TS
AnglerfishHero
[Orific]Kumpulan oneshot Anglerfish
Satu trit yang saya buat untuk menampung karya-karya saya yang berupa oneshot. Karena saya males bikin 1 trit untuk setiap oneshot 
Kripik dan saran sangat diharapkan, yang pedes-pedes juga oke. Sesingkat dan sesimple apapun, tanggapan dari pembaca selalu saya hargai
tapi jangan cuma nulis 'nice story gan'
Index oneshot:
1. Petrus Part 1,Part 2
2. Fantasi Fiesta 2012 : Penyesalan Dari Sebuah Keabadian Part 1,Part 2,Part 3
3. A Teaser for Nanashi
cat: apdet tarsok![[Orific]Kumpulan oneshot Anglerfish](https://dl.kaskus.id/s3.amazonaws.com/TrollEmoticons/fuckthatshit.png)

Kripik dan saran sangat diharapkan, yang pedes-pedes juga oke. Sesingkat dan sesimple apapun, tanggapan dari pembaca selalu saya hargai

tapi jangan cuma nulis 'nice story gan'

Index oneshot:
1. Petrus Part 1,Part 2
2. Fantasi Fiesta 2012 : Penyesalan Dari Sebuah Keabadian Part 1,Part 2,Part 3
3. A Teaser for Nanashi
cat: apdet tarsok
0
3K
Kutip
28
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
AnglerfishHero
#3
Fantasi Fiesta 2012 : Penyesalan Dari Sebuah Keabadian
Spoiler for Penyesalan Dari Sebuah Keabadian:
Seorang pemuda berambut merah dan panjang berkuncir, sedang berdiri di tengah sebuah jembatan. Melamun memandangi aliran sungai Beryl yang membelah kota kecil Varnadh. Kota yang tidak terlalu ramai. Walaupun begitu terlihat kereta kuda, gerobak para pedagang, atau bahkan kendaraan dengan teknologi uap yang masih jarang berseliweran di jalan-jalan kota.
\tAron. Terdengar suara seorang gadis memanggil nama pemuda itu. Dari tempatnya berdiri, dia mencari asal suara tersebut. Di salah satu ujung jembatan, tampak seorang gadis cantik dengan rambut pirang sepunggung melambai kearahnya.
\tHari sudah semakin sore, ayo kita pulang. Ucap gadis itu.
\t
\tAron meninggalkan jembatan itu, menyusuri jalan pulang menuju rumah Rhea. Dari saat meninggalkan jembatan tersebut hingga saat di perjalanan pulang, Aron melangkah dalam diam. Tidak satupun kata terucap, seolah dia terlalu sibuk memikirkan sesuatu.
\tAda apa Aron? Tidak biasanya kau sediam ini. Lagipula, sebenarnya apa yang kau lakukan sejak siang tadi? Hanya melamun di tengah jembatan itu. Tanya Rhea.
\tAh, tidak apa-apa. Hanya kebetulan saja hari ini aku teringat sesuatu. Jawab Aron.
\tApa itu?
\tBukan apa-apa, hanya sesuatu yang sudah lama terjadi.
\tSetelah berjalan kaki selama setengah jam, mereka sampai di rumah Rhea. Dia hanya tinggal sendiri hingga Aron, pengembara yang sudah lama berkeliling, suatu hari memutuskan mencari tempat menumpang untuk tinggal dan bertemu dengan Rhea di kota ini. Kedua orang tua Rhea telah meninggal dan saudara-saudaranya tinggal terpisah di kota lain. Dengan adanya Aron disini, Rhea mendapat bantuan untuk mengurus rumah. Terutama pekerjaan berat seperti memotong dan mengangkut kayu bakar, atau memindah-mindahkan barang di gudang.
\tHei, rasanya sudah lama aku tidak mendengar cerita lagi darimu. Apa kau sudah kehabisan cerita? Tanya Rhea kepada Aron, di tengah-tengah pekerjaannya mengangkut kayu bakar.
\tBenarkah? Sudah lama? Kukira yang terakhir baru 4 hari yang lalu?
\tSeperti kebanyakan seorang pengembara, Aron memiliki banyak cerita yang dia dapatkan dari berbagai daerah yang dikunjungi. Berbagai kisah dari masyarakat setempat maupun pengalamannya sendiri.
