Kaskus

Entertainment

koong.Avatar border
TS
koong.
10 Pembunuh Berantai Indonesia
newbie izin share gan..
thread ane kale neh bukanny mau menyinggung negara tercinta kita klo bnyk pembunuhnya..
tpi hny sekedar mau kasih info.. moga2 agan2 gk ad yg profesi kyak gini.. emoticon-Ngakak
ane mulai aja yah....

Spoiler for 1:


Spoiler for 2:


Spoiler for 3:


Spoiler for 4:


Spoiler for 5:


Spoiler for 6:


Spoiler for 7:


Spoiler for 8:


Quote:


sumber
Diubah oleh koong. 17-12-2012 11:14
fajarakatsuki18Avatar border
fajarakatsuki18 memberi reputasi
-1
94.1K
1.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread106.6KAnggota
Tampilkan semua post
DumaabonekaAvatar border
Dumaaboneka
#499
ADA LG GAN.....SI RIZAL : PENJAGAL KELUARGA DARI MEDAN
Sang Penjagal Keluarga dari Medan

Buser File | oleh
Posted: 16/04/2003 20:22

Reka ulang pembunuhan yang dilakukan Ical.
Liputan6.com, Medan: Kabut masih menyelimuti Kota Medan, Sumatra Utara, pada dini hari awal November 1998. Bersamaan dengan itu, jajaran Kepolisian Kota Besar membekuk Muhammad Ferizal alias Ical atau Eri di Rumah Sakit dokter Pringadi. Remaja yang--saat itu berusia 17 tahun--dikenal santun ini diringkus dengan dugaan menjagal keluarganya sendiri.

Kenangan para tetangga dan rekan-rekan Ical akan sosoknya yang patuh buyar seketika. Bayangkan, si bungsu tega membunuh ayah, ibu, dan empat kakak kandungnya. Perbuatan biadab Ical bahkan dilakukan relatif cepat di rumahnya Jalan Perjuangan Nomor 22, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Medan Baru, Medan, 30 Oktober 1998 sekitar pukul 10.00 WIB. Tak dinyana memang, si bungsu "menjelma" sebagai jagal bagi keluarganya sendiri.

Di hadapan polisi, Ical yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah umum itu mengaku membunuh lantaran kerap diomelin ayah serta bapaknya, pasangan M.H. Arsyad Batubara dan Delfiariana Siregar. Termasuk oleh kakak-kakaknya. Ical sebenarnya kesal dengan perlakuan ini, tapi ia masih bisa menahan diri. Akan tetapi, angkara murka Ical tak terbendung lagi tatkala sang ibu membangunkannya secara paksa untuk menyapu halaman. Dengan dendam membara, ia mengambil sebuah alu kayu untuk membantai keluarganya.

Korban pertama si bungsu adalah Vitrisna Batubara. Kala itu, kakak perempuan Ical yang berusia 28 tahun tersebut tengah asyik menyeterika sembari menonton televisi di ruang tengah. Tiba-tiba, Ical mengayunkan alu kayu secara bertubi-tubi ke kepala Vitriana. Vitrisna sontak terkapar dan tewas seketika.

Meski Vitrisna sudah tewas, Ical masih kalap dan kehilangan akal sehat. Dia kemudian memburu kakak laki-lakinya, Gan Khaled, yang baru pulang kuliah. Sang kakak pun tersungkur oleh hantaman alu kayu. Ketika membersihkan ceceran darah, Ical melihat kakaknya itu berusaha bangkit. Ical pun menghantam lagi kakaknya hingga tak bergerak.

Dua korban sudah bergeletakkan, Ical melangkah ke ruang tamu. Kebetulan sang ibu keluar dari dapur lantaran mendengar kegaduhan tersebut. Dan, ibunya pun dihajar hingga tewas. Belum puas juga, ia mencari sang ayah dan ditemukan di pintu samping rumah. Sang ayah yang mantan Direktur Akademi Perawat Sumut itu pun dibantai Ical tanpa mengedipkan mata. Sadis memang. Bahkan, Ical membantai mereka dalam tempo cuma 15 menit.

Kekalapan Ical belum mereda. Tiga jam kemudian, ketika kakak perempuannya Vini Quita baru tiba di rumah, Ical langsung menyambut dengan ayunan alu. Nyawa Vini pun melayang. Tak lama berselang, Vidi Tinti datang, sekali lagi ayunan kuat alu Ical mengakhiri hidup seorang kakaknya.

