TS
dantd95
.: dantd95s Stories, Concepts & Universe :.
Well, mengikuti tren yang ada, gue memutuskan lebih baik menampung semua cerpen yang udah gue bikin disini daripada nyebar dan pada tenggelem 
intinya sih cerpen2 gue bakal dibagi 2 :
those in my universe of Andreass,
1. The Old Spider; Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5
and other assorted stories.
1. Ilusi/Fakta; Part 1, Part 2, Part 3; original thread
2. Cinderella Di Atas Tumpukan Sampah; Part 1, Part 2; original thread
3. Common Sense; Part 1, Part 2; original thread
enjoy, and don't forget C&C (comment & cendol)!

intinya sih cerpen2 gue bakal dibagi 2 :
those in my universe of Andreass,
1. The Old Spider; Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5
and other assorted stories.
1. Ilusi/Fakta; Part 1, Part 2, Part 3; original thread
2. Cinderella Di Atas Tumpukan Sampah; Part 1, Part 2; original thread
3. Common Sense; Part 1, Part 2; original thread
enjoy, and don't forget C&C (comment & cendol)!
0
2.4K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•355Anggota
Tampilkan semua post
TS
dantd95
#4
Cinderella Di Atas Tumpukan Sampah Part 1
A/N : Ini cerpen kedua penulis, meski tidak sesukses yang pertama karena bereksperimen, tapi semoga masih bisa dinikmati! 
Siapakah aku? Aku hanyalah seorang yang naif. Ditanya kembali, apakah tujuan hidupku? Tidak ada, jawabku. Dan apa yang menjadi cita-citamu? Belum kutentukan, kataku. Maka untuk apa kamu ada? Mengapa kamu dapat menujukkan eksistensimu di dunia bulat ini, sementara banyak orang lain yang bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat melihat sinar harapan?
Tanyakan itu pada zat yang membuat dunia berputar, kataku. Yang membuat dunia ini menjadi ada, dengan segala kefanaannya dan segala realita berwarna hitam kelam dengan bercak-bercak putih bernama mimpi. Dia tidak puas. Bukankah semua ini akan kembali pada yang hakiki? Kutanyai dia dengan buas.
Dia tidak menjawab lagi. Rasakan. Pikiranku itu terus menanyaiku akan apa yang aku perbuat dan tidak perbuat. Mengapa? Dia hanya sebongkah fragmen kecil dariku. Dia tidak berhak mengaturku dengan ide-idenya. Aku punya ideologiku sendiri, dan sebagai bagian dari tubuhku dia wajib patuh padaku. Tidak bisa tidak.
Namun, kupikirkan lagi segalanya. Aku, anak orang berpunya yang tidak memanfaatkan kesempatan hidup dan keberuntungan. Aku punya kesempatan, tapi yang kuambil hanyalah kesenangan fana. Bukankah kesenangan fana itu hanya sesaat saja? Aku tahu itu, tapi aku menyerah kepada kesenangan yang memabukkan itu.
Rasakan! Hei pikiranku, janganlah engkau menyeruak tanpa mengetuk pintu hatiku terlebih dahulu. Dia tidak menurutiku. Biarlah, alam bawah sadar memang paling sulit untuk dikekang. Tidak usah kudengarkan perkataannya itu. Tapi, sebenarnya memang aku harus merasakan getah pahit dari pohon keburukan ini yang mengikatku di bawah akarnya hingga tak bisa lepas.
Aku harus memperbaiki diriku sendiri. Berubah. Berhenti menjadi ulat yang menggigiti daun bernama orang tua dan masuk ke dalam kepompong pencarian hidup, kepompong pengembaraan hingga menjadi kupu-kupu : manusia sejati yang bisa berdiri untuk dirinya sendiri.
Maka aku lari dari segala kekangan kemewahan yang menyesakkan di rumahku, dan aku mulai mengembara menjadi orang bebas. Bebas untuk mencari madu kehidupan, mencari makna yang tersimpan dalam kata-kata yang diucapkan setiap insan, menemukan belahan hati yang tersimpan dalam kotak emosi terdalam seorang wanita yang terpilih.
