TS
undesco
[Orific] Bocah Tomat
Genre: adventure/fantasy
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
-----
Prolog
-----
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
-----
Tiba-tiba mau nulis generic adventure. Semoga selesai dan ga tarsok. :v
-----
Summary-ish: Salah satu hal yang paling dicari oleh petualang adalah informasi tentang benda berharga. Karena itu, beberapa orang memilih pekerjaan sebagai broker informasi, menjual informasi dengan harga tinggi kepada pembelinya.
Di antara mereka, salah satu informan yang cukup terkenal adalah Mato Nightshade, bocah berkepala tomat.
-----
Index&Informasi;
Spoiler for :
-----
Prolog
Spoiler for :
Prolog
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
“Hei, kau ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Pria berambut perak yang ada di depannya berpikir sejenak, menimbang-nimbang baik buruknya transaksi ini. Dia lalu menanyakan harganya.
“12.000 Lyr,” jawab si bocah.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 20.000 Lyr. 7.500 Lyr,” tawar si calon pembeli, tidak begitu saja tertipu.
“Jika kau mendapat yang asli. Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jad-”
“9.000 Lyr.”
“10.500 Lyr, tidak kurang lagi.”
“Deal.”
“Ah, sebelum kau membayarku, aku ingin kau tahu bahwa pedang ini masih berada di tempat yang sulit dijangkau. Apa kau masih mau membayar?”
“Ya,” kata pria bertubuh tinggi di hadapan bocah berambut pirang itu, menyerahkan sekantung kulit yang berisi kepingan-kepingan Lyr emas.
***
“Jadi apa yang kaulakukan di Gunung Asa?”
Pria berambut perak berbaju khas petualang itu meneguk birnya sebelum menjawab, “Aku mencari kuburan seorang penyihir putih.”
“Ketemu?”
Dia tersenyum penuh arti, lalu meletakkan pedang yang berada di pinggangnya ke atas meja tempat dia duduk. Kemudian dia menarik pedang itu sedikit, memperlihatkan bilah pedangnya pada gadis berambut pendek yang ada di depannya.
“Ini pedang legen-!”
“Ssshh!” Petualang berambut perak itu menyuruh gadis itu diam dengan menutup mulut si gadis dengan tangan kanannya. “Aku tidak mau ada yang mendengar tentang ini,” bisiknya sambil melirik ke kanan kiri dengan hati-hati, memastikan tidak ada telinga-telinga jahil yang mendengarkan.
Di pub itu hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati bir mereka. Dan meja mereka berada di dekat sudut, jadi sepertinya tidak ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Gadis berambut pirang itu berteriak dengan suara teredam dan memukul-mukul tangan pria yang menutup mulutnya. Sepertinya dia kesulitan bernapas, melihat wajahnya yang panik.
“Pwaah! Oi, untuk ap-Mmmmgghhh!!”
“Sudah kubilang jangan teriak.”
Gadis itu mengangguk-angguk panik, lalu mengambil napas panjang setelah mulutnya dilepaskan oleh pria berambut perak itu.
Dia mendekatkan wajahnya ke si pria lalu berbicara setengah berbisik, “Pedang legendaris milik Putihan? Simbol empat lingkaran konsentris ini adalah tanda dari klan Kurrap, ‘kan? Satu-satunya penyihir putih dari klan itu seingatku hanyalah Putihan itu saja.”
“Sepertinya begitu. Sumberku cukup terpercaya, jadi pedang ini kemungkinan besar adalah benda yang asli.”
“Apa kau akan menjualnya? Atau mung-”
“Kurasa aku akan menjualnya,” jawabnya sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya. “Harganya mungkin bisa mencapai 36.000 Lyr. Kita bisa hidup sangat mewah selama tiga tahun,” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kita?”
“Ya, maukah kau hidup bersamaku?”
“...A-aku ...”
Mungkin itu adalah kejadian romantis bagi mereka. Seorang petualang yang menjual sebuah pedang legendaris milik seorang penyihir putih demi cintanya. Demi menjamin ketenangan hidup mereka.
