TS
babababy
[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/img405.imageshack.us/img405/8903/travelistabanner.png)
-------------------------------------------------------------
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Gan!!
-------------------------------------------------------------
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Gan!!
-------------------------------------------------------------
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Kerinci - Kabupaten di Propinsi Jambi - tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya. Arsitektur bangunan masjid tua dengan ornamen ukiran warna-warni merupakan keunikan yang wajib disimak. Masjid-masjid beratap limas khas masjid nusantara , saksi sejarah Islam di Kerinci. Berikut jejak napak tilas masjid-masjid tua di kerinci gan, Check it brot!!!!
Quote:
Original Posted By Masjid Kuno Kota Tua
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/134.jpg)
Masjid Kuno terletak di Dusun Koto Tua Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Pada perkembangannya masjid yang menempati lahan 2.650 m2 dinamai Masjid Keramat. Beberapa fenoman alam seperti gempa bumi tahun 1942 dan 1995 serta kebakaran 1903 dan 1939 tidak meluluh lantakan bangunan masjid yang terbuat dari kayu.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/231.jpg)
Masjid Keramat didirikan pada tahun 1780 merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/328.jpg)
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/612.jpg)
Bentuk asli Masjid Keramat terdiri dari bangunan induk berukuran 28 x 28 meter serta 25 buah tiang. Jumlah 25 tiang melambangakan jumlah 25 orang Rasul Allah. Sedangkan 5 tiang yang di dalam ruang menggambarkan jumlah Rukun Islam. Selain itu sebuah tiang besar di tengah ruangan (sokoguru) perlambang nabi Besar Muhammad SAW dan empat buah tiang lain di tengah ruang menggambarkan sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman dan ALi.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/525.jpg)
Keunikan lain masjid ini adalah ornamen eksterior dan interiornya dipenuhi pola bunga berwarna cerah. Keramik motif bunga dapat dijumpai di dinding pintu masuk dan tiang sokoguru. Ukiran bunga juga memenuhi setiap sudut bangunan merupakan pengaruh budaya Arab, Cina dan Melayu. Dahulu semua ukiran dicat dengan perwarna alami yang berasal dari pinang, tahau, jannou, sarayeu atau lembayung , kunyit dan kapur.
Karena nilai historis dan keunikannya, pemerintah menetapkan Masjid Keramat sebagai bangunan bersejarah. Dengan dikeluarkan Monumen Ordonantie STBL 238/1931. Siapapun dilarang merusak , mencoret , memindahkan , mengotori dan mencemarkan masjid tertua di Provinsi Jambi.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/134.jpg)
Masjid Kuno terletak di Dusun Koto Tua Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Pada perkembangannya masjid yang menempati lahan 2.650 m2 dinamai Masjid Keramat. Beberapa fenoman alam seperti gempa bumi tahun 1942 dan 1995 serta kebakaran 1903 dan 1939 tidak meluluh lantakan bangunan masjid yang terbuat dari kayu.
Spoiler for tiang utama beranda (kiri);pintu masjid (kanan):
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/231.jpg)
Masjid Keramat didirikan pada tahun 1780 merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.
Spoiler for beranda Masjid Keramat:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/328.jpg)
Spoiler for eksterior ornamen ukiran sulur menjadi ciri khas:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/612.jpg)
Bentuk asli Masjid Keramat terdiri dari bangunan induk berukuran 28 x 28 meter serta 25 buah tiang. Jumlah 25 tiang melambangakan jumlah 25 orang Rasul Allah. Sedangkan 5 tiang yang di dalam ruang menggambarkan jumlah Rukun Islam. Selain itu sebuah tiang besar di tengah ruangan (sokoguru) perlambang nabi Besar Muhammad SAW dan empat buah tiang lain di tengah ruang menggambarkan sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman dan ALi.
