kabilah Arab yang dikenal akan nasabnya, dan para pendatang yang berdatangan untuk tinggal di Najd hanyalah minoritas saja.
Waktu itu sisi pandang masyarakat Najd terhadap seseorang tergantung pada nasab yang dia miliki. Hal ini sangat menyolok sekali terutama dalam urusan perkimpoian, lowongan mendapat pekerjaan dan lain sebagainya. Masyarakat Najd terbagi menjadi dua kelompok atau dua golongan, Hadhari dan Badawi (Badui), meskipun didapati perubahan sifat atau ciri pada sebagian penduduk. Yang demikian itu menimbulkan kesulitan bagi kita untuk menggolongkan kelompok yang ketiga ini, karena mereka itu bukan Badui murni dan juga tidak Hadhari murni [1]
Orang-orang Badui merasa bangga atas diri mereka dan kehidupan padang pasirnya. Mereka merasa bahwa orang-orang Hadhari hina di hadapan mereka. Penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah kekayaan binatang, dan yang paling berharga bagi mereka diantara binatang-binatang yang ada adalah unta. Dan kebetulan daerah Najd adalah daerah yang kaya akan unta sehingga tidak aneh kalau Najd biasa disebut dengan Ummul Ibil [2].
Adapun orang-orang Hadhari (orang-orang kota) memiliki pandangan yang berbeda dengan orang-orang Badui, yang mana sebagian mereka berpendapat bahwa sifat kejantanan yang ada pada orang-orang Hadhari ataupun yang ada pada orang-orang Badui berada pada garis yang sama [3], sebagian yang lain berpendapat bahwa orang-orang Badui harus diperlakukan dengan kekerasan, karena dengan cara demikian mereka bisa menjadi baik[4]
Adapun penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah bertani. Sedangkan perdagangan adalah satu-satunya penunjang kehidupan ekonomi yang ada atau dimiliki oleh orang-orang Badui maupun orang-orang Hadhari.
Mengenai hal kepemimpinan, sangatlah jauh berbeda antara orang-orang Badui dengan orang-orang Hadhari. Di mana seorang pemimpin yang ada di kalangan orang-orang Badui haruslah memenuhi kriteria seorang pemimpin, misalnya memiliki derajad lebih dari yang lain, pemberani dan memiliki pandangan dan gagasan yang jitu. Cara-cara mereka ini lebih mirip dengan sistem demokrat. Adapun orang-orang Hadhari lebih cenderung pemilihan pemimpin mereka jatuh ke tangan orang-orang yang memilki kekuatan dan kekuasaan, cara-caranyapun sudah banyak dicampuri dengan kelicikan dan tipu muslihat demi teraihnya kepemimpinan tersebut.
2. Keadaan Kegaamaan Di Najd Waktu Itu.
Penduduk negeri Najd sebelum adanya dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab keadaannya menyedihkan. Keadaan yang apabila seorang mukmin menyaksikannya tidak akan ridha selama-lamanya. Syirik (persekutuan) terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala tumbuh dengan suburnya, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sampai-sampai kubah, pepohonan, bebatuan, gua dan orang-orang yang dianggap sebagai wali pun disembah sebagaimana layaknya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penduduk Najd kala itu telah terpesona dengan kehidupan dunia dan syahwat. Sehingga pintu-pintu kesyirikan terbuka lebar untuk mereka. Marja' (sandaran) mereka kepada ahli sihir dan para dukun, sehingga negeri Najd terkenal akan hal itu. Bahkan Makkah, Madinah dan Yaman menjadi basis kemusyrikan kala itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan umat Islam ini dengan dilahirkannya seorang mujaddid besar, penegak panji-panji tauhid dan penyampai kebenaran yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Dialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang kelak berjuang mati-matian dalam rangka tegaknya tauhidullah dan menebas habis setiap yang berbau syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.
1. Keadaan Sosial Politik Najd Kala Itu.
Mayoritas dari penduduk Najd kala itu terdiri dari kabilah-kabilah Arab yang dikenal akan nasabnya, dan para pendatang yang berdatangan untuk tinggal di Najd hanyalah minoritas saja.
Waktu itu sisi pandang masyarakat Najd terhadap seseorang tergantung pada nasab yang dia miliki. Hal ini sangat menyolok sekali terutama dalam urusan perkimpoian, lowongan mendapat pekerjaan dan lain sebagainya. Masyarakat Najd terbagi menjadi dua kelompok atau dua golongan, Hadhari dan Badawi (Badui), meskipun didapati perubahan sifat atau ciri pada sebagian penduduk. Yang demikian itu menimbulkan kesulitan bagi kita untuk menggolongkan kelompok yang ketiga ini, karena mereka itu bukan Badui murni dan juga tidak Hadhari murni [1]
Orang-orang Badui merasa bangga atas diri mereka dan kehidupan padang pasirnya. Mereka merasa bahwa orang-orang Hadhari hina di hadapan mereka. Penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah kekayaan binatang, dan yang paling berharga bagi mereka diantara binatang-binatang yang ada adalah unta. Dan kebetulan daerah Najd adalah daerah yang kaya akan unta sehingga tidak aneh kalau Najd biasa disebut dengan Ummul Ibil [2].
