- Beranda
- Sejarah & Xenology
Kesalahan Duga: Kristen Agama Penjajah ?
...
TS
VegaLight
Kesalahan Duga: Kristen Agama Penjajah ?
Salah satu perang melawan penjajah Belanda paling dikenal oleh masyarakat adalah Perang Aceh. Perang yang berlangsung antara tahun 1873 sampai dengan 1942 merupakan perlawanan terhadap penjajah Belanda yang dilakukan oleh Kesultanan Aceh: http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Aceh
Salah satu alasan perlawanan tersebut adalah karena dugaan penjajah Belanda akan melakukan penyebaran agama Kristen di tanah Aceh. Pihak Aceh kalah dalam perang tersebut setelah pasukan Belanda melakukan sesuai siasat licik yang diperintahkan oleh Dr Snouck Hurgronje usai memata-matai wilayah Aceh dan berakhir dengan sebuah Traktat Pendek. Namun apa yang terjadi ? Wilayah Aceh hingga sekarang ini pun masih menjadi dan bahkan paling dikenal menjadi suatu wilayah berpenduduk non-Kristen di Indonesia hingga saat ini. Jika alasan penjajah Belanda menyerang tanah Aceh karena ingin melakukan penyebaran agama Kristen, tentunya sejak kekalahan pihak Aceh wilayah tersebut dengan mudahnya sudah tidak lagi menjadi wilayah non-Kristen. Namun kenyataannya pun tidak.
Itulah sekelumit kesalahan duga yang selama ini dipikirkan masyarakat Indonesia yang diperlihatkan oleh sejarah yang justru memperlihatkan bahwa Kristen tidaklah terkait dengan penjajahan Belanda. Tak hanya perang Aceh saja, perang Diponegoro (Jawa Tengah), perang Padri (Sumatera Barat), serta peperangan melawan penjajah Belanda pada wilayah non-Kristen lainnya yang hingga saat ini masih menjadi wilayah non-Kristen. Kalaupun ada itupun adalah perang Pattimura namun saat itupun sudah disebutkan bahwa wilayah tersebut telah menjadi wilayah Kristen jauh sebelum peperangan tersebut. Padahal selama ini dikatakan bahwa setelah suatu wilayah pribumi dikuasai penjajah Belanda, tentara dan rakyat di wilayah tersebut dipaksa agar menganut agama Kristen. Namun kenyataannya pula tidak seperti yang telah disebutkan.
Sebaliknya, agama Kristen justru berkembang pada daerah-daerah yang tidak disebutkan pernah terjadi peperangan melawan penjajah Belanda seperti NTT, Timor Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Dan jika salah satu tujuan penjajahan adalah menyebarkan agama, bagaimana pula dengan masa penjajahan Jepang yang pernah pula menjajah Indonesia ? Jepang pun mempunyai agama resmi tersendiri yakni agama Shinto: http://id.wikipedia.org/wiki/Shinto
Namun lagi-lagi pada kenyataannya tidak pernah dikatakan bahwa Jepang pernah menyebarkan agama Shinto dan hingga saat ini pun tidak pernah ada satu pun penganut agama tersebut di Indonesia. Jelas bahwa penjajahan tak ada keterkaitannya dengan penyebaran agama. Semua agama termasuk agama Kristen berkembang di Indonesia secara damai seperti halnya penyebaran agama Hindu dan Buddha yang datang lebih awal. Hal ini bertambah jelas bahwa tidak pernah disebutkannya satu pun misionaris yang pernah ikut dalam penyerangan Belanda. Bahkan ada diantaranya umat Kristen maupun misionaris itu sendiri yang ikut dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Mungkin beberapa Kristolog akan menyerang dengan berusaha membuat batu sandungan yakni sebuah semboyan yang memang dipakai para penjelajah Barat terutama Belanda yaitu 3G yang merupakan kepanjangan dari "Gold, Glory, dan Gospel" yang memiliki arti "mencari kekayaan, mencari kejayaan, dan menyebarkan agama Kristen". Serangan ini bisa dipatahkan secara gamblang karena semboyan tersebut hanyalah merupakan penyebutan jenis-jenis misi penjelajahan Barat yang berbeda setiap penjelajahnya karena terbukti tidak pernah pula seorang misionaris sekaligus menjadi pejabat kompeni dan begitu pula sebaliknya. Hal ini juga diperkuat dengan informasi sejarah bahwa semboyan tersebut muncul ketika penjelajah Belanda hanya melakukan perdagangan biasa dan belum melakukan penjajahan sehingga jelas bahwa itu bukanlah semboyan penjajahan.