Spoiler for sisi lain-Masjid Keramat Pulau Tengah:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/525.jpg)
Keunikan lain masjid ini adalah ornamen eksterior dan interiornya dipenuhi pola bunga berwarna cerah. Keramik motif bunga dapat dijumpai di dinding pintu masuk dan tiang sokoguru. Ukiran bunga juga memenuhi setiap sudut bangunan merupakan pengaruh budaya Arab, Cina dan Melayu. Dahulu semua ukiran dicat dengan perwarna alami yang berasal dari pinang, tahau, jannou, sarayeu atau lembayung , kunyit dan kapur.
Spoiler for tiang sokoguru di tengah ruangan Masjid Keramat:
Karena nilai historis dan keunikannya, pemerintah menetapkan Masjid Keramat sebagai bangunan bersejarah. Dengan dikeluarkan Monumen Ordonantie STBL 238/1931. Siapapun dilarang merusak , mencoret , memindahkan , mengotori dan mencemarkan masjid tertua di Provinsi Jambi.
Quote:
Original Posted By Masjid Agung Pondok Tinggi
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/135.jpg)
Masjid yang terletak di jantung kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi merupakan salah satu masjid tua di Propinsi Jambi. Menjadi ikon kota Sungai Penuh yang berpisah administratif dengan Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Terbukti gambar masjid beratap tiga susun ini terdapat pada logo kota Sungai Penuh.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/232.jpg)
Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit dan bintang. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/431.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/329.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/526.jpg)
Mesjid Agung Pondok Tinggi mempunyai dua beduk besar. Yang besar disebut Tabuh Larangan. Beduk ini dibunyikan, apabila ada kejadian seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain. Beduk besar ini berukuran : panjang 7,5 m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yang kecil berada di luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 cm dan bagian belakang 69 cm). Beduk ini dibuat dari kayu yang sangat besar, ditarik beramai-ramai dari rimba, dan dilubangi bergotong-royong.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/135.jpg)
Masjid yang terletak di jantung kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi merupakan salah satu masjid tua di Propinsi Jambi. Menjadi ikon kota Sungai Penuh yang berpisah administratif dengan Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Terbukti gambar masjid beratap tiga susun ini terdapat pada logo kota Sungai Penuh.
Spoiler for beduk kecil berada di halaman masjid terbuat dari kayu utuh yang dilubangi:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/232.jpg)
Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit dan bintang. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.
Spoiler for motif sulur dan flora keunikan ukiran tiang masjid:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/431.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.
Spoiler for interior masjid ditopang oleh 36 tiang penyangga:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/329.jpg)
Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.
Spoiler for dinding masjid-bermotif flora berwarna cerah:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/06/526.jpg)
Mesjid Agung Pondok Tinggi mempunyai dua beduk besar. Yang besar disebut Tabuh Larangan. Beduk ini dibunyikan, apabila ada kejadian seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain. Beduk besar ini berukuran : panjang 7,5 m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yang kecil berada di luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 cm dan bagian belakang 69 cm). Beduk ini dibuat dari kayu yang sangat besar, ditarik beramai-ramai dari rimba, dan dilubangi bergotong-royong.
Quote:
Original Posted By Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/1.jpg)
Kerinci merupakan tempat menarik bagi peneliti arkeologi peninggalan masa Islam. Dataran tinggi di lereng bukit barisan Seblat tersebar masjid-masjid kuno bukti peninggalan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatra. Salah satunya adalah Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik yang berada di kecamatan Gunung Raya.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/2.jpg)
Kecamatan Gunung Raya berada 35 km di sebelah Selatan Kota Sungai Penuh. Berada di ketinggian 1000 meter sampai 1600 meter dpl, Lempur Mudik menyimpan kekayaan alam dan budaya. Daerah pertanian subur beriklim sejuk daya potensi wisata yang belum tergali maksimal.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/3.jpg)
Masjid Keramat Tuo memiliki aristektur atap tumpang bersusun dua bujur sangkar, mirip masjid Demak. Dindin dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya pasak. Seperti kebanyakan masjid kuno di Kerinci ornamen flora , sulur dan bentuk geometris menghiasai interior dan eksterior. Warna cerah seperti: hijau, kuning, merah dan putih mendominasi ornamen masjid.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Masjid Keramat Tuo dibangun tahun 1887, berada di pemukiman penduduk bergaya tradisional. Kawasan ini mengingatkan saya suasana kampung tua di Indonesia lainnya.
