TS
undesco
[Orific] Bocah Tomat
Genre: adventure/fantasy
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
-----
Prolog
-----
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
Spoiler for :
-----
Prolog
Spoiler for :
Prolog
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
***
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
-----
Spoiler for tulisan di belakang surat undangan:
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
0
2.9K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
undesco
#14
Spoiler for :
Part 4
Mato Nightshade dan seorang gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Kurie sedang berada di persimpangan T sebuah lorong yang agak jauh dari pub Penjaga Waktu. Mereka sepakat membicarakan syarat dan ketentuan pembelian informasi ini di tempat terpencil, karena katanya Kurie membawa sejumlah uang yang sangat besar, jadi akan berbahaya jika kelihatan di tempat yang ramai.
Meskipun sering disebut perumahan kumuh, Distrik Kummuh tidak dipenuhi sampah atau parit yang meluber. Distrik ini menampung orang-orang yang berpenghasilan rendah, tapi warga di distrik ini termasuk rajin menjaga kebersihan lingkungannya. Jadi lorong tempat Mato dan Kurie melakukan pembicaraan juga cukup bersih, walau tentu saja ukuran bersih di distrik ini jauh berbeda dengan distrik "depan".
Kurie berdiri di depan Mato. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutupi hoodyang dipakainya, bulan yang bersinar pucat tidak membantu sama sekali. Yang terlihat hanyalah bibir mungilnya yang pink dan manis.
"Jadi, sebutkan syarat dari Kakak," kata Mato membuka pembicaraan.
"Sederhana," kata Kurie yang bersenjatakan sebuah rapier di pinggangnya. "Aku ingin kau juga ikut aku ketika mencarinya."
Mato tersenyum. "Aku ini informan, bukan petualang. Kakak seharusnya tahu ini, 'kan?"
"Tentu saja. Yah, syaratku cuma ini, kalau kau tidak menyetujuinya, aku juga tidak punya kewajiban untuk membeli informasi ini darimu."
Kurie mulai menarik keluar rapier-nya, lalu mengarahkan ujungnya pada Mato. Alis mata Mato berkedut sedikit karena apa yang terjadi.
"Aku sedikit benci pada informan yang tidak menyetujui syarat yang kuberikan," kata Kurie dengan suara dingin. "Jadi apa kau tetap tidak mau?"
"..."
"Kalau begitu, makan ini!"
Ada jarak sekitar 5 meter antara mereka berdua, jarak yang biasa digunakan oleh para informan untuk mengantisipasi jika kliennya berbuat yang tidak-tidak. Tapi jarak itu dengan cepat ditutup oleh Kurie yang berlari dengan pedang terhunus.
Ujung tajam dari pedang milik Kurie mengarah dengan tepat ke wajah Mato yang tingginya hanya sedada Kurie, tapi Mato bergeming. Wajahnya tidak mengeluarkan ekspresi takut sama sekali.
Tepat sesaat sebelum pedang itu menembus wajah Mato, tiba-tiba pedang itu jalurnya meleset ke samping. Tidak, lebih tepat jika dikatakan bahwa pedang itu diterbangkan ke samping.
Rapier itu terlepas dari tangan Kurie dan terbang ke arah kanan. Seolah-olah ada tangan yang tak terlihat yang menghempaskan pedang itu.
Kurie dan Mato saling berpandangan. Keduanya tersenyum kecil seolah sudah memperkirakan hal ini.
"Lihat, 'kan? Kau punya bodyguard yang tangguh. Sekadar berjalan-jalan saja kurasa tidak akan mengganggumu."
"Hah, Kakak cukup santai untuk ukuran orang yang sudah kehilangan pedangnya."
"Aku mengenal banyak informan sepertimu. Kalian tidak akan membunuh calon klien masa depan jika tidak benar-benar diperlukan. Yah, walaupun nasib orang-orang yang berada di bawah kalian mungkin berbeda nasibnya."
Kurie menghela napas, lalu berjalan mengambil pedangnya yang terjatuh di lantai. Di dekat tempat rapier itu jatuh terdapat semacam logam berbentuk seperti bulan sabit. Sepertinya seseorang melemparkan logam itu dengan begitu kuat dan akuratnya hingga membuat rapier-nya terhempas dari tangannya.
