- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#152
Sierra menghela napas dalam-dalam sebelum mulai menjawab pertanyaan Kikan.
"Ada tiga hal yang berbeda dalam setiap keputusan yang diambil, dan ada dua tipe kepribadian orang yang memberi makna bagi tiap keputusan. Keputusan yang diambil dengan mementingkan diri sendiri. Keputusan yang diambil dengan mementingkan orang lain. Keputusan yang diambil dengan memikirkan kepentingan diri sendiri dan orang lain. Dua tipe kepribadian adalah, orang yang percaya akan adanya kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dan, orang yang percaya bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri."
Lowry hanya termangu dengar semua penjelasan falsafah dari Sierra itu. Kikan di lain pihak, sedang berupaya keras agar tidak terpesona dengan kedewasaan Sierra, yang tak bisa ia pungkiri, itulah yang membuat ia sulit untuk menjauh dari Sierra.
"So?" kata Kikan.
"Persimpangan", kata Sierra melanjutkan, "adalah istilah yang orang pakai manakala ada keputusan yang penting yang harus diambil. Tentu, setiap keputusan adalah penting dengan sendirinya, tetapi ada keputusan-keputusan yang hanya dibuat sekali dalam hidup, dan ini lebih penting dibandingkan dengan keputusan yang harus diambil setiap hari dalam hidup."
Sierra berhenti sejenak meneguk tehnya.
"Adapun hidup, hidup adalah suatu perjalanan kolektif dari jutaan keputusan yang bergulir setiap detiknya. Maka, secara skala, keputusan yang diambil tiap orang hanyalah keputusan kecil, tetapi, secara hakikat, setiap keputusan adalah keputusan besar. Dengan cara inilah, semua kita manusia, dan seluruh mahluk hidup, terikat oleh takdir yang tak lain dan tak bukan adalah perwujudan nyata benturan antara keputusan kita dan jutaan keputusan lainnya. Kita menentukan arah hidup kita, hingga sejauh itu saja. Itulah yang dinamakan kenyataan, ada orang yang menerimanya, dan ada pula yang tidak."
Suasana di ruangan itu menjadi hening untuk beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. Mencoba mencerna arus liar ombak pemikiran yang dihantamkan dari papar Sierra.
"Jadi, apa yang sedang hendak kau putuskan?" ucap Sierra pelan.
Saat itu, samar-samar di benak Kikan, terlintas semua saat-saat indah yang telah dilaluinya dengan Sierra dan Lowry. Kenangan-kenangan yang sukar untuk ia benamkan begitu saja menyeruak kembali dengan cepat silih berganti satu persatu, dan arus pikiran inilah, yang kebermaknaannya diterakan oleh Coldplay dalam syair A Rush of Blood to The Head, yang menimbulkan seulas senyum di wajah Kikan. Senyum yang seketika disusul dengan menetesnya air mata di pipinya. Kikan yang belia, tak lagi mampu melepas pandang ke arah kedua wajah kakak-kakaknya itu. Ia hanya merunduk menatapi permukaan meja makan, dengan kedua tangannya saling memainkan jari-jemari karena gugup.
"Kita."
Pelan suara Kikan, nyaris tak terdengar. Namun, itu sudah cukup untuk membuat Lowry hendak beranjak dari tempat duduknya, dengan kegelisahan yang memuncak.
"Tetap di tempatmu," sergah Sierra kepada Lowry tanpa menatapnya. "Kau pun bagian dari ini." Lowry dengan wajah kesal, akhirnya duduk kembali.
"Kita. Aku dan ketergantunganku padamu. Kadang Kikan pikir, sejak adanya kak Sierra dan kak Lowry dalam hidup Kikan, Kikan tak lagi memikirkan tentang diri Kikan sendiri. Aku ga lagi merasa perlu menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, karena bersama kamu aku bahagia, bersama Lowry aku terlindungi. Aku tak lagi mencari arti, karena hidup jauh lebih mudah bersama kamu, dan kukira itu akan selamanya ."
Gadis itu diam sejenak, dan lalu ia melanjutkan.
"Tapi, sekarang Kikan takut, Kikan gemetar, Kikan enggan, harus kembali mengarungi dunia mencari bahagia yang Kikan engga tau apa Kikan bakal dapat atau nggak. Aku takut, rasa itu ga akan sama. Bagi aku yang sekarang, bagi Kikan yang sekarang, hidup itu kamu."
"Sayang sekali, bagi kamu aku cuma plastik. Bye Kak Sierra, bye, kak Lowry," ucapnya seraya menatap Sierra sayu. "l love you no more."
Dan, Kikan pun beranjak dengan tergopoh-gopoh, menggunakan crutches-nya, meninggalkan ruangan tersebut. Lowry dan Sierra hanya diam di tempatnya masing-masing. Wajah mereka nampak masygul. Pandangan kosong terlempar ke hampa ruang. Perlahan terdengar bunyi pintu depan dibuka dan ditutup kembali.
Hari itu, tiga anak manusia saling berpisah jalan. Satu keputusan telah diambil, dan hidup terus berputar dengan misteri dan harapannya sendiri.