Ada pula yang menyebutkan bahwa pihak Vatikan dan Paus sendiri juga mendukung penjajahan dunia Barat: http://ddii.acehprov.go.id/index.php...idah&Itemid=59
Jelas hal ini tentu tidak konsisten karena keterkaitan Gereja Katolik dengan penjelajahan dunia Barat hanyalah untuk mendamaikan perselisihan wilayah dagang antara Portugis dan Spanyol melalui perjanjian Tordesillas dan perjanjian Saragosa dengan membagi wilayah dagang tersebut:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanj...an_Tordesillas
- http://id.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Saragosa
Dan itupun hanya sebatas mendamaikan dan tidak menyuruh ataupun tidak terkait kedua bangsa tersebut untuk melakukan penjajahan dikemudian hari. Dan jika Gereja Katolik memiliki keterkaitan dengan penjajahan dunia Timur, kenapa pula negara Italia yang merupakan negara tempat Vatikan dan Paus berada tidak ikut serta melakukan penjajahan seperti halnya negara Barat lainnya dan hanya pernah melakukan penjelajahan dunia Timur untuk sekedar menyebarkan agama Kristen ?
Serta kenyataan paling kuat saat ini adalah seluruh pengurus gereja di Indonesia sekarang adalah orang Indonesia semua dan tidak ada lagi yang berasal dari orang Barat. Dan kalaupun terdapat seorang pendeta atau pastor dari luar negeri yang melakukan kunjungan ke Indonesia pun hanya sekedar silaturahmi belaka dan itupun tidak memiliki keterkaitan dengan kemiliteran di negaranya. Jika memang Kristen memiliki kepentingan terhadap penjajahan maka sudah tentu Kristen tak akan lepas dari adanya pengurus gereja dari orang Barat sampai sekarang ini dan jika memang Kristen memiliki keterkaitan dengan penjajah maka sudah tentu Kristen akan lenyap dari Indonesia bersamaan dengan penjajah Belanda puluhan tahun lalu. Akan tetapi kenyataannya pun tidak.
Dari: http://worldpeace8281.blogspot.com/2...-penjajah.html
Lihat pula mengenai ulasan isu2 lainnya disini
: http://worldpeace8281.blogspot.com/s...y%20-%20BeritaUtk ayat2 Alkitab bisa dilihat disini
: http://worldpeace8281.blogspot.com/s...%20-%20AlkitabUtk ajaran2 bisa dilihat disini
: http://worldpeace8281.blogspot.com/s...y%20-%20Ajaran0
43.4K
181
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
kladestine
#44
Ane kira yang dianggap "penjajah" di Indonesia adalah bukan hanya berasal dari Belanda. Begitu juga orang yang bukan di golongan pribumi (yang juga mungkin disamakan penjajah) juga bukan hanya berasal dari Belanda. Mungkin karena orang Indonesia yang sudah tua-tua terbiasa dengan mindset bule=landa jadi masih terbawa. Akantetapi mengenai ini mungkin dilanjutkan dibahasan lain walau masih ada hubungannya.
Secara rasional, misi penyebaran agama dibarengi dengan misi perdagangan akan memberikan manfaat yang tidak maksimal untuk keduanya. Karena pada fokusnya, yang ane tangkap, yang diprioritaskan baik oleh VOC, Inggris ataupun pemerintahan Belanda adalah lebih mengenai perdagangan. Karena pada umumnya ribut-ribut antara pengkoloni satu dengan pengkoloni lainnya secara lingkup global adalah soal perdagangan.
Mungkin juga itu kenapa, selain Indonesia, India (yang lebih banyak didatangi ... East Indie Company) juga tidak berubah banyak dalam hal keagamaan. Kurang lebih juga sama dengan beberapa negara bekas kolonisasi lainya di daerah asia tenggara. Kecuali, jika pengertiannya adalah penjajah=pedagang dan sebaliknya.
Tidak bisa dipungkiri agama dalam sejarah memang pernah dijadikan alasan perang. Dimana setelah perang selesai ada lahan kosong dan kemudian menjadi bagian sang pemenang. Hingga pada gilirannya ada anggapan bahwa seluruh periode sejarah adalah karena hal tersebut. Wajar jika dianggap masa kolonilasasipun juga masih begitu.
Akantetapi jika mau melihat lebih dalam di sejarah kolonisasi Indonesia, keadaan didalam lingkup nasional tidaklah selalu masyarakat golongan pekerja langsung bermasalah dengan penjajah. Karena ada lapisan "penerjemah" diantara keduanya. Entah itu berupa monarki atau kaum terpelajar atau priyayi atau yang lainnya. Lapisan ini ada yang teritorial, ada juga yang antar teritorial. Rasionalnya, seorang pekerja apa bisa diberikan perintah dengan bahasa yang tidak ia mengerti? Begitu juga, apakah bisa sebuah agama diberikan dari keterbatasan itu?
