TS
babababy
[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/img405.imageshack.us/img405/8903/travelistabanner.png)
-------------------------------------------------------------
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Gan!!
-------------------------------------------------------------
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Gan!!
-------------------------------------------------------------
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Kerinci - Kabupaten di Propinsi Jambi - tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya. Arsitektur bangunan masjid tua dengan ornamen ukiran warna-warni merupakan keunikan yang wajib disimak. Masjid-masjid beratap limas khas masjid nusantara , saksi sejarah Islam di Kerinci. Berikut jejak napak tilas masjid-masjid tua di kerinci gan, Check it brot!!!!
Quote:
Original Posted By Masjid Kuno Kota Tua
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/134.jpg)
Masjid Kuno terletak di Dusun Koto Tua Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Pada perkembangannya masjid yang menempati lahan 2.650 m2 dinamai Masjid Keramat. Beberapa fenoman alam seperti gempa bumi tahun 1942 dan 1995 serta kebakaran 1903 dan 1939 tidak meluluh lantakan bangunan masjid yang terbuat dari kayu.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/231.jpg)
Masjid Keramat didirikan pada tahun 1780 merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/328.jpg)
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/612.jpg)
Bentuk asli Masjid Keramat terdiri dari bangunan induk berukuran 28 x 28 meter serta 25 buah tiang. Jumlah 25 tiang melambangakan jumlah 25 orang Rasul Allah. Sedangkan 5 tiang yang di dalam ruang menggambarkan jumlah Rukun Islam. Selain itu sebuah tiang besar di tengah ruangan (sokoguru) perlambang nabi Besar Muhammad SAW dan empat buah tiang lain di tengah ruang menggambarkan sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman dan ALi.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/525.jpg)
Keunikan lain masjid ini adalah ornamen eksterior dan interiornya dipenuhi pola bunga berwarna cerah. Keramik motif bunga dapat dijumpai di dinding pintu masuk dan tiang sokoguru. Ukiran bunga juga memenuhi setiap sudut bangunan merupakan pengaruh budaya Arab, Cina dan Melayu. Dahulu semua ukiran dicat dengan perwarna alami yang berasal dari pinang, tahau, jannou, sarayeu atau lembayung , kunyit dan kapur.
Karena nilai historis dan keunikannya, pemerintah menetapkan Masjid Keramat sebagai bangunan bersejarah. Dengan dikeluarkan Monumen Ordonantie STBL 238/1931. Siapapun dilarang merusak , mencoret , memindahkan , mengotori dan mencemarkan masjid tertua di Provinsi Jambi.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/134.jpg)
Masjid Kuno terletak di Dusun Koto Tua Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Pada perkembangannya masjid yang menempati lahan 2.650 m2 dinamai Masjid Keramat. Beberapa fenoman alam seperti gempa bumi tahun 1942 dan 1995 serta kebakaran 1903 dan 1939 tidak meluluh lantakan bangunan masjid yang terbuat dari kayu.
Spoiler for tiang utama beranda (kiri);pintu masjid (kanan):
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/231.jpg)
Masjid Keramat didirikan pada tahun 1780 merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.
Spoiler for beranda Masjid Keramat:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/328.jpg)
Spoiler for eksterior ornamen ukiran sulur menjadi ciri khas:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/612.jpg)
Bentuk asli Masjid Keramat terdiri dari bangunan induk berukuran 28 x 28 meter serta 25 buah tiang. Jumlah 25 tiang melambangakan jumlah 25 orang Rasul Allah. Sedangkan 5 tiang yang di dalam ruang menggambarkan jumlah Rukun Islam. Selain itu sebuah tiang besar di tengah ruangan (sokoguru) perlambang nabi Besar Muhammad SAW dan empat buah tiang lain di tengah ruang menggambarkan sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman dan ALi.
Spoiler for sisi lain-Masjid Keramat Pulau Tengah:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/525.jpg)
Keunikan lain masjid ini adalah ornamen eksterior dan interiornya dipenuhi pola bunga berwarna cerah. Keramik motif bunga dapat dijumpai di dinding pintu masuk dan tiang sokoguru. Ukiran bunga juga memenuhi setiap sudut bangunan merupakan pengaruh budaya Arab, Cina dan Melayu. Dahulu semua ukiran dicat dengan perwarna alami yang berasal dari pinang, tahau, jannou, sarayeu atau lembayung , kunyit dan kapur.
