- Beranda
- Film Indonesia
GENDING SRIWIJAYA 10/01/2013
...
TS
IdFilmCenter
GENDING SRIWIJAYA 10/01/2013

Informasi Dasar
Sinopsis Singkat:
Film ini menceritakan sebuah kerajaan di Kedatuan Bukit Jurai yang dipimpin oleh raja yang bergelar Dapunta Hyang Srijayanasaa. Raja mempunyai 2 orang anak yang bernama Awang Kencana dan Purnama Kelana. Konflik semakin tajam ketika kedua anaknya berusaha merebutkan tahta kerajaan.
Sinopsis Lengkap:
Nusantara abad 16, tiga abad setelah keruntuhan Sriwijaya, muncul kerajaan-kerajaan kecil yang saling berebut kekuasaan. Kedatuan Bukit Jerai, adalah kerajaan kecil yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Mahawangsa dengan permaisurinya Ratu Kalimanyang. Mereka memiliki dua putera: Awang Kencana dan Purnama Kelana. Dapunta Hyang yang sudah tua, memilih Purnama Kelana sebagai penggantinya, Dapunta merasa Purnama memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, cerdas dan lebih visioner dibandingkan dengan Awang Kencana yang hanya mengandalkan kemampuan olah kanuragan dan kekuatan militer.
Awang Kencana mengetahui rencana itu dan sangat kecewa. Awang kemudian menjebak Purnama, menfitnah Purnama telah membunuh Dapunta. Purnama ditangkap oleh Awang dan dijebloskan ke penjara.Dengan dibantu oleh para tabib dan sahabat-sahabatnya, Purnama berhasil dibebaskan. Pasukan Awang mengejar Purnama, yang terdesak di lereng tebing, Purnama jatuh di jurang, tercebur di sungai dan terbawa arus deras. Pasukan Awang mengira Purnama telah tewas.
Purnama diselamatkan oleh Malini, puteri Ki Goblek. Ki Goblek adalah pemimpin kelompok perampok. Ki Goblek yang bernama asli Kendra Kenya adalah mantan Tumenggung di Kedatuan Bukit Jerai. Sekitar 30 tahun sebelumnya Ki Goblek membantu Dapunta muda dalam merebut kekuasaan di Kedatuan Bukit Jerai. Silang sengkarut penghianatan Dapunta membuat Ki Goblek lari ke hutan, menyimpan dendam dan membentuk kelompok perampok yang menghantui Bukit Jerai.
Setelah meninggalnya Dapunta Hyang Mahawangsa, Awang dinobatkan sebagai raja di Kedatuan Bukit Jerai. Awang memerintahkan untuk membasmi kelompok perampok Ki Goblek. Kelompok perampok ditumpas. Ki Goblek tewas. Hanya tertinggal Purnama, Malini dan delapan perempuan penenun songket, janda para perampok yang memiliki kemampuan olah kanuragan.
Sepuluh orang itu kemudian menyiapkan serangan balasan ke pusat Kedatuan Bukit Jerai. Mereka menyusup dan merebut tahta Kedatuan Bukit Jerai.