Dia melirik ke cabang lorong di kirinya, sepertinya si bodyguard berada di sana, tapi kegelapan malam itu membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.
"Jadi, bagaimana?" tanyanya sambil menyarungkan kembali pedangnya. "Aku sudah memperhatikanmu selama hampir seminggu, dan sepertinya ini adalah tawaran pertama...dan mungkin terakhir yang kauterima. Aku ragu kalau kau bisa mendapatkan klien lain."
Mato kelihatan berpikir sejenak. Dia tahu bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Oh, dan aku meragukan kalau kau mendapatkan informasi ini tanpa mengeluarkan uang sedikit pun."
"Aku tidak mengeluarkan uang sama sekali."
"Oh, mungkin lebih tepat jika kukatakan sebagai sumber daya?"
"..."
Sangat sedikit perubahan ekspresi pada wajah Mato, tapi sepertinya itu cukup untuk membuat Kurie tersenyum puas.
"Tepat, eh? Ayolah, apa kau mau kehilangan sumber daya tanpa ada sedikit pun yang masuk?"
"..."
Jika dia melewatkan kesempatan ini, maka 17 bulan yang dipotongnya dari bawahannya akan menjadi sia-sia.
"Oh, atau kau ini cuma seorang bocah penakut yang tidak berani keluar dari kota?" tanyanya sambil tesenyum.
"B-bocah penakut!? K-kakak bilang aku ini bocah penakut!? Aku ini Mato Nightshade, informan dari Lokarya! Sedikit bertualang bukan masalah untukku!"
"Jadi kau setuju?"
"..."
"Ternyata kau memang cuma seorang bocah cengeng," Kurie memberi penekanan pada kata 'cengeng'. "Kalau begitu ak-"
"OKE! AKU SETUJU!"
"Bagus," ucap Kurie tersenyum sambil melemparkan sekantung uang yang bergemerincing ketika ditangkap oleh Mato. Dia lalu berbalik dan berjalan menjauhi Mato sambil berkata, "Itu uang mukanya, sisanya kubayar ketika aku mendapatkan Liontin itu."
Tidak lama, figur Kurie sudah ditelan labirin Distrik Kummuh. Mato yang tinggal sendirian di persimpangan T itu berjalan mendekati dinding, lalu memukulnya dengan bagian samping kepalan tangannya seperti sedang menggedor pintu.
"SAKI-T!" teriaknya sambil mengusap tangannya.
Dia kemudian mulai mengulangi aktivitas yang sama, memukul dinding, berkali-kali, sekarang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Sepertinya dia hanya ingin memukul dinding untuk menghilangkan rasa frustasinya, karena dia mengucapkan "Kakak itu bilang aku cengeng. Penakut. Tomat tidak cengeng! Tomat bukan penakut!" berulang-ulang seperti sedang membaca mantra.
Part 5
Tidak jauh dari tempat Mato berada, tiga sosok bayangan menyatu dengan kegelapan Distrik Kummuh Lokarya.
"Bos."
"Hn?"
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini, tapi bukankah dia itu terlalu...bocah untuk menjadi seorang informan?"
Sebelum yang dipanggil "Bos" sempat menjawab, rekan yang satunya memotong, "Bukankah itu daya tariknya? Dia MOE~!"
"Kau ini laki-laki dan kau menyebut bocah itu moe?"
"Hei, moeitu tidak mengenal batasan gender!"
"Forlan benar, Shane. Dia itu imut, 'kan? Aku jadi ingin melakukan hal ini dan hal itu padanya, ehe ehe he he..." Bos mengusap air liur yang menetes dari mulutnya.
"..."
Shane tidak mampu mengatakan apa-apa kecuali mengumpat dalam hati, "Dasar perempuan shotacon!"
Sepertinya dia terjebak di dalam tim yang berisi pecinta bocah. Yang satu seorang lelaki yang entah bagaimana bisa menyebut seorang anak laki-laki moe, dan bosnya yang perempuan adalah seorang shotacon akut.
Shane menghela napasnya, lalu bergumam kecil, "...Kenapa kau tidak melirikku..?"
"Nn? Ada sesuatu, Shane?" tanya si Bos.
"...Tidak ada apa-apa."
"?" Si Bos memiringkan kepalanya ke samping. Yah, sepertinya sudah diputuskan. Forlan, Shane,sepertinya tugas kita kali ini akan berbeda dengan biasanya. Kita harus melindunginya dari luar bayangan, jadi siapkan topeng kalian.
