TS
AnglerfishHero
[Orific]Kumpulan oneshot Anglerfish
Satu trit yang saya buat untuk menampung karya-karya saya yang berupa oneshot. Karena saya males bikin 1 trit untuk setiap oneshot 
Kripik dan saran sangat diharapkan, yang pedes-pedes juga oke. Sesingkat dan sesimple apapun, tanggapan dari pembaca selalu saya hargai
tapi jangan cuma nulis 'nice story gan'
Index oneshot:
1. Petrus Part 1,Part 2
2. Fantasi Fiesta 2012 : Penyesalan Dari Sebuah Keabadian Part 1,Part 2,Part 3
3. A Teaser for Nanashi
cat: apdet tarsok![[Orific]Kumpulan oneshot Anglerfish](https://dl.kaskus.id/s3.amazonaws.com/TrollEmoticons/fuckthatshit.png)

Kripik dan saran sangat diharapkan, yang pedes-pedes juga oke. Sesingkat dan sesimple apapun, tanggapan dari pembaca selalu saya hargai

tapi jangan cuma nulis 'nice story gan'

Index oneshot:
1. Petrus Part 1,Part 2
2. Fantasi Fiesta 2012 : Penyesalan Dari Sebuah Keabadian Part 1,Part 2,Part 3
3. A Teaser for Nanashi
cat: apdet tarsok
0
3K
Kutip
28
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
AnglerfishHero
#5
Spoiler for Penyesalan Dari Sebuah Keabadian:
Ravana memecah bilah senjatanya kembali menjadi asap hitam kemerahan tak berbentuk. Dengan satu kibasan, asap itu membesar dan mengenai segalanya yang mengelilingi mereka, berubah menjadi api dan meledak.
\tAsgeir terpana melihat pemandangan disekitarnya. Kota yang dihancurkan dalam satu serangan, penduduk yang musnah terbakar, bau mayat hangus memenuhi udara yang panas.
\t
\tTidak!
\tBerterima kasihlah Asgeir, kali ini bukan kau yang mengotori tanganmu dengan nyawa penduduk kota. Lagipula sekarang tidak akan ada yang mengganggu kita. Ejek Ravana.
\t
\tDibutakan oleh kemarahan, Asgeir semakin membabi buta. Tembakan demi tembakan pusaran angin diluncurkan kearah Ravana. Namun tidak ada yang berhasil melukainya. Semuanya ditangkis oleh tebasan vajra yang kembali membentuk pedang bermata dua.
\t
\tRavana kembali menyilangkan kedua vajranya, dia akan melakukan serangan yang sama seperti sebelumnya, tapi dia mengumpulkan tenaga lebih banyak lagi.
\tKali ini mati kau!
\tTembakan dari Ravana jauh lebih besar dari sebelumnya. Kali ini siap menghancurkan segalanya yang tersisa dari kota itu. Dan Asgeir tertelan dalam tembakan petir hitam.
\tKetika Asgeir membuka matanya, dia terkejut melihat pemandangan di depannya.
\tRhea, berdiri di depannya, memasang perisai energi berwarna kebiruan yang memancar dari kedua tangannya. Tapi perisai itu sudah terbelah, dan Rhea tampak bersimbah darah.
\tRhea! Apa yang kau lakukan? Asgeir tampak begitu panik, dia tidak menyangka ini akan terjadi.
\tKarena kau harus bertahan hidup. Jawab Rhea dengan terputus-putus.
\tTenanglah Rhea, jangan bicara dulu. Asgeir mendekap Rhea dalam kepanikan, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
\tAku sudah mengetahui kisahmu wahai Sang Raja Dari Masa Lampau Asgeir Am-Lagash
\tAku ingin kau tetap bertahan hidup kau tidak boleh mati begitu saja karena akan berbahaya jika Ravana yang bertahan hidup
\tJangan menyia-nyiakan keabadianmu karena itu anugerah, bukanlah kutukan teruslah berpetualang dan suatu hari nanti ceritakan semuanya padaku
\tKarena walaupun kau mahluk abadi aku yakin suatu hari nanti, kita bisa bertemu kembali Aron
\tRhea telah kehilangan nyawanya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Asgeir. Dia hanya bisa terdiam sambil mendekap jasad Rhea, menahan suara tangis walau air matanya sudah mengalir.
