- Beranda
- The Lounge
Kisah Nyata delapan tahun hidup bertetangga dengan orang gila
...
TS
NeighbourFrHell
Kisah Nyata delapan tahun hidup bertetangga dengan orang gila
Sebelumnya saya mohon maaf agan dan sista sekalian karena ini memang ID klonengan, tetapi kisah yang saya tulis berikut ini adalah nyata, tidak repost, dan merupakan pengalaman TS sendiri.
Tulisan di bagi dalam dua season.
------------------------
I N D E K S SEASON I
------------------------
Latar Belakang TS
perkenalan
sebulan pertama
kasus pertama
kasus kedua
kasus ketiga
pergi kuliah
kembali ke Indonesia
tiga bulan pertama di Indonesia lagi
kelahiran anak pertama
setahun pertama
tahun kedua
yang waras ngalah
kontak fisik
pesugihan?
azab
menyiramkan minyak
this means war
fight fire with fire
urusan ini belum selesai
c.o.d
gua ga takut
the uneasy peace
tomorrow is another day
------------------------
I N D E K S SEASON II
------------------------
mata ganti mata
beyond reasonable doubt
si vis pacem, para bellum
spill over
kami tidak mau main sama kamu
dari debu kembali menjadi debu
the fragile peace
------------------------
I N D E K S SEASON III
------------------------
currahee
------------------------
Keluarga saya merupakan keluarga sederhana dari lima bersaudara, Bapak - Ibu bekerja keras untuk menyekolahkan saya hingga bisa kuliah di ibu kota. Selama di ibu kota saya tinggal di kosan.
Sehabis kuliah saya bekerja, dan berkenalan dengan seorang gadis yang sekarang menjadi ibu dari anak kami satu-satunya. Empat tahun pacaran, dan saya berniat untuk menikahinya dalam waktu tiga tahun. Sebelum menikah, Ibu menasihati saya untuk berusaha memiliki rumah dahulu. Sesuai dengan nasihat dan restu Beliau, saya KPR sebuah rumah sederhana di bilangan Barat Jakarta di lingkungan pinggiran dari perumahan elit di tengahnya.
Saat itu tahun 2003, dan oleh pengembang dijanjikan awal Februari 2004 bisa ditempati. Berhubung di tempat baru sepi banget saya tunda untuk masuk hingga April 2004.
Kompleks perumahan ini tidaklah besar, walaupun dibayang-bayangi oleh perumahan besar di sebelahnya tetapi yang tinggal disini umumnya adalah kelas pekerja. Rumah saya bernomor 11, dan ada tetangga yang menempati nomor 24, 9, dan 2.
Sesuai dengan kebiasaan saya dari kampung dulu dan saat di kos, saya berkenalan dengan semua tetangga yang ternyata telah lebih dahulu satu bulan menempati sebelum saya. Bagi saya saat itu semuanya adalah para pasangan muda yang belum memilik anak atau sedang hamil anak pertama dan mereka semuanya nice. Tetapi di hari ke-4 ada dua tetangga yang memperingatkan saya kalau tetangga yang satu itu 'menggigit', jadi hati-hati. Saya menepis peringatan ini dan berkata di dalam hati memang gak semua orang dapat hidup rukun dengan yang lainnya. Tetangga ini di kemudian hari di bulan ke-5 pindah untuk meneruskan usaha mertuanya.
Tidak terpikirkan oleh saya bahwa peringatan yang saya skeptis-kan ini kelak menjadi terror bagi keluarga saya selama 8 tahun ini.
Sang tetangga ajaib memperkenalkan diri sebagai putra dari pemilik sebuah showroom mobil di jakarta utara dan dia sendiri memiliki usaha spare part motor.
