Sebuah shortfic lama yang filenya baru ketemu
bercerita tentang sebuah kejadian yang terjadi tengah malam di sebuah kampung
Spoiler for tengah malam:
Di tengah malam seperti ini, pemuda itu berlari sekuat tenaga hingga terengah-engah. Ia berlari, terus berlari. Tak berani ia melihat kebelakang. Melihat para warga yang mengejarnya dengan beringas, lengkap dengan parang, bambu, sapu, dan benda-benda lainnya yang siap menghajar pemuda itu jika dia sampai tertangkap. Beruntung bagi pemuda itu, dia adalah juara satu lomba lari nasional ketika di SMA dulu.
Pemuda itu berlari ke sebuah gang sempit. Dari kejauhan cacian cacian dari warga terdengar jelas ditelinganya. Pemuda itu panik, dia berlari sekuat tenaga tanpa tau arah larinya. Ia hanya mengikuti jalan setapak dan berharap berhasil lolos dari kejaran masa.
Sial bagi pemuda itu. Jalan buntu!!!
Kiri? Kanan? Tembok!
Ah belakang! Sial para warga yang lain sudah mendekatinya. Ia hanya menelan ludah dan memohon ampun pada gerombolan warga tersebut.
Beberapa tinjuan melayang ke arah sang pemuda. Ia menahan dengan tangannya ketakutan. Dua buah bilah bambu melayang menghajar perutnya. Pemuda itu memegangi perutnya yang sakit. Satu hantaman martil di kepala membuat pria itu tergeletak bersimbah darah.
Pukulan, hantaman, pukulan, hantaman, tendangan, tendangan, tendangan. Pemuda itu tidak merasakan apa-apa. Ia masih bisa mendengar samar-samar tapi dia tidak dapat merasakan apapun. Ia hanya ingat mencoba mengambil sepasang sepatu bermerk di depan kost-kostan untuk membelikan pacarnya pulsa. Tapi, sebelum ia berhasil mengambil sepatuotor itu sang pemilik sepatu memergokinya dan langsung berteriak maling.
Tak jauh dari kejadian itu, tepatnya di sebuah warung makan. Sang pemilik warung melihat kejadian tersebut dengan ngeri.
Ya tuhan, lakukan sesuatu pak kasian itu.. anak orang!! kata si ibu pemilik warung kepada satu-satunya pengunjung warungnya malam itu.
Pria itu tidak ambil pusing. Ia mengambil sebuah kerupuk lalu mencolekkannya ke sambel yang ada di piring. Pria yang mengenakan sebuah kostum jagoan itu membalikkan badan dan memandang kerumunan warga yang masih memukuli pemuda tersebut.
Bukannya bapak seorang jagoan?? Kasian itu.. astaga kata ibu itu panik.
Jagoan itu hanya duduk santai sambil meminum teh hangatnya.
Mereka juga butuh hiburan, bu?? Kata jagoan itu tersenyum sambil melihat warga yang menyiramkan minyak ke tubuh pemuda tersebut.