Spoiler for tiang sokoguru di tengah ruangan Masjid Keramat:
Karena nilai historis dan keunikannya, pemerintah menetapkan Masjid Keramat sebagai bangunan bersejarah. Dengan dikeluarkan Monumen Ordonantie STBL 238/1931. Siapapun dilarang merusak , mencoret , memindahkan , mengotori dan mencemarkan masjid tertua di Provinsi Jambi.
Quote:
Original Posted By Masjid Agung Pondok Tinggi
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/135.jpg)
Masjid yang terletak di jantung kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi merupakan salah satu masjid tua di Propinsi Jambi. Menjadi ikon kota Sungai Penuh yang berpisah administratif dengan Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Terbukti gambar masjid beratap tiga susun ini terdapat pada logo kota Sungai Penuh.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/232.jpg)
Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit dan bintang. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/431.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/329.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/526.jpg)
Mesjid Agung Pondok Tinggi mempunyai dua beduk besar. Yang besar disebut Tabuh Larangan. Beduk ini dibunyikan, apabila ada kejadian seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain. Beduk besar ini berukuran : panjang 7,5 m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yang kecil berada di luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 cm dan bagian belakang 69 cm). Beduk ini dibuat dari kayu yang sangat besar, ditarik beramai-ramai dari rimba, dan dilubangi bergotong-royong.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/135.jpg)
Masjid yang terletak di jantung kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi merupakan salah satu masjid tua di Propinsi Jambi. Menjadi ikon kota Sungai Penuh yang berpisah administratif dengan Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Terbukti gambar masjid beratap tiga susun ini terdapat pada logo kota Sungai Penuh.
Spoiler for beduk kecil berada di halaman masjid terbuat dari kayu utuh yang dilubangi:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/232.jpg)
Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit dan bintang. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.
Spoiler for motif sulur dan flora keunikan ukiran tiang masjid:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/431.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.
Spoiler for interior masjid ditopang oleh 36 tiang penyangga:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/329.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.
Spoiler for dinding masjid-bermotif flora berwarna cerah:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/526.jpg)
Mesjid Agung Pondok Tinggi mempunyai dua beduk besar. Yang besar disebut Tabuh Larangan. Beduk ini dibunyikan, apabila ada kejadian seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain. Beduk besar ini berukuran : panjang 7,5 m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yang kecil berada di luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 cm dan bagian belakang 69 cm). Beduk ini dibuat dari kayu yang sangat besar, ditarik beramai-ramai dari rimba, dan dilubangi bergotong-royong.
Quote:
Original Posted By Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/1.jpg)
Kerinci merupakan tempat menarik bagi peneliti arkeologi peninggalan masa Islam. Dataran tinggi di lereng bukit barisan Seblat tersebar masjid-masjid kuno bukti peninggalan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatra. Salah satunya adalah Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik yang berada di kecamatan Gunung Raya.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/2.jpg)
Kecamatan Gunung Raya berada 35 km di sebelah Selatan Kota Sungai Penuh. Berada di ketinggian 1000 meter sampai 1600 meter dpl, Lempur Mudik menyimpan kekayaan alam dan budaya. Daerah pertanian subur beriklim sejuk daya potensi wisata yang belum tergali maksimal.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/3.jpg)
Masjid Keramat Tuo memiliki aristektur atap tumpang bersusun dua bujur sangkar, mirip masjid Demak. Dindin dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya pasak. Seperti kebanyakan masjid kuno di Kerinci ornamen flora , sulur dan bentuk geometris menghiasai interior dan eksterior. Warna cerah seperti: hijau, kuning, merah dan putih mendominasi ornamen masjid.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Masjid Keramat Tuo dibangun tahun 1887, berada di pemukiman penduduk bergaya tradisional. Kawasan ini mengingatkan saya suasana kampung tua di Indonesia lainnya.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/1.jpg)
Kerinci merupakan tempat menarik bagi peneliti arkeologi peninggalan masa Islam. Dataran tinggi di lereng bukit barisan Seblat tersebar masjid-masjid kuno bukti peninggalan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatra. Salah satunya adalah Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik yang berada di kecamatan Gunung Raya.
