TS
undesco
[Orific] Bocah Tomat
Genre: adventure/fantasy
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
-----
Prolog
-----
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
Spoiler for :
-----
Prolog
Spoiler for :
Prolog
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
***
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
-----
Spoiler for tulisan di belakang surat undangan:
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
0
2.9K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
undesco
#13
Spoiler for :
Part 3
Fase bulan malam itu adalah bulan sabit. Penutupan bulan oleh matahari hanya menyisakan segaris tipis yang kelihatan seperti senyuman.
Cahayanya yang pucat menyinari labirin lorong-lorong di Distrik Kummuh. Lorong-lorong gelap itu tidak terjangkau oleh cahaya dari obor-obor yang hanya dipasang di jalan-jalan utama dan di tempat umum seperti pub. Cahaya dari rumah juga tidak banyak membantu karena kebanyakan warga menutup pintunya ketika malam tiba.
Di perbatasan Distrik Kummuh, terdapat sebuah pub bernama Penjaga Waktu. Karena lokasinya yang berada antara Distrik Kummuh dan Distrik Besi, pub ini cukup sering diramaikan oleh warga kedua distrik.
Malam ini pengunjung Penjaga Waktu cukup ramai.
Beberapa orang petualang mengobrol dalam satu grup, salah satunya memperlihatkan cakar mitril yang terpasang di tangannya. Sepertinya orang yang berwajah beringas itu baru saja meningkatkan ketahanan senjatanya di Distrik Besi, tempat para pandai besi Lokarya dipusatkan.
Di sudut lain pub itu ada tiga orang Penjaga Kota berbaju zirah, entah sedang beristirahat atau mungkin sedang menunda pekerjaan mereka.
Ada juga perempuan-perempuan yang memakai baju yang cukup minim. Dengan pusar yang kelihatan dan rok pendek, empat lima orang gadis berbaju seragam berkeliaran menggoda para petualang.
Itu adalah situasi biasa di pub-pub kota Lokarya.
Hal biasa lainnya adalah penjualan informasi.
Di lorong belakang, Mato Nightshade yang berkepala tomat sedang mencari-cari petualang atau siapa pun yang mau membeli informasi tentang liontin yang bisa memutarbalikkan waktu.
"Hei, bocah. Ada berita panas?" tanya seorang pria dengan tombak pendek di tangannya.
"Liontin yang bisa memutarbalikkan waktu, Liontin milik Kronos ke-13."
"..."
Tanpa menjawab apa pun, lanceritu langsung pergi menjauhinya.
Mato sudah berusaha selama seminggu lebih untuk menjual informasi ini, tapi sepertinya tidak banyak yang memercayai kekuatan liontin itu.
Memang di dunia ini terdapat sejumlah kecil penyihir. Mereka yang bisa mengeluarkan api dari tangannya, menyembuhkan penyakit, atau memanggil hujan. Ada juga pelajar disiplin magis yang lain, seperti para ahli alkimia yang bisa membuat eliksir dengan berbagai khasiat. Keberadaan mereka sudah diketahui oleh masyarakat umum.
Tetapi tidak satu pun dari para penyihir itu memiliki kemampuan memutar waktu.
Waktu itu seolah-olah adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibengkokkan oleh penyihir terkuat sekalipun. Keabsolutan waktu tidak dapat diganggu gugat. Dia terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Karena itu, wajar saja jika banyak yang tidak berminat membeli informasi itu dari Mato.
Meskipun memang ada legenda tentang Kronos ke-13, ahli alkimia yang dicap sebagai Sang Penjaga Waktu, dan Liontin-nya, tapi kisah ini tidak tercatat di dalam Kitab, sebuah kompendium berisi sejarah dan peristiwa legendaris dengan benda-benda mistis yang kepastian terjadinya sudah diteliti oleh Helian si Sejarawan dan didukung oleh bukti-bukti solid.
Entah bagaimana kisah Kronos ke-13 ini bisa tersebar hingga bisa terhitung sebagai legenda, padahal tidak ada manuskrip yang memberikan petunjuk pada keberadaan Liontin itu. Mungkin mereka yang percaya pada kekuatan saat terakhir yang menurunkan cerita ini, atau mungkin Kronos ke-13 sendirilah yang menyuruh orang lain menyebarkan rumor ini agar perdagangan ramuannya bisa melonjak. Tidak ada yang tahu dengan pasti.
Ada banyak versi legenda...atau mungkin dongeng, yang beredar, tapi ada satu hal yang sama di antara berbagai versi itu. Dikatakan bahwa Kronos ke-13 adalah satu-satunya manusia yang berhasil menguasai sihir waktu. Dia menggabungkan ilmu alkimia miliknya dengan seorang ahli clockwerk yang tidak diketahui namanya untuk menciptakan Liontin magis itu. Katanya, selain karena ingin menjamahi daerah baru dari ilmu sihir, mereka berdua memiliki keinginan untuk melakukan semua hal di detik terakhir. Karena itulah mereka menciptakan Liontin itu.