Negara & Tanggal Rilis:
Indonesia, 10 Januari 2012
Klasifikasi: 17+
Bahasa: Bahasa Indonesia
Warna: Warna
Status: Pengembangan / Pra-produksi
Produser
Diah P. Purnamasari
H. R. Doni Ramadhan
Irene Camelyn Sinaga
Sutradara
Hanung Bramantyo
Sutradara Pendamping
Sugeng Wahyudi
Penulis Naskah
Hanung Bramantyo
Pemain:
Pemeran Utama
Agus KuncoroSebagai Awang Kencana
Sahrul Gunawan Sebagai Purnama Kelana
Slamet Rahardjo Djarot Sebagai Raja Dapunta Hyang Srijayanasa
Pemeran Pembantu
Hafsary Thanial Dinoto Sebagai Endang Wangi
Jajang C. Noer Sebagai Ratu Kalimanyang
Julia Perez Sebagai Malini
Mathias Muchus Sebagai Ki Goblek
Oim Ibrahim Sebagai Pati Duta
Pemain
Anwar Fuady
Erly Ashy
T. Rifnu Wikana
Yatti Surachman
Crew:
Tim Produksi
Produser Eksekutif Alex Noerdin | Yusri Effendy
Produser Pelaksana Ajish Dibyo | Andi P. Manoppo | Muhammaad Fariz
Tim Penyutradaraan
Pemilih Peran Zaskia Adya Mecca
Tim Tata Kamera
Penata Kamera Ipung Rachmat Syaiful
Tim Tata Suara
Perekam Suara Sutrisno
Tim Tata Artistik
Penata Artistik BBudi Riyanto Karung
Tim Tata Kostum
Penata Kostum Retno Ratih Damayanti
Tim Tata Rias
Penata Rias Retno Ratih Damayanti
Tim Pasca Produksi
Penyunting Adegan Cesa David Luckmansyah | Ryan Purwoko
Penata Musik Djaduk Ferianto
Penata Suara Satrio Budiono
Publicity & Promotions
Fotografer Koko Jatmiko
Produksi:
Production Companies Putaar Production
Pemda Sumatera Selatan
Trivia
Lain-lain: Film Kolosal yang mengangkat kebudayaan dan sejarah Sumatera Selatan pada masa kerajaan Sriwijaya
Trailer
Sumber : www.idFilmCenter.com
Diubah oleh IdFilmCenter 09-01-2013 16:53
0
12.7K
63
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Film Indonesia
3.6KThread•5.2KAnggota
Tampilkan semua post
Tariz Solis
#49
REVIEW - GENDING SRIWIJAYA
Sebagai bagian dari generasi 90-an, saya tidak turut merasakan kebahagiaan menyaksikan film-film silat buatan anak bangsa yang menyesaki bioskop pada dekade 80-an. Yang justru saya dapatkan, film syur dengan tampilan poster dan judul yang menggoda. Ketika akhirnya genre ini menghilang sama sekali dari layar lebar, para produser berinisiatif untuk memindahkannya ke layar kaca sebagai tontonan mingguan. Saya tidak pernah absen untuk menyimaknya terlebih orang tua sangat menggemari tontonan jenis ini. Pada awalnya, sebelum era sinetron stripping dimulai, Misteri Gunung Merapi, Tutur Tinular, hingga Angling Dharma adalah sajian yang mengasyikkan untuk disantap. Tapi layaknya film kolosal Indonesia yang perlahan hancur karena terlalu banyak menyuntikkan elemen seksualitas ke dalam penceritaan, maka serial silat kolosal di televisi tenggelam disebabkan oleh penceritaan yang melenceng kemana-mana. Perlahan tapi pasti, kepercayaan masyarakat hilang.
Apabila kita membicarakan sinetron laga / silat di salah satu stasiun televisi, hanya cemooh belaka yang meluncur dari mulut. Maka ketika di masa suram bagi tontonan jenis ini Hanung Bramantyo menelurkan Gending Sriwijaya, banyak yang bertanya-tanya, sanggupkah? Ini tentunya proyek yang penuh dengan resiko. Jawaban yang didapat usai menyaksikannya di layar lebar, sanggup tidak sanggup. Sebagai sebuah film secara keseluruhan, Gending Sriwijaya sama sekali tidak mengecewakan dengan jalinan kisah yang memikat serta jajaran pemainnya yang bermain kuat. Hanung Bramantyo pun patut mendapat acungan dua jempol atas usahanya untuk mengangkat sebuah genre yang telah lama terpinggirkan dan kesediannya untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam berbagai genre di film-film yang dikomandoinya. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, masyarakat masih belum benar-benar percaya bahwa ada sebuah film kolosal yang tergarap dengan baik. Dengan raihan penonton yang terbilang tidak menggembirakan, Gending Sriwijaya kudu rela bergabung dengan puluhan (atau malah ratusan?) film Indonesia yang mempunyai kualitas di atas rata-rata namun ditanggapi dingin oleh masyarakat karena satu dan lain hal. Miris.