"Ada tiga hal yang berbeda dalam setiap keputusan yang diambil, dan ada dua tipe kepribadian orang yang memberi makna bagi tiap keputusan. Keputusan yang diambil dengan mementingkan diri sendiri. Keputusan yang diambil dengan mementingkan orang lain. Keputusan yang diambil dengan memikirkan kepentingan diri sendiri dan orang lain. Dua tipe kepribadian adalah, orang yang percaya akan adanya kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dan, orang yang percaya bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri."
Lowry hanya termangu dengar semua penjelasan falsafah dari Sierra itu. Kikan di lain pihak, sedang berupaya keras agar tidak terpesona dengan kedewasaan Sierra, yang tak bisa ia pungkiri, itulah yang membuat ia sulit untuk menjauh dari Sierra.
"So?" kata Kikan.
"Persimpangan", kata Sierra melanjutkan, "adalah istilah yang orang pakai manakala ada keputusan yang penting yang harus diambil. Tentu, setiap keputusan adalah penting dengan sendirinya, tetapi ada keputusan-keputusan yang hanya dibuat sekali dalam hidup, dan ini lebih penting dibandingkan dengan keputusan yang harus diambil setiap hari dalam hidup."
Sierra berhenti sejenak meneguk tehnya.
"Adapun hidup, hidup adalah suatu perjalanan kolektif dari jutaan keputusan yang bergulir setiap detiknya. Maka, secara skala, keputusan yang diambil tiap orang hanyalah keputusan kecil, tetapi, secara hakikat, setiap keputusan adalah keputusan besar. Dengan cara inilah, semua kita manusia, dan seluruh mahluk hidup, terikat oleh takdir yang tak lain dan tak bukan adalah perwujudan nyata benturan antara keputusan kita dan jutaan keputusan lainnya. Kita menentukan arah hidup kita, hingga sejauh itu saja. Itulah yang dinamakan kenyataan, ada orang yang menerimanya, dan ada pula yang tidak."
Suasana di ruangan itu menjadi hening untuk beberapa saat. Masing-masing sibuk dengan jalan pikirannya sendiri. Mencoba mencerna arus liar ombak pemikiran yang dihantamkan dari papar Sierra.
"Jadi, apa yang sedang hendak kau putuskan?" ucap Sierra pelan.
Saat itu, samar-samar di benak Kikan, terlintas semua saat-saat indah yang telah dilaluinya dengan Sierra dan Lowry. Kenangan-kenangan yang sukar untuk ia benamkan begitu saja menyeruak kembali dengan cepat silih berganti satu persatu, dan arus pikiran inilah, yang kebermaknaannya diterakan oleh Coldplay dalam syair A Rush of Blood to The Head, yang menimbulkan seulas senyum di wajah Kikan. Senyum yang seketika disusul dengan menetesnya air mata di pipinya. Kikan yang belia, tak lagi mampu melepas pandang ke arah kedua wajah kakak-kakaknya itu. Ia hanya merunduk menatapi permukaan meja makan, dengan kedua tangannya saling memainkan jari-jemari karena gugup.
"Kita."
Pelan suara Kikan, nyaris tak terdengar. Namun, itu sudah cukup untuk membuat Lowry hendak beranjak dari tempat duduknya, dengan kegelisahan yang memuncak.
"Tetap di tempatmu," sergah Sierra kepada Lowry tanpa menatapnya. "Kau pun bagian dari ini." Lowry dengan wajah kesal, akhirnya duduk kembali.
"Kita. Aku dan ketergantunganku padamu. Kadang Kikan pikir, sejak adanya kak Sierra dan kak Lowry dalam hidup Kikan, Kikan tak lagi memikirkan tentang diri Kikan sendiri. Aku ga lagi merasa perlu menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, karena bersama kamu aku bahagia, bersama Lowry aku terlindungi. Aku tak lagi mencari arti, karena hidup jauh lebih mudah bersama kamu, dan kukira itu akan selamanya ."
Gadis itu diam sejenak, dan lalu ia melanjutkan.
"Tapi, sekarang Kikan takut, Kikan gemetar, Kikan enggan, harus kembali mengarungi dunia mencari bahagia yang Kikan engga tau apa Kikan bakal dapat atau nggak. Aku takut, rasa itu ga akan sama. Bagi aku yang sekarang, bagi Kikan yang sekarang, hidup itu kamu."
"Sayang sekali, bagi kamu aku cuma plastik. Bye Kak Sierra, bye, kak Lowry," ucapnya seraya menatap Sierra sayu. "l love you no more."
Dan, Kikan pun beranjak dengan tergopoh-gopoh, menggunakan crutches-nya, meninggalkan ruangan tersebut. Lowry dan Sierra hanya diam di tempatnya masing-masing. Wajah mereka nampak masygul. Pandangan kosong terlempar ke hampa ruang. Perlahan terdengar bunyi pintu depan dibuka dan ditutup kembali.
Hari itu, tiga anak manusia saling berpisah jalan. Satu keputusan telah diambil, dan hidup terus berputar dengan misteri dan harapannya sendiri.
Diubah oleh rahan 05-06-2013 23:20
0