TS
nemuchan
[Orific] Little Girl and the World of Smoke
Untuk saat ini Fic Little Girl and the World of Smoke ane hiatus-in dulu sampai waktu yang tidak ditentukan.
#yaelah apaan dah!
makasih yang udah baca dan yang ngasih saran dan kritiknya
moga2 ane bisa ngelanjutin fic ini kapan2 he he, amin! 
-Nemuchan-
#yaelah apaan dah!

makasih yang udah baca dan yang ngasih saran dan kritiknya
moga2 ane bisa ngelanjutin fic ini kapan2 he he, amin! 
-Nemuchan-
Spoiler for Little Girl and the World of Smoke :
Quote:
Akhirnya ane harus bikin trit baru buat orific ini, setelah sekian lama sesudah migrasi kaskus baru
moga2 kali ini nggak ada masalah lagi yah?
I hope you enjoy my fic 
moga2 kali ini nggak ada masalah lagi yah?
I hope you enjoy my fic 
![[Orific] Little Girl and the World of Smoke](https://dl.kaskus.id/i1106.photobucket.com/albums/h376/Nemuchan2/LGatWoS/TLGatWos5copy.jpg)
Spoiler for Pendahuluan:
Quote:
Sebernarnya ane biasanya lebih ke menggambar komik daripada menulis fict, temen circle-ku yang justru jago bikin fict. Karena ane akhir2 ini sering ke fanstuff dan baca orifict yang super serius, jadi terpengaruh deh pengen bikin orifict yang serius juga he he... padahal ane bisanya bikin komik2 ala shoujo aja selama ini
Ok deh, moga2 orifict buatan ane ini nggak bingungin dan
he he... selamat membaca 
Ok deh, moga2 orifict buatan ane ini nggak bingungin dan
he he... selamat membaca 
Info :
Judul : Little Girl and the World of Smoke
Genre : Drama, Tragedy, Sci fi
Rating : R-16+ (for mention of smoking)
Spoiler for Part 1:
Little Girl and the World of Smoke.
Seorang gadis kecil memeluk erat boneka beruangnya menyusuri jalan tanah merah yang sempit. Rumah-rumah susun di kanan dan kirinya menjulang tinggi menciptakan siluet gedung-gedung tinggi seperti yang ada di ibukota, padahal disini bukanlah kota melainkan slum—daerah kumuh di pinggiran kota.
Meskipun disebut rumah susun, tapi perumahan yang ada di slumini mungkin lebih tepatnya disebut gubuk-gubuk yang ditumpuk terus hingga keatas karena keterbatasan lahan. Mereka yang mencari peruntungan di ibukota tidak peduli harus berdesakan di daerah kumuh tak terawat ini demi mengais sekeping uang. Gadis itu mendongak keatas melihat betapa tingginya gubuk-gubuk yang bisa mencapai 20 lantai itu. Karena tidak ada tangga maupun eskalator yang bisa dipasang, orang-orang terpaksa memanjat dinding gubuk itu untuk sampai ke rumah meski mereka juga harus menggendong karung barang hasil jerih payah mereka. Ajaibnya hampir tak ada yang jatuh dari keadaan yang tak masuk akal ini.
Jalanan tanah merah itu tak rata dan juga penuh sampah, gadis kecil itu harus selalu menunduk melihat jalan yang ia pijak supaya tidak tersandung atau terjatuh. Sampai akhirnya jalanan itu mulai tertutup seng dan potongan papan, gadis kecil itu tahu ia sudah sampai pada tujuannya, TPA—tempat pembuangan sampah akhir terbesar yang ada di kota itu.