\tBaiklah. Kali ini, aku punya cerita mengenai sekelompok petualang yang kutemui langsung saat aku mengunjungi suatu kota di daerah pantai timur kota Eitsteilen. Jawab Aron sambil duduk di atas setumpuk gelondongan kayu. Seperti biasa, Rhea ikut duduk disebelahnya, mendengarkan dengan antusias.
***
\tHari sudah mulai larut. Aron yang mulai mengantuk menemukan Rhea sedang duduk termenung di teras rumahnya, menatap langit malam berbintang.
\tAda apa Rhea? Sepertinya kali ini kau yang sibuk memikirkan sesuatu. Tanya Aron.
Rhea hanya menatapnya dalam diam. Kemudian ia bergeser, memberi isyarat agar Aron duduk disebelahnya.
\tSeingatku aku memang belum menceritakan ini padamu. Tapi, kau tahu Aron? Sebenarnya
Ada apa Rhea?
Aku, mempunyai penyakit, kelainan pada jantung. Dan karenanya, aku tak akan berumur panjang.
\t
\tAron jelas tampak terkejut mendengarnya. Tapi karena tahu Rhea belum selesai bicara, dia membiarkan Rhea melanjutkan.
\tYang kukhawatirkan bukan fakta kalau aku tidak akan bertahan hidup cukup lama. Sebenarnya aku sudah siap untuk meninggalkan dunia ini kapan saja. Tapi, itu semua berubah sejak aku mengenalmu.
\tTapi, kenapa Rhea? Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah padamu? Kenapa tiba-tiba ini bisa menjadi kesalahanku? Jawab Aron dengan penuh nada heran dan terkajut. Bagaimana tidak, tiba-tiba seorang yang begitu dekat dengannya bisa merasakan kebimbangan dalam hatinya, dan itu karena kesalahannya.
\tTidak, aku tidak menyalahkanmu. Justru aku senang, sangat senang bisa mengenalmu Aron. Hanya saja
\tKenapa Rhea? Katakan saja.
\tSejak aku mendengar begitu banyak cerita darimu, aku sadar kalau ada begitu banyak yang belum kuketahui di dunia ini. Ada begitu banyak tempat yang belum kukunjungi dan begitu banyak kisah yang belum kudengar.
\tAku merasa aku tidak akan puas sebelum aku bisa mendatangi dan melihat berbagai tempat dengan mataku sendiri. Aku tidak akan puas sebelum bisa merasakan dunia luar yang belum kukenal. Dunia diluar rumah dan kebunku yang sempit ini.
\tMereka berdua terdiam. Tampaklah bahwa Aron tidak melakukan kesalahan, justru dia memberi semangat dan keinginan baru bagi Rhea. Tapi kenyataannya, dia takut kalau keinginan itu tidak akan bisa tercapai selama dia masih hidup.
\tAku bisa membawamu bepergian ke tempat manapun yang kau mau Rhea. Dan penyakitmu itu, aku yakin kita bisa menemukan cara untuk menyembuhkannya. Aku berjanji, akan membantu memenuhi keinginanmu, bagaimanapun caranya. Aron mencoba mengiburnya, berharap dia bisa mengembalikan semangat dan keceriaan Rhea seperti biasa.
\t
\tRhea terdiam beberapa saat mendengarnya, kemudian ia menjawab Aron dengan tersenyum.
\tTerima kasih Aron, aku sangat senang kalau kau mau melakukan itu untukku. Tapi tetap saja, kurasa itu belum cukup.
\tBelum cukup? Apa maksudmu Rhea?
\tSepanjang apapun umur manusia, tidak akan cukup baginya menjelajahi setiap tempat di dunia. Walaupun aku berumur panjang, aku tetap takut petualanganku belum selesai.
\tAh, apa-apaan aku ini? Aku jadi terdengar seperti gadis rewel yang meminta macam-macam. Lanjut Rhea sambil tertawa kecil.
\tAron ikut tersenyum melihatnya. Sebenarnya dia bersedia melakukan apapun demi Rhea, tidak lain semua karena perasaannya yang tumbuh sejak mengenal gadis periang itu.
\tTapi, tetap saja, seandainya bisa aku menginginkan umur yang lebih panjang lagi untuk mememenuhi keinginanku itu. Bahkan mungkin, keabadian.
\tApa kau yakin? Jawab Aron.
\tEh? Apa maksudmu.