Dua bulan, sudah berlalu dengan perjalanan menapaki kepingan makna kehidupan dengan beragam tanjakan dan tikungan. Aku belum menemukan apapun yang aku cari. Dan alam bawah sadar terkutuk itu telah berkali-kali berkoar padaku. Cepatlah, temukan! Aku tahu, tapi segala sesuatu yang berjalan butuh proses untuk mencapai tujuan.
Aku berjalan dan berjalan, terlunta. Menghabiskan malam tanpa istirahat di emperan atau tidur di masjid adalah rutinitas bagiku. Makan? Sebagaimana adanya. Aku tidak peduli, sebelum aku menemukan tujuan itu aku harus terus seperti ini, merasakan bagaimana lepas dari kemewahan itu rasanya. Ternyata tidak terlalu buruk.
Ya, dengan begini aku bisa melihat bagaimana pion-pion takdir ini berinteraksi dengan sesamanya. Emosi, sebuah permata yang takkan bisa kubeli, bisa kudapatkan dengan mudah disini. Kenangan, nostalgia, déjà vu. Sungguh menyenangkan hati. Aku terus mencari dan mencari, hingga tibalah. Saat itu, aku menemukan hidup yang telah lama menguap sebelum akhirnya mengembun kembali.
Tak tahu aku, waktu saat ini. Aku tidak mengenal waktu saat berada di tengah jalan seperti ini. Matahari menyembunyikan dirinya diselubungi oleh awan kelabu. Sepertinya akan hujan. Aku harus mencari tempat untuk berlindung. Ironis bahwa manusia terlihat seolah-olah takut terhadap air.
Kutemukan sebuah gubuk yang terlihat seperti ditinggalkan pemiliknya. Aku melakukan satu-satunya hal logis yang dapat kulakukan dan pergi untuk meneduhkan diriku kesana. Dan menyambut kedatangan diriku adalah butir-butir air turun satu persatu dari awan yang menangis. Rupanya hujan turun, tepat saat aku tiba. Sudahlah, akan kutunggu hingga reda.
Kulihat gubuk itu sekarang, di belakangku. Seperti kebanyakan rumah instan yang dibuat karena himpitan kertas-kertas tak bernilai, gubuk ini sangat sederhana dan kecil. Hanya terbuat dari triplek disambung dengan entah apa. Kusentuh dengan tidak hati-hati dan tumpukan ini bisa jatuh dengan mudah.
Sekarang aku ingin tahu siapa yang membuat ini dan tinggal disini. Sejenak rasa iba tanpa tertahan menyeruak dari dasar pikiran dan naik hingga terapung di danau perasaanku. Mungkin saja dia adalah orang yang tersesat dalam labirin hidup hingga tidak bisa keluar dari lubang kesengsaraan. Mungkin juga dia seorang yang tidak beruntung sejak melihat cahaya dunia untuk pertama kalinya.
Tidak, berpikir seperti itu adalah tidak benar. Namun aku ingin tahu siapa yang tinggal di tempat seperti ini. Rasa ingin tahu sekarang membuat danau perasaanku terkontaminasi, dari warna biru menjadi warna merah. Merah darah, karena rasa ingin tahu bisa mematikan.
Akhirnya, muncullah sesosok manusia dari jauh, dibawah naungan hujan, perlahan berjalan mendekat. Apakah dia pemilik gubuk ini? Aku tidak tahu, namun yang jelas waktu terus berlalu begitupun dengan langkah lembutnya seirama dengan turunnya titik-titik air menuju tubuhnya. Semakin dekat sosoknya semakin jelas, dan akhirnya terlihatlah dia.
Seorang gadis kecil dan kumal. Tubuhnya dapat mengatakan bahwa dia tidak mandi selama berbulan-bulan. Rambutnya keriting dan acak-acakan. Bajunya kemeja orang dewasa, yang jelas-jelas kebesaran. Celananya pendek dan compang camping di ujungnya. Satu lagi yang menarik perhatianku adalah dia memakai sepatu wanita dewasa berwarna hitam yang sudah amat lusuh.
Entah mengapa dia menarik perhatianku. Dia masih terus berjalan, mendekatiku langkah demi langkah sebelum akhirnya mengeluarkan suara dari mulutnya :
Siapa kamu?