Meski mengambil latar belakang sejarah sebagai bangunan cerita, sejatinya apa yang dituturkan oleh Hanung Bramantyo tidak lebih dari sebuah kisah fiksi. Film berlatar di abad ke-16, 300 tahun setelah Kerajaan Sriwijaya mengakhiri masa kejayaannya. Semenjak itu, munculah kerajaan-kerajaan kecil yang saling memperebutkan kekuasaan. Salah satunya, dan yang menjadi sorotan utama, adalah Kedatuan Bukit Jerai yang dipimpin oleh Dapunta Hyang (Slamet Rahardjo) dan Ratu Kalimanyang (Jajang C. Noer). Dengan usia yang kian uzur, Dapunta Hyang kudu segera mencari pewaris yang sanggup menggantikannya dalam memimpin kerajaan. Dua putranya, Awang Kencana (Agus Kuncoro) dan Purnama Kelana (Sahrul Gunawan), dirasa telah siap untuk dijadikan pemimpin. Ketika tradisi mengharuskan putra tertua dinobatkan sebagai pewaris tampuk kekuasaan, Dapunta Hyang memutuskan untuk melanggarnya dengan menunjuk Purnama Kelana sebagai pengganti. Keputusan Sang Raja disambut petaka. Belum juga Purnama Kelana naik tahta, Dapunta Hyang ditemukan tewas terbunuh. Bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara mengarah pada Purnama Kelana. Tak bisa mengelak, si bungsu pun melarikan diri dari istana dan menetap sementara bersama pemimpin kelompok perampok, Ki Goblek (Mathias Muchus), dan putrinya, Malini (Julia Perez). Di waktu bersamaan, Awang Kencana mendapatkan keinginannya untuk menduduki tampuk pimpinan tertinggi dalam kerajaan.
Menyaksikan film semacam ini kerapkali membawa kesenangan tersendiri terlebih jika dipenuhi dengan berbagai intrik dan konflik kepentingan yang melingkupi kehidupan kerajaan di dalamnya. Gending Sriwijaya memiliki itu. Dengan Hanung Bramantyo merancang film ini sebagai sebuah fantasi yang tak patuh pada sejarah, maka dia bisa dengan leluasa dan sesuka hatinya dalam berceloteh termasuk untuk urusan sindir menyindir kondisi pemerintahan Indonesia masa kini dan mengapungkan isu-isu sosial tanpa harus mengkhawatirkan akurasi sejarah. Durasi sepanjang 138 menit dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menghantarkan kisah meski tetap saja ada satu dua bagian yang dirasa kurang perlu dan berpanjang-panjang. Yang menjadi permasalahan utama sebenarnya bukanlah terletak pada jalinan penceritaan yang ‘draggy’, melainkan upaya pemadatan kisah sehingga film tidak kelewat panjang. Beberapa momen penting yang seharusnya mampu meningkatkan intensitas cerita dihadirkan selewat diakali dengan memanfaatkan teknik animasi. Apakah ada maksud lain di balik penyampaian cara ini selain untuk menghemat durasi dan biaya? Karena sungguh sayang sekali titik-titik penting dalam film malah justru tidak digali lebih mendalam.
Menilik performa dari departemen lain, maka saya harus mengakui dibuat terkagum-kagum dengan departemen akting dimana jajaran pemainnya bermain sangat kuat sehingga mampu mengangkat Gending Sriwijaya ke jajaran ‘film terhormat’. Mathias Muchus, Yati Surachman, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan Teuku Rifnu Wikana sekali lagi tidak main-main dalam memainkan peran mereka dengan menyuguhkan sebuah performa kelas wahid. Para aktor-aktris kawakan yang bersinar terang sekalipun ditempatkan pada posisi pendukung cenderung membahayakan posisi pemain utama apabila tidak sanggup mengimbangi. Untungnya, di bawah pengarahan Hanung Bramantyo yang memang sudah dikenal lihai dalam mengarahkan pemain, Sahrul Gunawan, Agus Kuncoro, dan Julia Perez tetap sanggup tampil menonjol nan menawan. Agus Kuncoro sebagai putra sulung yang mengidamkan tampuk kekuasaan berhasil memberikan nyawa kepada tokoh yang diperankannya sehingga penonton pun dapat bersimpati sekaligus gregetan kepada Awang Kencana, sementara Julia Perez... ini yang menarik. Dia sanggup membungkam mulut siapapun yang meragukan kemampuan aktingnya. Ya, dia memang pernah tampil bagus dalam Cinta Setaman dan Sssttt... Jadikan Aku Simpanan, akan tetapi perannya sebagai Malini adalah pencapaian terbaiknya dalam seni peran. Tampil dekil dan jauh dari kesan Jupe seksi seperti yang biasa kita lihat, dia memberi penampilan yang meyakinkan kala beradegan laga tanpa harus keteteran saat dipaksa oleh skrip untuk memunculkan emosinya.