\tMereka saling bertatapan dalam kesunyian, hingga akhirnya Aron mulai berbicara.
\tAda satu cerita, legenda tepatnya, yang dikatakan sebagai kisah tertua yang pernah ada. Mengenai seseorang yang memperoleh keabadian.
\t
\tAron. Terdengar suara seorang gadis memanggil nama pemuda itu. Dari tempatnya berdiri, dia mencari asal suara tersebut. Di salah satu ujung jembatan, tampak seorang gadis cantik dengan rambut pirang sepunggung melambai kearahnya.
\tHari sudah semakin sore, ayo kita pulang. Ucap gadis itu.
\t
\tAron meninggalkan jembatan itu, menyusuri jalan pulang menuju rumah Rhea. Dari saat meninggalkan jembatan tersebut hingga saat di perjalanan pulang, Aron melangkah dalam diam. Tidak satupun kata terucap, seolah dia terlalu sibuk memikirkan sesuatu.
\tAda apa Aron? Tidak biasanya kau sediam ini. Lagipula, sebenarnya apa yang kau lakukan sejak siang tadi? Hanya melamun di tengah jembatan itu. Tanya Rhea.
\tAh, tidak apa-apa. Hanya kebetulan saja hari ini aku teringat sesuatu. Jawab Aron.
\tApa itu?
\tBukan apa-apa, hanya sesuatu yang sudah lama terjadi.
\tSetelah berjalan kaki selama setengah jam, mereka sampai di rumah Rhea. Dia hanya tinggal sendiri hingga Aron, pengembara yang sudah lama berkeliling, suatu hari memutuskan mencari tempat menumpang untuk tinggal dan bertemu dengan Rhea di kota ini. Kedua orang tua Rhea telah meninggal dan saudara-saudaranya tinggal terpisah di kota lain. Dengan adanya Aron disini, Rhea mendapat bantuan untuk mengurus rumah. Terutama pekerjaan berat seperti memotong dan mengangkut kayu bakar, atau memindah-mindahkan barang di gudang.
\tHei, rasanya sudah lama aku tidak mendengar cerita lagi darimu. Apa kau sudah kehabisan cerita? Tanya Rhea kepada Aron, di tengah-tengah pekerjaannya mengangkut kayu bakar.
\tBenarkah? Sudah lama? Kukira yang terakhir baru 4 hari yang lalu?
\tSeperti kebanyakan seorang pengembara, Aron memiliki banyak cerita yang dia dapatkan dari berbagai daerah yang dikunjungi. Berbagai kisah dari masyarakat setempat maupun pengalamannya sendiri.
\tBaiklah. Kali ini, aku punya cerita mengenai sekelompok petualang yang kutemui langsung saat aku mengunjungi suatu kota di daerah pantai timur kota Eitsteilen. Jawab Aron sambil duduk di atas setumpuk gelondongan kayu. Seperti biasa, Rhea ikut duduk disebelahnya, mendengarkan dengan antusias.
***
\tHari sudah mulai larut. Aron yang mulai mengantuk menemukan Rhea sedang duduk termenung di teras rumahnya, menatap langit malam berbintang.
\tAda apa Rhea? Sepertinya kali ini kau yang sibuk memikirkan sesuatu. Tanya Aron.
Rhea hanya menatapnya dalam diam. Kemudian ia bergeser, memberi isyarat agar Aron duduk disebelahnya.
\tSeingatku aku memang belum menceritakan ini padamu. Tapi, kau tahu Aron? Sebenarnya
Ada apa Rhea?
Aku, mempunyai penyakit, kelainan pada jantung. Dan karenanya, aku tak akan berumur panjang.
\t
\tAron jelas tampak terkejut mendengarnya. Tapi karena tahu Rhea belum selesai bicara, dia membiarkan Rhea melanjutkan.
\tYang kukhawatirkan bukan fakta kalau aku tidak akan bertahan hidup cukup lama. Sebenarnya aku sudah siap untuk meninggalkan dunia ini kapan saja. Tapi, itu semua berubah sejak aku mengenalmu.
\tTapi, kenapa Rhea? Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah padamu? Kenapa tiba-tiba ini bisa menjadi kesalahanku? Jawab Aron dengan penuh nada heran dan terkajut. Bagaimana tidak, tiba-tiba seorang yang begitu dekat dengannya bisa merasakan kebimbangan dalam hatinya, dan itu karena kesalahannya.