Aku ini orang yang sedang mencari tujuan hidup. Jawabku. Mungkin dia tidak akan mengerti, tapi kucoba untuk jujur.
Apa yang kamu cari takkan ada disini. Diluar dugaan, dia berbicara layaknya orang dewasa. Apa perjuangan hidup membuatnya jadi dewasa sebelum waktunya?
Kamu takkan tahu, apakah yang aku cari ada disini atau tidak.
Apa kamu punya hak untuk bicara seperti itu? jawabannya menusuk, seperti alam bawah sadarku.
Kamu pun tidak punya hak untuk bicara seperti itu. Kita semua ini hanya pion.
Dia terdiam, sepertinya dia tidak mengerti. Anak-anak tetaplah anak-anak. Dia tidak menjawab lagi dan langsung memasuki gubuk itu. Sepertinya memang itulah istananya, rumahnya. Aku ikuti dia kedalam dan dia tidak memberikan suatu larangan apapun. Kuanggap sebagai izin, dan masuklah aku.
Seperti dugaan, gubuk itu kecil tanpa perabot apapun. Hanya kasur dibawah yang sudah amat lapuk dan lusuh, serta sebuah tikar. Tanpa selimut, tanpa apapun lagi. Aku takjub dia bisa bertahan sendirian di tengah badai salju kesengsaraan yang sangat dingin menusuk tanpa bantuan siapapun. Kutanyai dia, terdorong rasa ingin tahu :
Dari mana kau dapatkan itu?
Dia tidak menjawab, namun dia langsung membawaku keluar. Rupanya awan berhenti menangis dan kembali menunjukkan senyum bercahayanya. Dia mulai berjalan keluar, dan aku hanya mengikutinya. Tak lama, dia berhenti dan menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah sebuah gunungan sampah. Ternyata dia seorang pemulung. Namun sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, dia menoleh padaku dan berkata,
Apa kau yakin kau akan dapatkan apa yang kau cari disini?
Tidak ada salahnya mengenal kehidupannya lebih jauh. Maka, Ya. Tentu saja aku yakin.
Dia menghela nafas panjang sebelum kembali berkata, Baiklah. Temani aku, dari pagi hingga sore hari. Tak perlu ikut tidur di rumahku.
Ternyata dia memang amat dewasa. Bijak seperti alam bawah sadarku, yang anehnya terus tertidur sejak dia datang. Baguslah, takkan ada yang menggangguku dalam menemukan tujuanku. Selangkah lebih maju untuk menjadi manusia sejati.
Kemana dia? Aku tidak tahu dan tidak akan mengurusinya lagi sekarang. Hanya membuang waktuku saja memikirkannya. Aku harus berjalan terus, maka aku memilih untuk tidur di masjid saja nanti malam sebelum esok paginya kembali menemuinya.

Spoiler for Part 1:
Siapakah aku? Aku hanyalah seorang yang naif. Ditanya kembali, apakah tujuan hidupku? Tidak ada, jawabku. Dan apa yang menjadi cita-citamu? Belum kutentukan, kataku. Maka untuk apa kamu ada? Mengapa kamu dapat menujukkan eksistensimu di dunia bulat ini, sementara banyak orang lain yang bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat melihat sinar harapan?
Tanyakan itu pada zat yang membuat dunia berputar, kataku. Yang membuat dunia ini menjadi ada, dengan segala kefanaannya dan segala realita berwarna hitam kelam dengan bercak-bercak putih bernama mimpi. Dia tidak puas. Bukankah semua ini akan kembali pada yang hakiki? Kutanyai dia dengan buas.
Dia tidak menjawab lagi. Rasakan. Pikiranku itu terus menanyaiku akan apa yang aku perbuat dan tidak perbuat. Mengapa? Dia hanya sebongkah fragmen kecil dariku. Dia tidak berhak mengaturku dengan ide-idenya. Aku punya ideologiku sendiri, dan sebagai bagian dari tubuhku dia wajib patuh padaku. Tidak bisa tidak.
Namun, kupikirkan lagi segalanya. Aku, anak orang berpunya yang tidak memanfaatkan kesempatan hidup dan keberuntungan. Aku punya kesempatan, tapi yang kuambil hanyalah kesenangan fana. Bukankah kesenangan fana itu hanya sesaat saja? Aku tahu itu, tapi aku menyerah kepada kesenangan yang memabukkan itu.
