- Beranda
- Stories from the Heart
The Lady Emperor
...
TS
Gurikho
The Lady Emperor
Prolog 1
Apakah dunia ini tidak sehebat bentuknya?
Mengapa dunia ini penuh dengan penghianatan?
Atas dasar apa dia berpaling?
Atas alasan apa dia pergi meninggalkan diriku seorang diri?
Dia bukanlah seorang wanita, tetapi monster tidak berperasaan !!
Dia meninggalkan aku hanya untuk harta dan pergi untuk ketidakpastian.
Busuk mulutmu dan tawamu membuatku muak dan geli.
Tetapi itulah kamu.
Sespesial itu dirimu untuk ku.
Walau seperti itu kamu tetap menjadi pujaan hati ku.
Sepanjang hidupku.
-Aldy
Apakah dunia ini tidak sehebat bentuknya?
Mengapa dunia ini penuh dengan penghianatan?
Atas dasar apa dia berpaling?
Atas alasan apa dia pergi meninggalkan diriku seorang diri?
Dia bukanlah seorang wanita, tetapi monster tidak berperasaan !!
Dia meninggalkan aku hanya untuk harta dan pergi untuk ketidakpastian.
Busuk mulutmu dan tawamu membuatku muak dan geli.
Tetapi itulah kamu.
Sespesial itu dirimu untuk ku.
Walau seperti itu kamu tetap menjadi pujaan hati ku.
Sepanjang hidupku.
-Aldy
Spoiler for INDEX:
anasabila memberi reputasi
1
22.9K
183
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Gurikho
#88
Side story 2 - 1
Memoria Serigala Jalanan
Memoria Serigala Jalanan
Seruan angin malam menjelang pagi, masih begitu dingin menusuk tulang. Malam seakan begitu mencekam dengan kesepian tingkat tinggi sederajat dengan tawa bisu bibir seorang penakluk perang. Sepi tiada tanding melanda kota Jakarta saat itu, hanya menyisakan terang-terang berkabut dari sinar ketinggian tiang-tiang besi lampu jalanan.
Langit masih tertutup awan tebal, dan terlihat samar sang raja malam terduduk santai di atas bumi, dengan bentuknya yang bundar yang selalu setia menemani dunia dikala gelap.Kasarnya lantai jalanan ternoda dengan ceraian sampah dan jejatuhan daun-daun kering dari pepohonan, dan sekali-kali waktu angin menghebusnya mengikuti arah kendaraan yang melaju kencang. Hanya beberapa kendaraan saja terlihat waktu itu, dan sisanya, mungkin tidak ada. Kosong dan sepi.
Nyawa Jakarta malam semakin menipis dari keramaian. Saatnya istirahat, di penghujung malam yang dipenuhi berbagai macam aktifitas yang menyita energi serta pikiran, dan semua itu harus ditutup dengan doa menjelang tidur sebelum pergi ke alam impian.Tetapi, di kala itu, disaat setiap insan manusia hendak istirahat, seorang lelaki.. Lelaki yang memiliki segudang pengalaman, yang telah menyicipi asam manis kehidupan kota Jakarta yang keras, sekarang masih terlihat terjaga.
Ia bertahan dengan mata yang cukup tajam, ia terus menatapi kerumunan air yang stabil tanpa gelombang di sebuah danau daerah cinere-depok. Suasana danau tersebut begitu sepi, gelap dan sedikit mencekam, tidak ada penerangan dan tidak ada satupun kendaraan lewat, hanya beberapa orang saja terlihat berlalu lalang ke arah warung di seberang jalan.
Junior menyendiri disamping sepeda motornya yang besar, merenung dan mengingat, semua kejadian yang pernah dialaminya. Tempat ini, danau ini, memang rumah kedua baginya saat ia membutuhkan sebuah ketenangan. Sudah berapa lama ia tidak mengunjungi danau tersebut, karena ada beberapa hal, ia mengurungkan niatnya untuk kesana dan memilih fokus dalam tugasnya.
Lelaki botak bertato, kaku dan dingin, acuh dan tidak perduli, sinar matanya yang jujur apa adanya, dibalik wajah orientalnya ia menyimpan begitu banyak tragedi pada masa lalulnya, terutama saat ia masih kecil. Kenangan masa lalu yang meninggalkan begitu banyak jejak diujung lerung-lerung hatinya sehingga membuat dirinya memiliki sebuah tujuan, impian dan ekspetasi jangka panjang. Serigala licik nan berbahaya, pekerja keras yang sendirian, ia melaju tanpa kenal takut..
Sebuah cerita.. Sepenggal pengalaman.. Kenangan.. Memoria..
..Junior Kiminami..
..Junior Kiminami..
Waktu menunjukan tepat di angka 2 pagi hari, rembulan masih bersinar di ujung langit, tiupan angin malam menuju pagi masih terasa dingin dan suasana di danau itu pun tetap sunyi dalam gelap. Junior terduduk santai di sebuah batu besar dipinggir kali, sekian lama ia berdiri melamunkan pikiran nya hingga batas-batas memori, sepertinya ia sedang ingin sendirian.