\tTidak, aku tidak menyalahkanmu. Justru aku senang, sangat senang bisa mengenalmu Aron. Hanya saja
\tKenapa Rhea? Katakan saja.
\tSejak aku mendengar begitu banyak cerita darimu, aku sadar kalau ada begitu banyak yang belum kuketahui di dunia ini. Ada begitu banyak tempat yang belum kukunjungi dan begitu banyak kisah yang belum kudengar.
\tAku merasa aku tidak akan puas sebelum aku bisa mendatangi dan melihat berbagai tempat dengan mataku sendiri. Aku tidak akan puas sebelum bisa merasakan dunia luar yang belum kukenal. Dunia diluar rumah dan kebunku yang sempit ini.
\tMereka berdua terdiam. Tampaklah bahwa Aron tidak melakukan kesalahan, justru dia memberi semangat dan keinginan baru bagi Rhea. Tapi kenyataannya, dia takut kalau keinginan itu tidak akan bisa tercapai selama dia masih hidup.
\tAku bisa membawamu bepergian ke tempat manapun yang kau mau Rhea. Dan penyakitmu itu, aku yakin kita bisa menemukan cara untuk menyembuhkannya. Aku berjanji, akan membantu memenuhi keinginanmu, bagaimanapun caranya. Aron mencoba mengiburnya, berharap dia bisa mengembalikan semangat dan keceriaan Rhea seperti biasa.
\t
\tRhea terdiam beberapa saat mendengarnya, kemudian ia menjawab Aron dengan tersenyum.
\tTerima kasih Aron, aku sangat senang kalau kau mau melakukan itu untukku. Tapi tetap saja, kurasa itu belum cukup.
\tBelum cukup? Apa maksudmu Rhea?
\tSepanjang apapun umur manusia, tidak akan cukup baginya menjelajahi setiap tempat di dunia. Walaupun aku berumur panjang, aku tetap takut petualanganku belum selesai.
\tAh, apa-apaan aku ini? Aku jadi terdengar seperti gadis rewel yang meminta macam-macam. Lanjut Rhea sambil tertawa kecil.
\tAron ikut tersenyum melihatnya. Sebenarnya dia bersedia melakukan apapun demi Rhea, tidak lain semua karena perasaannya yang tumbuh sejak mengenal gadis periang itu.
\tTapi, tetap saja, seandainya bisa aku menginginkan umur yang lebih panjang lagi untuk mememenuhi keinginanku itu. Bahkan mungkin, keabadian.
\tApa kau yakin? Jawab Aron.
\tEh? Apa maksudmu.
\tMereka saling bertatapan dalam kesunyian, hingga akhirnya Aron mulai berbicara.
\tAda satu cerita, legenda tepatnya, yang dikatakan sebagai kisah tertua yang pernah ada. Mengenai seseorang yang memperoleh keabadian.
\t
Lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu. Masa dimana tanah beku Muspellheim di selatan masih berupa gurun pasir. Disana telah berdiri peradaban pertama di dunia. Jauh lebih tua dari reruntuhan di tengah gurun pasir, lebih kuno dari benua yang ditenggelamkan ke dinginnya dasar laut. Peradaban yang dikatakan berdiri dengan diangkat dari kedinginan dan kegelapan membeku dengan kekuatan energi dari pecahan bintang yang jatuh ke bumi.
\tDari pedesaan kecil, berkembang menjadi kota, berkembang menjadi kerajaan besar. Hingga mereka mencapai masa keemasan dan Sang Raja merasa senang. Dengan senjata pusaka Sang Raja, setiap musuh yang mencoba menyerang kerajaan itu tidak ada yang bisa melangkah setapak pun ke wilayahnya.
\tAkhirnya rasa senang Sang Raja berubah menjadi kesombongan dan ketamakan. Dibutakan oleh kekuatan dari senjata pusakanya, dia memulai perang dengan wilayah sekitarnya, mencoba memperluas kekuasaannya.
\tHingga kekuasaanya hampir mencapai sepertiga dunia. Ketamakannya mencapai batasnya dan berubah menjadi kecemasan. Dia takut menua, takut akan kematian sebelum menguasai seluruh dunia, dan takut kalau penerusnya tidak akan sanggup menanggung kekuasaan yang akan diserahkannya.
