Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
TS
TangkubanPerahu
Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
Selamat Pagi dan Selamat berpuasa bagi yang menjalanakan (muslim), di kesempatan kali ini ane mau share dikit nih gan tentang Tradisi-tradisi Acara Tradisional Masyarakat Di seluruh Nusantara (Indonesia) yang patut di ketahui dan biar kita-kita nih gak kelabakan juga kalo mau ngelawan negara tetangga yang mau curi salah satu kegiatan kebudayaan di nusantara ini
Yah untuk awalan dari kumpulan artikel dari berbagai sumber ini yang ane dapetin, sebelumnya perlu diketahui bahwa, (semoga) saja info yang saya bahas ini tidak
Ane rasa cukup untuk basa-basinya kali ini, selamat membaca dan semoga bermanfaat
Nah sekiranya itu dulu yang ane tahu kalau pun para kaskuser ada yang tau selain ini, dengan harapan besar bisa share dimari gan atas selebihnya dan sekurangnya mohon maaf assalamu'allaikum wr wb
Spoiler for Wajib Baca Di Akhir:
TS gak menolak hadiah buat GRPnya gan TS juga berharap walaupun sudah membaca tapi nggak posting, minimal aja gan
Perayaan tradisi "Dandangan" merupakan sebuah tradisi di kota Kudus yang diadakan menjelang kedatangan bulan suci Ramadan.
Dandangan merupakan pasar malam yang diadakan di sekitar Menara Kudus, sepanjang jalan Sunan Kudus, dan meluas ke lokasi-lokasi disekitarnya. Pada tradisi dandangan ini diperdagangkan beraneka ragam kebutuhan rumah tangga mulai dari peralatan rumah tangga, pakaian, sepatu, sandal, hiasan keramik sampai degan mainan anak-anak serta makan dan minuman.
Tradisi ini sudah ada sejak 450 tahun yang lalu atau tepatnya zaman Sunan Kudus (Syeh Jakfar Shodiq, salah satu tokoh penyebar agama Islam di Jawa).
Ada cerita yang sebenarnya asal usul tradisi dandangan itu sendiri.
Pada jaman dahulu masyarakat Kudus berkumpul di depan Menara Masjid "Al Aqsha" yang kini populer dengan sebutan Masjid "Menara" Kudus, menunggu pengumuman awal puasa Ramadhan dari Syeikh Dja'far Sodiq (dikenal dengan sebutan Sunan Kudus). Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tetapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur. Karena banyaknya orang berkumpul, tradisi dandangan kemudian tidak sekadar mendengarkan informasi resmi dari Masjid Menara, tetapi juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di lokasi itu.
Setelah keputusan awal puasa itu disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kudus, maka dipukullah beduk di Masjid Menara Kudus, "dang-dang-dang", begitu bunyinya. Dari suara beduk itulah, istilah dandangan lahir.
Namun seiring perkembangannya Dandangan yang dulu dikenal dengan acara tabuh beduk saja, sekarang menjelma menjadi acara selayaknya pasar malam.Banyak pedangang kaki lima menjajakan segala macam dagangannya. Menurut para pedagang,mereka tidak hanya ingin sekedar mencari keuntungan dari dagangannya,namun ingin juga memperoleh berkah dari Sunan Kudus. Ada cerita bahwa setelah ikut menyemarakkan Dandangan hasil penjualan mereka setelah itu terus meningkat.
Para pedagang itu tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar Kudus, bahkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Mereka biasanya berjualan mulai dua minggu sebelum puasa hingga malam hari menjelang puasa.
TRADISI "CUCURAK" (Bogor)
Spoiler for title:
Dua hingga satu hari sebelum tibanyapelaksanaan "shaum" (puasa) Ramadhan 1430 Hijriah, di Kota Bogor, ramai dengan kegiatan makan bersama yang dilakukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, kampung, kantor dan komunitas lainnya.
Bogor, 30/8 (Antara/FINROLL Automotive) - Dua hingga satu hari sebelum tibanya pelaksanaan "shaum" (puasa) Ramadhan 1430 Hijriah, di Kota Bogor, ramai dengan kegiatan makan bersama yang dilakukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, kampung, kantor dan komunitas lainnya.
Tradisiitu populer dengan sebutan "cucurak" dan hingga kini menjadi salah satu penanda utama geliat Ramadhan, di mana umat Islam siap untuk melaksanakan ibadah puasa yang merupakan rukun Islam keempat.
Ratusan pegawai Institut Pertanian Bogor (IPB), sehari (21/8) sebelum puasa, juga menggelar "cucurak" yang digelar di lantai 1 Gedung Rektorat Andi Hakim Nasoetion Kampus IPB Darmaga.
Kegiatan "cucurak" di IPB dilakukan tak sekadar makan bersama, namun tahun ini kualitasnya ditingkatkan yakni diwarnai dengan "khataman" kitab suci Alquran dan ceramah agama yang disampaikan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi (DKSI) IPB Prof Dr Kudang Boro Seminar.
Mengusung tema "Meningkatkan Etos Kerja Melalui Ibadah Ramadhan", Kudang Boro Seminar menyampaikan bahwa kitab suci Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan.
Bahkan, perang Badar yang terkenal dalam sejarah Islam, juga terjadi pada Bulan Ramadhan, karena perang yang untuk pertama kalinya dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW ini hanya terdiri atas 313 orang sahabat, yang harus melawan kaum kafir dalam jumlah besar.