Sebulan pertama saya tinggal sendirian disini, hanya dengan tiga tetangga. Sebulan ini pula saya menyadari ada yang tidak beres pada tetangga ajaib ini. Orang mana yang mencuci mobilnya setiap subuh jam 04:30 - 05:30, pergi membeli makanan jam 06:00 di pasar sekitar 1 km dari perumahan, kembali jam 06:20 dan mencuci mobilnya lagi? Sehari bisa 5-7x mencuci mobil termasuk menggosok bannya. Saya mengetahui hal ini karena setelah capek pindah sempat sakit dan dahulu sempat bolak balik kota S untuk tugas.
Maaf bagi yang kentang, TS memang ngejar page one biar ga kotor ama junkers gila.
Bersambung ke posting berikutnya
Tulisan di bagi dalam dua season.
------------------------
I N D E K S SEASON I
------------------------
Latar Belakang TS
perkenalan
sebulan pertama
kasus pertama
kasus kedua
kasus ketiga
pergi kuliah
kembali ke Indonesia
tiga bulan pertama di Indonesia lagi
kelahiran anak pertama
setahun pertama
tahun kedua
yang waras ngalah
kontak fisik
pesugihan?
azab
menyiramkan minyak
this means war
fight fire with fire
urusan ini belum selesai
c.o.d
gua ga takut
the uneasy peace
tomorrow is another day
------------------------
I N D E K S SEASON II
------------------------
mata ganti mata
beyond reasonable doubt
si vis pacem, para bellum
spill over
kami tidak mau main sama kamu
dari debu kembali menjadi debu
the fragile peace
------------------------
I N D E K S SEASON III
------------------------
currahee
------------------------
Spoiler for latar belakang TS:
Keluarga saya merupakan keluarga sederhana dari lima bersaudara, Bapak - Ibu bekerja keras untuk menyekolahkan saya hingga bisa kuliah di ibu kota. Selama di ibu kota saya tinggal di kosan.
Sehabis kuliah saya bekerja, dan berkenalan dengan seorang gadis yang sekarang menjadi ibu dari anak kami satu-satunya. Empat tahun pacaran, dan saya berniat untuk menikahinya dalam waktu tiga tahun. Sebelum menikah, Ibu menasihati saya untuk berusaha memiliki rumah dahulu. Sesuai dengan nasihat dan restu Beliau, saya KPR sebuah rumah sederhana di bilangan Barat Jakarta di lingkungan pinggiran dari perumahan elit di tengahnya.
Saat itu tahun 2003, dan oleh pengembang dijanjikan awal Februari 2004 bisa ditempati. Berhubung di tempat baru sepi banget saya tunda untuk masuk hingga April 2004.
Spoiler for perkenalan:
Kompleks perumahan ini tidaklah besar, walaupun dibayang-bayangi oleh perumahan besar di sebelahnya tetapi yang tinggal disini umumnya adalah kelas pekerja. Rumah saya bernomor 11, dan ada tetangga yang menempati nomor 24, 9, dan 2.
Sesuai dengan kebiasaan saya dari kampung dulu dan saat di kos, saya berkenalan dengan semua tetangga yang ternyata telah lebih dahulu satu bulan menempati sebelum saya. Bagi saya saat itu semuanya adalah para pasangan muda yang belum memilik anak atau sedang hamil anak pertama dan mereka semuanya nice. Tetapi di hari ke-4 ada dua tetangga yang memperingatkan saya kalau tetangga yang satu itu 'menggigit', jadi hati-hati. Saya menepis peringatan ini dan berkata di dalam hati memang gak semua orang dapat hidup rukun dengan yang lainnya. Tetangga ini di kemudian hari di bulan ke-5 pindah untuk meneruskan usaha mertuanya.
Tidak terpikirkan oleh saya bahwa peringatan yang saya skeptis-kan ini kelak menjadi terror bagi keluarga saya selama 8 tahun ini.
Sang tetangga ajaib memperkenalkan diri sebagai putra dari pemilik sebuah showroom mobil di jakarta utara dan dia sendiri memiliki usaha spare part motor.