Tetapi...
Sedikit yang mereka ketahui bahwa di dalam Penjaga Waktu, nama pub itu, tidak ada informasi yang bisa lewat begitu saja.
***
“Hei, kalian ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
“Pedang si penyihir putih dari Kurrap?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
“Kau yakin itu yang asli?”
Si bocah hanya tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Tiga orang pria berjubah kulit yang ada di depannya berkompromi di antara mereka sendiri. Sepertinya mereka sedang membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi ini.
Pria besar yang sepertinya adalah pemimpin kelompok itu mendengus pelan, lalu menanyakan harga informasi tentang pedang itu.
“15.000 Lyr,” jawabnya pendek.
“Heh, bahkan aku tahu kalau harga jualnya hanya sekitar 25.000 Lyr. 7.500 Lyr.”
“Harga jualnya bisa mencapai 35.000 Lyr, aku sudah berbaik hati menunjukkan harga barang itu, jadi-”
“10.000 Lyr.”
“12.500 Lyr, tidak kurang lagi. Dan sekarang pedang itu berada di dekat sini, jadi aku tidak bisa memberi harga lebih murah.”
“Deal,” pemimpin itu memberikan dua kantung kulit penuh kepingan Lyr.
Tentu saja, bagi seorang petualang, informasi tentang pedang legendaris, harta karun raja kuno, artefak magis, dan benda-benda antik lainnya itu sangat berharga. Mungkin petualang memiliki tujuan berbeda dalam menjadi petualang, entah kekayaan, kebanggaan, kecintaan pada petualangan, sebut saja.
Satu hal yang tidak berubah adalah menjadi petualang yang memburu harta karun kelas tinggi itu tidak murah.
Informasi yang tidak pasti benar saja harganya cukup untuk hidup mewah hingga berbulan-bulan. Walau tentu saja, jika si pemberi informasi memberikan sesuatu yang salah, dan yang membelinya cukup jengkel karenanya, kepalanya yang jadi taruhan.
“Jadi pedang itu sekarang berada di tangan ...”
***
Masih di malam yang sama, seorang petualang wanita berjalan melewati bocah berambut pirang yang duduk di atas sebuah barel kayu di sebuah lorong yang ada di belakang pub Penjaga Waktu.
“Hei, kakak ingin informasi tentang pedang milik Putihan?”
Tidak ada hukum yang mengatur para broker informasi ini. Selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Entah apa yang mereka lakukan dengan kekayaan itu. Jika mereka hidup biasa, mereka tidak akan bisa menghabiskannya sepanjang umur mereka. Tapi sepertinya menjadi informan sudah mengalir dalam darah mereka. Mungkin karena kekayaan, rasa superior karena tahu informasi terbaru, entahlah.
Satu hal yang pasti, selama semua berjalan sesuai rencana, satu informasi yang sama bisa menghasilkan kekayaan untuk seumur hidup.
Selama semuanya berjalan sesuai rencana.
-----
Spoiler for tulisan di belakang surat undangan:
Kedatanganmu sangat berarti untukku.
No, seriously.
0
2.9K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
undesco
#3
Spoiler for :
Part 2
Kota Lokarya adalah sebuah kota yang cukup besar di tepi Sungai Poteri. Kota itu terkenal sebagai "Mulut sang Naga" karena berfungsi sebagai pintu gerbang menuju Keputrian Draake. Ini karena lokasi Keputrian Draake berada di ujung benua, dan satu-satunya cara masuk lewat darat adalah melalui Lokarya.
Jalur laut juga sama. Tertutup. Jadi kau hanya bisa memasuki tanah Draake melalui Lokarya. Kondisi geografis Draake sangat menguntungkan, tanah setelah Lokarya praktis adalah perbukitan, dan keputrian ini tidak memiliki pantai semeter pun. Sebagai ganti pantai, yang ada hanyalah tebing karang yang tinggi.