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/1.jpg)
Kerinci merupakan tempat menarik bagi peneliti arkeologi peninggalan masa Islam. Dataran tinggi di lereng bukit barisan Seblat tersebar masjid-masjid kuno bukti peninggalan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatra. Salah satunya adalah Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik yang berada di kecamatan Gunung Raya.
Spoiler for ornanem geomteris dan flora di Masjid Keramat Tuo:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/2.jpg)
Kecamatan Gunung Raya berada 35 km di sebelah Selatan Kota Sungai Penuh. Berada di ketinggian 1000 meter sampai 1600 meter dpl, Lempur Mudik menyimpan kekayaan alam dan budaya. Daerah pertanian subur beriklim sejuk daya potensi wisata yang belum tergali maksimal.
Spoiler for bangunan masjid di dominasi material kayu:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/3.jpg)
Masjid Keramat Tuo memiliki aristektur atap tumpang bersusun dua bujur sangkar, mirip masjid Demak. Dindin dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya pasak. Seperti kebanyakan masjid kuno di Kerinci ornamen flora , sulur dan bentuk geometris menghiasai interior dan eksterior. Warna cerah seperti: hijau, kuning, merah dan putih mendominasi ornamen masjid.
Spoiler for masjid beratap susun terpengaruh gaya Masjid Demak:
![[Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci](https://dl.kaskus.id/dananwahyu.files.wordpress.com/2012/07/4.jpg)
Masjid Keramat Tuo dibangun tahun 1887, berada di pemukiman penduduk bergaya tradisional. Kawasan ini mengingatkan saya suasana kampung tua di Indonesia lainnya.
Spoiler for sumber dan foto :
0
24.8K
Kutip
218
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Domestik
10.2KThread•4.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
babababy
#2
berikut gan kajian ilmiahnya
![kaskus-image]()
Pendahuluan
Wilayah Kerinci secara administratif merupakan salah satu kabupaten dari Provinsi Jambi. Wilayah ini terdiri dari enam wilayah kecamatan, yaitu Gunung Kerinci, Air Hangat, Sungai Penuh, Sitinjau Laut, Danau Kerinci; serta lima kecamatan perwakilan, yaitu Kecamatan Perwakilan Kayu Aro, Rawang, Sei Tutung, Batang Merangin dan Keliling Danau.
Batas wilayah Kabupaten Kerinci pada sebelah utara adalah Daerah tingkat II Solok, Provinsi Sumatera Barat; sebelah barat adalah Daerah Tingkat II Mukomuko, Provinsi Bengkulu; sebelah timur adalah Daerah Tingkat II Bungo Tebo, Provinsi Jambi; dan sebelah selatan adalah Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko Provinsi Jambi.
Di wilayah Kerinci banyak ditemui tinggalan-tinggalan arkeologi dari masa prasejarah sampai masa Islam. Beberapa tinggalan arkeologi tersebut menunjukkan adanya kesinambungan budaya seperti penggunaan kembali batu-batu menhir untuk dijadikan nisan. Salah satu tinggalan arkeologi dari masa Islam yang dapat ditemui di wilayah ini adalah Masjid. Dari survei arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang pada tahun 1996, terhitung ada delapan buah masjid kuno yang tersebar di wilayah Kerinci. Berdasarkan persebarannya terlihat masjid-masjid tersebut terbagi menjadi dua wilayah persebaran, yaitu di sebelah barat daya Danau Kerinci dan di sebelah tenggara Danau Kerinci. Masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah barat daya adalah Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, dan Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik. Sedangkan masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah tenggara adalah Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Tamiang Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik (Mujib dan Novita 1996: 27-28).