Pujian lain patut disematkan kepada tata produksi yang tertata dengan sangat rapi. Lihat saja bagaimana tata rias, tata kostum, tata artistik, tata koreografi hingga tata musik di bawah komando Djaduk Ferianto sanggup berjalan selaras dan saling menopang satu sama lain. Hal ini memberikan efek megah kepada Gending Sriwijaya, terutama berkat koreografi laganya yang tertata dengan sangat rapi, detil, sekaligus meyakinkan. Inilah yang menjadi nyawa film, di samping kekuatan akting pemainnya dan skrip buatan Hanung Bramantyo. Ya, meski adegan laganya tak terlalu sering muncul – karena niat Hanung pada awalnya membentuk film ini sebagai drama, bukan kolosal – namun Hanung berhasil menempatkannya dalam titik-titik krusial sehingga tidak terkesan hanya sebagai tempelan atau pembangkit minat semata. Pun begitu, tentu hal ini tidak serta merta rapi jali, hadir tanpa kekurangan. Saya mencatat, setidaknya ada sejumlah bagian yang terkesan tak rapi dalam pengerjaannya. Sebagai contoh, extreme long shot Kedatuan Bukit Jerai di malam hari yang menyerupai maket. Herannya, ini tidak dimunculkan hanya sekali, tapi beberapa kali sehingga terasa menggelikan. Oh, sayangnya...
Meski Gending Sriwijaya mempunyai kekurangan disana-sini, terutama untuk departemen artistik dan skrip rekaan sang sutradara yang masih kurang mendalam dalam pembentukan karakter serta penggalian kisah, akan tetapi upaya Hanung Bramantyo untuk menghadirkan sebuah variasi tontonan serta menghidupkan kembali film silat dengan percampuran antara fantasi dan sejarah patut mendapat apresiasi lebih. Bahkan, sejujurnya, Gending Sriwijaya pun bukan film yang buruk. Malahan sama sekali tidak buruk. Ini adalah sebuah film yang seharusnya tidak dilewatkan oleh mereka yang mengaku pecinta film, terlebih bagi yang belum sempat berkenalan dengan genre ini. Gending Sriwijaya sukses dihantarkan sebagai sebuah hidangan yang lezat berkat kepiawaian Hanung Bramantyo dalam menjejalkan intrik kerajaan yang memikat demi menutupi lemahnya pendalaman kisah, tata produksinya yang mengagumkan terutama di sektor koreografi laga, serta jajaran pemainnya yang berakting cemerlang dalam menghidupkan tokoh-tokoh yang mereka perankan, khususnya Agus Kuncoro dan Julia Perez.
8,5/10
Sebagai bagian dari generasi 90-an, saya tidak turut merasakan kebahagiaan menyaksikan film-film silat buatan anak bangsa yang menyesaki bioskop pada dekade 80-an. Yang justru saya dapatkan, film syur dengan tampilan poster dan judul yang menggoda. Ketika akhirnya genre ini menghilang sama sekali dari layar lebar, para produser berinisiatif untuk memindahkannya ke layar kaca sebagai tontonan mingguan. Saya tidak pernah absen untuk menyimaknya terlebih orang tua sangat menggemari tontonan jenis ini. Pada awalnya, sebelum era sinetron stripping dimulai, Misteri Gunung Merapi, Tutur Tinular, hingga Angling Dharma adalah sajian yang mengasyikkan untuk disantap. Tapi layaknya film kolosal Indonesia yang perlahan hancur karena terlalu banyak menyuntikkan elemen seksualitas ke dalam penceritaan, maka serial silat kolosal di televisi tenggelam disebabkan oleh penceritaan yang melenceng kemana-mana. Perlahan tapi pasti, kepercayaan masyarakat hilang.