\tOh, begitu sentimental. Kurasa karena inikah kau menjadi lemah Asgeir. Ucap Ravana kembali mengejek.
\tAsgeir meletakkan jasad Rhea dan berdiri tegap, menghadap Ravana.
\tApa kau tahu, apa yang membuatku memiliki kekuatan untuk memperluas kekuasaan dari selatan hingga hampir mencapai sepertiga dunia? Tanya Asgeir. Dia mengeluarkan kalung dengan batu berwarna kemerahan yang tersimpan di balik bajunya.
\tAku menyegel kekuatanku disini dan belum pernah kupakai satu kalipun melawanmu.
\tKalung itu memancarkan cahaya merah yang membutakan mata. Dan begitu cahaya itu memudar, tampaklah Asgeir dengan pakaian yang sudah berubah menjadi pakaian yang dia kenakan sebagai Sang Raja dari masa lampau, bersenjatakan tombak berwarna merah.
\t
\tIni adalah tombak yang menjadi senjata pusakaku. Senjata yang dibuat dari bintang. Senjata yang menjadi sumber tenaga yang memulai peradabanku. Yang mencabut tanah kerajaanku dari dasar laut dan menjadikannya sebuah benua.
\tKekuatan Asgeir meningkat begitu drastis. Area disekitarnya terasa ditekan oleh energi yang begitu besar, bebatuan disekitarnya terangkat melayang.
\tJadi inikah kekuatanmu yang sebenarnya? Yang mengalahkan pasukanku dimasa lalu? Bagus! Permainan kita akan semakin menyenangkan! Tantang Ravana.
\t
\tTebasan tombak itu mengeluarkan pusaran angin berapi seperti serangannya yang sebelumnya. Namun kali ini jauh lebih kuat. Tembakan pusaran angin berapi kali ini berhasil melukai kulit Ravana. Bukannya merasa sakit, Ravana justru tertawa semakin keras dengan setiap luka yang diterimanya.
\tSudah lama aku tidak merasakan kesenangan bertempur seperti ini! Teriak Ravana.
\tKalau begitu, ini yang terakhir. Musnahlah kau untuk selama-lamanya.
\tAsgeir mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, dan menebaskannya vertikal ke tanah dengan begitu keras. Serangan angin berapi kali ini bahkan lebih besar daripada serangan terkuat Ravana yang sebelumnya.
Jika ada orang yang sedang melihat kota ini dari jauh, dia akan melihat api dari tengah kota yang begitu besar, bergulung-gulung bagaikan badai. Menembus kota ini hingga mencapai pantai di sebelah barat, beberapa kilometer jauhnya.
\tRavana masih berdiri tegak didepan Asgeir, namun tubuhnya begitu penuh luka. Tampak jelas bahwa dia tidak akan sanggup bertarung lagi.
\tSeperti kataku, kau atau aku yang mati. Nikmatilah keabadianmu, wahai Sang Raja dari Selatan. Ravana mengucapkan perpisahan, bukan dalam nada kemarahan atau kekesalan. Tapi dalam senyuman puas, seolah menyelesaikan pertarungan dengan Asgeir berarti keinginannya sudah tercapai, sekalipun dia kalah.
\tRavana telah tewas, jasadnya terpecah menjadi debu dan menghilang ditiup angina, seiring matahari yang mulai terbit.
\t***
\tAsgeir berdiri di bukit diatas sebuah padang rumput, beberapa kilometer dari kota Varnadh yang telah dihancurkannya bersama Ravana. Dari sana dia masih bisa melihat sisa-sisa reruntuhan kota.