Spoiler for sebulan pertama:
Sebulan pertama saya tinggal sendirian disini, hanya dengan tiga tetangga. Sebulan ini pula saya menyadari ada yang tidak beres pada tetangga ajaib ini. Orang mana yang mencuci mobilnya setiap subuh jam 04:30 - 05:30, pergi membeli makanan jam 06:00 di pasar sekitar 1 km dari perumahan, kembali jam 06:20 dan mencuci mobilnya lagi? Sehari bisa 5-7x mencuci mobil termasuk menggosok bannya. Saya mengetahui hal ini karena setelah capek pindah sempat sakit dan dahulu sempat bolak balik kota S untuk tugas.
Maaf bagi yang kentang, TS memang ngejar page one biar ga kotor ama junkers gila.
Bersambung ke posting berikutnya
Diubah oleh NeighbourFrHell 27-07-2013 13:18
Hitler dan 3 lainnya memberi reputasi
4
726.5K
Kutip
6K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NeighbourFrHell
#8
Paruh kedua tahun 2012
Sesuai janji pada istri saya pulang di awal bulan Juni walaupun terlambat dua minggu, untuk mendaftarkan anak semata wayang kami ke playgroup sekitar dua kilometer dari perumahan kami.
Kantor memberikan saya cuti dua minggu untuk menyelesaikan urusan sekolah, dan saya akan kembali ke kota T di Indonesia, tidak lagi ke kota L.
Penerbangan lanjutan yang terlambat antara singapura - jakarta menyebabkan saya baru sampai di rumah jam 01:00. Ada yang berubah, ibu dan anak pengusaha warung makanan di basement mall sekarang telah memiliki mobil kecil buatan Korea.
Taksi berjalan perlahan dan saya melihat... 'rumah tetangga ajaib kenapa mobilnya berubah? Mungkinkah... sudah pindah?' Ah damai kembali ke kompleks kecil kami.
Istri saya menyambut saya dengan gembira bersama anak yang memang menahan diri untuk tidak tidur. Kegembiraan saya anak akhir dari keonaran orang gila sirna saat istri saya berkata 'tetangga gila masih ada, hanya mobilnya memang berganti karena bulan lalu dia tabrakan sama angkot dan menyalahkan gara gara istrinya menyuruhnya cepat antarkan anak ke sekolah'
Degh! Tapi biarlah, mungkin dia akan belajar dari masalahnya dengan angkot dahulu.
Dini hari, jam 04:30 saya dibangunkan oleh dentuman house music kembali, WTF? Saya menelpon satpam dan meminta bantuannya karena matahari belum lagi terbit dan sangat mengganggu. Dalam tempo 10 menit house music berhenti, diikuti oleh kata-kata berikutnya 'kalau ga mau berisik tinggal di hutan aja sama xxxx, sama xxxxx'. Bodo ah saya perlu tidur.
Jam 08:00 tetangga ajaib telah pulang dari mengantarkan anaknya, dan kembali ke rumah diiringi house music. Setelah berhenti, masih berkata 'mobil jelek aja dipamerin, beli dong mobil kaya gua', ah rupanya tetangga ajaib masih saja tidak mengerti pelajaran mobilnya yang dulu vs angkot.
Ada yang berubah!
Sekarang istrinya pergi menggunakan motor yang akan menjadi kebiasaannya setiap pagi. Kerja rupanya, dan yang membuat saya heran sekarang di belakang mobilnya ada tempelan stiker 'antar jemput bandara'
Rumahnya juga dipasangi spanduk agen 'dijual'
Berbeda dengan tebakan kaskuser, saya tidak memiliki mobil, biasanya juga naik angkot + bis.
Berbeda dengan saat itu, saat saya sedang agak royal, sehingga memanggil taksi. Di akhir minggu saat saya menutup pintu taksi, terdengar komentar tetangga ajaib 'beli dong mobil...'