Saat itu memang saat yang terdalam baginya, telah lama ia tidak mengenang kembali berbagai macam memori lampaunya, memori-memori paralel yang menjadikan dirinya hingga saat ini. Kejadian-kejadian lalu yang dialaminya, pahit dan keras, pengalaman paling menyakitkan baginya, sejarah hidup yang membuatnya sering menangis sendirian. Ia mulai menyilangkan kakinya, mengeluarkan sebungkus rokok filter favoritnya, sebatang rokok ia raih dengan tangan kanan, lalu mengambil pematik api dan dibakarnya. FUUUUHHHHHH !!
Selang beberapa menit menikmati sepuntung nikotin berlabel filter tersebut, ia pun meraih sebuah plastik putih berlambang C-K di pegangan gas sebelah kanan, dari luar terlihat samar sebuah tulisan di permukaan kaleng.. Bintang.. Dengan lihai ia membuka penutup beer itu lewat jempol tangan kananya, PLEEEEK !! Busa-busa putih mengelilingi kaleng itu dan dengan
cepat ia meminumnya.
Seperti manusia sedang kekeringan, dengan cepat ia telan air dengan campuran gandum serta ekstrak dari alkohol tersebut hingga setengahnya, lelaki muda itu memang membutuhkanya.Kadar alkohol 5% di dalam kandungan beer tersebut memang membantu dirinya menemukan jalan ke alam masa lalu, ia terlihat sedikit santai sembari melamunkan pandangan ke arah danau yang tenang.
Sorot matanya mulai melemah, fokus pandangan mulai memudar, pandangan terhadap danau yang ia lihat mulai berubah, seperti sebuah pusaran angin
topan dalam badai, ia pun tersorot masuk kedalam nya, ia pun kembali ke masa dimana ia masih kecil.. Moment terindah dalam hidupnya, sebelum bel tanda kesedihan menghampirinya.
Dalam hitungan detik - hingga ke menit; akhirnya Jun merasa telah kembali di alam bawah sadar masa kecilnya saat ia berumur 10 tahun, mundur 12 tahun dari waktu asal.Sekarang ia berada di sebuah rumah dibilangan pasar minggu, rumah berukuran sedang, didalam sebuah kawasan perumahan yang sekarang letaknya tidak jauh dari jalur kereta api pasar minggu.
Suasana tempat itu begitu ramai, dengan begitu banyak orang disana, orang-orang tua, dan beberapa anak-anak kecil serta anak tanggung ber-kepala muda. Begitu meriah. Jun kecil terlihat sangat imut dengan pipinya besar dan gemuk, tubuhnya gempal, dan wajahnya lebih friendly ketimbang waktu ia berumur 22 tahun - umurnya sekarang.
Sekarang ia terduduk di sebuah bangku, bangku miniatur dari bangku orang-orang dewasa, berwarna merah, dan memiliki corak batik di permukaanya, dan ia pun terus mengenggam sebuah mainan, seorang tokoh
dalam, serial anime legenda.. Saint Seiya.. The Phoenix Warrior of Athena, Ikki..
Action figures tersebut telah menjadi barang kesayangan nya hingga dewasa, tidak ada bekas lecet sekalipun, walau telah melewati beberapa tahun, tokoh mainan dalam anime itu masih berdiri gagah di lemari mainan koleksinya.
Dulu waktu kecil, Junior memang pecinta mainan action figures yang berasal dari negara keduanya setelah Indonesia, yaitu Jepang. Hampir satu lemari penuh dipenuhi dari berbagai macam tokoh dari serial manga ataupun
anime Jepang, hobinya tersebut menjadi hobi sepanjang masa yang sulit dipadamkan. Dibalik sosoknya yang dingin dan acuh, ia tetap memiliki sifat asli seorang anak yang dahulu sangat bahagia.
Junior memperhatikan setiap gerak-gerik manusia yang berada didalam rumahnya, ruang keluarga tempat dia berada pun telah penuh diisi oleh anak-anak sebayanya. Ia terdiam, hanya diam. Ia terus memperhatikan tanpa memalingkan pandangan, dan pandangan nya itu sepertinya berfokus terhadap ketiga anak kecil yang sedang asik bermain.
Salah satu dari ketiga anak yang diperhatikannya tersebut adalah seorang anak laki-laki, rambutnya coklat dan memiliki mata berwarna coklat tua, dan setelan baju bertuliskan "Come as you are" yang bergambar lelaki blonde gondrong, ber-kemeja flanel merah dan sedang menghantamkan gitar merk fender ke lantai panggung.. Nirvana by Kurt Cobain.. Simply the Legend!!
Anak laki-laki tersebut sangat lincah, lari kesana kemari, ngobrol lalu tiba-tiba bercanda, lompat-lompat di sofa, sampai ketika ia terjatuh tersandung kaki meja yang letaknya di tengah-tengah ruangan.
Terjatuh keras dan kepalanya menghantam lantai berlapis keramik silver... JEDUUUUKKK !!! Terdiam sesaat .............. Lalu berdiri kembali ......
Anak berbaju Nirvana: Aduuuuh... Sakit !!

