Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29.1K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#145
Satu persatu mereka yang terlelap bangun saat itu. Mang Udan sudah terlebih dahulu pulang subuh hari. Sierra dan Lowry seperti biasa, tak banyak bicara dalam pagi mereka. Namun pagi ini tak seperti pagi biasanya. Setelah percakapan mereka malam tadi, ada hening yang memberat di antara kedua pemuda tersebut. Seakan memberikan tanda bahwa pikiran mereka sedang henyak oleh masalah yang tidak begitu jelas. Lowry membolak-balik sosis untuk roti sandwichnya di atas wajan dengan gelisah. Sierra hanya memilih diam berteman surat kabar dan sebuah mug putih berisikan teh panas.

Dan Kikan pun muncul juga akhirnya di ruangan tersebut, masih dengan menggunakan crutches-nya, matanya sembab, dan rambutnya awut-awutan. Sierra dan Lowry berpandangan, menyadari ada sesuatu yang tak beres. Lowry pun mengambil inisiatif.

"“Loe kenapa? Kayak habis nangis?"”

Kikan meletakkan crutches-nya di atas kursi yang tidak dipakai, sedang ia menarik satu kursi untuk ia duduki perlahan. Kedua tangannya memegang kepala, dengan telapak yang nyaris menutup kedua telinganya, kepalanya tertunduk ke meja dan matanya menatap dengan liar. Tetapi sekejap kemudian, ia agak terlihat bagai menjambak rambutnya dan menghirup nafas dalam-dalam.

Don’t worry about me. I’m just fine",” ucapnya.

“"Obviously, it doesn’t seem so".” kata Sierra pelan.

Ditanggapi seperti itu, pandang Kikan menyorot tajam ke arah Sierra. Tidak ada secercah senyuman yang biasa tersulam di bibirnya. Hanya mata yang tak mampu menutupi hati.

Lowry pun cepat menyambar, "“Kamu bisa cerita koq kalo ada yang bikin kamu kesal atau sedih.”"

“"Ntar kali ya, sekarang Kikan lapar nih, itu kayanya enak tuh. Can I have some of that?"

Sure, sure.."”Lowry pun dengan cepat menawarkan satu porsi roti sosis yang sudah lebih dulu siap saji.

Dan Kikan pun menyantapnya dengan lahap.

Sierra nampak tak peduli dan kembali berkonsentrasi dengan surat kabarnya. Lowry menyelesaikan pekerjaannya dengan kompor dan wajan, dan mulai menikmati porsi dari sarapannya tersebut. Tak lama, Kikan mulai angkat bicara lagi.

"“Kikan punya sebuah pertanyaan yang sudah cukup lama Kikan pendam, tapi Kikan nggak juga bisa dapat jawaban yang memuaskan. Mungkin diantara Kak Sierra dan Lowry, ada yang bisa membantu menjelaskan, itu akan sangat baik."”

Sierra dan Lowry kembali berpandangan. Lalu mereka berdua mengangguk kecil, tanda mereka siap dengan pertanyaan dari gadis belia tersebut.

“"Apa yang harus kita lakukan saat kita berada di persimpangan jalan? Arah yang mana yang harus kita ambil? Apakah arah yang sudah kita ambil itu merupakan suatu ketentuan yang sudah tetap bahkan sebelum kita mencapai persimpangan tersebut? Ataukah memang kita benar membuat suatu keputusan baru tatkala kita berada di persimpangan tersebut? Apakah kita memang benar mengubah takdir kita?"”

Lowry hanya melongo dan satu kata saja yang terucap dari lisannya. “"Fuck."”

Sierra menggulung korannya menjadi sebuah pentungan kertas dan memukulkannya ke kepala Lowry dengan pelan. "“That’s your answer?"”

Yang dikeplak, si tubuh gempal, hanya mengangkat bahu. “"I don’t know what to say.”"

"“Kalo kak Sierra, gimana? Do you have an answer for that question?"”

Yang ditanya bukan anak kemarin sore. Sierra tahu benar, ada sesuatu dari pertanyaan ini, dan ia harus menjawabnya dengan hati-hati. Harus, karena pandang Kikan berubah bagai harimau yang paling liar yang siap memangsa dirinya.
Diubah oleh rahan 05-06-2013 23:09
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.