Hari minggu, saya melihat tetangga nomer 16 yang berdagang makanan pindahan. Rupanya mereka menyewa dan rumah itu mau di jual oleh pemiliknya. Sorenya pemilik rumah nomer 16 datang bersama agen perumahan dan memasang spanduk 'dijual'. Pemilik rumah, pria single seumuran saya membersihkan rumahnya dan tinggal disana.
Hari rabu, tiga hari sebelum saya harus terbang lagi, pembantu rumah nomer 8 berkata, 'tadi malam si tetangga ajaib beli lauk 2000-an untuk berbagai macam lauk di warung ruko perumahan sebelah'. Benar juga, seminggu ini tetangga ajaib tidak lagi membuang nasi setengah bakul ke rumah kosong di sebelah saya.
Mungkin pengalaman ini akan mengubahkan tetangga ajaib ini.
Malam minggu, seperti biasa tetangga ajaib pulang dengan dentuman house music. Ada yang berbeda. Langsung dimatikan tidak sampai 2 menit, dan terdengar suaranya berteriak teriak diikuti dengan teriakan anaknya 'tolong papa tolong'.
Rupanya tetangga nomer 16 yang menjual rumahnya diteriaki 'tidak laku!', tidak terima dan mendatanginya, memelintir leher bajunya dengan gerakan hendak memukulnya. Istigfhar, tetangga nomer 16 meninggalkannya begitu saja dan tetangga ajaib menantanginya 'kalau berani sini luh xxxxxx luh, gua ga takut gua ga takut'
Minggu pagi sebelum terbang saya sempat berbicara dengan tetangga nomer 16, dan rupanya dia membutuhkan biaya untuk pengobatan ayahnya.
Saya sempat berkata kepada istri saya, mungkin berikutnya sayalah yang akan bertengkar dengannya.
Side story dari atas, malam sebelum berangkat anak saya gelisah kagak rela abahnya pergi lagi setelah ditinggal tiga bulan, jadi saya memakaikannya sweater tebal, menggendongnya di pundak dan mengitari kompleks. Saat itu sekitar jam 00:30, saat saya bertemu dengan seorang satpam yang sedang patroli.
'Belum tidur anaknya Pak?', demikian sapanya.
'Belum, tau nih dia abahnya mau pergi lagi', jawab saya.
Kemudian dia menceritakan sesuatu yang membuat saya sekarang tahu bahwa keonaran tetangga ajaib juga membuat empet para satpam.
Kebiasaan tetangga ajaib saat menuju pos penjagaan menuju ke luar kompleks dan sebaliknya adalah memacu kendaraannya diikuti dengan sirine panjang. Menurut satpam ini ada anak kecil dengan sepeda roda tiga hampir ditabraknya.
Ada kalanya satpam jaga menjadi muak dan tidak mau membukakan gerbang bagi dia, dan tetangga ajaib terpaksa turun dari mobil dan membuka gerbang sendiri, dan berkata 'elu semua gua yang bayar', atau 'di rumah gua di xxxx semua satpam hormat sama gua', atau 'satpam di rumah gua di xxxx semuanya profesional, digaji lebih gede dari satpam sini'.
Khusus satpam ini rupanya dahulu istrinya yang membawakan makanan rantangan bagi suaminya yang sedang bertugas jaga hampir ditabrak saat tetangga ajaib hendak memasuki kompleks dan kebetulan gerbang sedang terbuka karena beriringan dengan mobil lainnya.
Bukannya meminta maaf malah mengatai 'kurang xxxx, dasar xxxx'.
Suaminya marah dan meminta tetangga ajaib untuk mengulangi perkataanya, yang hanya dijawab dengan memacu kendaraannya pulang ke rumah.
Dalam 30 menit, saat pergantian shift, satpam ini mendatangi rumah tetangga ajaib dan mengajak duel sambil melepaskan baju yang menjadi lambang dari profesinya.
Tetangga ajaib panik dan menelpon kantor penyedia satpam, kemudian satpam ini ditenangkan oleh kedua temannya yang datang dari kantor. 'Haram hukumnya berantem dengan warga'.