Anak kecil tersebut mengusap kencang dahinya, sepertinya memang sakit karena perlahan melegam kebiruan, suasana diam tiba-tiba menjadi larut dalam kekawatiran. Semua orang disana baik tua dan muda-mudi pun mencoba mengangkat moril anak tersebut dengan kata-kata pembakit semangat. Dan seseorang lelaki jangkung yang sepertinya adalah ayahnya, berkata sesuatu.
"Jangan nangis ya nak.. Kamu itu anak laki - laki.. Kamu kan anak papah.."
Anak berbaju Nirvana: Iyaaaa Pah !!
Ga sakit kok !! HEHEHE 
Dia pun tersenyum dan kembali melakukan aksi cacing kepanasanya, ia pun berlari kesana kemari, hingga pada saat ia berhenti di hadapan Junior yang duduk berdiam diri.
Anak berbaju Nirvana: Hey kamu !! Jun.. Main yok !! Kamu diam aja dari tadi.. Kita main aja, main yang seru yook !!

Junior: Aah, jangan aah.. Nanti mamah papah aku marah, kamu liat aja mereka lagi di ruang tamu, nanti klo aku keringetan bisa dimarahin lagi.. Ga mau ah !!

Anak berbaju Nirvana: Kamu nih.. Ga seru !! Rock n Roll dong !! Klo kata papah aku, aku boleh maen sepuasnya asal jangan lupa belajar sama makan yang banyak. Ayooo dong kita main !!
Junior: Mmmm.. Yaudah, ayo deh kita main.. Tapi jangan main dirumah ya, kita main diluar aja Lex !! Soalnya kalo dirumah mamah suka marah-marah, takut barang-barangnya pecah.. Ya.. Ya.. Ya..

Anak berbaju Nirvana: Asyiiiikkkk.. Asyiiikkk.. Ayooo.. Ayooo.. Ajak yang lain nya juga ya Jun !!

Junior: Iyaaa

0