Adapun orang-orang Hadhari (orang-orang kota) memiliki pandangan yang berbeda dengan orang-orang Badui, yang mana sebagian mereka berpendapat bahwa sifat kejantanan yang ada pada orang-orang Hadhari ataupun yang ada pada orang-orang Badui berada pada garis yang sama [3], sebagian yang lain berpendapat bahwa orang-orang Badui harus diperlakukan dengan kekerasan, karena dengan cara demikian mereka bisa menjadi baik[4]
Adapun penunjang kehidupan ekonomi mereka adalah bertani. Sedangkan perdagangan adalah satu-satunya penunjang kehidupan ekonomi yang ada atau dimiliki oleh orang-orang Badui maupun orang-orang Hadhari.
Mengenai hal kepemimpinan, sangatlah jauh berbeda antara orang-orang Badui dengan orang-orang Hadhari. Di mana seorang pemimpin yang ada di kalangan orang-orang Badui haruslah memenuhi kriteria seorang pemimpin, misalnya memiliki derajad lebih dari yang lain, pemberani dan memiliki pandangan dan gagasan yang jitu. Cara-cara mereka ini lebih mirip dengan sistem demokrat. Adapun orang-orang Hadhari lebih cenderung pemilihan pemimpin mereka jatuh ke tangan orang-orang yang memilki kekuatan dan kekuasaan, cara-caranyapun sudah banyak dicampuri dengan kelicikan dan tipu muslihat demi teraihnya kepemimpinan tersebut.
2. Keadaan Kegaamaan Di Najd Waktu Itu.
Penduduk negeri Najd sebelum adanya dakwah yang dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab keadaannya menyedihkan. Keadaan yang apabila seorang mukmin menyaksikannya tidak akan ridha selama-lamanya. Syirik (persekutuan) terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala tumbuh dengan suburnya, baik syirik besar maupun syirik kecil. Sampai-sampai kubah, pepohonan, bebatuan, gua dan orang-orang yang dianggap sebagai wali pun disembah sebagaimana layaknya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penduduk Najd kala itu telah terpesona dengan kehidupan dunia dan syahwat. Sehingga pintu-pintu kesyirikan terbuka lebar untuk mereka. Marja' (sandaran) mereka kepada ahli sihir dan para dukun, sehingga negeri Najd terkenal akan hal itu. Bahkan Makkah, Madinah dan Yaman menjadi basis kemusyrikan kala itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkan umat Islam ini dengan dilahirkannya seorang mujaddid besar, penegak panji-panji tauhid dan penyampai kebenaran yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Dialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang kelak berjuang mati-matian dalam rangka tegaknya tauhidullah dan menebas habis setiap yang berbau syirik terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Nasab dan Kelahiran Beliau
Spoiler for nasab dan kelahiran beliau:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup ditengah-tengah keluarga yang dikenal denan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf), dimana Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf adalah kakek beliau ke-9 menurut riwayat yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf [5]
Beliau dilahirkan di negeri Uyainah pada tahun 1115H. Daerah Uyainah ini terletak di wilayah Yamamah yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya berada di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya (jarak antara Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 Km.
Beliau dilahirkan di negeri Uyainah pada tahun 1115H. Daerah Uyainah ini terletak di wilayah Yamamah yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya berada di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya (jarak antara Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 Km.
Diubah oleh arzalcvl 01-02-2013 08:49
0
36.2K
Kutip
230
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arzalcvl
#2
3. Perjalanan Dakwah Beliau
Perjalanan Dakwah Beliau.
Spoiler for perjalanan dakwah:
Dakwah Beliau Sebelum Bergabung Dengan Amir Dir'iyyah
Sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab senantiasa berdakwah di setiap tempat dimana beliau belajar. Di Najd itu sendiri atau di Bashrah, di Az-Zubair, al-Ahsaa', Haryamala dan lain sebagainya. Akan tetapi beliau mulai mengerahkan segala apa yang dimiliki sekembali beliau dari Haryamala, tepatnya mulai tahun 1155H. Beliau mulai dakwah mubarakah tersebut di negeri Uyainah tempat kelahiran dan kampung halaman beliau.
