Kaskus

Story

GurikhoAvatar border
TS
Gurikho
The Lady Emperor
Prolog 1

Apakah dunia ini tidak sehebat bentuknya?
Mengapa dunia ini penuh dengan penghianatan?
Atas dasar apa dia berpaling?
Atas alasan apa dia pergi meninggalkan diriku seorang diri?
Dia bukanlah seorang wanita, tetapi monster tidak berperasaan !!
Dia meninggalkan aku hanya untuk harta dan pergi untuk ketidakpastian.

Busuk mulutmu dan tawamu membuatku muak dan geli.

Tetapi itulah kamu.
Sespesial itu dirimu untuk ku.

Walau seperti itu kamu tetap menjadi pujaan hati ku.

Sepanjang hidupku.


-Aldy

Spoiler for INDEX:
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
22.8K
183
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
GurikhoAvatar border
TS
Gurikho
#89
Lelaki mungil; seorang anak kecil berbaju Nirvana itu bernama Alex, teman kecil Junior yang tinggal berdekatan sekitar 3 blok dari rumahnya, seorang anak yang sangat lincah, periang, tangguh dan tidak cengeng. Di wilayah rukun tetangga Jun, Alex memang dikenal aktif dan sulit berdiam diri, setiap hari pasti ada saja yang dibuatnya, tetapi karena sifatnya itu menjadikan dirinya populer, berbalik halnya Junior yang lebih memilih diam, silent, kaku, cengeng dan tidak vokal.

Mereka berdua akhirnya bermain bersama di luar rumah yang diikuti oleh 2 anak kecil yang masing-masing laki-laki dan perempuan. Dengan jumlah 4 orang, mereka bersama-sama bermain tanpa menghiraukan teguran orangtua, bermain hingga keringat-keringat kecil menembus pakaian-pakaian mereka, canda, sindiran dan tawa begitu vokal terdengar. Kelincahan mereka benar-benar menunjukan bahwa mereka sedang menikmati kehidupan sebagai seorang anak semestinya.

Bermain - Tidak ada batas waktu - Bahagia - Senang - Mimpi - Sebuah Kenangan.

Keempat anak tersebut bermain hingga lupa waktu, matahari sore begitu indah dikala penghujung terang, hari mulai gelap, dan beberapa menit lagi akan terdengar bunyi beduk tanda Adzan Maghrib mengudara. Anak-anak itu masih sempat-sempatnya berlari-lari, kejar-kejaran, benar-benar berstamina kuda, ga ada capeknya. Sampai waktu menunjukan pukul enam, sahutan keras dari suara perempuan yang lantang terdengar membuat mereka berempat terdiam dan... TAKUT..

Wanita: JUN !!! PULAAAANGG !! JAM BERAPAA INI ?? SUDAH MAU MAGHRIB TAU !! emoticon-Mad (S)

Jun: Iyaaa Maaaah !! Bentar lagi !! emoticon-Wink

Wanita: PULANG SEKARANG !! KALO GA MAMAH SETRAP KAMU !!

Jun: iiiyy.... iyaa maah emoticon-Frown Lex, Ru, By balik yuk.. Mamah ku marah tuh emoticon-Cape d... (S)

Alex: Yaaaaah, ga bisa main lagi deh emoticon-Frown Padahal lagi seru-serunya main benteng.. Ya kan Ru? By? emoticon-Berduka (S)

Daru: Padahal lagi seru juga emoticon-Cape d... (S)

Ruby: Tauuuu nih !! Pulang deh.. Padahal lagi asik jugaaa emoticon-Frown

Tiba-tiba sahutan dari seorang wanita berubah menjadi teriakan wanita yang berlipat ganda.. Orangtua keempat anak tersebut pun ikut berteriak keras..

