Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
TS
TangkubanPerahu
Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
Selamat Pagi dan Selamat berpuasa bagi yang menjalanakan (muslim), di kesempatan kali ini ane mau share dikit nih gan tentang Tradisi-tradisi Acara Tradisional Masyarakat Di seluruh Nusantara (Indonesia) yang patut di ketahui dan biar kita-kita nih gak kelabakan juga kalo mau ngelawan negara tetangga yang mau curi salah satu kegiatan kebudayaan di nusantara ini
Yah untuk awalan dari kumpulan artikel dari berbagai sumber ini yang ane dapetin, sebelumnya perlu diketahui bahwa, (semoga) saja info yang saya bahas ini tidak
Ane rasa cukup untuk basa-basinya kali ini, selamat membaca dan semoga bermanfaat
Nah sekiranya itu dulu yang ane tahu kalau pun para kaskuser ada yang tau selain ini, dengan harapan besar bisa share dimari gan atas selebihnya dan sekurangnya mohon maaf assalamu'allaikum wr wb
Spoiler for Wajib Baca Di Akhir:
TS gak menolak hadiah buat GRPnya gan TS juga berharap walaupun sudah membaca tapi nggak posting, minimal aja gan
ramadhanmerupakan bulan suci yang senantiasa dinantikan oleh umat islam. Di dalam bulan tersebut para muslimin menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Di samping ibadah puasa, bulan ramadhan juga diisi dengan amalan sunnah seperti sholat tarawih, tadarus quran, pengajian, dan lain sebagainya. Maksud daripada ibadah puasa adalah menjadikan setiap orang mukmin menjadi orang yang muttaqien, bertaqwa sepenuhnya kepadanya. Menjadi muttaqien dapat pula diartikan menjadi orang yang lebih suci, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan puasa menjadi media penyucian atau pembersihan dosa.
Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci, tidaklah salah jika kemudian di berbagai daerah berkembang berbagai tradisi penyambutan. Di kebanyakan dusun dan desa di wilayah jawa sendiri, setelah tradisi ruwahan atau nyadran, rangkaian bulan syaban diakhiri dengan tradisi padusan yang khusus untuk menyambut ramadhan.
padusan berasal dari kata dasar adus, yang artinya mandi. Dengan demikian secara sederhana padusan dapat diartikan laku atau tindakan mandi dengan maksud penyucian diri agar dapat menjalani peribadahan di bulan suci ramadhan dalam kondisi suci. Dengan keadaan suci ini, khususnya suci lahir, diharapkan tujuan peribadahan untuk mencapai ketaqwaan akan lebih terkondisi dengan lebih baik.
mandi besar, sebagai sarana penyucian itu sendiri secara kasat mata jelas dapat membersihkan badan kita dari segala macam kotoran lahir. Memang padusan sendiri mempunyai makna tidak saja secara dimensi lahiriyah, namun lebih dalam lagi memang bermakna rohaniyah. Hal ini dapat dilihat, biasanya dalam tradisi masyarakat kita, dan ini sejalan juga dengan ajaran islam, bahwa pada hari padusan atau beberapa hari menjelang puasa kaum muslimin dianjurkan untuk saling meminta maaf. Hal ini perlu dilakukan untuk meringankan beban rohaniyah agar perjalanan ibadah ramadhan kita menjadi lebih lancar dan tiada banyak hambatan menghadang.
padusan dilakukan dengan adus kramas, mandi besar, untuk menghilangkan hadast besar dan kecil. Padusan dapat dilakukan dimanapun dengan menggunakan air suci dan yang menyucikan. Dengan demikian tidaklah perlu untuk melakukan padusan harus di suatu belik atau sumber air tertentu, harus memakai air tujuh rupa, air tujuh sumber dll. Memang tradisi yang saat ini telah salah kaprah terkesan padusan harus dilakukan di tempat yang wingit, angker ataupun bertuah. Hal tersebut sebenarnya lebih banyak bersifat gugon tuhon semata.