Setelah satpam ini tenang dan pergi, tetangga ajaib masih berkata 'elu beraninya di sini doang, coba di rumah bokap gua di xxxx kalau ga habis elu!'
Satpam mempertanyakan sikap saya dan warga lainnya yang terkesan membiarkan walaupun setiap warga memiliki masalah dengannya, dapat saya katakan bahwa memang kepada semua orang tetangga ajaib telah menyiramkan minyak, tinggal menunggu api untuk membakarnya.
Dan saya akui bahwa saya memang sangat terganggu, tetapi bagi saya sepertinya telah terlambat, seharusnya dari dua tahun yang lalu saya konfrontasi, sedangkan di tahun ini saat ekonomi dunia bangkit lagi saya malah dikirim ke kota L kemudian T, meninggalkan anak istri sendirian di rumah.
Jam 01:00 dan saya meminta ijin untuk undur dahulu, kepada anak saya janjikan bahwa saya akan pulang di awal bulan puasa, walaupun saya tidak dapat mengantarkannya pada hari pertama sekolah.
Satu minggu saya di kota T, saya mendapatkan kabar dari istri bahwa tetangga ajaib bertengkar hebat dengan istrinya hingga berteriak teriak ke tengah jalan 'pembuat onar kaya gini masa kaga dtangkap juga ama polisi'.
Sebelum turun ke jalan, istrinya membawa batu bata yang digunakan untuk membatasi halaman mereka dari rumput liar yang tumbuh dari rumah kosong tetangga, dengan gerakan hendak menggebrak mobil suaminya.
Suaminya berkata 'jangan jangan mobil gua, ini mobil gua bukan mobil elu, toh elu juga tinggal di rumah gua' yang dijawab oleh istrinya 'mobil bokap elu rumah bokap elu'
Ah memang terjawablah kesombongannya saat dikepung oleh warga pada tahun 2007 bahwa tidak ada yang bisa mengusirnya karena rumahnya dibeli tunai.
Suaminya rupanya menuduh istrinya memiliki PIL hingga di akhir minggu itu istrinya berhenti bekerja.
Di akhir keributan suaminya meminta maaf kepada istrinya dan selama dua hari tetangga ajaib tidak lagi mengganggu tetangga lainnya, rupanya masalah dalam negeri sanggup untuk mendiamkannya.
Sebulan di kota T istri saya meminta saya untuk kredit lemari baru, 'lemari lama udah doyong bahaya bagi anak yang suka berlarian'.
Lemari ini memang satu satunya tempat storage pakaian saya istri dan anak yang selain telah berkurang kapasitasnya juga karena terbuat dari particle board tidak dapat diharapkan berumur panjang.
Saya meminta istri untuk kredit pada kenalannya dengan cara mencicil.
Bulan puasa tiba dan saya pulang hari jumat malam untuk berangkat lagi ke kota T pada selasa dini hari.
Hari minggu saya meminta kenalan istri untuk memasang lemari baru sedangkan yang lama dimintakan oleh tukang yang sering kali memotong rumput di halaman kami.
Saya tahu bahwa tetangga ajaib memiliki kebiasaan untuk bepergian pada hari minggu bersama kedua anaknya sedangkan istrinya selalu lebih memilih untuk tinggal di rumah menonton televisi.
Hari itu pemasangan berlangsung selama dua jam karena ukurannya yang cukup besar, dan saya memandang hasilnya dengan puas.
Senin pagi saya mengantarkan anak ke sekolah, menggantikan istri, bersama mobil jemputannya. Satu jam setelah anak masuk kelas, saya iseng menggunakan internet dari wifi yang dipancarkan restoran di sebelah, setelah meminta ijin tentunya untuk chatting dengan istri di rumah.
Chat selama sejam berikutnya itu mengubahkan segalanya.
Tidak terpikirkan oleh saya bahwa pada hari itu saya tidak boleh berdiam diri lagi ,'not in my backyard'
Tetangga gila mengatai anak saya dengan suara lantang dan keras dari dalam rumahnya! Anak si TS xxxx xxxx berulang kali hingga istri saya menangis dibuatnya.
