![kaskus-image]()
Kami kembali mengunjungi
Desa Pekuncendi Kecamatan
Jatilawang, Kabupaten
Banyumas, Jawa Tengah. Sebelumnya Kami menyabangi desa ini saat masyarakatnya menggelar ritual tahunan di bulan Syawal.
Dan menjelang bulan ramadhan, masyarakat Desa Pekuncen yang sebagian besar menganut Islam Kepercayaan hasil ajaran
Kyai Bonokeling kembali melaksanakan ritual adatnya.
Nyadran. Yang maknanya membersihkan diri memasuki bulan yang suci.
Sepuluh hari menjelang bulan ramadhan, Desa Pekuncen tidak seperti biasanya. Penduduknya yang jumlahnya lima ribuan jiwa terlihat tidak lagi menyibukan dirinya di ladang, di kebun atau disawah.
Mereka bersiap menyambut datangnya para tamu dari luar desa yang juga akan turut menyemarakan nyadran yang tidak lama lagi akan digelar di Makam Keramat Kyai Bonokeling.
Kami melihat ratusan orang mulai bergerak menuju Pekuncen. Umumnya, mereka datang dari wilayah Cilacap. Ada yang dari Adipala, Kroya. Orang-orang ini pantas disambut.
Niat yang besar untuk mengikuti nyadran kali ini membuat mereka rela berjalan kaki sejauh 30 an kilometer dari tempat tinggalnya hingga desa Pekuncen, dimana makam Kyai Bonokeling berada.
Mereka telah siap untuk nyadran. Lihat saja pakaian yang mereka kenakan. Yang laki-laki berbusana hitam dengan sarung menutupi kaki. Penutup kepala kas Jawa juga mereka kenakan.
Sementara yang perempuan berkebaya, lengkap dengan kainnya. Busana inilah yang terus mereka pakai nanti selama acara nyadran berlangsung. Bukan pekerjaan yang mudah berjalan sejauh 30 an kilometer dengan busana ini. Ditambah lagi barang-barang yang mereka bawa.
Kaum laki-laki memikul bawaannya seberat lebih dari 10 kilogram dan perempuan mengendongnya dengan kain. Seperti perempuan Jawa umumnya bila membawa barang. Desa Kali Urip adalah perbatasan Cilacap dan Banyumas yang dijadikan tempat tempat peristirahatan terakhir, sebelum sampai di Pekuncen.
Mereka memang harus beristirahat. Setelah 4 jam perjalanan, mereka tak mampu menyembunyikan rasa lelahnya. Disini pula barang bawaan mereka diletakkan berjajar. Jumlahnya terbilang banyak. Lihat saja dari tandu ini.
Kami sempat melongok isi bawaan mereka. Ternyata berupa kebutuhan pokok. Ada kue, beras, cabai, aneka sayuran, telur, ayam bahkan ada kambing. Barang-barang ini adalah wujud rasa syukur mereka atas limpahan rejeki dan nanti akan direlakan untuk berpindah tangah.
Di desa perbatasan ini mereka disambut warga Pekuncen. Tokoh adat desa tetangga duduk di tenda khusus yang telah disiapkan. Sambil menanti tamu lainnya, para penjemput dari Pekuncen melakukan sungkeman kepada tokoh adat desa tetangga. Ini menjadi pertanda para tamu dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Pekuncen. Satu lagi pelajaran, tamu begitu dihormati.
Warga Pekuncenlah yang bertanggungjawab atas barang-barang ini. Kami sempat kagum saat barang-barang ini dibawa. Semuanya begitu teratur. Dibawa beriringan, tanpa saling mendahului. Itu adat yang harus dipatuhi. Satu pelajaran lagi buat Kami.
Sore hari di Pekuncen. Kesibukan makin terasa. Wajar saja desa ini kedatangan 1300 an tamu. Kedatangan mereka bisa jadi juga sebagai wujud rasa syukur terhindar dari bencana gempa dan tsunami beberapa waktu lalu.
