- Beranda
- Stories from the Heart
The Altered World
...
TS
cangkir.kosong
The Altered World
Misi para mastah-mastah sekalian, ijin kan ane memposting cerita fiksi karya ane yang sedang dalam proses pembuatan. Ini adalah cerita fiksi pertama ane
jadi mohon maaf kalau ceritanya berantakan dan ngawur soalnya ane juga baru belajar 
genre ceritanya itu sci-fi, fantasy,supranatural dan mungkin dibumbui dengan romance juga. yah intinya ini cerita fiksi, yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, walaupun ane berharap bisa jadi kenyataan
Mungki nanti ane juga updatenya bakal lama soalnya banyak yg harus dipikirin dan kesibukan di real life, tapi akan diusahakan secepatnya
.
kritik dan saran sangat ane nantikan, agar ane bisa menulis lebih baik lagi kedepannya.
oke cukup pembukaannya, silahkan membaca.
bagi agan yg suka cerita ini, komen dan ratenya akan menambah semangat ane buat meneruskan cerita
dan kalo bisa lempar cendol, ane bakal lebih semangat lagi

jadi mohon maaf kalau ceritanya berantakan dan ngawur soalnya ane juga baru belajar 
genre ceritanya itu sci-fi, fantasy,supranatural dan mungkin dibumbui dengan romance juga. yah intinya ini cerita fiksi, yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, walaupun ane berharap bisa jadi kenyataan

Mungki nanti ane juga updatenya bakal lama soalnya banyak yg harus dipikirin dan kesibukan di real life, tapi akan diusahakan secepatnya
.kritik dan saran sangat ane nantikan, agar ane bisa menulis lebih baik lagi kedepannya.
oke cukup pembukaannya, silahkan membaca.

Spoiler for hal:
Spoiler for main character:
bagi agan yg suka cerita ini, komen dan ratenya akan menambah semangat ane buat meneruskan cerita
dan kalo bisa lempar cendol, ane bakal lebih semangat lagi