Apabila kita membicarakan sinetron laga / silat di salah satu stasiun televisi, hanya cemooh belaka yang meluncur dari mulut. Maka ketika di masa suram bagi tontonan jenis ini Hanung Bramantyo menelurkan Gending Sriwijaya, banyak yang bertanya-tanya, sanggupkah? Ini tentunya proyek yang penuh dengan resiko. Jawaban yang didapat usai menyaksikannya di layar lebar, sanggup tidak sanggup. Sebagai sebuah film secara keseluruhan, Gending Sriwijaya sama sekali tidak mengecewakan dengan jalinan kisah yang memikat serta jajaran pemainnya yang bermain kuat. Hanung Bramantyo pun patut mendapat acungan dua jempol atas usahanya untuk mengangkat sebuah genre yang telah lama terpinggirkan dan kesediannya untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam berbagai genre di film-film yang dikomandoinya. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, masyarakat masih belum benar-benar percaya bahwa ada sebuah film kolosal yang tergarap dengan baik. Dengan raihan penonton yang terbilang tidak menggembirakan, Gending Sriwijaya kudu rela bergabung dengan puluhan (atau malah ratusan?) film Indonesia yang mempunyai kualitas di atas rata-rata namun ditanggapi dingin oleh masyarakat karena satu dan lain hal. Miris.
Meski mengambil latar belakang sejarah sebagai bangunan cerita, sejatinya apa yang dituturkan oleh Hanung Bramantyo tidak lebih dari sebuah kisah fiksi. Film berlatar di abad ke-16, 300 tahun setelah Kerajaan Sriwijaya mengakhiri masa kejayaannya. Semenjak itu, munculah kerajaan-kerajaan kecil yang saling memperebutkan kekuasaan. Salah satunya, dan yang menjadi sorotan utama, adalah Kedatuan Bukit Jerai yang dipimpin oleh Dapunta Hyang (Slamet Rahardjo) dan Ratu Kalimanyang (Jajang C. Noer). Dengan usia yang kian uzur, Dapunta Hyang kudu segera mencari pewaris yang sanggup menggantikannya dalam memimpin kerajaan. Dua putranya, Awang Kencana (Agus Kuncoro) dan Purnama Kelana (Sahrul Gunawan), dirasa telah siap untuk dijadikan pemimpin. Ketika tradisi mengharuskan putra tertua dinobatkan sebagai pewaris tampuk kekuasaan, Dapunta Hyang memutuskan untuk melanggarnya dengan menunjuk Purnama Kelana sebagai pengganti. Keputusan Sang Raja disambut petaka. Belum juga Purnama Kelana naik tahta, Dapunta Hyang ditemukan tewas terbunuh. Bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara mengarah pada Purnama Kelana. Tak bisa mengelak, si bungsu pun melarikan diri dari istana dan menetap sementara bersama pemimpin kelompok perampok, Ki Goblek (Mathias Muchus), dan putrinya, Malini (Julia Perez). Di waktu bersamaan, Awang Kencana mendapatkan keinginannya untuk menduduki tampuk pimpinan tertinggi dalam kerajaan.
Menyaksikan film semacam ini kerapkali membawa kesenangan tersendiri terlebih jika dipenuhi dengan berbagai intrik dan konflik kepentingan yang melingkupi kehidupan kerajaan di dalamnya. Gending Sriwijaya memiliki itu. Dengan Hanung Bramantyo merancang film ini sebagai sebuah fantasi yang tak patuh pada sejarah, maka dia bisa dengan leluasa dan sesuka hatinya dalam berceloteh termasuk untuk urusan sindir menyindir kondisi pemerintahan Indonesia masa kini dan mengapungkan isu-isu sosial tanpa harus mengkhawatirkan akurasi sejarah. Durasi sepanjang 138 menit dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menghantarkan kisah meski tetap saja ada satu dua bagian yang dirasa kurang perlu dan berpanjang-panjang. Yang menjadi permasalahan utama sebenarnya bukanlah terletak pada jalinan penceritaan yang ‘draggy’, melainkan upaya pemadatan kisah sehingga film tidak kelewat panjang. Beberapa momen penting yang seharusnya mampu meningkatkan intensitas cerita dihadirkan selewat diakali dengan memanfaatkan teknik animasi. Apakah ada maksud lain di balik penyampaian cara ini selain untuk menghemat durasi dan biaya? Karena sungguh sayang sekali titik-titik penting dalam film malah justru tidak digali lebih mendalam.