"KEMARI KALIAAAAN SEMUAAAA !!!! DASAR ANAK - ANAK NAKAL !!" emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)

Yaaa, begitulah.. Disaat masih kecil, dimana saat paling nikmat menjalani kehidupan tanpa harus berpikir panjang kedepan, yang kesemuanya diisi oleh sejuta permainan seru di luar rumah yang mampu membentuk karakter setiap anak pada masa kelak, memang terkadang sampai lupa waktu. Cucuran keringat tidak lagi dipedulikan, luapan kegembiraan benar-benar terasa disaat umur masih kecil yang tidak bisa jauh dari orangtua, dan pastinya orangtua pun akan bawel terhadap sikap anaknya yang suka bermain sampai lupa waktu.

Teriakan itu membuat keempat anak tersebut secara rapih berjalan kedalam rumah Junior. Keempat orangtua dari masing-masing anak sepertinya kesal melihat tingkah laku anak-anaknya yang berkeringat dengan noda-noda kotor disekitar bajunya. Junior pun mendapat ganjaran dari apa yang ia buat, tamparan telak mendarat di pantatnya, seorang wanita berparas 40-an, ibu dari Junior yang bernama Maria, sedang memarahinya. Jun pun terdiam membisu, ia tidak dapat berkata apa-apa.

Sementara itu, Alex beserta ibu nya pun sedang terlibat pembicaraan dan Alex pun memprotes ibunya, karena ia masih ingin bermain. Tetapi percuma, ibunya lebih galak ketimbang dirinya. Ia pasrah dan hanya bisa diam, tetapi berselang waktu beberapa menit ia pun riang kembali layaknya cacing kehilangan rumah. BERMAIN.

Daru dan Ruby? Ya, mereka adalah teman kecil dari Junior dan Alex. Keempat kawanan ini telah bersahabat dari orok. Rumah mereka memang berdekatan, hanya saja Ruby rumahnya sedikit lebih jauh dari mereka bertiga, ia tinggal di daerah Ragunan. Dikarenakan ayah dan ibu dari Ruby telah mengenal lama keluarga Junior, ia pun jadi sering datang. Ruby terlahir dari ibu berwarga negara Belanda dan seorang ayah asal sulawesi utara, setengah bule atau indo. Saat itu Ruby memang sudah terlihat bibit-bibit cantiknya, dan saat ia dewasa pun kecantikanya tidak memudar malah semakin bertambah.

Walaupun berbeda jalan, Daru masih satu tetangga dengan Jun. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya dan neneknya yang sudah rentan. Ia dengan Alex sangat dekat dan selalu bermain bersama, sementara Jun, jarang. Itu dikarenakan keluarga Jun dikenal Strict yang sangat disiplin akibat didikan seorang bapak keturunan asli Jepang yang berwatak keras. Ibunya Jun pun ketularan dengan sikap suaminya yang tidak kenal kompromi dan tegas, alhasil Junior pun selalu dikekang dengan berbagai aturan yang mengikat. Membosankan.

Tetapi semua itu patut disyukuri oleh Jun, walaupun mendidik anaknya dengan keras, kedua orangtuanya begitu menyayanginya, semua dapat dilihat dari banyaknya mainan yang dimilikinya saat itu yang melebihi mainan teman-teman nya, dan wajar saja Junior adalah anak satu-satunya.

Suasana rumah Jun masih begitu meriah, acara makan-makan pun terus digelar, pesta yang dilakukan untuk sebuah selebrasi penambahan umur bagi ayahanda Junior berlangsung lama. Seorang lelaki berdarah Jepang itu begitu sangat dihormati dan Junior selaku anak sangat mendambakan menjadi seperti ayahnya suatu saat nanti.

Waktu pun tidak bisa dikendalikan lagi, malam terus berlanjut hingga saatnya kerumunan orang-orang pun berpulangan kerumah masing-masing, dan menyisakan keluarga Alex, Daru dan Ruby saja. Akhirnya, Ruby pun tertidur pulas dipelukan ibunya, Daru tidur diatas sofa samping ayahnya dan Junior terlelap di pangkuan ibunya, lalu Alex? Ia masih tetap segar dan sepertinya ia tidak ngantuk dan capai, hanya saja kali ini ia lebih kalem dari biasanya.