Disana sudah banyak pemulung yang mengais-ngais sampah mencari apa yang bisa mereka jual, kebanyakan dari mereka tertutup asap pembakaran sampah sehingga yang terlihat hanya siluet pudar mereka dikejauhan. Betapa tabahnya para pemulung itu mengais sampah diantara asap yang mengepul, bau sampah yang menyengat dan lalat-lalat yang terbang mengganggu tapi mereka seakan sudah biasa dan tidak peduli lagi dengan keadaan yang mengenaskan itu. Gadis kecil itu berjongkok sambil melihat pemandangan TPA itu dikejauhan dalam diam, seakan menunggu sesuatu.
Tak lama kemudian seseorang turun dari gunung sampah itu, seorang kakek tua kurus kering menggendong karung yang besarnya dua kali lipat dari tubuhnya, berjalan dengan perlahan kemudian duduk bersandar di tumpukan besi tua untuk melepas lelah. Ia menghela nafas panjang kemudian melepas topi capingnya untuk mengipasi tubuhnya yang penat. Gadis kecil melihat kakek itu dengan penuh perhatian. Tak lama kemudian kakek itu mengeluarkan dari saku bajunya sebatang rokok lusuh yang kemudian ia bakar dan menghisapnya. Hisapannya begitu dalam, kemudian dihembuskannya kembali asap putih itu dari mulut dan hidungnya dengan penuh kepuasan. Mata gadis kecil itu begitu terpaku pada rokok itu.
Beberapa menit kemudian serombongan pemulung turun dan memanggil kakek itu untuk pulang, dibuangnya rokok yang sudah pendek itu dan kemudian sang kakek bangkit untuk menyusul teman-temannya. Setelah kakek itu menghilang dari pandangan, gadis kecil itu mendekati tempat kakek tadi duduk. Disana masih tergeletak puntung rokoknya, dan masih mengeluarkan asap.
Gadis kecil itu menyengir senang dan mengambil puntung rokok itu. Ia menengok kiri dan kanan, karena tidak ada yang lewat ia mengangguk sebentar, kemudian gadis kecil itu memasukkan puntung rokok itu ke mulut dan menghisapnya kuat-kuat persis seperti kakek tadi lakukan. Beberapa detik kemudian gadis kecil itu berlari sekuat tenaga. Mulut, hidung dan paru-parunya penuh dengan asap rokok, ia terbatuk-batuk sepanjang jalan, rokok dan juga boneka beruangnya sudah jatuh entah dimana. Mata dan hidungnya begitu perih, tangannya mencengkram dadanya yang sesak meminta oksigen, telinganya berdenging sakit tak bisa mendengar apa-apa. Gadis kecil itu berlari tanpa melihat arah karena ia menutup matanya yang perih dan berair. Ia tak mengira akan begini akibatnya hanya karena rasa penasarannya itu.
Spoiler for Index:
Diubah oleh nemuchan 04-08-2013 01:08
0
4K
Kutip
28
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
nemuchan
#18
Spoiler for Part 5:
Matahari semakin tinggi, semua orang mulai memakai tudung atau payung supaya panas tidak terlalu terasa namun gadis kecilku berjalan perlahan dan membiarkan dirinya ditimpa cahaya matahari siang yang terik sambil melihat kedua tangannya yang mulai berkilau karena keringat yang keluar. Gadis kecilku membolak-balikkan tangannya dengan senang, memainkan bayangan tangannya yang menari-nari di bawah terik matahari siang sambil bersenandung kecil.
Orang-orang yang sedang berteduh dibawah pohon melihat tingkah gadis kecilku ini dengan heran, pemandangan yang membuat iri orang yang daya tahan tubuhnya lemah karena virus ini namun sekaligus pemandangan yang menyejukkan.
Tidak semua orang tua membiarkan anak-anaknya bermain diluar, mereka dijaga dengan begitu hati-hati agar dapat berumur panjang, sehingga kebanyakan dari anak-anak itu hianya menghabiskan masa kecil di dalam rumah saja. Mereka menatap langit biru dan matahari dari balik jendela kamar, berkhayal bermain sambil bermandikan sinar mentari. Meski hal itu tak pernah akan terwujud.