Diubah oleh cangkir.kosong 19-02-2013 23:46
SupermanBalap dan anasabila memberi reputasi
0
16.2K
235
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cangkir.kosong
#193
Chapter 3 - part 7
Tanpa memperdulikan semua benda yang menancap di belakang tubuhnya, kristal berjalan menuju kamar rana. sambil memegang garpu yang di ambil dari punggungnya. Aku hanya bisa melihatnya dan terdiam kaku, otakku sama sekali tidak bisa memikirkan apapun.
kristal sudah berada di depan kamar rana. ia terdiam sebentar, sambil menganalisa pintu yang ada di depannya. Lalu perlahan-lahan, dia mengulurkan tangannya ke depan.
ketika telapak tangannya menyentuh pintu, gadis piskopat itu menengok ke arahku.
“kau tidak pergi ke kamarmu?”
“……”
Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.
Kristal kembali memindahkan pandangannya ke depan, tangannya masih memegang papan pintu. Entah apa yang akan di lakukannya. Yang pasti dia akan melakukan hal yang gak normal.
“jika tidak mau pergi, tetaplah disitu.”
Tanpa di suruh juga, aku pasti gak akan bergerak disini. jangankan bergerak, bicara saja aku tidak bisa.
“……..”
“dan tutuplah telingamu.”
Hah? Apa maksudnya?
Sekilas, aku mendengar kristal menggumamkan sesuatu. Pelafalannya sangat cepat, hingga sulit untuk bisa di mengerti.
Tepat ketika dia berhenti menggumam, tiba-tiba, muncul cahaya yang menyilaukan dari tangannya, dan suara bising yang makin lama semakin kencang.
DUAARR..
Sial, aku belum sempat menutup telinga,
Suara ledakan itu berasal dari pintu kamar rana, yang tadi di pegang oleh kristal. Pintu itu sekarang sudah terpental ke dalam kamar. Gila, apa barusan dia masang bom disitu?
Aku pun meringis kesakitan sambil memegang telinga yang berdenging karena suara ledakan. saat itu, di balik asap tipis yang menyelubungi ruangan, aku bisa melihat kristal, yang berjalan perlahan memasuki kamar rana.
Terlintas di pikiranku untuk mengikutinya, tapi entah kenapa kakiku sama sekali tak bisa bergerak.
Perasaan takut dan khawatir bercampur aduk. Aku ingin menghentikan kristal, tapi melihat pemandangan mengerikan di tubuhnya saja membuatku ngilu. Jika tidak ku hentikan, pasti dia akan melakukan hal yang buruk ke rana.
Di saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, terdengar suara teriakan yang berasal dari kamar.
“pergi kau monster !!! ”
Suara itu, tak salah lagi. itu adalah Rana.
“Ranaa!!”
Mendengar teriakan histeris adikku, ketakutanku hilang sekejap. Aku pun berteriak sambil berlari masuk ke kamar rana. berharap dia masih baik-baik saja.
Aku terus berlari memasuki kamar. Di saat melewati bibir pintu, tiba-tiba aku merasakan hembusan angin yang kencang, dan ada lengan yang kecil dan kuat yang mengelilingi leherku.
Akupun terhenti oleh lengan tersebut, leherku terasa sedikit tercekik.
“ad- ada apa ini?” ucapku, bingung dengan situasi yang terjadi.
Di tengah kebingungan, aku merasakan sebuah benda dingin dan tipis menyentuh leherku. saat mataku melirik ke bawah, aku mulai mengerti situasi apa yang kuhadapi sekarang.
Sebilah pisau berada di dekat tenggorokanku. Sangat dekat, hingga jika sedikit saja bergerak pasti akan bisa memotong leherku.
“.......”
“sudah ku bilang, jangan masuk.” kata seorang perempuan di hadapanku, dengan ekspresinya yang sulit di tebak.
“.....”
Akupun kembali terdiam kaku, bukan karena rasa takut seperti sebelumnya, tapi lebih karena kekecewaan yang mengalir dan memenuhi perasaanku.
“apa maksudnya ini?”
Meski aku tidak bisa melihat orang yang mengancamku di belakang, aku sudah tahu siapa yang menodongkan pisau ke leherku.
“maaf, tapi tolong kakak jangan bergerak.”
“......”
Seseorang yang dari tadi sangat aku khawatirkan, seseorang yang kusayangi walau kadang menyebalkan, perempuan yang satu darah denganku, kini sekarang sedang mengancam nyawaku.
Ya, orang yang sedang menodongkan pisaunya kepadaku adalah adikku sendiri, Rana.
Lain kali, aku akan lebih mempercayai perkataan kristal.
kristal sudah berada di depan kamar rana. ia terdiam sebentar, sambil menganalisa pintu yang ada di depannya. Lalu perlahan-lahan, dia mengulurkan tangannya ke depan.
ketika telapak tangannya menyentuh pintu, gadis piskopat itu menengok ke arahku.
“kau tidak pergi ke kamarmu?”
“……”
Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.
Kristal kembali memindahkan pandangannya ke depan, tangannya masih memegang papan pintu. Entah apa yang akan di lakukannya. Yang pasti dia akan melakukan hal yang gak normal.
“jika tidak mau pergi, tetaplah disitu.”
Tanpa di suruh juga, aku pasti gak akan bergerak disini. jangankan bergerak, bicara saja aku tidak bisa.
“……..”
“dan tutuplah telingamu.”
Hah? Apa maksudnya?
Sekilas, aku mendengar kristal menggumamkan sesuatu. Pelafalannya sangat cepat, hingga sulit untuk bisa di mengerti.
Tepat ketika dia berhenti menggumam, tiba-tiba, muncul cahaya yang menyilaukan dari tangannya, dan suara bising yang makin lama semakin kencang.
DUAARR..
Sial, aku belum sempat menutup telinga,
Suara ledakan itu berasal dari pintu kamar rana, yang tadi di pegang oleh kristal. Pintu itu sekarang sudah terpental ke dalam kamar. Gila, apa barusan dia masang bom disitu?
Aku pun meringis kesakitan sambil memegang telinga yang berdenging karena suara ledakan. saat itu, di balik asap tipis yang menyelubungi ruangan, aku bisa melihat kristal, yang berjalan perlahan memasuki kamar rana.
Terlintas di pikiranku untuk mengikutinya, tapi entah kenapa kakiku sama sekali tak bisa bergerak.
Perasaan takut dan khawatir bercampur aduk. Aku ingin menghentikan kristal, tapi melihat pemandangan mengerikan di tubuhnya saja membuatku ngilu. Jika tidak ku hentikan, pasti dia akan melakukan hal yang buruk ke rana.
Di saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, terdengar suara teriakan yang berasal dari kamar.
“pergi kau monster !!! ”
Suara itu, tak salah lagi. itu adalah Rana.
“Ranaa!!”
Mendengar teriakan histeris adikku, ketakutanku hilang sekejap. Aku pun berteriak sambil berlari masuk ke kamar rana. berharap dia masih baik-baik saja.
Aku terus berlari memasuki kamar. Di saat melewati bibir pintu, tiba-tiba aku merasakan hembusan angin yang kencang, dan ada lengan yang kecil dan kuat yang mengelilingi leherku.
Akupun terhenti oleh lengan tersebut, leherku terasa sedikit tercekik.
“ad- ada apa ini?” ucapku, bingung dengan situasi yang terjadi.
Di tengah kebingungan, aku merasakan sebuah benda dingin dan tipis menyentuh leherku. saat mataku melirik ke bawah, aku mulai mengerti situasi apa yang kuhadapi sekarang.
Sebilah pisau berada di dekat tenggorokanku. Sangat dekat, hingga jika sedikit saja bergerak pasti akan bisa memotong leherku.
“.......”
“sudah ku bilang, jangan masuk.” kata seorang perempuan di hadapanku, dengan ekspresinya yang sulit di tebak.
“.....”
Akupun kembali terdiam kaku, bukan karena rasa takut seperti sebelumnya, tapi lebih karena kekecewaan yang mengalir dan memenuhi perasaanku.
“apa maksudnya ini?”
Meski aku tidak bisa melihat orang yang mengancamku di belakang, aku sudah tahu siapa yang menodongkan pisau ke leherku.
“maaf, tapi tolong kakak jangan bergerak.”
“......”
Seseorang yang dari tadi sangat aku khawatirkan, seseorang yang kusayangi walau kadang menyebalkan, perempuan yang satu darah denganku, kini sekarang sedang mengancam nyawaku.
Ya, orang yang sedang menodongkan pisaunya kepadaku adalah adikku sendiri, Rana.
Lain kali, aku akan lebih mempercayai perkataan kristal.
0