Secara umum bahan dasar dari masjid-masjid kuno tersebut adalah kayu, namun pada beberapa masjid sudah diganti dengan semen. Bentuk dari masjid yang terbuat dari kayu berupa bnagunan panggung. Meskipun demikian pada masjid-masjid yang terbuat dari semen menunjukkan bahwa benutk awal dari bangunan tersebut berupa bangunan panggung, hal ini dapat diketahui dari tiang-tiang pada ruang utama masjid yang pada bagian bawahnya terdapat lubang-lubang bekas balok penyangga lantai. Denah dari keseluruhan masjid-masjid kuno tersebut adalah segi empat (Mujib dan Novita 1996).
Atap masjid berupa atap tumpang yang terdiri atas dua sampai tiga susun. Pada beberapa masjid terdapat variasi bentuk pada susunan teratas atapnya yang berupa kubah. Dibagian atas atap umumnya terdapat hiasan mustaka yang berbentuk bawang, bulat sabit dan bintang, serta gada dengan lapik berbentu bulat pipih. Umumnya masjid-masjid tersebut dihias dengan ukiran dan tegel keramik (Mujib dan Novita 1996).
Dalam perkembangannya kebudayaan suatu daerah mengalami proses-proses pencampuran yang disebabkan oleh adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tersebut dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing. Proses pencampuran budaya ini dikenal dengan istilah akulturasi (Koentjaraningrat 1989: 247-248). Proses akulturasi akan terjadi karena adanya hubungan dan pergaulan suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat lain, di mana masing-masing masyarakat saling memberikan dan menerima pengaruh (Poespowardojo 1986: 33).
Menurut Soewadji Syafei, bila kedua bangsa tersebut mempunyai tingkat kebudayaan yang hampir sama maka kemungkinan terjadinya percampuran kebudayaan sangat besar, tetapi jika tidak terdapat kesamaan pada pola kebudayaan dari masyarakat atau bangsa tersebut kemungkinan tidak terjadinya percampuan kebudayaan juga sangat besar (1986: 97-98).
Di dalam proses percampuran kebudayaan dikenal istilah local genius. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales dalam tulisannya The Making of Greater India: A Study in South-east Asia Culture Change, yaitu mengenai bentuk-bentuk kesenian di Jawa, Khmer, dan Indo Cina yang menunjukkan satu sumber yang sama yaitu India tetapi masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri yang kemudian dianggap oleh Quaritch Wales sebagai local genius. Menurutnya local genius merupakan kemampuan menyerap dari suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing sampai dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik dan tidak terdapat di daerah asalnya. Dengan demikian local genius merupakan kekuatan yang dimiliki masyarakat setempat yang mampu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan yang mampu pula berkembang untuk masa-masa mendatang. Sehingga dapat dikatakan juga local genius merupakan filter dalam menerima pengaruh kebudayaan asing (Poespowardojo 1986; 33; Subadio 1986: 23; Syafei 1986: 98).
Sebagaimana diketahui bahwa masjid sebagai salah satu bentuk tinggalan arkeologi dari masa Islam tentunya memiliki unsur-unsur kebudayaan baik lokal maupun asing karena pada dasarnya Islam sebagai agama tidak melahirkan corak kebudayaan baru khususnya budaya materi yang mengantikan budya pra Islam (Nawawi 1990: 273-287). Berdasarkan uraan tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini mengenai akulturasi pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Dalam tulisan ini proses akulturasi yang akan dibahas didasarkan pada pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno tersebut.