Dengan kekuatan Liontin itu, Kronos ke-13 dikatakan mampu menyelesaikan segala pesanan ramuan alkimia dari berbagai negara. Temannya, sang ahli clockwerk yang tidak diketahui namanya, juga dikelilingi rumor bahwa dia bisa membuat sistem otak automaton yang menjadi tentara pribadinya.
Tapi siapa yang bisa percaya kisah menggelikan seperti itu?
Sampai sekarang, automaton tercanggih yang dibuat dengan mengumpulkan sejumlah ahli clockwerk dari berbagai akademi di benua ini hanya bisa digunakan untuk otomatisasi pembuatan senjata, terutama yang terbuat dari kayu seperti tombak, anak panah, dan barikade untuk tentara. Semua hal yang bisa dilakukan automaton hanyalah pekerjaan mekanis yang tidak memerlukan perubahan tindakan sesuai situasi. Masih jauh pengembangan yang harus dilakukan hingga automaton bisa diaplikasikan dalam peperangan.
Dan pengendalian waktu?
Tentu saja, masih ada segelintir orang yang percaya pada kekuatan Liontin itu, Mato salah satunya. Tapi tanpa manuskrip yang menunjukkan bukti kekuatan Liontin itu, serta tidak tercatat di dalam Kitab, hanya sedikit petualang yang berani mengeluarkan uang segitu banyak.
Karena itu, Mato merasa menyesal telah mengurangi hutang baswahannya untuk informasi yang tidak bisa dijual itu. Dia tidak berpikir cukup panjang ketika menerima informasi dari pemuda di sampan itu. Dia akhirnya mempelajari perbedaan antara kepercayaan pribadi dan kredibilitas informasi dengan cara yang keras. Sepertinya selama ini Mato belum pernah menerima informasi seperti itu, atau mungkin bawahannya cukup pintar untuk tidak memberitahukan informasi yang kurang bisa dijual agar tidak membuat Mato marah dan membuatnya kehilangan kepala.
Bagaimanapun juga, ini pelajaran berharga untuk Mato.
Malam sudah semakin larut. Bulan sabit yang menggantung rendah di langit seolah sedang tersenyum mengejeknya.
Mato menghela napas berat.
Tepat ketika dia memutuskan untuk menyerah menjual informasi itu, sebuah suara memanggilnya.
Fase bulan malam itu adalah bulan sabit. Penutupan bulan oleh matahari hanya menyisakan segaris tipis yang kelihatan seperti senyuman.
Cahayanya yang pucat menyinari labirin lorong-lorong di Distrik Kummuh. Lorong-lorong gelap itu tidak terjangkau oleh cahaya dari obor-obor yang hanya dipasang di jalan-jalan utama dan di tempat umum seperti pub. Cahaya dari rumah juga tidak banyak membantu karena kebanyakan warga menutup pintunya ketika malam tiba.
Di perbatasan Distrik Kummuh, terdapat sebuah pub bernama Penjaga Waktu. Karena lokasinya yang berada antara Distrik Kummuh dan Distrik Besi, pub ini cukup sering diramaikan oleh warga kedua distrik.
Malam ini pengunjung Penjaga Waktu cukup ramai.
Beberapa orang petualang mengobrol dalam satu grup, salah satunya memperlihatkan cakar mitril yang terpasang di tangannya. Sepertinya orang yang berwajah beringas itu baru saja meningkatkan ketahanan senjatanya di Distrik Besi, tempat para pandai besi Lokarya dipusatkan.
Di sudut lain pub itu ada tiga orang Penjaga Kota berbaju zirah, entah sedang beristirahat atau mungkin sedang menunda pekerjaan mereka.
Ada juga perempuan-perempuan yang memakai baju yang cukup minim. Dengan pusar yang kelihatan dan rok pendek, empat lima orang gadis berbaju seragam berkeliaran menggoda para petualang.
Itu adalah situasi biasa di pub-pub kota Lokarya.
Hal biasa lainnya adalah penjualan informasi.
Di lorong belakang, Mato Nightshade yang berkepala tomat sedang mencari-cari petualang atau siapa pun yang mau membeli informasi tentang liontin yang bisa memutarbalikkan waktu.
"Hei, bocah. Ada berita panas?" tanya seorang pria dengan tombak pendek di tangannya.
"Liontin yang bisa memutarbalikkan waktu, Liontin milik Kronos ke-13."
"..."
Tanpa menjawab apa pun, lanceritu langsung pergi menjauhinya.
Mato sudah berusaha selama seminggu lebih untuk menjual informasi ini, tapi sepertinya tidak banyak yang memercayai kekuatan liontin itu.