\tMaka dia memutuskan, dia tidak akan meneruskan kekuasaanya karena takut penerusnya merupakan orang yang lemah. Dia mencari cara mendapatkan waktu untuk mencapai keinginannya menguasai seluruh dunia dan menjaga kekuasaanya selama mungkin untuk dirinya sendiri. Dia mencari keabadian.
\tHingga suatu hari dia mendapatkan keabadian. Kesombongan dan ketamakan semakin menguasai jiwanya. Dan ketika dia sadar akan kesalahannya, semua sudah terlambat. Bahkan dengan keabadian Sang Raja, kerajaannya sendiri tidaklah abadi.
\tPinggiran kekuasaan mengalami pemberontakan, dan wilayah pusat kekuasaan digempur bencana alam. Kerajaan mengalami kehancuran yang bahkan tidak bisa diselamatkan dengan kekuataannya.
\tMenjadi satu-satunya yang bertahan hidup, kehilangan orang-orang yang dekat dengannya, dia kehilangan semangat. Menyembunyikan jati dirinya dan mengembara tanpa tujuan. Setiap dia mulai menemukan tempat baru yang dia sebut rumah, tempat itu juga tidak bertahan lama. Dia abadi, tapi tidak dengan teman-temannya, dengan tetangga-tetangganya, dengan keluarga barunya. Mereka habis ditelan waktu.
\tMaka dia kembali mengembara tanpa tujuan, mengulang penderitaan karena keabadiannya. Menyaksikan orang-orang yang berarti baginya menghilang satu-persatu. Dia mencoba menutup dari sambil mencari cara menghilangkan kutukannya.
\tSampai sekarang, tidak ada yang tahu akan keberadaannya.
\tDari pedesaan kecil, berkembang menjadi kota, berkembang menjadi kerajaan besar. Hingga mereka mencapai masa keemasan dan Sang Raja merasa senang. Dengan senjata pusaka Sang Raja, setiap musuh yang mencoba menyerang kerajaan itu tidak ada yang bisa melangkah setapak pun ke wilayahnya.
\tAkhirnya rasa senang Sang Raja berubah menjadi kesombongan dan ketamakan. Dibutakan oleh kekuatan dari senjata pusakanya, dia memulai perang dengan wilayah sekitarnya, mencoba memperluas kekuasaannya.
\tHingga kekuasaanya hampir mencapai sepertiga dunia. Ketamakannya mencapai batasnya dan berubah menjadi kecemasan. Dia takut menua, takut akan kematian sebelum menguasai seluruh dunia, dan takut kalau penerusnya tidak akan sanggup menanggung kekuasaan yang akan diserahkannya.
\tMaka dia memutuskan, dia tidak akan meneruskan kekuasaanya karena takut penerusnya merupakan orang yang lemah. Dia mencari cara mendapatkan waktu untuk mencapai keinginannya menguasai seluruh dunia dan menjaga kekuasaanya selama mungkin untuk dirinya sendiri. Dia mencari keabadian.
\tHingga suatu hari dia mendapatkan keabadian. Kesombongan dan ketamakan semakin menguasai jiwanya. Dan ketika dia sadar akan kesalahannya, semua sudah terlambat. Bahkan dengan keabadian Sang Raja, kerajaannya sendiri tidaklah abadi.
\tPinggiran kekuasaan mengalami pemberontakan, dan wilayah pusat kekuasaan digempur bencana alam. Kerajaan mengalami kehancuran yang bahkan tidak bisa diselamatkan dengan kekuataannya.
\tMenjadi satu-satunya yang bertahan hidup, kehilangan orang-orang yang dekat dengannya, dia kehilangan semangat. Menyembunyikan jati dirinya dan mengembara tanpa tujuan. Setiap dia mulai menemukan tempat baru yang dia sebut rumah, tempat itu juga tidak bertahan lama. Dia abadi, tapi tidak dengan teman-temannya, dengan tetangga-tetangganya, dengan keluarga barunya. Mereka habis ditelan waktu.
\tMaka dia kembali mengembara tanpa tujuan, mengulang penderitaan karena keabadiannya. Menyaksikan orang-orang yang berarti baginya menghilang satu-persatu. Dia mencoba menutup dari sambil mencari cara menghilangkan kutukannya.
\tSampai sekarang, tidak ada yang tahu akan keberadaannya.
0
Kutip
Balas