\tDidepannya tampak segundukkan tanah dengan lempeng batu sederhana sebagai nisan. Disana dia menguburkan Jasad Rhea, gadis yang dicintainya. Yang begitu ingin dia jaga senyumannya.
\tNamun dia tidak sanggup memenuhi keinginan gadis itu untuk membawanya berkeliling dunia. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah meneruskan pengembaraannya bersama keabadiannya. Sesuatu yang telah dia sadari merupakan anugerah berkat pertemuannya dengan Rhea.
\tMaka dia meninggalkan tempat itu, sembil berharap suatu hari nanti dia akan benar-benar bertemu kembali dengan Rhea, di surga dimana dia akan menceritakan setiap hal yang dialaminya.
\tAsgeir terpana melihat pemandangan disekitarnya. Kota yang dihancurkan dalam satu serangan, penduduk yang musnah terbakar, bau mayat hangus memenuhi udara yang panas.
\t
\tTidak!
\tBerterima kasihlah Asgeir, kali ini bukan kau yang mengotori tanganmu dengan nyawa penduduk kota. Lagipula sekarang tidak akan ada yang mengganggu kita. Ejek Ravana.
\t
\tDibutakan oleh kemarahan, Asgeir semakin membabi buta. Tembakan demi tembakan pusaran angin diluncurkan kearah Ravana. Namun tidak ada yang berhasil melukainya. Semuanya ditangkis oleh tebasan vajra yang kembali membentuk pedang bermata dua.
\t
\tRavana kembali menyilangkan kedua vajranya, dia akan melakukan serangan yang sama seperti sebelumnya, tapi dia mengumpulkan tenaga lebih banyak lagi.
\tKali ini mati kau!
\tTembakan dari Ravana jauh lebih besar dari sebelumnya. Kali ini siap menghancurkan segalanya yang tersisa dari kota itu. Dan Asgeir tertelan dalam tembakan petir hitam.
\tKetika Asgeir membuka matanya, dia terkejut melihat pemandangan di depannya.
\tRhea, berdiri di depannya, memasang perisai energi berwarna kebiruan yang memancar dari kedua tangannya. Tapi perisai itu sudah terbelah, dan Rhea tampak bersimbah darah.
\tRhea! Apa yang kau lakukan? Asgeir tampak begitu panik, dia tidak menyangka ini akan terjadi.
\tKarena kau harus bertahan hidup. Jawab Rhea dengan terputus-putus.
\tTenanglah Rhea, jangan bicara dulu. Asgeir mendekap Rhea dalam kepanikan, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
\tAku sudah mengetahui kisahmu wahai Sang Raja Dari Masa Lampau Asgeir Am-Lagash
\tAku ingin kau tetap bertahan hidup kau tidak boleh mati begitu saja karena akan berbahaya jika Ravana yang bertahan hidup
\tJangan menyia-nyiakan keabadianmu karena itu anugerah, bukanlah kutukan teruslah berpetualang dan suatu hari nanti ceritakan semuanya padaku
\tKarena walaupun kau mahluk abadi aku yakin suatu hari nanti, kita bisa bertemu kembali Aron
\tRhea telah kehilangan nyawanya. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Asgeir. Dia hanya bisa terdiam sambil mendekap jasad Rhea, menahan suara tangis walau air matanya sudah mengalir.
\tOh, begitu sentimental. Kurasa karena inikah kau menjadi lemah Asgeir. Ucap Ravana kembali mengejek.
\tAsgeir meletakkan jasad Rhea dan berdiri tegap, menghadap Ravana.
\tApa kau tahu, apa yang membuatku memiliki kekuatan untuk memperluas kekuasaan dari selatan hingga hampir mencapai sepertiga dunia? Tanya Asgeir. Dia mengeluarkan kalung dengan batu berwarna kemerahan yang tersimpan di balik bajunya.