Amir Uyainah Utsman bin Muhammad bin Ma'mar sangat gembira dengan kedatangan beliau, bahkan dia berkata kepada Syaikh : "Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu". Maka mulaialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sibuk dengan urusan dakwah, ta'lim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk negeri sebelah pun datang ke Uyainah dalam rangka ingin belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menemui Amir Uyainah, kemudian beliau berkata : "Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Ma'mar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Allah Ta'ala tidak akan ridha selama-lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid, kubah Zaid ini telah menjadi fitnah bagi manusia dan merubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk menghancurkannya". Kemudian Amir Uyainah menjawab : "Silakan kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu". Lalu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.
Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama 600 tentara Uyainah dan di tengah-tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Ma'mar, Amir negeri Uyainah. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar khabar bahwa Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat untuk mempertahankan kubah tersebut. Hancur leburlah kubah Zaid bin Khathab yang sudah lama mereka agung-agungkan dan mereka sembah. Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau selalu memberantas hal-hal yang berbau syirik dan hal-hal yang mengarah kepada kesyirikan. Beliau menegakkan hukuman had (hukuman cambuk atau rajam atau potong tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke telinga Amir Al-Ahsaa', saat itu Sulaiman bin Urai'ir al-Khalidi, dan para pengikutnya dari bani Khalid. Khabar yang dipahami oleh mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang yang suka menhancurkan kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibunuh, kalau tidak, maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.
Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Yang demikian pada akhirnya dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahhab seraya berkata : "Wahai Syaikh .... sesungguhnya Amir Al-Ahsaa' telah menulis surat kepadaku begini dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin untuk membunuhmu ! dan kami pun tidak berani dengan dia, tiada daya dan upaya pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul-betul mengharap Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini". Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Wahai Amir ...., sesungguhnya apa yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkai bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al-Ahsaa' dan yang lainnya dari musuh-musuhmu, serta Allah Ta'ala akan menjadikanmu sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya". Kemudian Amir Uyainah berkata lagi : "Wahai Syaikh ...., sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya".
Maka tiada pilihan lain bagi syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab, kecuali harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau sendiri.
Keberadaan Beliau Di Negeri Dir'iyyah
1. Sebab Perginya Beliau Menuju Dir'iyyah.
Saat itu sudah menjadi suatu keharusan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk segera meninggalkan negeri Uyainah, maka tempat yang paling cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah menurut beliau adalah negeri Dir'iyyah. Yang demikian itu dikarenakan negeri Dir'iyyah semakin hari semakin kuat dalam hal ketentaraan. Hal itu terbukti dengan direbutnya kembali kekuasaan yang selalu dirong-rong oleh Sa'd bin Muhammad pemimpin Bani Khalid [17] Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Dir'iyyah dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin bergabung dengan para pemimpin Dir'iyyah.
Tapi sebab yang terpenting dari kepergian beliau menuju negeri Dir'iyyah adalah dikarenakan dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Dir'iyyah (Tsinyan dan Musyairi) dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz [18].
2. Pertemuan Beliau Dengan Amir Dir'iyyah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan negeri Uyainnah kemudian pergi ke negeri Dir'iyyah dalam keadaan dijaga dan dikawal oleh orang-orangnya Utsman bin Ma'mar (Pemimpin Uyainah) [19].
Nara sumber yang ada, saling berbeda dalam menentukan tahun kepindahan beliau ke negeri Dir'iyyah. Namun yang terkuat (arjah) adalah perkataan Ibnu Ghannam yang menyebutkan bahwa kepindahan Beliau dari Uyainah ke Dir'iyyah terjadi ditahun 1157H. Hal ini dikarenakan Ibnu Ghannam lebih dekat kepada Syaikh dibanding dengan yang lainnya dari kalangan mumanikhin (para ahli tarikh) [20].
Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berada di rumah keluarga Suwailin, datanglah Amir Dir'iyyah Muhammad bin Sa'ud atas anjuran istrinya demi menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Yang akhirnya terwujud suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam rangka menegakkan dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya sebagi asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).
Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu pula tercetuslah suatu pernyataan, bahwasanya urusan pemerintahan dipikul oleh Muhammad bin Sa'ud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah) di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta keturunannya [21]. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Sa'ud sangat berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat mumpuni untuk melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja [22].
Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab dan Amir Dir'iyyah masih berada diatas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai mereka pergi ke rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan mereka masing-masing di kemudian hari.
Sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab senantiasa berdakwah di setiap tempat dimana beliau belajar. Di Najd itu sendiri atau di Bashrah, di Az-Zubair, al-Ahsaa', Haryamala dan lain sebagainya. Akan tetapi beliau mulai mengerahkan segala apa yang dimiliki sekembali beliau dari Haryamala, tepatnya mulai tahun 1155H. Beliau mulai dakwah mubarakah tersebut di negeri Uyainah tempat kelahiran dan kampung halaman beliau.