Rasakan! Hei pikiranku, janganlah engkau menyeruak tanpa mengetuk pintu hatiku terlebih dahulu. Dia tidak menurutiku. Biarlah, alam bawah sadar memang paling sulit untuk dikekang. Tidak usah kudengarkan perkataannya itu. Tapi, sebenarnya memang aku harus merasakan getah pahit dari pohon keburukan ini yang mengikatku di bawah akarnya hingga tak bisa lepas.
Aku harus memperbaiki diriku sendiri. Berubah. Berhenti menjadi ulat yang menggigiti daun bernama orang tua dan masuk ke dalam kepompong pencarian hidup, kepompong pengembaraan hingga menjadi kupu-kupu : manusia sejati yang bisa berdiri untuk dirinya sendiri.
Maka aku lari dari segala kekangan kemewahan yang menyesakkan di rumahku, dan aku mulai mengembara menjadi orang bebas. Bebas untuk mencari madu kehidupan, mencari makna yang tersimpan dalam kata-kata yang diucapkan setiap insan, menemukan belahan hati yang tersimpan dalam kotak emosi terdalam seorang wanita yang terpilih.
******************************
Dua bulan, sudah berlalu dengan perjalanan menapaki kepingan makna kehidupan dengan beragam tanjakan dan tikungan. Aku belum menemukan apapun yang aku cari. Dan alam bawah sadar terkutuk itu telah berkali-kali berkoar padaku. Cepatlah, temukan! Aku tahu, tapi segala sesuatu yang berjalan butuh proses untuk mencapai tujuan.
Aku berjalan dan berjalan, terlunta. Menghabiskan malam tanpa istirahat di emperan atau tidur di masjid adalah rutinitas bagiku. Makan? Sebagaimana adanya. Aku tidak peduli, sebelum aku menemukan tujuan itu aku harus terus seperti ini, merasakan bagaimana lepas dari kemewahan itu rasanya. Ternyata tidak terlalu buruk.
Ya, dengan begini aku bisa melihat bagaimana pion-pion takdir ini berinteraksi dengan sesamanya. Emosi, sebuah permata yang takkan bisa kubeli, bisa kudapatkan dengan mudah disini. Kenangan, nostalgia, déjà vu. Sungguh menyenangkan hati. Aku terus mencari dan mencari, hingga tibalah. Saat itu, aku menemukan hidup yang telah lama menguap sebelum akhirnya mengembun kembali.
******************************
Tak tahu aku, waktu saat ini. Aku tidak mengenal waktu saat berada di tengah jalan seperti ini. Matahari menyembunyikan dirinya diselubungi oleh awan kelabu. Sepertinya akan hujan. Aku harus mencari tempat untuk berlindung. Ironis bahwa manusia terlihat seolah-olah takut terhadap air.
Kutemukan sebuah gubuk yang terlihat seperti ditinggalkan pemiliknya. Aku melakukan satu-satunya hal logis yang dapat kulakukan dan pergi untuk meneduhkan diriku kesana. Dan menyambut kedatangan diriku adalah butir-butir air turun satu persatu dari awan yang menangis. Rupanya hujan turun, tepat saat aku tiba. Sudahlah, akan kutunggu hingga reda.
Kulihat gubuk itu sekarang, di belakangku. Seperti kebanyakan rumah instan yang dibuat karena himpitan kertas-kertas tak bernilai, gubuk ini sangat sederhana dan kecil. Hanya terbuat dari triplek disambung dengan entah apa. Kusentuh dengan tidak hati-hati dan tumpukan ini bisa jatuh dengan mudah.
Sekarang aku ingin tahu siapa yang membuat ini dan tinggal disini. Sejenak rasa iba tanpa tertahan menyeruak dari dasar pikiran dan naik hingga terapung di danau perasaanku. Mungkin saja dia adalah orang yang tersesat dalam labirin hidup hingga tidak bisa keluar dari lubang kesengsaraan. Mungkin juga dia seorang yang tidak beruntung sejak melihat cahaya dunia untuk pertama kalinya.