\tAku menyegel kekuatanku disini dan belum pernah kupakai satu kalipun melawanmu.
\tKalung itu memancarkan cahaya merah yang membutakan mata. Dan begitu cahaya itu memudar, tampaklah Asgeir dengan pakaian yang sudah berubah menjadi pakaian yang dia kenakan sebagai Sang Raja dari masa lampau, bersenjatakan tombak berwarna merah.
\t
Spoiler for :

\tIni adalah tombak yang menjadi senjata pusakaku. Senjata yang dibuat dari bintang. Senjata yang menjadi sumber tenaga yang memulai peradabanku. Yang mencabut tanah kerajaanku dari dasar laut dan menjadikannya sebuah benua.
\tKekuatan Asgeir meningkat begitu drastis. Area disekitarnya terasa ditekan oleh energi yang begitu besar, bebatuan disekitarnya terangkat melayang.
\tJadi inikah kekuatanmu yang sebenarnya? Yang mengalahkan pasukanku dimasa lalu? Bagus! Permainan kita akan semakin menyenangkan! Tantang Ravana.
\t
\tTebasan tombak itu mengeluarkan pusaran angin berapi seperti serangannya yang sebelumnya. Namun kali ini jauh lebih kuat. Tembakan pusaran angin berapi kali ini berhasil melukai kulit Ravana. Bukannya merasa sakit, Ravana justru tertawa semakin keras dengan setiap luka yang diterimanya.
\tSudah lama aku tidak merasakan kesenangan bertempur seperti ini! Teriak Ravana.
\tKalau begitu, ini yang terakhir. Musnahlah kau untuk selama-lamanya.
\tAsgeir mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, dan menebaskannya vertikal ke tanah dengan begitu keras. Serangan angin berapi kali ini bahkan lebih besar daripada serangan terkuat Ravana yang sebelumnya.
Jika ada orang yang sedang melihat kota ini dari jauh, dia akan melihat api dari tengah kota yang begitu besar, bergulung-gulung bagaikan badai. Menembus kota ini hingga mencapai pantai di sebelah barat, beberapa kilometer jauhnya.
\tRavana masih berdiri tegak didepan Asgeir, namun tubuhnya begitu penuh luka. Tampak jelas bahwa dia tidak akan sanggup bertarung lagi.
\tSeperti kataku, kau atau aku yang mati. Nikmatilah keabadianmu, wahai Sang Raja dari Selatan. Ravana mengucapkan perpisahan, bukan dalam nada kemarahan atau kekesalan. Tapi dalam senyuman puas, seolah menyelesaikan pertarungan dengan Asgeir berarti keinginannya sudah tercapai, sekalipun dia kalah.
\tRavana telah tewas, jasadnya terpecah menjadi debu dan menghilang ditiup angina, seiring matahari yang mulai terbit.
\t***
\tAsgeir berdiri di bukit diatas sebuah padang rumput, beberapa kilometer dari kota Varnadh yang telah dihancurkannya bersama Ravana. Dari sana dia masih bisa melihat sisa-sisa reruntuhan kota.
\tDidepannya tampak segundukkan tanah dengan lempeng batu sederhana sebagai nisan. Disana dia menguburkan Jasad Rhea, gadis yang dicintainya. Yang begitu ingin dia jaga senyumannya.
\tNamun dia tidak sanggup memenuhi keinginan gadis itu untuk membawanya berkeliling dunia. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah meneruskan pengembaraannya bersama keabadiannya. Sesuatu yang telah dia sadari merupakan anugerah berkat pertemuannya dengan Rhea.
\tMaka dia meninggalkan tempat itu, sembil berharap suatu hari nanti dia akan benar-benar bertemu kembali dengan Rhea, di surga dimana dia akan menceritakan setiap hal yang dialaminya.
0
Kutip
Balas