Amir Uyainah Utsman bin Muhammad bin Ma'mar sangat gembira dengan kedatangan beliau, bahkan dia berkata kepada Syaikh : "Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu". Maka mulaialah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sibuk dengan urusan dakwah, ta'lim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk negeri sebelah pun datang ke Uyainah dalam rangka ingin belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menemui Amir Uyainah, kemudian beliau berkata : "Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Ma'mar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Allah Ta'ala tidak akan ridha selama-lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid, kubah Zaid ini telah menjadi fitnah bagi manusia dan merubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk menghancurkannya". Kemudian Amir Uyainah menjawab : "Silakan kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu". Lalu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.
Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bersama 600 tentara Uyainah dan di tengah-tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Ma'mar, Amir negeri Uyainah. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar khabar bahwa Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat untuk mempertahankan kubah tersebut. Hancur leburlah kubah Zaid bin Khathab yang sudah lama mereka agung-agungkan dan mereka sembah. Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau selalu memberantas hal-hal yang berbau syirik dan hal-hal yang mengarah kepada kesyirikan. Beliau menegakkan hukuman had (hukuman cambuk atau rajam atau potong tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke telinga Amir Al-Ahsaa', saat itu Sulaiman bin Urai'ir al-Khalidi, dan para pengikutnya dari bani Khalid. Khabar yang dipahami oleh mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang yang suka menhancurkan kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibunuh, kalau tidak, maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.
Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Yang demikian pada akhirnya dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahhab seraya berkata : "Wahai Syaikh .... sesungguhnya Amir Al-Ahsaa' telah menulis surat kepadaku begini dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin untuk membunuhmu ! dan kami pun tidak berani dengan dia, tiada daya dan upaya pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul-betul mengharap Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini". Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata : "Wahai Amir ...., sesungguhnya apa yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkai bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al-Ahsaa' dan yang lainnya dari musuh-musuhmu, serta Allah Ta'ala akan menjadikanmu sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya". Kemudian Amir Uyainah berkata lagi : "Wahai Syaikh ...., sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya".
Maka tiada pilihan lain bagi syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab, kecuali harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau sendiri.
Keberadaan Beliau Di Negeri Dir'iyyah
1. Sebab Perginya Beliau Menuju Dir'iyyah.
Saat itu sudah menjadi suatu keharusan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk segera meninggalkan negeri Uyainah, maka tempat yang paling cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah menurut beliau adalah negeri Dir'iyyah. Yang demikian itu dikarenakan negeri Dir'iyyah semakin hari semakin kuat dalam hal ketentaraan. Hal itu terbukti dengan direbutnya kembali kekuasaan yang selalu dirong-rong oleh Sa'd bin Muhammad pemimpin Bani Khalid [17] Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Dir'iyyah dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin bergabung dengan para pemimpin Dir'iyyah.
Tapi sebab yang terpenting dari kepergian beliau menuju negeri Dir'iyyah adalah dikarenakan dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Dir'iyyah (Tsinyan dan Musyairi) dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz [18].
2. Pertemuan Beliau Dengan Amir Dir'iyyah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan negeri Uyainnah kemudian pergi ke negeri Dir'iyyah dalam keadaan dijaga dan dikawal oleh orang-orangnya Utsman bin Ma'mar (Pemimpin Uyainah) [19].
Nara sumber yang ada, saling berbeda dalam menentukan tahun kepindahan beliau ke negeri Dir'iyyah. Namun yang terkuat (arjah) adalah perkataan Ibnu Ghannam yang menyebutkan bahwa kepindahan Beliau dari Uyainah ke Dir'iyyah terjadi ditahun 1157H. Hal ini dikarenakan Ibnu Ghannam lebih dekat kepada Syaikh dibanding dengan yang lainnya dari kalangan mumanikhin (para ahli tarikh) [20].
Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berada di rumah keluarga Suwailin, datanglah Amir Dir'iyyah Muhammad bin Sa'ud atas anjuran istrinya demi menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Yang akhirnya terwujud suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam rangka menegakkan dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya sebagi asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).
Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu pula tercetuslah suatu pernyataan, bahwasanya urusan pemerintahan dipikul oleh Muhammad bin Sa'ud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah) di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab beserta keturunannya [21]. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Sa'ud sangat berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat mumpuni untuk melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja [22].
Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahhab dan Amir Dir'iyyah masih berada diatas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai mereka pergi ke rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan mereka masing-masing di kemudian hari.
Diubah oleh arzalcvl 01-02-2013 01:11
0
Kutip
Balas