Hiasan-hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci
1. Hiasan Ukiran
Hiasan ukiran terdapat di hampir semua masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Hiasan ini terdiri dari beberapa motif, yaitu sulur-suluran, bunga, tali, medalion, dan lidah api. Berikut uraian mengenai motif-motif pada hiasan ukiran tersebut:
1a. Motif Sulur-suluran
Motif sulur-suluran adalah motif yangberupa tumbuh-tumbuhan yang menjalar, motif ini dapat ditemui pada hampir semua hiasan ukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Teknik ukir dari motif hias ini dilakukan dengan dua cara, yaitu teknik ukir tembus dan teknik ukir timbul. Pada mihrab Masjid Agung Pondok Tinggi dan bagian atas pintu masuk Masjid Lempur Tengah terlihat motif sulur-sulurannya membentuk wujud kepala kala seperti yang terdapat pada bangunan candi. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Lempur Tengah motif sulur-suluran ini dipadukan dengan motif bunga. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya merah, hijau tua, hijau muda, kuning, putih, biru tua, dan krem.
1b. Motif Bunga
Motif ini dapat ditemukan di hampir semua hiasan uukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi motif bunga terdapat di dinding masjid yang berfungsi juga sebagai ventilasi. Pada Masjid Lempur Mudik motif bunganya dipadukan dengan motif tali. Pada masjid tersebut juga terdapat variasi bentuk dari motif bunga ini, yaitu berbentuk kuncup dan berbentuk bunga yang mekar. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya hijau, merah, kuning, biru, putih, dan coklat.
1c. Motif Tali
Motif ini dapat ditemui pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah dan Masjid Lempur Mudik. Motif ini terdiri dari motif bunga dan motif tali pada sisi-sisinya. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya biru, hijau, merah, kuning, dan putih.
1e. Motif Lidah api
Motif lidah api merupakan istilah lokal Kerinci yang berupa jalinan bentuk lengkung yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai lidah api.Motif ini hanya terdpat di Masjid Nurul Iman Lolo Hilir. Pada masjid tersebut motif ini dipaduikan dengan hiasan antefiks . Warna-warna yang digunakan pada motif ini adalah merah, biru, hijau, dan kuning.
2. Hiasan Baluster
Penyebutan hiasan ini didasrkan pada bentuknya yangmenyerupai baluster, yaitu bagian dari tangga atau balkon yang terbuat dari kayu, batu, logam, atau terakota yang berbentuk melenkung dan menyerupai vas atau botol (Mills 1965: 19). Hiasan ini dapat ditemui di Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ini terbuat dari kayu dan berfungsi juga sebagai ventilasi . Warna-warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya merah, kuning, biru, dan hijau.
3. Hiasan Roster
Istilah roster berasal dari Bahasa Belanda rooster, yaitu lubang-lubang yang berfungsi sebagai ventilasi (Wojowasito 1978: 552). Hiasan roster umumnya terdapat pada bangunan yang masif dan berupa lubang-lubang kecing yang disusung sehingga membentuk pola tertentu. Hiasan ini hanya dapat dijumpai pada masjid-masjid yang terbuat dari semen, yaitu Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir . Warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya disesuaikan dengan warna dinding masjid, seperti pada Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik diberi warna putih; sedangkan pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir tidak diberi warna. Hiasan roster yang diberi warna hanya terdapat di Masjid Tamiang Hilir. Warna-warna yang digunakan adalah kuning, merah, dan biru.
bersambung....
Quote:

Hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci
Oleh: Aryandini Novita
Oleh: Aryandini Novita
Pendahuluan
Wilayah Kerinci secara administratif merupakan salah satu kabupaten dari Provinsi Jambi. Wilayah ini terdiri dari enam wilayah kecamatan, yaitu Gunung Kerinci, Air Hangat, Sungai Penuh, Sitinjau Laut, Danau Kerinci; serta lima kecamatan perwakilan, yaitu Kecamatan Perwakilan Kayu Aro, Rawang, Sei Tutung, Batang Merangin dan Keliling Danau.
Batas wilayah Kabupaten Kerinci pada sebelah utara adalah Daerah tingkat II Solok, Provinsi Sumatera Barat; sebelah barat adalah Daerah Tingkat II Mukomuko, Provinsi Bengkulu; sebelah timur adalah Daerah Tingkat II Bungo Tebo, Provinsi Jambi; dan sebelah selatan adalah Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko Provinsi Jambi.
