Kaskus

Hobby

  • Beranda
  • ...
  • Fanstuff
  • [FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho

.spy.Avatar border
TS
.spy.
[FanFic] Detective Conan: Kumpulan Kisah Shinichi X Shiho
--------
Diubah oleh .spy. 07-08-2016 19:01
jessicachika664Avatar border
sabrinahasli272Avatar border
warhamnimali671Avatar border
warhamnimali671 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
309.4K
378
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
Fanstuff
KASKUS Official
1.9KThread350Anggota
Tampilkan semua post
.spy.Avatar border
TS
.spy.
#330
Updateemoticon-Big Grin

[spoiler=LOVE 4869 II [Part 1]

LOVE 4869 [Part II]


Shinichi masuk ke apartemen Heiji dengan kesal sehingga Heiji geleng-geleng kepala.

"Ada apa lagi sekarang? Kau bertengkar lagi dengannya?" tanya Heiji setelah dia mendudukkan dirinya di sebelah Shinichi.

"Begitulah," jawab Shinichi dengan kesal.

"Masalah yang sama?".

Shinichi hanya menjawabnya dengan menatap Heiji dengan marah sehingga Heiji agak berkeringat.

"Kudo, kalau menurutku kau harus lebih pengertian padanya," ucap Heiji dengan hati-hati.

"Pengertian katamu? Yang dia pedulikan hanya pasien, pasien dan pasien!. Padahal kami pacaran lebih dulu, tapi sampai sekarang dia terus menolak ajakanku untuk menikah sementara kau dan Masumi sudah menentukan tanggal. Bahkan Ran sudah bertunangan dengan Hondo. Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Aku merasa dia tidak mencintaiku!," seru Shinichi.

"Tentu saja tidak. Dia mencintaimu. Aku tahu itu," ucap Heiji.

"Lalu kenapa dia tidak mau menikah denganku?".

"Yah, karena pasien?" ucap Heiji dengan polos sehingga Shinichi menjadi sebal.

"Hattori, kau sama sekali tidak membantuku,".

"Hei! aku sudah memberimu saran kan?" ucap Heiji, merasa tidak terima.

"Terserah. Yang jelas aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus melakukan sesuatu," ucap Shinichi berapi-api.

Saat Shinichi keluar dari apartemen Heiji, dia bertemu dengan Shuichi yang beberapa hari ini sedang berkunjung ke Jepang untuk pertemuan keluarga yang membicarakan tanggal pernikahan Heiji dan Sera. Mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah kafe untuk minum kopi.

XXX

Shiho menghela nafas dan menghentikan pekerjaannya memeriksa laporan perkembangan klinik yang ada di Desa Tekoku. Pertengkarannya dengan Shinichi tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Akhir-akhir ini, dia memang sering bertengkar dengan Shinichi.

"Kenapa dia tidak mau mengerti sedikit saja?" keluh Shiho dalam hati.

Shiho memang belum ingin menikah dengan Shinichi karena dia ingin berkarir dan menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain, sebelum mencurahkan perhatiannya sepenuhnya kepada suaminya dan anak-anaknya kelak. Lagipula dia masih sangat muda.

"Yah, aku akan bicara lagi padanya nanti di rumah sambil membuatnya senang. Mungkin dia akan mengerti," ucap Shiho dalam hati. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kembali pada laporan di depannya.

Shiho dan beberapa dokter muda lain yang merupakan teman-teman kuliahnya dulu, membuat sebuah proyek untuk meningkatkan kualitas klinik yang ada di tempat-tempat terpencil di Jepang sehingga bisa memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik pada masyarakat. Dan kalau proyek ini hasilnya memuaskan, mereka akan mendapatkan dukungan dari Kementerian Kesehatan, dan saat itulah Shiho akan mengundurkan diri dari proyek itu dan bersiap menjadi ibu rumah tangga.

XXX

Setelah makan malam, Shiho mengunjungi rumah Shinichi, tapi Shinichi hanya bersikap dingin padanya. Setelah mereka berdua menonton TV dalam diam selama beberapa saat, Shiho akhirnya membuka mulutnya.

"Sayang, apa kau masih marah?".

Shinichi hanya diam dan bersikap seolah-olah tidak mendengar apapun, bahkan mungkin menganggap Shiho tidak ada di situ.

"Dasar laki-laki angkuh satu ini. Tapi dia terlihat sangat manis kalau dia bersikap seperti ini," ucap Shiho dalam hati sambil tersenyum kecil.