Suasana padusan di umbul susuhan, jatinom, klaten
di kalangan para muda, bahkan telah terjadi pergeseran nilai mengenai padusan ini. Biasanya para muda mengisi padusan dengan melakukan mandi bersama di tempat pemandian atau kolam renang umum. Hal ini sebenarnya tidaklah menjadi masalah sepanjang bahwa koridor aturan agama masih tetap diindahkan. Misalkan saja masih terpisah tempat pemandian bagi kaum laki dan perempuan, dan tentu saja tidaklah pantas apabila bermandi telanjang bulat. Dengan demikian sebatas pada koridor norma, padusan dimanapun tidaklah menjadi masalah. Namun demikian satu hal yang semestinya dikedepankan dan diluruskan adalah hakikat dan tujuan dari padusan itu sendiri agar jangan sampai luntur, atau bahkan berganti dengan kepentingan nafsu syahwat manusia untuk saling mempertontonkan aurat secara massal.
selain mandi yang bermakna membersihkan diri dari segala hadas kecil maupun besar, masyarakat juga memaknai padusan lebih jauh lagi, yaitu dari segi rohaniyah. Hal tersebut dapat kita saksikan bahwa menjelang ramadhan pada hari padusan itu sendiri banyak warga yang saling meminta maaf satu dengan yang lainnya. Hal tersebut dilakukan untuk meringankan beban rohaniyah agar perjalanan ibadah ramadhan menjadi lebih lancar. Wallohu alam...
Sebagai penanda pelaksanaan hari padusan, di berbagai dusun dan desa biasanya dilakukan dengan tabuhan njedhor, pemukulan bedug di mushola maupun masjid. njedhor bisanya dilakukan pada waktu-waktu setelah pelaksanaan sholat fardlu. Njedhor menjadi alunan irama tersendiri di telinga masyarakat, dan anak-anak kampung biasanya sangat menikmati.tidak sembarang anak bisa memainkan dua pemukul bedug dengan irama yang indah untuk didengarkan. Dengan demikian keahlian njedhor merupakan tradisi unjuk kebolehan diantara sesama anak kampung.
Ya, itulah tradisi-tradisi yang masih dilakukan kebanyakan masyarakat. Ingat, itu semua hanyalah tradisi, bukan ajaran agama, apalagi ada yang mengklaim itu adalah ajaran islam, itu salah. Semoga bisa memberi wawasan bagi sobat semua
Tradisi Megengan ( Surabaya)
Spoiler for title:
Di Surabaya, menjelang Ramadan ada tradisi yang disebut Megengan. Konon, tradisi ini dimulai dari kawasan Ampel, di sekitar Masjid Ampel, Surabaya.
Megenganditandai dengan makan apem, semacam serabi tebal berdiameter sekitar 15 senti, dibuat dari tepung beras. Apemnya nyaris tawar, seperti kue mangkok yang dipakai warga keturunan Tionghoa untuk sembahyangan menjelang Imlek.
Diduga nama apem atau apam berasal dari kata afwan dalam bahasa Arab yang berarti maaf. Tradisi makan apem ini untuk memaknai permintaan maaf kepada sesama saudara, kerabat, dan teman. Sebetulnya, yang terjadi bukanlah sekadar tradisi makan apem, melainkan melaksanakan selamatan atau tahlilan dengan hidangan apem dan pisang raja untuk mendoakan arwah saudara dan kerabat yang telah meninggal, sekaligus minta maaf. Setelah tahlilan, apem dan pisang dibagikan kepada semua keluarga dan tetangga.
Di kalangan kaum jamaah (keturunan Arab) di lingkungan Ampel, Surabaya, apemnya dibuat dari tepung terigu, lebih besar dan tebal, rasanya pun lebih manis - disebut pukis. Ada lagi apem bentuk lain yang lebih khas Arab dan disebut camer. Camer biasanya dibuat dengan tape atau peuyeum, mungkin sekali sebagai pengganti ragi - karena di dalam tape masih ada ragi yang hidup.