Di wilayah Kerinci banyak ditemui tinggalan-tinggalan arkeologi dari masa prasejarah sampai masa Islam. Beberapa tinggalan arkeologi tersebut menunjukkan adanya kesinambungan budaya seperti penggunaan kembali batu-batu menhir untuk dijadikan nisan. Salah satu tinggalan arkeologi dari masa Islam yang dapat ditemui di wilayah ini adalah Masjid. Dari survei arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang pada tahun 1996, terhitung ada delapan buah masjid kuno yang tersebar di wilayah Kerinci. Berdasarkan persebarannya terlihat masjid-masjid tersebut terbagi menjadi dua wilayah persebaran, yaitu di sebelah barat daya Danau Kerinci dan di sebelah tenggara Danau Kerinci. Masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah barat daya adalah Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, dan Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik. Sedangkan masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah tenggara adalah Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Tamiang Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik (Mujib dan Novita 1996: 27-28).
Secara umum bahan dasar dari masjid-masjid kuno tersebut adalah kayu, namun pada beberapa masjid sudah diganti dengan semen. Bentuk dari masjid yang terbuat dari kayu berupa bnagunan panggung. Meskipun demikian pada masjid-masjid yang terbuat dari semen menunjukkan bahwa benutk awal dari bangunan tersebut berupa bangunan panggung, hal ini dapat diketahui dari tiang-tiang pada ruang utama masjid yang pada bagian bawahnya terdapat lubang-lubang bekas balok penyangga lantai. Denah dari keseluruhan masjid-masjid kuno tersebut adalah segi empat (Mujib dan Novita 1996).
Atap masjid berupa atap tumpang yang terdiri atas dua sampai tiga susun. Pada beberapa masjid terdapat variasi bentuk pada susunan teratas atapnya yang berupa kubah. Dibagian atas atap umumnya terdapat hiasan mustaka yang berbentuk bawang, bulat sabit dan bintang, serta gada dengan lapik berbentu bulat pipih. Umumnya masjid-masjid tersebut dihias dengan ukiran dan tegel keramik (Mujib dan Novita 1996).
Dalam perkembangannya kebudayaan suatu daerah mengalami proses-proses pencampuran yang disebabkan oleh adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tersebut dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing. Proses pencampuran budaya ini dikenal dengan istilah akulturasi (Koentjaraningrat 1989: 247-248). Proses akulturasi akan terjadi karena adanya hubungan dan pergaulan suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat lain, di mana masing-masing masyarakat saling memberikan dan menerima pengaruh (Poespowardojo 1986: 33).
Menurut Soewadji Syafei, bila kedua bangsa tersebut mempunyai tingkat kebudayaan yang hampir sama maka kemungkinan terjadinya percampuran kebudayaan sangat besar, tetapi jika tidak terdapat kesamaan pada pola kebudayaan dari masyarakat atau bangsa tersebut kemungkinan tidak terjadinya percampuan kebudayaan juga sangat besar (1986: 97-98).
Di dalam proses percampuran kebudayaan dikenal istilah local genius. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales dalam tulisannya The Making of Greater India: A Study in South-east Asia Culture Change, yaitu mengenai bentuk-bentuk kesenian di Jawa, Khmer, dan Indo Cina yang menunjukkan satu sumber yang sama yaitu India tetapi masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri yang kemudian dianggap oleh Quaritch Wales sebagai local genius. Menurutnya local genius merupakan kemampuan menyerap dari suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing sampai dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik dan tidak terdapat di daerah asalnya. Dengan demikian local genius merupakan kekuatan yang dimiliki masyarakat setempat yang mampu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan yang mampu pula berkembang untuk masa-masa mendatang. Sehingga dapat dikatakan juga local genius merupakan filter dalam menerima pengaruh kebudayaan asing (Poespowardojo 1986; 33; Subadio 1986: 23; Syafei 1986: 98).