“Ah, Katy lihat! Akhirnya aku bisa lihat kaca Domeraksasa!” serunya antusias sambil berlari mendekati kaca pelindung seluruh Dome itu.
Tak lama, gadis kecilku sampai di penghujung jalan yang dibatasi pagar yang kokoh. Antara kaca Dome dan jalanan terdapat celah dalam yang memisahkan. Diluar kaca Dome yang sangat tebal itu terdapat benteng berlapis-lapis membentuk punden berundak yang terus turun sampai ke daratan dibawahnya. Begitu ketatnya pengamanan di setiap Great Dome di seluruh dunia sehingga jarang ada yang bisa bebas keluar masuk sembarangan kecuali dengan izin. Sehingga orang-orang pun seperti terisolasi dan tak pernah tahu keadaan diluar kecuali dalam layar TV atau komputer.
Hanya sedikit yang bisa bebas keluar masuk Great Dome, selain diperiksa kesehatan dan kesanggupan membayar biaya transportasi khusus yang menjamin keselamatan mereka dalam perjalanan yang panjang dan keras, belum lagi ancaman kontaminasi virus yang tidak bisa di duga sewaktu-waktu . Hanya para pedagang dari negara-negara yang dulunya Indonesia dan beberapa negara kecil lainnya di belahan dunia lain yang sangat beruntung dapat perizinan dari PBB untuk keluar masuk Great Dome meski dengan izin yang sangat ketat.
“Tolong hati-hati ya sayangku!” Pesanku pada Melody yang mulai memanjati pagar itu.
Meski tidak begitu tinggi tapi tetap saja memanjat pagar itu berbahaya, bisa jatuh ke dalam celah dan belum lagi jika ada patroli keamanan yang lewat, bisa runyam nanti.
“Iya, aku hati-hati kok Katy!” Ucapnya senang, hal ini merupakan petualangan kecil yang selalu ditunggu-tunggunya, aku hanya bisa khawatir.
“Wooow…” Ucap gadis kecilku takjub.
Di luar sana pemandangan begitu luas sejauh mata memandang. Begitu hijau dan asri dengan langit biru membentang. Tapi jika melihat dengan lebih jeli, daratan nan hijau itu tidak begitu rata. Terdapat lekuk-lekuk yang membentuk sebuah benda atau bangunan yang telah hancur berserakan. Bahkan kita bisa melihat bentuk tank yang hancur atau senjata-senjata yang bertebaran di tanah. Sisa-sisa kehancuran pada masa Chaos.
Sehancur apa pun pada masa itu, alamlah yang kembali menyucikan segalanya, dalam balutan hijaunya pepohonan dan semak belukar. Tampaknya virus Horsemen tidak terpengaruh apa pun kepada tumbuhan bahkan menyerap virus-virus itu dan menyimpannya dalam tubuh mereka. Tapi malang, virus itu hanya “berdiam” sementara di dalamnya, jika tumbuhan itu mati, virus itu kembali menyebar di udara.
“Katy, apa kita bisa melihat danau Jakarta dari sini?” Tanya gadis kecilku penasaran. Aku terdiam lama.
“Tidak sayangku… Danau Jakarta masih agak jauh lagi dari sini……”
“Katy…?”
Jakarta… Ibukota utama Indonesia yang dulu begitu megah dengan segala permasalahannya kini hanya sepenggal sejarah dari masa lalu. Jakarta telah tenggelam dalam sebuah lubang raksasa pada saat yang tidak di duga oleh semua orang. Namun kemalangan itu belum sampai situ saja, lubang itu makin meluas hingga akhirnya menyentuh laut dan kemudian mengisi lubang itu dengan airnya yang menyebabkan jutaan orang mati tak sempat terselamatkan. Semua itu baru awalnya saja… awal dari semua kemalangan yang menimpa seluruh dunia ini.
Diubah oleh nemuchan 20-12-2012 08:19
0
Kutip
Balas