Menilik performa dari departemen lain, maka saya harus mengakui dibuat terkagum-kagum dengan departemen akting dimana jajaran pemainnya bermain sangat kuat sehingga mampu mengangkat Gending Sriwijaya ke jajaran ‘film terhormat’. Mathias Muchus, Yati Surachman, Slamet Rahardjo, Jajang C. Noer dan Teuku Rifnu Wikana sekali lagi tidak main-main dalam memainkan peran mereka dengan menyuguhkan sebuah performa kelas wahid. Para aktor-aktris kawakan yang bersinar terang sekalipun ditempatkan pada posisi pendukung cenderung membahayakan posisi pemain utama apabila tidak sanggup mengimbangi. Untungnya, di bawah pengarahan Hanung Bramantyo yang memang sudah dikenal lihai dalam mengarahkan pemain, Sahrul Gunawan, Agus Kuncoro, dan Julia Perez tetap sanggup tampil menonjol nan menawan. Agus Kuncoro sebagai putra sulung yang mengidamkan tampuk kekuasaan berhasil memberikan nyawa kepada tokoh yang diperankannya sehingga penonton pun dapat bersimpati sekaligus gregetan kepada Awang Kencana, sementara Julia Perez... ini yang menarik. Dia sanggup membungkam mulut siapapun yang meragukan kemampuan aktingnya. Ya, dia memang pernah tampil bagus dalam Cinta Setaman dan Sssttt... Jadikan Aku Simpanan, akan tetapi perannya sebagai Malini adalah pencapaian terbaiknya dalam seni peran. Tampil dekil dan jauh dari kesan Jupe seksi seperti yang biasa kita lihat, dia memberi penampilan yang meyakinkan kala beradegan laga tanpa harus keteteran saat dipaksa oleh skrip untuk memunculkan emosinya.
Pujian lain patut disematkan kepada tata produksi yang tertata dengan sangat rapi. Lihat saja bagaimana tata rias, tata kostum, tata artistik, tata koreografi hingga tata musik di bawah komando Djaduk Ferianto sanggup berjalan selaras dan saling menopang satu sama lain. Hal ini memberikan efek megah kepada Gending Sriwijaya, terutama berkat koreografi laganya yang tertata dengan sangat rapi, detil, sekaligus meyakinkan. Inilah yang menjadi nyawa film, di samping kekuatan akting pemainnya dan skrip buatan Hanung Bramantyo. Ya, meski adegan laganya tak terlalu sering muncul – karena niat Hanung pada awalnya membentuk film ini sebagai drama, bukan kolosal – namun Hanung berhasil menempatkannya dalam titik-titik krusial sehingga tidak terkesan hanya sebagai tempelan atau pembangkit minat semata. Pun begitu, tentu hal ini tidak serta merta rapi jali, hadir tanpa kekurangan. Saya mencatat, setidaknya ada sejumlah bagian yang terkesan tak rapi dalam pengerjaannya. Sebagai contoh, extreme long shot Kedatuan Bukit Jerai di malam hari yang menyerupai maket. Herannya, ini tidak dimunculkan hanya sekali, tapi beberapa kali sehingga terasa menggelikan. Oh, sayangnya...
Meski Gending Sriwijaya mempunyai kekurangan disana-sini, terutama untuk departemen artistik dan skrip rekaan sang sutradara yang masih kurang mendalam dalam pembentukan karakter serta penggalian kisah, akan tetapi upaya Hanung Bramantyo untuk menghadirkan sebuah variasi tontonan serta menghidupkan kembali film silat dengan percampuran antara fantasi dan sejarah patut mendapat apresiasi lebih. Bahkan, sejujurnya, Gending Sriwijaya pun bukan film yang buruk. Malahan sama sekali tidak buruk. Ini adalah sebuah film yang seharusnya tidak dilewatkan oleh mereka yang mengaku pecinta film, terlebih bagi yang belum sempat berkenalan dengan genre ini. Gending Sriwijaya sukses dihantarkan sebagai sebuah hidangan yang lezat berkat kepiawaian Hanung Bramantyo dalam menjejalkan intrik kerajaan yang memikat demi menutupi lemahnya pendalaman kisah, tata produksinya yang mengagumkan terutama di sektor koreografi laga, serta jajaran pemainnya yang berakting cemerlang dalam menghidupkan tokoh-tokoh yang mereka perankan, khususnya Agus Kuncoro dan Julia Perez.
8,5/10
0