Sebagaimana diketahui bahwa masjid sebagai salah satu bentuk tinggalan arkeologi dari masa Islam tentunya memiliki unsur-unsur kebudayaan baik lokal maupun asing karena pada dasarnya Islam sebagai agama tidak melahirkan corak kebudayaan baru khususnya budaya materi yang mengantikan budya pra Islam (Nawawi 1990: 273-287). Berdasarkan uraan tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini mengenai akulturasi pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Dalam tulisan ini proses akulturasi yang akan dibahas didasarkan pada pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno tersebut.
Hiasan-hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci
1. Hiasan Ukiran
Hiasan ukiran terdapat di hampir semua masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Hiasan ini terdiri dari beberapa motif, yaitu sulur-suluran, bunga, tali, medalion, dan lidah api. Berikut uraian mengenai motif-motif pada hiasan ukiran tersebut:
1a. Motif Sulur-suluran
Motif sulur-suluran adalah motif yangberupa tumbuh-tumbuhan yang menjalar, motif ini dapat ditemui pada hampir semua hiasan ukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Teknik ukir dari motif hias ini dilakukan dengan dua cara, yaitu teknik ukir tembus dan teknik ukir timbul. Pada mihrab Masjid Agung Pondok Tinggi dan bagian atas pintu masuk Masjid Lempur Tengah terlihat motif sulur-sulurannya membentuk wujud kepala kala seperti yang terdapat pada bangunan candi. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Lempur Tengah motif sulur-suluran ini dipadukan dengan motif bunga. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya merah, hijau tua, hijau muda, kuning, putih, biru tua, dan krem.
1b. Motif Bunga
Motif ini dapat ditemukan di hampir semua hiasan uukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi motif bunga terdapat di dinding masjid yang berfungsi juga sebagai ventilasi. Pada Masjid Lempur Mudik motif bunganya dipadukan dengan motif tali. Pada masjid tersebut juga terdapat variasi bentuk dari motif bunga ini, yaitu berbentuk kuncup dan berbentuk bunga yang mekar. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya hijau, merah, kuning, biru, putih, dan coklat.
1c. Motif Tali
Motif ini dapat ditemui pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah dan Masjid Lempur Mudik. Motif ini terdiri dari motif bunga dan motif tali pada sisi-sisinya. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya biru, hijau, merah, kuning, dan putih.
1e. Motif Lidah api
Motif lidah api merupakan istilah lokal Kerinci yang berupa jalinan bentuk lengkung yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai lidah api.Motif ini hanya terdpat di Masjid Nurul Iman Lolo Hilir. Pada masjid tersebut motif ini dipaduikan dengan hiasan antefiks . Warna-warna yang digunakan pada motif ini adalah merah, biru, hijau, dan kuning.
2. Hiasan Baluster
Penyebutan hiasan ini didasrkan pada bentuknya yangmenyerupai baluster, yaitu bagian dari tangga atau balkon yang terbuat dari kayu, batu, logam, atau terakota yang berbentuk melenkung dan menyerupai vas atau botol (Mills 1965: 19). Hiasan ini dapat ditemui di Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ini terbuat dari kayu dan berfungsi juga sebagai ventilasi . Warna-warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya merah, kuning, biru, dan hijau.
3. Hiasan Roster
Istilah roster berasal dari Bahasa Belanda rooster, yaitu lubang-lubang yang berfungsi sebagai ventilasi (Wojowasito 1978: 552). Hiasan roster umumnya terdapat pada bangunan yang masif dan berupa lubang-lubang kecing yang disusung sehingga membentuk pola tertentu. Hiasan ini hanya dapat dijumpai pada masjid-masjid yang terbuat dari semen, yaitu Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir . Warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya disesuaikan dengan warna dinding masjid, seperti pada Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik diberi warna putih; sedangkan pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir tidak diberi warna. Hiasan roster yang diberi warna hanya terdapat di Masjid Tamiang Hilir. Warna-warna yang digunakan adalah kuning, merah, dan biru.
bersambung....
Spoiler for sumber:
0
Kutip
Balas