Shiho lalu bergerak dan memposisikan dirinya di pangkuan Shinichi tapi Shinichi tetap tidak bergerak dan pandangannya tetap terfokus pada TV di depannya. Senyuman Shiho pun semakin lebar. Lalu dia mulai menciumi leher Shinichi. Dia bisa merasakan otot-otot Shinichi yang menegang karena sentuhannya dan nafas Shinichi yang tersentak setiap kali bibirnya menyentuh sweet spot di leher Shinichi. Salah satu tangannya bergerak naik turun di dada dan perut Shinichi.

Nafas Shinichi semakin berat dan tubuhnya terasa semakin panas. Tidak butuh waktu lama sampai dia mencengkeram kepala Shiho dan mencium bibir Shiho dengan berapi-api.

XXX

Shiho masih duduk di pangkuan Shinichi dengan kepalanya bersandar di bahu Shinichi sementara Shinichi membelai rambutnya. Setelah momen panas mereka berakhir beberapa saat lalu, mereka berdua hanya diam, menikmati momen kebersamaan mereka saat itu, yang sangat jarang terjadi karena kesibukan mereka masing-masing.

"Ini artinya kau tidak marah lagi kan?" tanya Shiho yang mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Shinichi, memecah keheningan diantara mereka berdua.

Shinichi berhenti membelai rambut Shiho dan terdiam selama beberapa lama sebelum membuka mulutnya.

"Menikahlah denganku, Shiho," ucap Shinichi tanpa menjawab pertanyaan Shiho.

"Shin...,".

"Kalau kau mencintaiku, menikahlah denganku," ucap Shinichi sehingga Shiho menghela nafas.

"Shin, aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Dan aku akan menikah denganmu. Tapi tidak sekarang. Aku masih butuh waktu. Tolong mengertilah,".

"Tapi aku tidak bisa mengerti. Aku tidak mengerti kenapa susah sekali bagimu untuk menikah denganku. Ibuku saja bisa melepaskan semuanya dan menikah dengan ayahku saat berusia 20 tahun!".

"Shin...,".

"Cukup! aku tidak mau dengar lagi!" ucap Shinichi kemudian dia mendorong Shiho dari pangkuannya ke sofa. "Lebih baik kau pulang. Aku akan ke Amerika bersama Akai besok. FBI membutuhkan bantuanku. Lagipula melihatmu selalu menolak lamaranku membuat hatiku sakit. Semoga kau sudah mengambil keputusan yang tepat saat aku pulang nanti. Kalau tidak, mungkin kita tidak perlu bertemu lagi,"

Shiho kembali menghela nafas.

"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Hati-hatilah di Amerika. Jangan melakukan hal-hal yang berbahaya,"

Shiho memberanikan diri mencium pipi Shinichi sebelum melangkah pergi.

Sesampainya di rumah Profesor Agasa, Shiho disambut oleh ibu angkatnya, yaitu Fusae, yang langsung mengerutkan keningnya karena melihat Shiho yang lesu.

"Shiho, apa kau baik-baik saja?".

"Aku baik-baik saja, Bu," jawab Shiho sambil memaksakan senyum. Kemudian dia mendudukkan dirinya di sofa dan Fusae ikut duduk di sebelahnya.

"Tapi kau tidak kelihatan baik-baik saja. Apa yang sudah terjadi? Apa pertengkaranmu dengan Shinichi belum selesai juga?".

Shiho diam sejenak sebelum bersuara kembali.

"Bu, apa aku ini terlalu egois? Aku sangat mencintai Shinichi, tapi aku tidak sanggup melepaskan semua keinginanku demi menikah dengannya. Apa itu artinya aku egois?" tanya Shiho tanpa menjawab pertanyaan Fusae.

"Mungkin itu memang egois. Tapi Shinichi juga egois karena memaksamu menikah dengannya tanpa memahami keinginanmu. Jadi pada dasarnya kalian berdua itu egois. Ibu hanya bisa menyarankan padamu, kalau kau yakin kau mau menghabiskan sisa hidupmu bersama Shinichi, lebih baik kau menerima lamarannya. Pikirkan itu baik-baik, hmm?" jawab Fusae.

"Baiklah, aku akan memikirkannya,".

XXX

"Sepertinya kau tetap tidak berhasil dan dia tetap menolak lamaranmu.".

"Tutup mulutmu!".

"Bukankah lebih baik kau bersabar menunggunya daripada melakukan hal semacam ini? Dia pasti akan menikah denganmu suatu saat nanti".

"Sayangnya aku bukan orang yang sabar," ucap Shinichi sehingga Shuichi kembali tertawa kecil.

"Yah, itu menjelaskan banyak hal tentangmu,".

"Kau akan tetap membantuku kan?".

"Yah, sebenarnya aku tidak suka melakukannya. Tapi karena aku pernah berhutang padamu, aku akan membantumu".

"Baguslah kalau begitu"..

XXX
[/spoiler]
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.