Lokasi Lokarya yang praktis menjadi satu-satunya gerbang masuk ke Keputrian Draake membuat perdagangan tumbuh dengan baik.
Bersama dengan perdagangan, informasi pun ikut beredar.
Para petualang berkumpul mencari informasi dari berbagai negara, dan para informan menjual informasi yang mereka berhasil kumpulkan.
Di antara para informan yang bekerja di Lokarya, salah satu yang paling ...unik, adalah Mato Nightshade.
Meskipun keakuratan info darinya memang tidak diragukan, yang membuat dia terkenal bukanlah itu, tetapi umur dan pakaiannya. Sangat sedikit broker informasi yang masih berusia bocah. Seakan belum cukup membuatnya unik, dia memakai pakaian dengan hoodwarna merah dengan corak hijau di tengahnya.
Jika dia memakai hood-nya, kombinasi dengan pakaian kulit warna coklatnya membuat Mato terlihat seperti pohon tomat yang berbuah.
Saat ini Mato sedang berada di dalam kamarnya. Walaupun disebut kamarnya, sebenarnya dia memiliki banyak rumah persembunyian tempat dia bisa tidur. Jadi tempatnya berada sekarang mungkin lebih tepat disebut sebagai salah satu kamarnya.
"Rau-nee, masih lama?" tanyanya setengah berteriak.
"Sebentar lagi, Tomat!" seru Raune dengan nada sayang dari arah dapur.
Raune Nightshade adalah kakak perempuan Mato Nightshade. Dari wajah dan tingginya, sepertinya dia berusia sekitar 17-18 tahun.
Saat ini Raune sedang mengaduk sup lentil untuk mereka berdua. Rambut pirangnya yang berwarna sama dengan adiknya dikuncir pendek hanya di sisi kanan. Celemek kain yang dipakainya bermotif bunga kecubung warna ungu, bagian dadanya menonjol cukup besar.
Setelah menambahkan sepercik lada ke dalamnya, Raune mengaduk pelan sup lentil yang dimasaknya sekali lagi, kemudian dia menyendokkan sup itu ke dua mangkuk kecil.
Dia lalu menggelar sehelai kain persegi bersisi 1 meter di atas lantai dapur yang terbuat dari kayu, kemudian meletakkan sebuah nampan logam berdiameter 60 cm di tengahnya.
"Tomaat! Makanan sudah siap!" teriaknya memanggil adiknya sambil meletakkan kedua mangkuk berisi sup ke atas nampan.
Raune lalu melepas celemek yang dipakainya dan menggantungnya di kait yang terpasang di pintu. Segera setelah menggantung celemeknya, dia berjalan ke arah jendela.
Mato, yang dipanggil Tomat oleh Raune, masuk ke dapur dengan wajah bersinar. Salah satu hal favoritnya di dunia ini adalah masakan kakaknya.
Jika kau melihat mereka berdua seperti ini, kau akan menyadari bahwa wajah mereka cukup berbeda. Bukan bentuk dasar wajahnya, tapi lebih kepada perawatannya. Mato mirip dengan seorang anak jalanan, kumal dan tidak terawat. Berbeda dengan Raune yang wajah dan rambut pirang sebahunya bersinar sehat.
"Duduk saja, kakak beli roti sebentar."
Meskipun dia mengatakannya seperti akan keluar ke tempat tukang roti, sebenarnya yang dilakukannya hanya meletakkan beberapa keping Lyr perunggu ke dalam sebuah keranjang yang terikat di jendela. Keranjang itu kemudian digantungkan ke atas sebuah papan kayu dengan celah yang pas untuk pegangan keranjang anyaman rotan itu.
Dari jendela dapur, ada sistem kabel logam dengan katrol yang menuju tempat tukang roti sekitar 30 meter jauhnya dari tempat Nightshade tinggal saat ini. Jadi yang harus mereka lakukan hanyalah mengirimkan keranjang berisi koin ke tukang roti, dan keranjang itu akan kembali dengan roti di dalamnya menggunakan katrol.
