Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
TS
TangkubanPerahu
Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
Selamat Pagi dan Selamat berpuasa bagi yang menjalanakan (muslim), di kesempatan kali ini ane mau share dikit nih gan tentang Tradisi-tradisi Acara Tradisional Masyarakat Di seluruh Nusantara (Indonesia) yang patut di ketahui dan biar kita-kita nih gak kelabakan juga kalo mau ngelawan negara tetangga yang mau curi salah satu kegiatan kebudayaan di nusantara ini
Yah untuk awalan dari kumpulan artikel dari berbagai sumber ini yang ane dapetin, sebelumnya perlu diketahui bahwa, (semoga) saja info yang saya bahas ini tidak
Ane rasa cukup untuk basa-basinya kali ini, selamat membaca dan semoga bermanfaat
Nah sekiranya itu dulu yang ane tahu kalau pun para kaskuser ada yang tau selain ini, dengan harapan besar bisa share dimari gan atas selebihnya dan sekurangnya mohon maaf assalamu'allaikum wr wb
Spoiler for Wajib Baca Di Akhir:
TS gak menolak hadiah buat GRPnya gan TS juga berharap walaupun sudah membaca tapi nggak posting, minimal aja gan
Dalam masyarakat Jawa, berkembang tradisi ritual nyekar(mengirim doa sembari menabur kembang) ke makam leluhur, yang biasanya dilakukan pada akhir Ruwah. Suasana itu ditandai dengan larisnya penjual bunga tabur, dan ramainya ziarah ke kuburan.
Dalam buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, karya Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000), nyekar diartikan sebagai ritual mengirim bunga ''pamulen'' kepada leluhur atau orang-orang di alam baka, sebagai suatu penghormatan. Tradisi itu sering disebutkan sebagai ritual ngirim luwur, dan telah membudaya di masyarakat Jawa dan sebagian besar bangsa Indonesia.
Pemilihan nyekar waktu di akhir Ruwah, yang biasanya dilakukan di akhir Sya'ban, telah menjadi tradisi. Karena itu, kata Kabag Humas Pemkab Wonogiri, Eko Muslich Martono SE MM, Pemkab Wonogiri sebagaimana pada kebiasan di tahun-tahun lampau, memberlakukan pemberian izin liburan cuti Ruwahan kepada para pegawainya secara bergiliran.
''Setiap pegawai diberikan hak cuti liburan ruwahan selama dua hari,'' kata Kasubag Pemberitaan Humas Pemkab, Drs Mulyanto.
Pemberian hak cuti libur ruwahan kepada pegawai, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi mereka guna melakukan tradisi ritual nyekar ke makam para leluhurnya.
Karena banyaknya orang yang nyekar, biasanya ikut ditandai dengan melonjaknya harga bunga "pamulen" (setaman). ''Harga bunga tidak naik, tapi ganti harga,'' keluh pembeli bunga tabur di pasar Wonogiri Kota.
''Pripun mboten larang, lha wong saking bakule kembang sing nyetori mriki sami nyuwun regine mindhak (Bagaimana tidak mahal, lha wong dari pedagang bunga yang memasok ke sini juga minta harganya naik),'' jelas seorang penjual, Mbah Harto di Pasar Induk Kota Wonogiri.
Mengirim Doa
Keberadaan bunga dalam tradisi ritual nyekar, merupakan penyerta pada acara mengirim doa. Abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, RT Tondo Nagoro SE menyatakan, mengirim doa merupakan inti pokok dalam ritual itu.
Keberadaan bunga, hanya merupakan sesaji penyerta, karena dipandang mengandung aroma wangi dan baik dipakai untuk pelengkap pemanjatan doa.
Inti doa nyekar, yakni memohonkan ampunan bagi roh arwah para leluhur yang mendahului seda (mati) sebagai jalan kalepasan untuk dapat mulih mula mulanira marang kasedan jati (kembali ke asalnya menuju sejatinya jalan kematian).
Dalam tradisi masyarakat Jawa, nyekar selain dilakukan di akhir Ruwah, juga ada yang melakukannya dalam Ramadan setelah tanggal 21 ke atas. Kecuali itu, ada pula yang memilih nyekar pada Riyayan, yakni tepat di saat hari H Riyadi (hari yang dianggap adi/baik) pada tanggal satu Syawal, bersamaan dengan perayaan Idul Fitri.
Di luar itu, tradisi nyekar juga dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa ketika menjelang perhelatan mantu (menikahkan anak) dan kitanan atau supitan. Atau ketika akan memulai pekerjaan besar, seperti akan membangun dan memugar rumah, sebelum memasuki pernikahan, menjelang maju ujian, serta pendadaran atau testing.