RESEP APEM CEYLON
BAHAN:
* 500 ml santan, dari 1/2 butir kelapa
* 1/2 sdt garam
* 250 gram tepung beras
* 50 gram tepung kanji
* 125 gram gula pasir
* 1/4 sdt garam
* 2 sdt ragi instan
* minyak untuk olesan
AREH: masak diatas api sambil diaduk hingga mendidih
* 150 ml santan kental
* 1/4 sdt garam
* 1/2 lembar daun pandan, potong-potong
CARA MEMBUAT APEM CEYLON:
1. Rebus santan dan garam hingga mendidih, angkat, sisihkan. Taruh tepung beras, tepung kanji, gula pasir dan garam dalam wadah, aduk. Campurkan ragi instan ke dalam campuran tepung, aduk hingga rata.
2. Masukkan santan, aduk hingga rata dan adonan licin. Diamkan di tempat hangat selama kurang lebih 1 jam.
3. Panaskan wajan tebal bertutup dengan diameter 12 cm dia atas api sedang. Olesi dengan minyak goreng, tuang kurang lebih 50 ml adonan ke dalam wajan, tekan sedikit bagian tengahnya dengan punggung sendok agar adonan agak melebar. Tutup wajan.
4. Masak diatas api sedang selama kurang lebih 5 6 menit hingga setengah matang. Buka tutup wajan, tambahkan 1 sdm areh di atas apem. Masak terus dengan wajan tertutup hingga matang dan areh mengering, angkat.
Tradisi Meugang (Nanggroe Aceh Darussalam)
Spoiler for title:
Masyarakat Aceh punya tradisi tersendiri untuk menyambut hari-besar Islam. Tradisi ini disebut meugang. Meugang adalah tradisi rakyat Aceh menyambut Ramadhan dengan menyembelih lembu atau kerbau. Masyarakat Aceh memang tak terbiasa memakan daging setiap hari, sehingga meugang menjadi tradisi yang istimewa bagi mereka.
Sekilas, tradisi ini mirip pelaksanaan kurban di hari raya Idul Adha. Tapi, dengan meugang ini, masyarakat biasanya membeli sendiri daging tersebut.
Tradisi meugang sudah ada sejak Sultan Aceh, sekitar tahun 1.400 Masehi. Tradisi makan daging menjelang puasa, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Haji sudah mendarah daging di seluruh Aceh. Bahkan jika tidak ada uang, warga atau instansi tertentu bergotong royong mengumpulkan uang (meuripee)untuk membeli seekor kerbau. Tentu saja, ini lebih murah daripada membeli di pasar daging.
Lazimnya para dermawan memberikan sumbangan pada janda miskin, panti asuhan, orang miskin. Intinya, selama dua hari meugang, dapur menyebarkan aroma daging. Berarti semiskin-miskin orang Aceh, paling kurang setahun tiga kali makan daging pada hari Meugang.
Umumnya, masyarakat Aceh melakukan meugang ini dua hari menjelang puasa dan dua hari menjelang hari raya. Pada hari-hari itu, mereka berduyun-duyun datang ke berbagai pusat penjualan daging.
Meugang bisa dianggap punya nilai religius karena dilakukan pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam. Seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk menyucikan diri. Masyarakat Aceh memegang teguh kepercayaan bahwa nafkah yang sudah dicari selama 11 bulan penuh harus dinikmati selama bulan Ramadhan sambil beribadah. Meugang, yang dilakukan sebelum puasa, dianggap sebagai penanda dari nikmatnya beribadah di bulan Ramadhan.
Sementara meugang yang dilakukan saat Lebaran, dianggap sebagai tanda bersyukur karena telah meraih kemenangan. Mereka yang merayakan hari raya Idul Fitri dianggap telah berhasil menyucikan diri. Untuk itu, bolehlah bersyukur dengan memakan daging meugang itu.