Istri saya berkata dia menduga bahwa tetangga ajaib yang telah memiliki semuanya ini malah sirik pada saya yang baru saja membuang lemari masa bujangnya dan digantikan oleh lemari hasil kredit.
Inilah waktunya bertindak, karena this means war.
Spoiler for azab:
Sesuai janji pada istri saya pulang di awal bulan Juni walaupun terlambat dua minggu, untuk mendaftarkan anak semata wayang kami ke playgroup sekitar dua kilometer dari perumahan kami.
Kantor memberikan saya cuti dua minggu untuk menyelesaikan urusan sekolah, dan saya akan kembali ke kota T di Indonesia, tidak lagi ke kota L.
Penerbangan lanjutan yang terlambat antara singapura - jakarta menyebabkan saya baru sampai di rumah jam 01:00. Ada yang berubah, ibu dan anak pengusaha warung makanan di basement mall sekarang telah memiliki mobil kecil buatan Korea.
Taksi berjalan perlahan dan saya melihat... 'rumah tetangga ajaib kenapa mobilnya berubah? Mungkinkah... sudah pindah?' Ah damai kembali ke kompleks kecil kami.
Istri saya menyambut saya dengan gembira bersama anak yang memang menahan diri untuk tidak tidur. Kegembiraan saya anak akhir dari keonaran orang gila sirna saat istri saya berkata 'tetangga gila masih ada, hanya mobilnya memang berganti karena bulan lalu dia tabrakan sama angkot dan menyalahkan gara gara istrinya menyuruhnya cepat antarkan anak ke sekolah'
Degh! Tapi biarlah, mungkin dia akan belajar dari masalahnya dengan angkot dahulu.
Dini hari, jam 04:30 saya dibangunkan oleh dentuman house music kembali, WTF? Saya menelpon satpam dan meminta bantuannya karena matahari belum lagi terbit dan sangat mengganggu. Dalam tempo 10 menit house music berhenti, diikuti oleh kata-kata berikutnya 'kalau ga mau berisik tinggal di hutan aja sama xxxx, sama xxxxx'. Bodo ah saya perlu tidur.
Jam 08:00 tetangga ajaib telah pulang dari mengantarkan anaknya, dan kembali ke rumah diiringi house music. Setelah berhenti, masih berkata 'mobil jelek aja dipamerin, beli dong mobil kaya gua', ah rupanya tetangga ajaib masih saja tidak mengerti pelajaran mobilnya yang dulu vs angkot.
Ada yang berubah!
Sekarang istrinya pergi menggunakan motor yang akan menjadi kebiasaannya setiap pagi. Kerja rupanya, dan yang membuat saya heran sekarang di belakang mobilnya ada tempelan stiker 'antar jemput bandara'
Rumahnya juga dipasangi spanduk agen 'dijual'
Berbeda dengan tebakan kaskuser, saya tidak memiliki mobil, biasanya juga naik angkot + bis.
Berbeda dengan saat itu, saat saya sedang agak royal, sehingga memanggil taksi. Di akhir minggu saat saya menutup pintu taksi, terdengar komentar tetangga ajaib 'beli dong mobil...'
Hari minggu, saya melihat tetangga nomer 16 yang berdagang makanan pindahan. Rupanya mereka menyewa dan rumah itu mau di jual oleh pemiliknya. Sorenya pemilik rumah nomer 16 datang bersama agen perumahan dan memasang spanduk 'dijual'. Pemilik rumah, pria single seumuran saya membersihkan rumahnya dan tinggal disana.
Hari rabu, tiga hari sebelum saya harus terbang lagi, pembantu rumah nomer 8 berkata, 'tadi malam si tetangga ajaib beli lauk 2000-an untuk berbagai macam lauk di warung ruko perumahan sebelah'. Benar juga, seminggu ini tetangga ajaib tidak lagi membuang nasi setengah bakul ke rumah kosong di sebelah saya.