Setelah membantai keluarganya, Ical berencana menguburkan keenam mayat mereka di kamar tamu. Namun, baru menggali sedalam kira-kira 50 centimeter, Ical kehabisan tenaga. Dia lantas mengundang teman sekolahnya, Burhan dan Achir dengan dalih ada pesta di rumahnya. Burhan dan Achir memang bertandang ke rumah maut itu. Tapi, buru-buru kabur ketika melihat mayat-mayat bergeletakkan di rumah Ical.

Karena bingung apa yang harus dilakukan, Ical kemudian memutuskan untuk pergi dari rumah dengan mengendarai mobil yang sempat dicuci ayahnya. Dia sengaja mengajak temannya Yuki untuk menemaninya berkeliling kota. Sementara itu, polisi yang baru mendapat laporan tentang pembantaian tersebut segera memburu Ical. Dalam tempo singkat, Ical pun tertangkap di RS Pringadi, Medan. Saat itu, Ical menemani Yuki menunggui kakeknya yang dirawat di sana.

Tertangkapnya Ical jelas membuat banyak pihak terkejut. Pasalnya, para tetangga mengenal keluarga Ical sebagai keluarga yang harmonis, terpandang, dan berpendidikan. Ical pun di lingkungan sekolahnya, SMU Yayasan Pendidikan Joshua, juga dikenal sebagai remaja yang pendiam dan tak banyak tingkah.

Kenekatan Ical membantai keluarganya ini sempat menimbulkan tanda tanya bagi polisi. Apalagi selama proses pemeriksaan maupun reka ulang, Ical tampak tenang tanpa beban. Polisi sempat mengira Ical terpengaruh obat-obatan atau alkohol. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan ternyata hasilnya negatif. Bahkan, ketika dilakukan pemeriksaan oleh psikiater, kejiwaan Ical dinyatakan dalam keadaan normal. Menurut dokter Rahardjo Soeprapto, ahli jiwa yang menangani kasus ini, perbuatan Ical itu didorong dendam dan emosi. Ia juga menilai tindakan Ical adalah spontanitas pemberontakan Ical terhadap sikap keluarganya selama ini.

Sebagai anak bungsu, Ical mengaku mendapat perhatian khusus dari keluarganya. Ia bahkan masih diantar jemput dari rumah ke sekolah. Sampai-sampai Ical sempat mengeluh karena malu. Sebaliknya sikap ibunya amat keras, salah sedikit, Ical pasti kena omel. Biasanya, kakak-kakaknya mendukung sikap sang ibu. Itulah sebabnya, Ical yang hobi bermain gitar itu diam-diam merasa dianaktirikan. Ical pun bukan tak suka berulah. Satu di antaranya, saat berpacaran, ia sempat meminta ayahnya melamar sang pacar. Namun, permintaan itu ditolak. Sebab, Ical dianggap masih ingusan. Akibatnya, Ical lari ke rumah sang kekasih. Ternyata, kakak-kakaknya justru menjemput dan memaki-makinya.

Nasi memang sudah menjadi bubur. Akibat pembantaian itu, Ical memang harus kehilangan orangtua dan empat saudaranya. Kendati begitu, ia masih mempunyai seorang kakak lagi, yaitu Vita. Kakaknya ini selamat dari pembantaian karena sedang pergi ke Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan. Vita sempat mengaku keluarganya sebenarnya sangat sayang dengan Ical. Ada pun tindakan memarahi dan sering menyuruh mengerjakan sesuatu pada Ical, menurut Vita, sebenarnya adalah dalam rangka mendidik. Akan tetapi, Ical mungkin salah mengartikan sehingga terjadilah tragedi di Keluarga Arsyad Batubara.

Sekadar diketahui, seperti dikutip mingguan berita Forum Keadilan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan telah menjatuhkan vonis hukuman tujuh tahun enam bulan penjara bagi Ical pada Januari 1999. Saat itu, Ketua Majelis Hakim Sofyan Royan beralasan bahwa Ical masih anak-anak dan kesempatan memperbaiki diri masih besar. Lagipula, lanjut Sofyan, keputusan itu sesuai dengan ketentuan pidana menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Pasal 26 Ayat 2 tentang Pengadilan Anak: yakni anak nakal yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup mendapatkan pidana penjara maksimum 10 tahun.

Kini, Ical masih menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Kelas I Medan. Pada 17 Agustus 2002, penjagal keluarga sendiri itu mendapat remisi khusus atau pengurangan hukuman sebanyak empat bulan.(ANS/Tim Buser SCTV)
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.