Mato Nightshade dan seorang gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Kurie sedang berada di persimpangan T sebuah lorong yang agak jauh dari pub Penjaga Waktu. Mereka sepakat membicarakan syarat dan ketentuan pembelian informasi ini di tempat terpencil, karena katanya Kurie membawa sejumlah uang yang sangat besar, jadi akan berbahaya jika kelihatan di tempat yang ramai.
Meskipun sering disebut perumahan kumuh, Distrik Kummuh tidak dipenuhi sampah atau parit yang meluber. Distrik ini menampung orang-orang yang berpenghasilan rendah, tapi warga di distrik ini termasuk rajin menjaga kebersihan lingkungannya. Jadi lorong tempat Mato dan Kurie melakukan pembicaraan juga cukup bersih, walau tentu saja ukuran bersih di distrik ini jauh berbeda dengan distrik "depan".
Kurie berdiri di depan Mato. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutupi hoodyang dipakainya, bulan yang bersinar pucat tidak membantu sama sekali. Yang terlihat hanyalah bibir mungilnya yang pink dan manis.
"Jadi, sebutkan syarat dari Kakak," kata Mato membuka pembicaraan.
"Sederhana," kata Kurie yang bersenjatakan sebuah rapier di pinggangnya. "Aku ingin kau juga ikut aku ketika mencarinya."
Mato tersenyum. "Aku ini informan, bukan petualang. Kakak seharusnya tahu ini, 'kan?"
"Tentu saja. Yah, syaratku cuma ini, kalau kau tidak menyetujuinya, aku juga tidak punya kewajiban untuk membeli informasi ini darimu."
Kurie mulai menarik keluar rapier-nya, lalu mengarahkan ujungnya pada Mato. Alis mata Mato berkedut sedikit karena apa yang terjadi.
"Aku sedikit benci pada informan yang tidak menyetujui syarat yang kuberikan," kata Kurie dengan suara dingin. "Jadi apa kau tetap tidak mau?"
"..."
"Kalau begitu, makan ini!"
Ada jarak sekitar 5 meter antara mereka berdua, jarak yang biasa digunakan oleh para informan untuk mengantisipasi jika kliennya berbuat yang tidak-tidak. Tapi jarak itu dengan cepat ditutup oleh Kurie yang berlari dengan pedang terhunus.
Ujung tajam dari pedang milik Kurie mengarah dengan tepat ke wajah Mato yang tingginya hanya sedada Kurie, tapi Mato bergeming. Wajahnya tidak mengeluarkan ekspresi takut sama sekali.
Tepat sesaat sebelum pedang itu menembus wajah Mato, tiba-tiba pedang itu jalurnya meleset ke samping. Tidak, lebih tepat jika dikatakan bahwa pedang itu diterbangkan ke samping.
Rapier itu terlepas dari tangan Kurie dan terbang ke arah kanan. Seolah-olah ada tangan yang tak terlihat yang menghempaskan pedang itu.
Kurie dan Mato saling berpandangan. Keduanya tersenyum kecil seolah sudah memperkirakan hal ini.
"Lihat, 'kan? Kau punya bodyguard yang tangguh. Sekadar berjalan-jalan saja kurasa tidak akan mengganggumu."
"Hah, Kakak cukup santai untuk ukuran orang yang sudah kehilangan pedangnya."
"Aku mengenal banyak informan sepertimu. Kalian tidak akan membunuh calon klien masa depan jika tidak benar-benar diperlukan. Yah, walaupun nasib orang-orang yang berada di bawah kalian mungkin berbeda nasibnya."
Kurie menghela napas, lalu berjalan mengambil pedangnya yang terjatuh di lantai. Di dekat tempat rapier itu jatuh terdapat semacam logam berbentuk seperti bulan sabit. Sepertinya seseorang melemparkan logam itu dengan begitu kuat dan akuratnya hingga membuat rapier-nya terhempas dari tangannya.
Dia melirik ke cabang lorong di kirinya, sepertinya si bodyguard berada di sana, tapi kegelapan malam itu membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.
"Jadi, bagaimana?" tanyanya sambil menyarungkan kembali pedangnya. "Aku sudah memperhatikanmu selama hampir seminggu, dan sepertinya ini adalah tawaran pertama...dan mungkin terakhir yang kauterima. Aku ragu kalau kau bisa mendapatkan klien lain."