Memang di dunia ini terdapat sejumlah kecil penyihir. Mereka yang bisa mengeluarkan api dari tangannya, menyembuhkan penyakit, atau memanggil hujan. Ada juga pelajar disiplin magis yang lain, seperti para ahli alkimia yang bisa membuat eliksir dengan berbagai khasiat. Keberadaan mereka sudah diketahui oleh masyarakat umum.
Tetapi tidak satu pun dari para penyihir itu memiliki kemampuan memutar waktu.
Waktu itu seolah-olah adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibengkokkan oleh penyihir terkuat sekalipun. Keabsolutan waktu tidak dapat diganggu gugat. Dia terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Karena itu, wajar saja jika banyak yang tidak berminat membeli informasi itu dari Mato.
Meskipun memang ada legenda tentang Kronos ke-13, ahli alkimia yang dicap sebagai Sang Penjaga Waktu, dan Liontin-nya, tapi kisah ini tidak tercatat di dalam Kitab, sebuah kompendium berisi sejarah dan peristiwa legendaris dengan benda-benda mistis yang kepastian terjadinya sudah diteliti oleh Helian si Sejarawan dan didukung oleh bukti-bukti solid.
Entah bagaimana kisah Kronos ke-13 ini bisa tersebar hingga bisa terhitung sebagai legenda, padahal tidak ada manuskrip yang memberikan petunjuk pada keberadaan Liontin itu. Mungkin mereka yang percaya pada kekuatan saat terakhir yang menurunkan cerita ini, atau mungkin Kronos ke-13 sendirilah yang menyuruh orang lain menyebarkan rumor ini agar perdagangan ramuannya bisa melonjak. Tidak ada yang tahu dengan pasti.
Ada banyak versi legenda...atau mungkin dongeng, yang beredar, tapi ada satu hal yang sama di antara berbagai versi itu. Dikatakan bahwa Kronos ke-13 adalah satu-satunya manusia yang berhasil menguasai sihir waktu. Dia menggabungkan ilmu alkimia miliknya dengan seorang ahli clockwerk yang tidak diketahui namanya untuk menciptakan Liontin magis itu. Katanya, selain karena ingin menjamahi daerah baru dari ilmu sihir, mereka berdua memiliki keinginan untuk melakukan semua hal di detik terakhir. Karena itulah mereka menciptakan Liontin itu.
Dengan kekuatan Liontin itu, Kronos ke-13 dikatakan mampu menyelesaikan segala pesanan ramuan alkimia dari berbagai negara. Temannya, sang ahli clockwerk yang tidak diketahui namanya, juga dikelilingi rumor bahwa dia bisa membuat sistem otak automaton yang menjadi tentara pribadinya.
Tapi siapa yang bisa percaya kisah menggelikan seperti itu?
Sampai sekarang, automaton tercanggih yang dibuat dengan mengumpulkan sejumlah ahli clockwerk dari berbagai akademi di benua ini hanya bisa digunakan untuk otomatisasi pembuatan senjata, terutama yang terbuat dari kayu seperti tombak, anak panah, dan barikade untuk tentara. Semua hal yang bisa dilakukan automaton hanyalah pekerjaan mekanis yang tidak memerlukan perubahan tindakan sesuai situasi. Masih jauh pengembangan yang harus dilakukan hingga automaton bisa diaplikasikan dalam peperangan.
Dan pengendalian waktu?
Tentu saja, masih ada segelintir orang yang percaya pada kekuatan Liontin itu, Mato salah satunya. Tapi tanpa manuskrip yang menunjukkan bukti kekuatan Liontin itu, serta tidak tercatat di dalam Kitab, hanya sedikit petualang yang berani mengeluarkan uang segitu banyak.
Karena itu, Mato merasa menyesal telah mengurangi hutang baswahannya untuk informasi yang tidak bisa dijual itu. Dia tidak berpikir cukup panjang ketika menerima informasi dari pemuda di sampan itu. Dia akhirnya mempelajari perbedaan antara kepercayaan pribadi dan kredibilitas informasi dengan cara yang keras. Sepertinya selama ini Mato belum pernah menerima informasi seperti itu, atau mungkin bawahannya cukup pintar untuk tidak memberitahukan informasi yang kurang bisa dijual agar tidak membuat Mato marah dan membuatnya kehilangan kepala.
Bagaimanapun juga, ini pelajaran berharga untuk Mato.
Malam sudah semakin larut. Bulan sabit yang menggantung rendah di langit seolah sedang tersenyum mengejeknya.
Mato menghela napas berat.
Tepat ketika dia memutuskan untuk menyerah menjual informasi itu, sebuah suara memanggilnya.
Diubah oleh undesco 15-11-2012 23:21
0
Kutip
Balas