Meski dalam jumlah sedikit dan dalam kondisi puasa, ujarnya, para sahabat terus berperang untuk menegakkan kalimat Allah.
"Karena itu, tidak ada contoh etos yang lebih baik dari sahabat Rasul tersebut. Dalam keadaan perang pun, mereka tidak meninggalkan puasa. Maka jika kita meninggalkan pekerjaan karena alasan puasa, patut malu," katanya.
Bila di IPB dilakukan "peningkatkan kualitas" dari tradisi "cucurak", sebagian besar warga Bogor lebih memilih melaksanakan "cucurak" di berbagai wahana rekreasi menyambut datangnya bulan Ramadhan, namun tetap ditujukan untuk kemanfaatan.
Sejumlah pelajar SMP dan SMA Ma`arif Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Ciomas, memilih menyelenggarakan tradisi tahunan "cucurak" di kawasan wisata Gunung Salak Endah, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.
Habib, salah seorang guru di sekolah itu mengatakan, kegiatan tersebut digelar sekolah ini setiap tahun. Lokasi yang menjadi tujuannya pun berubah dari satu tempat ke tempat lain. "Tahun lalu kami gelar `cucurak` di Kebun Raya Bogor. Kini mencari suasana baru dengan mengunjungi Gunung Salak Endah," katanya.
Tradisi "cucurak" selain dijadikan sebagai ajang makan-makan bersama-sama, kata dia, juga menjadi wahana untuk menanamkan jiwa keberanian dan mentalitas kepemimpinan anak.
"Kegiatan ini sengaja kami gelar di luar sekolah dengan mengunjungi alam terbuka, agar bakat kepemimpinan anak terasah," katanya.
Kegiatan "cucurak" juga dilakukan oleh taman kanak-kanak (TK) Nurul Awwabien, yang terletak di Kampungsawah, Desa Bojong, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor.
Menurut Situ Juriyah, guru pada TK Nurul Awwabien, kegiatan "cucurak" digagas untuk menghibur peserta didik seraya menanamkan pemahaman mengenai pentingnya berpuasa bagi anak.
"Kami menggelar cucurak dengan mengajak anak-anak bermain di kolam renang. Ini sebagai wahana rekreasi sekaligus edukasi," katanya.
Ziarah makam
Tradisi lain yang juga menonjol menjelang Ramadhan adalah ziarah ke makam, baik makam keluarga maupun tokoh ulama terkenal.
Salah satunya adalah di kawasan makam keramat Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas di Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, yang selalu "dibanjiri" oleh para peziarah.
Ribuan peziarah itu datang dari berbagai penjuru, mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) maupun daerah lainnya.
Mereka berbondong-bondong mengunjungi makam ulama yang diyakini sebagai "wali" tersebut.
Sejak pukul 05:30 WIB secara berkelompok para peziarah mulai memadati makam yang berada di belakang Masjid Jami An-Nur Empang. Bahkan pada pagi hari ratusan jamaah yang berasal dari Ujung Harapan, Bekasi, sudah tiba di masjid yang didirikan tahun 1815 itu.
Habib Hasan, salah seorang pengurus Yayasan Nurut Tauhid, yayasan yang mengelola Masjid An-Nur dan makam Keramat Empang mengatakan, fenomena ziarah umat Islam ke makam keramat tersebut merupakan pemandangan rutin tahunan.
Ia menjelaskan, kondisi itu terutama sudah terlihat sejak seminggu menjelang datangnya bulan Ramadhan, di mana para peziarah yang datang membludak, jauh lebih banyak daripada hari-hari biasa.
"Makam keramat Empang selalu ramai didatangi peziarah. Terutama setiap hari Kamis dan Jumat pada setiap pekan. Seminggu menjelang tibanya bulan Ramadhan peziarah yang datang selalu membludak dibandingkan hari-hari biasa," katanya.
Menurut Hasan, para peziarah biasanya memilih pada hari Minggu terakhir menjelang Ramadhan. Karena itu tak heran bila pada hari Minggu (16/8), sejak pagi kawasan ini "dibanjiri" peziarah.
Salah seorang peziarah bernama Asep mengaku bahwa untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, ia memilih mendatangi makam keramat Empang.
Harapannya selain bermaksud menyiapkan "bathin" menghadapi kewajiban puasa sebulan penuh juga berharap "barakah" bulan Sya`ban dengan cara berziarah ke makam orang "salih."
"Setiap datang bulan Ramadhan, saya memilih berziarah daripada jalan-jalan ke mal atau rekreasi. Dengan berziarah setidaknya ada hikmah yang bisa dipetik yaitu kita akan selalu ingat akan kematian," katanya.
Kedatangan para peziarah ke Empang membawa keberkahan tersendiri bagi para pedagang. Tak ayal sejak pagi hari para pedagang ikut "menyerbu" kawasan makam keramat Empang dengan memamerkan aneka dagangannya.
Dagangan yang dijual bervariasi mulai makanan ringan, gorengan, hasil kerajinan tangan hingga talas khas Bogor.
Wawan, salah seorang pedagang mengatakan, pada hari Minggu terakhir menjelang tibanya bulan Ramadhan biasanya sepanjang hari para peziarah yang datang selalu membludak.
Karena itu momentum tersebut ia manfaatkan sebagai ajang "mengais" rezeki dengan menjual talas Bogor.
"Biasanya setiap hari Minggu terakhir bulan Sya`ban, Empang selalu ramai didatangi peziarah. Makanya saya buka lapak," katanya.