Mato kelihatan berpikir sejenak. Dia tahu bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Oh, dan aku meragukan kalau kau mendapatkan informasi ini tanpa mengeluarkan uang sedikit pun."
"Aku tidak mengeluarkan uang sama sekali."
"Oh, mungkin lebih tepat jika kukatakan sebagai sumber daya?"
"..."
Sangat sedikit perubahan ekspresi pada wajah Mato, tapi sepertinya itu cukup untuk membuat Kurie tersenyum puas.
"Tepat, eh? Ayolah, apa kau mau kehilangan sumber daya tanpa ada sedikit pun yang masuk?"
"..."
Jika dia melewatkan kesempatan ini, maka 17 bulan yang dipotongnya dari bawahannya akan menjadi sia-sia.
"Oh, atau kau ini cuma seorang bocah penakut yang tidak berani keluar dari kota?" tanyanya sambil tesenyum.
"B-bocah penakut!? K-kakak bilang aku ini bocah penakut!? Aku ini Mato Nightshade, informan dari Lokarya! Sedikit bertualang bukan masalah untukku!"
"Jadi kau setuju?"
"..."
"Ternyata kau memang cuma seorang bocah cengeng," Kurie memberi penekanan pada kata 'cengeng'. "Kalau begitu ak-"
"OKE! AKU SETUJU!"
"Bagus," ucap Kurie tersenyum sambil melemparkan sekantung uang yang bergemerincing ketika ditangkap oleh Mato. Dia lalu berbalik dan berjalan menjauhi Mato sambil berkata, "Itu uang mukanya, sisanya kubayar ketika aku mendapatkan Liontin itu."
Tidak lama, figur Kurie sudah ditelan labirin Distrik Kummuh. Mato yang tinggal sendirian di persimpangan T itu berjalan mendekati dinding, lalu memukulnya dengan bagian samping kepalan tangannya seperti sedang menggedor pintu.
"SAKI-T!" teriaknya sambil mengusap tangannya.
Dia kemudian mulai mengulangi aktivitas yang sama, memukul dinding, berkali-kali, sekarang jauh lebih pelan dari sebelumnya. Sepertinya dia hanya ingin memukul dinding untuk menghilangkan rasa frustasinya, karena dia mengucapkan "Kakak itu bilang aku cengeng. Penakut. Tomat tidak cengeng! Tomat bukan penakut!" berulang-ulang seperti sedang membaca mantra.
***
Part 5
Tidak jauh dari tempat Mato berada, tiga sosok bayangan menyatu dengan kegelapan Distrik Kummuh Lokarya.
"Bos."
"Hn?"
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini, tapi bukankah dia itu terlalu...bocah untuk menjadi seorang informan?"
Sebelum yang dipanggil "Bos" sempat menjawab, rekan yang satunya memotong, "Bukankah itu daya tariknya? Dia MOE~!"
"Kau ini laki-laki dan kau menyebut bocah itu moe?"
"Hei, moeitu tidak mengenal batasan gender!"
"Forlan benar, Shane. Dia itu imut, 'kan? Aku jadi ingin melakukan hal ini dan hal itu padanya, ehe ehe he he..." Bos mengusap air liur yang menetes dari mulutnya.
"..."
Shane tidak mampu mengatakan apa-apa kecuali mengumpat dalam hati, "Dasar perempuan shotacon!"
Sepertinya dia terjebak di dalam tim yang berisi pecinta bocah. Yang satu seorang lelaki yang entah bagaimana bisa menyebut seorang anak laki-laki moe, dan bosnya yang perempuan adalah seorang shotacon akut.
Shane menghela napasnya, lalu bergumam kecil, "...Kenapa kau tidak melirikku..?"
"Nn? Ada sesuatu, Shane?" tanya si Bos.
"...Tidak ada apa-apa."
"?" Si Bos memiringkan kepalanya ke samping. Yah, sepertinya sudah diputuskan. Forlan, Shane,sepertinya tugas kita kali ini akan berbeda dengan biasanya. Kita harus melindunginya dari luar bayangan, jadi siapkan topeng kalian.
Diubah oleh undesco 15-11-2012 23:26
0
Kutip
Balas