Mungkin pengalaman ini akan mengubahkan tetangga ajaib ini.
Malam minggu, seperti biasa tetangga ajaib pulang dengan dentuman house music. Ada yang berbeda. Langsung dimatikan tidak sampai 2 menit, dan terdengar suaranya berteriak teriak diikuti dengan teriakan anaknya 'tolong papa tolong'.
Rupanya tetangga nomer 16 yang menjual rumahnya diteriaki 'tidak laku!', tidak terima dan mendatanginya, memelintir leher bajunya dengan gerakan hendak memukulnya. Istigfhar, tetangga nomer 16 meninggalkannya begitu saja dan tetangga ajaib menantanginya 'kalau berani sini luh xxxxxx luh, gua ga takut gua ga takut'
Minggu pagi sebelum terbang saya sempat berbicara dengan tetangga nomer 16, dan rupanya dia membutuhkan biaya untuk pengobatan ayahnya.
Saya sempat berkata kepada istri saya, mungkin berikutnya sayalah yang akan bertengkar dengannya.
Spoiler for menyiramkan minyak:
Side story dari atas, malam sebelum berangkat anak saya gelisah kagak rela abahnya pergi lagi setelah ditinggal tiga bulan, jadi saya memakaikannya sweater tebal, menggendongnya di pundak dan mengitari kompleks. Saat itu sekitar jam 00:30, saat saya bertemu dengan seorang satpam yang sedang patroli.
'Belum tidur anaknya Pak?', demikian sapanya.
'Belum, tau nih dia abahnya mau pergi lagi', jawab saya.
Kemudian dia menceritakan sesuatu yang membuat saya sekarang tahu bahwa keonaran tetangga ajaib juga membuat empet para satpam.
Kebiasaan tetangga ajaib saat menuju pos penjagaan menuju ke luar kompleks dan sebaliknya adalah memacu kendaraannya diikuti dengan sirine panjang. Menurut satpam ini ada anak kecil dengan sepeda roda tiga hampir ditabraknya.
Ada kalanya satpam jaga menjadi muak dan tidak mau membukakan gerbang bagi dia, dan tetangga ajaib terpaksa turun dari mobil dan membuka gerbang sendiri, dan berkata 'elu semua gua yang bayar', atau 'di rumah gua di xxxx semua satpam hormat sama gua', atau 'satpam di rumah gua di xxxx semuanya profesional, digaji lebih gede dari satpam sini'.
Khusus satpam ini rupanya dahulu istrinya yang membawakan makanan rantangan bagi suaminya yang sedang bertugas jaga hampir ditabrak saat tetangga ajaib hendak memasuki kompleks dan kebetulan gerbang sedang terbuka karena beriringan dengan mobil lainnya.
Bukannya meminta maaf malah mengatai 'kurang xxxx, dasar xxxx'.
Suaminya marah dan meminta tetangga ajaib untuk mengulangi perkataanya, yang hanya dijawab dengan memacu kendaraannya pulang ke rumah.
Dalam 30 menit, saat pergantian shift, satpam ini mendatangi rumah tetangga ajaib dan mengajak duel sambil melepaskan baju yang menjadi lambang dari profesinya.
Tetangga ajaib panik dan menelpon kantor penyedia satpam, kemudian satpam ini ditenangkan oleh kedua temannya yang datang dari kantor. 'Haram hukumnya berantem dengan warga'.
Setelah satpam ini tenang dan pergi, tetangga ajaib masih berkata 'elu beraninya di sini doang, coba di rumah bokap gua di xxxx kalau ga habis elu!'
Satpam mempertanyakan sikap saya dan warga lainnya yang terkesan membiarkan walaupun setiap warga memiliki masalah dengannya, dapat saya katakan bahwa memang kepada semua orang tetangga ajaib telah menyiramkan minyak, tinggal menunggu api untuk membakarnya.