Spoiler for ornanem geomteris dan flora di Masjid Keramat Tuo:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/2.jpg)
Kecamatan Gunung Raya berada 35 km di sebelah Selatan Kota Sungai Penuh. Berada di ketinggian 1000 meter sampai 1600 meter dpl, Lempur Mudik menyimpan kekayaan alam dan budaya. Daerah pertanian subur beriklim sejuk daya potensi wisata yang belum tergali maksimal.
Spoiler for bangunan masjid di dominasi material kayu:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/3.jpg)
Masjid Keramat Tuo memiliki aristektur atap tumpang bersusun dua bujur sangkar, mirip masjid Demak. Dindin dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya pasak. Seperti kebanyakan masjid kuno di Kerinci ornamen flora , sulur dan bentuk geometris menghiasai interior dan eksterior. Warna cerah seperti: hijau, kuning, merah dan putih mendominasi ornamen masjid.
Spoiler for masjid beratap susun terpengaruh gaya Masjid Demak:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Masjid Keramat Tuo dibangun tahun 1887, berada di pemukiman penduduk bergaya tradisional. Kawasan ini mengingatkan saya suasana kampung tua di Indonesia lainnya.
Spoiler for sumber dan foto :
0
24.8K
Kutip
218
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Domestik
10.2KThread•4.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
babababy
#3
Quote:
Hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci
Oleh: Aryandini Novita
Oleh: Aryandini Novita

4. Hiasan Tegel Keramik
Hiasan ini dapat ditemui di hampir semua masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci kecuali Masjid Lempur Tengah dan Masjid Lempur Mudik. Tegel keramik tersebut secara keseluruhan berukuran 15cm x 15cm; 10cm x 10cm; dan 5cm x 5cm. Motif hias yang terdapat pada hiasan ini berupa motif bunga, burung merak, dan geometri. Berikut uraian tentang motif-motif yang terdapat pad hiasan tegel keramik:
4a. Motif Bunga
Motif ini dapat ditemui di Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Keramat Pulau Tangah, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Warna-warna yang digunakan pada motif ini adalah merah tua dan merah muda. Warna dasar tegel keramik yang bermotof bunga umumnya berwarna putih dengan variasi warna tambahan hijau, biru, dan kuning.
4b. Motif Burung Merak
Motif ini hanya dapat ditemui di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Motif burung merak ini digambarkan secara natural dan diberi warna hijau pada bulu-bulunya serta biru pada bagian tubuhnya. Warna dasar dari tegel keramik yang bermotif burung merak ini adalah putih.
4c. Motif Geometris
Sama dengan motif burung merak, motif ini hanya terdapat di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya merah dan hitam.
Pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci memperlihatkan bahwa hiasan ukiran yang bermotif sulur-suluran hadir di hampir semua masjid, yaitu di Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif bunga dapat terlihat pada Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif tali dapat terlihat pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif medalion hanya terdapat di Masjid Lempur Mudik, demikian juga hiasan ukiran dengan motif lidah apai hanya terdapat di satu masjid, yaitu Masjid Nurul Iman Lolo Hilir. Hiasan baluster hadir di Masjid Lempur Tengah. dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan Roster hadir di Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Hiasan tegel keramik dengan motif bunga dapat ditemui di hampir semua masjid, yaitu di Masjid Agung Pulau Tengah, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Hiasan tegel keramik dengan motif burung merak dan geometris hanya terdapat di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Pada tabel 1 dapat dilihat keberadaan hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno tersebut berdasarkan kehadiran (present) dan ketidakhadiran (absent).
Secara keseluruhan keletakan hiasan-hiasan tersebut juga dapat dilihat pada tabel 2. Pada tabel ini hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran umumnya diletakan di sudut dinding, tiang, mihrab, pipi tangga tempat adzan, mimbar daun pintu, bagian atas pintu, dan bingkai pintu. Hiasan ukiran dengan motif bunga umumnya diletakkan di dinding, sudut dinding, pagar tempat adzan, tiang, dan mihrab. Hiasan ukiran dengan motif tali umumnya diletakan di konstruksi penyangga atap, dinding dan tiang. Pada konstruksi penyangga atap juga terdapat hiasan ukiran dengan motif lidah api. Hiasan ukiran dengan motif medalion hanya diletakkan di dinding demikian juga dengan hiasan baluster.