Rumah kyai juru kunci sang juru kunci yang memiliki peran besar disetiap acara adat di Pekuncen ini padat dipenuhi tamu. Demikian pula rumah 5 kyai Pedogol, sang pembantu kyai juru kunci.
Tak jauh dari rumah kyai juru kunci, ada sebuah bangunan yang sering disebut sebagai tempat pasemuan. Disinilah salah satu tempat yang biasa dipakai bila acara adat digelar di Pekuncen. Seperti nyadran kali ini.
Kyai Juru Kunci Kyai Pedogol dan Kyai Lurah duduk bersila. Mereka menunggu para tamu yang akan caos atau sungkem untuk meminta keselamatan dari Sang Pencipta melalui kyai dan ijin mengikuti acara nyadran yang tak lama lagi akan digelar.
Kaum perempuan mendapat giliran caos lebih dahulu. Kembali Kami seolah diingatkan untuk mendahulukan perempuan, bukan karena lemah tapi sebuah penghormatan. Satu persatu menghadap para kyai. Sejumlah keinginan disampaikan. Para kyai melengkapi dengan doa yang terucap.
Kyai juru kunci adalah imam dan ketua tokoh adat. Ialah yang menjadi sumber ajaran, karena ajaran Kyai Bonokeling disampaikan hanya secara lisan. Itupun berlangsung hingga kini. Apa yang terucap dari sang imam, itulah yang harus dipatuhi.
Kepemimpinan kyai juru kunci diwariskan secara turun temurun dan haruslah keturunan langsung dari Kyai Bonokeling. Sang kyai juru kuncilah yang memiliki peran sentral diacara nyadran di Pekuncen ini.
Segmen: 2
Malam itu malam Jumat Kliwon. Di Pasemuan kaum laki-laki berkumpul. Mereka melantunkan puji-pujian. Serangkaian doa juga dipanjatkan kepada Sang Maha Kuasa.
Nyadran sudah dimulai di Pekuncen. Asap dupa yang erat dengan setiap ritual adat di Pekuncen mengepul di Pasemuan malam itu.
Tak cuma asap yang pekat, aromanya pun menyengat hidung. Sementara lantunan puji-pujian dan doa terus terdengar menembus kesunyian malam. Bagi penganut Islam Kepercayaan di Pekuncen, nyadran adalah ritual tahunan yang harus diikuti.
Ajaran Islam Kepercayaan yang mengikuti Kyai Bonokeling di Pekuncen ini memang berbeda dengan ajaran Islam. Mereka tidak menjalankan sholat 5 waktu. Mereka hanya melakukan salat yakni berbuat baik, memberi ketauladan kepada sesama manusia, menghormati yang tua dan memuja nenek moyang. Mereka tetap mempercayai adanya Tuhan.
Malam kian larut. Saatnya salah satu ritus yang ditunggu yakni ritus turun jimat. Tradisi ini adalah mengeluarkan jimat yang selama ini tersimpan rapi dibungkus kain putih dan diletakkan ditempat yang khusus.
Selain hanya dijalankan sewindu atau 8 tahun sekali, ritus ini juga diyakini bisa memberikan berkah bila menyaksikannya.Sebelum ritus ini dimulai para tokoh adat membuat sesaji berupa makanan yang akan dimasukkan kedalam peti.
Saat jimat benda pusaka diturunkan dari tempatnya. Mantra terus dibacakan dipimpin oleh kyai juru kunci. Benda pusaka ini berupa gentang atau lonceng sapi.
Warga Pekuncen dan penganut Islam Kepercayaan ini begitu hikmad mengikuti ritus ini. Keyakinan mendapat berkah dengan menyaksikan ritus turun jimat ini membuat mereka rela berdesakan untuk tidak melewatinya. Rasa letih dan lelah terkalahkan oleh keyakinan mereka, meski tetap harus membuka mata hingga pukul 5 pagi itu.