Tidak hanya rumah Nightshade yang menggunakan sistem katrol ini, hampir seluruh keluarga yang jarak rumahnya cukup dekat dengan tukang roti dan tidak terhalang jalurnya juga menggunakannya. Jadi pada pagi hari kau mungkin bisa melihat keranjang yang berterbangan ke segala penjuru.
Sebelum kau membayangkan bahwa sistem kabel ini menghalangi jalan, warga distrik ini biasanya tinggal di bangunan-bangunan semen-kayu bertingkat. Setiap lantai ditempati oleh keluarga yang berbeda. Jadi dibandingkan menyebutnya menghalangi jalan, mungkin lebih tepat jika kau membayangkan sistem pengantaran roti ini seperti jaring laba-laba yang ada di dahan pohon.
Tidak lama, dua buah roti sepanjang lengan bawah Raune sudah sampai. Dia lalu meletakkannya ke atas nampan aluminum dan duduk di depan Mato.
"Tomat udah cuci tangan?" tanya Raune lembut.
"Ah, iya."
Mato langsung berdiri dan menuju wastafel. Dia menarik gabus yang menutup pipa bambu kecil, lalu air mengalir keluar dari pipa itu. Setelah mencuci tangannya, dia menutup kembali pipa bambu itu.
Mereka berdua lalu mulai makan roti dengan sup lentil yang sudah dimasak.
"Tomat... Kenapa kita tidak gunakan uang hasil informasi itu dan beli rumah di Distrik Lait Haus?"
Mato menelan roti yang ada di dalam mulutnya sebelum menjawab, "Distrik Lait Haus itu ada di dimensi berbeda, Rau-nee. Kudengar salah satu keluarga di sana memiliki tambang garam yang dengan mudah bisa menghasilkan 5.000 Lyr per bulan."
"...Bukankah satu informasi yang Tomat jual bisa mencapai 10.000 Lyr?"
"Tomat juga kadang harus membeli informasi itu, dan tidak setiap hari info tentang benda berharga tinggi sampai ke Tomat. Belum lagi mencari petualang atau informan lain yang mau membeli info itu."
"Hmm... Raune terlihat berpikir sejenak. Gimana kalau Distrik Rabirin?"
"Mungkin kita bisa membeli rumah di sana, tapi informasi di sana tidak sebasah di Distrik Kummuh ini, Rau-nee. Aku juga perlu menjaga jaringanku, membeli informasi yang kira-kira berharga, mencari orang baru, dan lainnya." Mato mengoyak rotinya lalu menyelupkannya ke dalam sup lentil, kemudian memakannya. "Khau-nee twahu i-..."
"Jangan bicara sambil ngunyah, Tomat." Raune memotongnya, memarahi Mato dengan lembut. "Telan dulu, baru ngomong."
Sepertinya dia memang tidak bisa membentak adik satu-satunya itu. Mato memang cukup dewasa dalam hal pekerjaan dan manajemen informasi, tapi tingkahnya, terutama ketika berada di sekitar Raune, masih kekanak-kanakan.
"Rau-nee tahu ini, kan?"
"Ya, ya. Kakak ngerti... tapi paling tidak sisihkanlah barang 50 Lyr untuk makanan. Apa Tomat tidak bosan makan sup dengan roti terus? Uang segitu tidak ada artinya untukmu, 'kan?"
"E~hh?"
Ekspresi Mato kelihatan seperti baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi, tapi tetap terjadi. Melihat reaksi Mato, Raune menggembungkan pipinya, pura-pura marah.
"R-Rau-nee. J-jangan marah sama Tomat!"
Raune memalingkan wajahnya, sementara Mato terlihat makin panik.
"O-oke, oke! Lima puluh--tidak, seratus Lyr untuk minggu ini, Rau-nee!"
Saat itu, Raune Nightshade tersenyum dalam hati.
Diubah oleh undesco 01-11-2012 15:01
0
Kutip
Balas