Keempat keluarga itu terlibat obrolan panjang, sekali-kali mereka tertawa, dan melontarkan sejumlah candaan. Tetapi ada satu yang mengganjal, sebuah perkataan dari salah seorang dari 4 keluarga tersebut, yang serentak didengar oleh kesemuanya, termasuk juga Alex, Daru, Ruby dan Junior sendiri. Walau Jun, Daru dan Ruby tertidur, tetapi mereka secara samar-samar mendengar dan hanya Alex sendirilah menjadi saksi kuat pembicacraan itu.

"Kita seperti keluarga.. saling membantu dan saling menolong.. Sampai pada waktunya kita menurunkan janji tersebut ke anak-anak kita.. Janji saat kita masih muda"

Waktu itu Jun tidak mengerti apa artinya, sama halnya dengan Alex, Daru dan Ruby.. Tetapi tanpa disadari janji tersebut tetap berjalan sampai kini..

Waktu pun kembali ke asal, Puntung-puntung rokok filter berteberan disekeliling batu tempat Junior terduduk, ia menghabiskan kurang lebih 5-6 batang rokok saat itu. Dadanya sempat sesak karena begitu banyak asap rokok yang keluar masuk di rongga paru-parunya, tetapi ia berlaku cuek dan kembali membakar rokok selanjutnya.

Sembari menyalakan rokok ia berdiri, melemaskan otot pahanya, mengangkat kaki kananya dan menariknya kebelakang hingga sekitar bokong, tangan kanan menahan angkelnya, seperti atlet sedang pemanasan. Junior kembali berdiri tegak setelah melemaskan beberapa otot yang berasa pegal, ia berjalan sedikit kedepan, mengambil sebuah batu kecil dan melemparnya datar ketengah-tengah danau...... Diam..... Lalu mengangkat kepalanya keatas, pandangan mata menuju sang rembulan, dan ia berkata..

Junior: Hey Alex? Daru? Ruby? My Best Friend? My Brotha and sista? Kita harus tolong menolong, iya kan?? Jawab !! Karena hidup ini keras bukan? Setuju kan lu semua sama gua? Setuju kan... kawan??!!

Tetes air mata kecil mengalir di ujung kelopak matanya, pandanganya tetap lurus menghadap sang raja malam, ia menangis pedih.. Perih.. Masa lalunya yang kelam mulai me-refresh kembali di sepanjang otaknya. Memori-memori lama yang sulit sekali menghilang dari ingatanya, memori pedih yang menjadikan dirinya lebih dingin dari serigala itu sendiri, perlahan-lahan memori pedihnya pun bermanifestasi, lalu tiba-tiba saja ia lemas dan terduduk di atas rumput-rumput kering berwarna kuning terbakar, lalu ia menundukan kepala, mengambil beer kedua dari sebuah plastik, diminumnya cepat hingga habis tak bersisa, menghisap rokok, dan....

Waktu pun berputar kembali kemasa lampau..

Dihadapanya sekarang adalah Alex, Daru dan Ruby.. Teman-teman semasa kecilnya yang sempat bermain bersama diluar rumah ketika itu, tetapi sekarang bukan lagi diluar rumah, bukan sekitaran rumahnya, melainkan dihadapan sebuah peti mati berukuran besar berwarna putih, berlambang salib, serta sesosok pendeta yang memegang kitab suci dan berdiri persis berhadapan peti tersebut. Saat itu Junior terdiam, membisu, bekas usapan air mata masih tersisa di ujung matanya yang lebam sehabis tangis panjangnya dan sekepal tangan halus seorang wanita memegang tangan kananya karena di tangan kirinya ia tetap memegang action figure saint seiya favoritnya.

Moment itu.. Moment titik balik perubahan bagi seorang anak laki-laki.. Rintihan sakit tanpa luka yang berbekas pedih didalam hatinya.. Serigala.. Ia berjalan menuju gerbang pintu dimensi baru.. Dimana ia harus terus berdiri melawan waktu..

Ibu.. Mamah.. Bunda.. Maria.. Siapapun itu.. Janganlah tinggalkan aku sendirian disini..



Bersambung

Spoiler for Nirvana - Come As You Are:
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.