Tidak, berpikir seperti itu adalah tidak benar. Namun aku ingin tahu siapa yang tinggal di tempat seperti ini. Rasa ingin tahu sekarang membuat danau perasaanku terkontaminasi, dari warna biru menjadi warna merah. Merah darah, karena rasa ingin tahu bisa mematikan.
Akhirnya, muncullah sesosok manusia dari jauh, dibawah naungan hujan, perlahan berjalan mendekat. Apakah dia pemilik gubuk ini? Aku tidak tahu, namun yang jelas waktu terus berlalu begitupun dengan langkah lembutnya seirama dengan turunnya titik-titik air menuju tubuhnya. Semakin dekat sosoknya semakin jelas, dan akhirnya terlihatlah dia.
Seorang gadis kecil dan kumal. Tubuhnya dapat mengatakan bahwa dia tidak mandi selama berbulan-bulan. Rambutnya keriting dan acak-acakan. Bajunya kemeja orang dewasa, yang jelas-jelas kebesaran. Celananya pendek dan compang camping di ujungnya. Satu lagi yang menarik perhatianku adalah dia memakai sepatu wanita dewasa berwarna hitam yang sudah amat lusuh.
Entah mengapa dia menarik perhatianku. Dia masih terus berjalan, mendekatiku langkah demi langkah sebelum akhirnya mengeluarkan suara dari mulutnya :
Siapa kamu?
Aku ini orang yang sedang mencari tujuan hidup. Jawabku. Mungkin dia tidak akan mengerti, tapi kucoba untuk jujur.
Apa yang kamu cari takkan ada disini. Diluar dugaan, dia berbicara layaknya orang dewasa. Apa perjuangan hidup membuatnya jadi dewasa sebelum waktunya?
Kamu takkan tahu, apakah yang aku cari ada disini atau tidak.
Apa kamu punya hak untuk bicara seperti itu? jawabannya menusuk, seperti alam bawah sadarku.
Kamu pun tidak punya hak untuk bicara seperti itu. Kita semua ini hanya pion.
Dia terdiam, sepertinya dia tidak mengerti. Anak-anak tetaplah anak-anak. Dia tidak menjawab lagi dan langsung memasuki gubuk itu. Sepertinya memang itulah istananya, rumahnya. Aku ikuti dia kedalam dan dia tidak memberikan suatu larangan apapun. Kuanggap sebagai izin, dan masuklah aku.
Seperti dugaan, gubuk itu kecil tanpa perabot apapun. Hanya kasur dibawah yang sudah amat lapuk dan lusuh, serta sebuah tikar. Tanpa selimut, tanpa apapun lagi. Aku takjub dia bisa bertahan sendirian di tengah badai salju kesengsaraan yang sangat dingin menusuk tanpa bantuan siapapun. Kutanyai dia, terdorong rasa ingin tahu :
Dari mana kau dapatkan itu?
Dia tidak menjawab, namun dia langsung membawaku keluar. Rupanya awan berhenti menangis dan kembali menunjukkan senyum bercahayanya. Dia mulai berjalan keluar, dan aku hanya mengikutinya. Tak lama, dia berhenti dan menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah sebuah gunungan sampah. Ternyata dia seorang pemulung. Namun sebelum aku bisa berpikir lebih jauh, dia menoleh padaku dan berkata,
Apa kau yakin kau akan dapatkan apa yang kau cari disini?
Tidak ada salahnya mengenal kehidupannya lebih jauh. Maka, Ya. Tentu saja aku yakin.
Dia menghela nafas panjang sebelum kembali berkata, Baiklah. Temani aku, dari pagi hingga sore hari. Tak perlu ikut tidur di rumahku.
Ternyata dia memang amat dewasa. Bijak seperti alam bawah sadarku, yang anehnya terus tertidur sejak dia datang. Baguslah, takkan ada yang menggangguku dalam menemukan tujuanku. Selangkah lebih maju untuk menjadi manusia sejati.
Kemana dia? Aku tidak tahu dan tidak akan mengurusinya lagi sekarang. Hanya membuang waktuku saja memikirkannya. Aku harus berjalan terus, maka aku memilih untuk tidur di masjid saja nanti malam sebelum esok paginya kembali menemuinya.
0
Kutip
Balas