Dan saya akui bahwa saya memang sangat terganggu, tetapi bagi saya sepertinya telah terlambat, seharusnya dari dua tahun yang lalu saya konfrontasi, sedangkan di tahun ini saat ekonomi dunia bangkit lagi saya malah dikirim ke kota L kemudian T, meninggalkan anak istri sendirian di rumah.
Jam 01:00 dan saya meminta ijin untuk undur dahulu, kepada anak saya janjikan bahwa saya akan pulang di awal bulan puasa, walaupun saya tidak dapat mengantarkannya pada hari pertama sekolah.
Spoiler for this means war:
Satu minggu saya di kota T, saya mendapatkan kabar dari istri bahwa tetangga ajaib bertengkar hebat dengan istrinya hingga berteriak teriak ke tengah jalan 'pembuat onar kaya gini masa kaga dtangkap juga ama polisi'.
Sebelum turun ke jalan, istrinya membawa batu bata yang digunakan untuk membatasi halaman mereka dari rumput liar yang tumbuh dari rumah kosong tetangga, dengan gerakan hendak menggebrak mobil suaminya.
Suaminya berkata 'jangan jangan mobil gua, ini mobil gua bukan mobil elu, toh elu juga tinggal di rumah gua' yang dijawab oleh istrinya 'mobil bokap elu rumah bokap elu'
Ah memang terjawablah kesombongannya saat dikepung oleh warga pada tahun 2007 bahwa tidak ada yang bisa mengusirnya karena rumahnya dibeli tunai.
Suaminya rupanya menuduh istrinya memiliki PIL hingga di akhir minggu itu istrinya berhenti bekerja.
Di akhir keributan suaminya meminta maaf kepada istrinya dan selama dua hari tetangga ajaib tidak lagi mengganggu tetangga lainnya, rupanya masalah dalam negeri sanggup untuk mendiamkannya.
Sebulan di kota T istri saya meminta saya untuk kredit lemari baru, 'lemari lama udah doyong bahaya bagi anak yang suka berlarian'.
Lemari ini memang satu satunya tempat storage pakaian saya istri dan anak yang selain telah berkurang kapasitasnya juga karena terbuat dari particle board tidak dapat diharapkan berumur panjang.
Saya meminta istri untuk kredit pada kenalannya dengan cara mencicil.
Bulan puasa tiba dan saya pulang hari jumat malam untuk berangkat lagi ke kota T pada selasa dini hari.
Hari minggu saya meminta kenalan istri untuk memasang lemari baru sedangkan yang lama dimintakan oleh tukang yang sering kali memotong rumput di halaman kami.
Saya tahu bahwa tetangga ajaib memiliki kebiasaan untuk bepergian pada hari minggu bersama kedua anaknya sedangkan istrinya selalu lebih memilih untuk tinggal di rumah menonton televisi.
Hari itu pemasangan berlangsung selama dua jam karena ukurannya yang cukup besar, dan saya memandang hasilnya dengan puas.
Senin pagi saya mengantarkan anak ke sekolah, menggantikan istri, bersama mobil jemputannya. Satu jam setelah anak masuk kelas, saya iseng menggunakan internet dari wifi yang dipancarkan restoran di sebelah, setelah meminta ijin tentunya untuk chatting dengan istri di rumah.
Chat selama sejam berikutnya itu mengubahkan segalanya.
Tidak terpikirkan oleh saya bahwa pada hari itu saya tidak boleh berdiam diri lagi ,'not in my backyard'
Tetangga gila mengatai anak saya dengan suara lantang dan keras dari dalam rumahnya! Anak si TS xxxx xxxx berulang kali hingga istri saya menangis dibuatnya.
Istri saya berkata dia menduga bahwa tetangga ajaib yang telah memiliki semuanya ini malah sirik pada saya yang baru saja membuang lemari masa bujangnya dan digantikan oleh lemari hasil kredit.
Inilah waktunya bertindak, karena this means war.
0
Kutip
Balas