Juga selagi seseorang dililit kesulitan hidup, atau ketika usai melakukan pekerjaan besar, misalnya selepas melakukan purnapugar rumah, pindahan tempat tinggal, dan menjelang peringatan hari jadi.
Tradisi "Dugderan" (Semarang)
Spoiler for title:
Dugderan berasal dari kata dug dan der. Dug adalah suara dari bedug masjid yang ditabuh bertalu-talu sebagai tanda dimulainya puasa, der adalah suara dentuman meriam yang dulu ditembakkan secara salvo setelah bedug ditabuh. Dugderan dimulai tahun 1881Masehi ketika Semarang diperintah oleh Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Adipati (RMTA) Purbaningrat. Pemukul bedug kala itu adalah sang adipati Semarang itu, kini dilakukan oleh Wali Kota Semarang.
Ciri Khas acara ini adalah Warak Ngendok sejenis binatang rekaan yang bertubuh kambing berkepala naga kulit sisik emas, visualisasi warak ngendok dibuat dari kertas warna warni. Sosok warak memang hanya ada di Semarang. Dan dugderan tanpa warak, bukan dugderan lagi namanya.
Konon, warak memiliki makna yang dalam. Warak berasal dari bahasa Arab wiraI yang berarti santun, penuh ketaatan, tidak sombong. Ada pula yang mengatakan warak berasal dari bahasa Jawa warahyang berarti petuah baik. Dua kata itu bermakna baik semua. Pesan Ramadhan adalah agar selalu berbuat baik, tidak sombong, serta berlaku santun.
Kegiatan ini meliputi pasar rakyat yang dimulai sepekan sebelum dugderan, karnaval yang diikuti oleh pasukan merah putih, drumband, pasukan pakaian adat BHINNEKA TUNGGAL IKA , meriam , warak ngendok dan berbagai potensi kesenian yang ada di Kota Semarang.
Jalannya Upacara
Sebelum pelaksanaan dibunyikan bedug dan meriam di Kabupaten, telah dipersiapkan berbagai perlengkapan berupa :
1. Bendera
2. Karangan bunga untuk dikalungkan pada 2 (dua) pucuk meriam yang akan dibunyikan.
3. Obat Inggris (Mesiu) dan kertas koran yang merupakan perlengkapan meriam
4. Gamelan disiapkan di pendopo Kabupaten.
Adapun petugas yang harus siap ditempat :
1. Pembawa bendera
2. Petugas yang membunyikan meriam dan bedug
3. Niaga ( Pengrawit)
4. Pemimpin Upacara, biasanya Lurah/Kepala Desa setempat.
Upacara Dug Der dilaksanakan sehari sebelum bulan puasa tepat pukul 15.30 WIB.Ki Lurah sebagai Pimpinan Upacara berpidato menetapkan hari dimulainya puasa dilanjutkan berdoa untuk mohon keselamatan. Kemudian Bedug di Masjid dibunyikan 3 (tiga) kali. Setelah itu gamelan Kabupaten dibunyikan dengan irama MOGANG.
Prosesi "Dugder"
Meskipun jaman sudah berubah dan berkembang namun tradisi Dug Der masih tetap dilestarikan. Walaupun pelaksanaan Upacara Tradisi ini sudah banyak mengalami perubahan, namun tidak mengurangi makna Dug Der itu sendiri. Penyebab perubahan pelaksanaan antara lain adalah pindahnya Pusat Pemerintahan ke Balaikota di Jl Pemuda dan semakin menyempitnya lahan Pasar Malam, karena berkembangnya bangunan-bangunan pertokoan di seputar Pasar Johar.Upacara Tradisi Dug Der sekarang dilaksanakan di halaman Balaikota dengan waktu yang sama, yaitu sehari sebelum bulan Puasa. Upacara dipimpin langsung oleh Bapak Walikota Semarang yang berperan sebagai Adipati Semarang.Setalah upacara selesai dilaksnakan, dilanjutkan dengan Prosesi/Karnaval yang diikuti oleh Pasukan Merah Putih, Drum band, Pasukan Pakaian Adat Bhinneka Tunggal Ika , Meriam, Warak Ngendog dan berbagai kesenian yang ada di kota Semarang.
Dengan bergemanya suara bedug dan meriam inilah masyarakat kota Semarang dan sekitarnya mengetahui bahwa besok pagi dimulainya puasa tanpa perasaan ragu-ragu.