Keberadaan hiasan roster terlihat pada dinding, mihrab, bagian kaki menara, dan pagar tubuh menara. Hiasan tegel keramik denga motif bunga dapat ditemui di mihrab, pipi tangga masuk, dinding, umpak, bagian kaki menara, anak tangga naik menara, dan tubuh menara. Hiasan tegel keramik dengan motif burung merak dan geometris dapat ditemui di pipi tangga masuk, dinding, mihrab, dan mimbar.
Pembahasan
Telah diuraikan sebelumnya bahwa Islam memberikan toleransi pada kebudayaan setempat untuk dikembangkan sesuai kepentingannya, selain itu Islam juga memberikan peluang pada kebudayaaan asing lainnya yang melakukan kontak dengan daerah setempat. Dalam hal ini sikap toleransi tersebut dapat dilihat pada hiasaan-hiasan di masjid-masjid kuno di wilayah Kerinci.
Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang diketahui hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran dan lidah api merupakan motif hias lokal wilayah Kerinci (Mujib dan Novita 1996: 24); sedangkan hiasan tegel keramik yang terdapat pada masjid-masjid kuno tersebut berasal dari Eropa. Selain itu terdapat juga motif-motif hias yang berasal dari luar wilayah Kerinci lainnya, yaitu hiasan ukiran dengan motif tali dan bunga yang merupakan motif hiasa Minangkabau (Mujid dan Novita 1996: 25).
Keadaan ini menunjukkan adanya proses akulturasi pada masjid-masjid kuno tersebut. Sebagaimana diketahui Islam tidak memiliki aturan-aturan khusus dalam pendirian sebuah masjid dan sikap toleransi yang cukup tinggi memungkinkan terjadinya proses-proses akulturasi dalam pendirian bangunan keagamaannya.
Motif sulur-suluran sebenarnya telah ada sejak masa pra Islam, yaitu masa klasik. Hal ini dapat dilihat pada relief-relief candi yang juga mengenal motif tersebut. Bukti-bukti pengaruh Hindu-Buddha di wilayah Kerinci samapi saat ini masih sangat kurang, karena tinggalan dari masa tersebut hanya berupa arca Avalokitesvara yang ditemukan di sungai Penuh. Tetapi jika diamati lebih seksama terlihat pengaruh Hindu-Buddha pada Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Lempur Tengah, yaitu motif sulur-sulurannya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai kepala kala, demikian juga motif sulur-suluran di Masjid Nurul Iman Lolo Hilir yang motif sulur-sulurannya berbentuk antefiks.
Selain motif sulur-suluran, motif medalion, dan bunga pada hiasan ukiran juga berasal dari masa klasik, hal ini dikarenakan motif-motif tersebut juga ditemui di relief-relief pada bangunan candi. Selain moptif-motif tersebut motif hias yang menggambarkan binatang juga ditemui di relief pada bangunan candi. Penggambaran motif-motif hias yang berupa mahluk hidup pada masa pra Islam umumnya digambarkan secara naturalis, tetapi pada masa Islam penggambarannya disamarkan. Hal ini dapat dikaitkan dengan Hadits Nabi yang melarang penggambaran mahluk-mahluk bernyawa. Hadits ini pada dasarnya diturunkan untuk meghindari adanya praktek pemujaan pada mahluk-mahluk yang digambarkan tersebut (Israr 1958:48)
Kenyataannya di masjid-masjid kuno di wilayah Kerinci, motif hias yang berupa mahluk hidup tersebuut tidak disamarkan melainkan digambarkan secara natural. Keadaan ini dapat dikaitkan dengan kronologi masjid yang memiliki motif hias tersebut yang didasari oleh bahan dan ragam hiasnya diperkirakan masjid tersebut didirikan pada pertengahan abad XIX (Mujib dan Novita 1996: 27) yang merupakan puncak perkembangan Islam di Kerinci. Pada saat itu pemehaman kaidah-kaidah Islam pada masyarakat Kerinci dianggap sudah cukup kuat sehingga munculnya motif-motif mahluk hidup pada masjid-masjid tersebut semata-mata hanya berfungsi sebagai hiasan.
bersambung...
Spoiler for sumber:
0
Kutip
Balas