Menurut ane, lapisan penerjemah yang ada di Indonesia ini justru sudah memiliki agama (apapun itu) dan pola cara yang tersendiri. Karena ada kelas-kelas dalam masyarakat yang sudah terbentuk terlebih dahulu disini. Secara kasar adalah pekerja-penerjemah-penjajah. Pekerja membayar pajak ke penerjemah, penerjemah membayar pajak ke penjajah. Skema ini di Indonesia kurang lebih berlaku cukup baku sampai kemudian datang masa banyak golongan pekerja berkesempatan menerima pendidikan.
Menurut ane, perang-perang besar datangnya lebih dari golongan penerjemah ke penjajah. Hingga dengan skema yang demikian maka pada saat gerakan nasionalisme tergelar, ada bagian dari kubu yang tadinya golongan pekerja dan golongan penerjemah bertemu di tempat yang sama. 1 ingin negara begini, 1 ingin negara begitu.
Bagaimanapun, di Indonesia sendiri, tidak bisa secara simple diartikan adanya gereja atau kapel adalah bagian penjajah, adanya masjid atau surau adalah bagian penerjamah. Jika demikian, lalu mana bagian pekerja? Begitu juga dengan tidak bisa mengartikan semua invasi atau pendudukan atau imperialisasi atau pola tingkatan atas bawah lainnya adalah selalu berbau keagamaan.
' be wise when related anything, because some of warmonger are frustrated peacemaker'
Secara rasional, misi penyebaran agama dibarengi dengan misi perdagangan akan memberikan manfaat yang tidak maksimal untuk keduanya. Karena pada fokusnya, yang ane tangkap, yang diprioritaskan baik oleh VOC, Inggris ataupun pemerintahan Belanda adalah lebih mengenai perdagangan. Karena pada umumnya ribut-ribut antara pengkoloni satu dengan pengkoloni lainnya secara lingkup global adalah soal perdagangan.
Mungkin juga itu kenapa, selain Indonesia, India (yang lebih banyak didatangi ... East Indie Company) juga tidak berubah banyak dalam hal keagamaan. Kurang lebih juga sama dengan beberapa negara bekas kolonisasi lainya di daerah asia tenggara. Kecuali, jika pengertiannya adalah penjajah=pedagang dan sebaliknya.
Tidak bisa dipungkiri agama dalam sejarah memang pernah dijadikan alasan perang. Dimana setelah perang selesai ada lahan kosong dan kemudian menjadi bagian sang pemenang. Hingga pada gilirannya ada anggapan bahwa seluruh periode sejarah adalah karena hal tersebut. Wajar jika dianggap masa kolonilasasipun juga masih begitu.
Akantetapi jika mau melihat lebih dalam di sejarah kolonisasi Indonesia, keadaan didalam lingkup nasional tidaklah selalu masyarakat golongan pekerja langsung bermasalah dengan penjajah. Karena ada lapisan "penerjemah" diantara keduanya. Entah itu berupa monarki atau kaum terpelajar atau priyayi atau yang lainnya. Lapisan ini ada yang teritorial, ada juga yang antar teritorial. Rasionalnya, seorang pekerja apa bisa diberikan perintah dengan bahasa yang tidak ia mengerti? Begitu juga, apakah bisa sebuah agama diberikan dari keterbatasan itu?
Menurut ane, lapisan penerjemah yang ada di Indonesia ini justru sudah memiliki agama (apapun itu) dan pola cara yang tersendiri. Karena ada kelas-kelas dalam masyarakat yang sudah terbentuk terlebih dahulu disini. Secara kasar adalah pekerja-penerjemah-penjajah. Pekerja membayar pajak ke penerjemah, penerjemah membayar pajak ke penjajah. Skema ini di Indonesia kurang lebih berlaku cukup baku sampai kemudian datang masa banyak golongan pekerja berkesempatan menerima pendidikan.
Menurut ane, perang-perang besar datangnya lebih dari golongan penerjemah ke penjajah. Hingga dengan skema yang demikian maka pada saat gerakan nasionalisme tergelar, ada bagian dari kubu yang tadinya golongan pekerja dan golongan penerjemah bertemu di tempat yang sama. 1 ingin negara begini, 1 ingin negara begitu.
Bagaimanapun, di Indonesia sendiri, tidak bisa secara simple diartikan adanya gereja atau kapel adalah bagian penjajah, adanya masjid atau surau adalah bagian penerjamah. Jika demikian, lalu mana bagian pekerja? Begitu juga dengan tidak bisa mengartikan semua invasi atau pendudukan atau imperialisasi atau pola tingkatan atas bawah lainnya adalah selalu berbau keagamaan.
' be wise when related anything, because some of warmonger are frustrated peacemaker'
0