Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
TS
TangkubanPerahu
Tradisi Masyarakat (Seputar Bulan Ramadhan) di Indonesia
Selamat Pagi dan Selamat berpuasa bagi yang menjalanakan (muslim), di kesempatan kali ini ane mau share dikit nih gan tentang Tradisi-tradisi Acara Tradisional Masyarakat Di seluruh Nusantara (Indonesia) yang patut di ketahui dan biar kita-kita nih gak kelabakan juga kalo mau ngelawan negara tetangga yang mau curi salah satu kegiatan kebudayaan di nusantara ini
Yah untuk awalan dari kumpulan artikel dari berbagai sumber ini yang ane dapetin, sebelumnya perlu diketahui bahwa, (semoga) saja info yang saya bahas ini tidak
Ane rasa cukup untuk basa-basinya kali ini, selamat membaca dan semoga bermanfaat
Nah sekiranya itu dulu yang ane tahu kalau pun para kaskuser ada yang tau selain ini, dengan harapan besar bisa share dimari gan atas selebihnya dan sekurangnya mohon maaf assalamu'allaikum wr wb
Spoiler for Wajib Baca Di Akhir:
TS gak menolak hadiah buat GRPnya gan TS juga berharap walaupun sudah membaca tapi nggak posting, minimal aja gan
KLATEN - Meski di beberapa daerah di wilayah Kabupaten Klaten panenan petani kurang menguntungkan, lantaran tanaman padi terserang hama dan puso, serta harga panenan merosot, namun perayaan tradisi sadranan yang berlangsung menjelang bulan Ramadan, tetap semarak dan meriah.
Nyekar di makam leluhur sambil berpesta
Keadaan di desa-desa di beberapa wilayah kecamatan penuh sesak oleh manusia dari segala usia. Bahkan warga luar desa pun ikut membaur, berpesta ria. Umumnya, acara tradisi tersebut dilakukan di makam-makam leluhur (pepuden).
Dari pantauan Wawasan di beberapa kampung, seperti di Dukuh Katon, dan Mipitan, Desa Somokaton, Kecamatan Karangnongko, Klaten, digelar pentas wayang kulit semalam suntuk.
Menurut seorang warga yang juga dalang dukuh setempat, Suratmo, yang akrab dengan panggilan Gudel, digelar pentas wayang kulit semalam suntuk sudah merupakan rutinitas setiap sadranan.
Ungkapan sama juga dikatakan Ketua RW Dukuh Mipitan, Drs Taryono. Di dukuhnya dalam acara sadranan juga dipentaskan wayang kulit semalam suntuk dengan Ki Dalang Sutomo, juga masih keluarga Desa Somokaton. "Di Desa Somokaton, Karangnongko memang kaya seniman termasuk dalang, dan seni- seni lainnya," kata Taryono yang juga guru SMAN Prambanan itu.
Daerah gempa
Acara serupa (pagelaran wayang kulit) juga dilangsungkan di beberapa padukuhan, termasuk daerah yang terkena gempa bumi di wilayah Klaten. Acara tradisi ritual mengirim leluhur itu nampak juga di Desa Canan, dan beberapa desa lain masuk Kecamatan Wedi, Klaten. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu berlangsung hampir runtinitas setiap malam sejak memasuki bulan Ruwah.
"Pagelaran wayang kulit di daerah bencana gempa bumi memang diselenggarakan masyarakat dengan dalangnya tidak membayar," kata Ketua Dewan Kesenian Klaten Drs Harsono, seraya menyatakan acara tradisi sadranan tahun ini bersamaan dengan peringatan HUT RI ke-64.
Di sejumlah desa, terlihat puluhan orang berlalu lalang di dukuh-dukuh. Sebagin besar dari mereka adalah anakanak muda. Suasana pada siang dan sore hari tampak lebih semarak lagi, karena terlihat betapa banyaknya anakanak muda yang masih menggunakan pakaian seragam sekolah. Ibu-ibu rumah tangga justru nyaris tidak keluar dari rumahnya, karena mereka dengan tiada henti-hentinya melayani tamu yang mampir atau datang ke rumahnya.
Kerumunan orang itu banyak di antaranya bukan dan tidak dikenal penduduk tempat acara sadranan. Beberapa warga di salah satu desa wilayah Kecamatan Klaten Utara mengatakan, pada kesempatan seperti itu semua boleh datang dan boleh makan membaur dengan penduduk setempat.
"Tidak ada istilah sudah kenal atau belum mengenal. karena bagi mereka, yang mau datang adalah saudara. Bahkan di dukuh Tegal Kwasa, Kelurahan Gergunung, Klaten Utara sini, setiap sadranan banyak di datangi warga lain desa," ungkap Budhi Susilo, salah seorang pemuka warga.
Terpantau, di setiap kampung yang sedang melangsungkan acara tradisi sadranan, nyaris tidak ada warung makanan dan minuman yang buka. Karena, siapa saja orangnya yang masuk ke kampung itu akan mendapatkan suguhan makanan dan minuman.
"Tradisi sadranan tampak tidak dipengaruhi oleh terjadinya gempa bumi yang hingga kini masih dirasakan akibatnya oleh warga soal kesulitan ekonomi.
Tradisi sadranan bagi masyarakat Jawa merupakan tradisi yang dilakukan secara turun temurun dan biasa dilaksanakan setiap bulan Ruwah menjelang bulan Ramadan (Puasa).
Begitu pula yang dilakukan di wilayah Kabupaten Klaten, yang mengadakan sadranan. Yang unik, di sejumlah kampung ada kebiasaan membawa makanan dan peralatan upacara tradisi dan berlangsung di makam.
"Setiap acara sadranan dengan pentas wayang kulit di wilayah Klaten juga merupakan tradisi yang turun menurun sejak nenek moyang, dan tepatnya kapan generasi sekarang tidak tahu persis," kata Budhi Susilo, pengamat budaya yang juga mantan pendidik Antrophologi itu. K.17-ip
Munjungan, Tradisi Nyekar Ala Desa Tambi (INDRAMAYU)
Spoiler for title:
INDRAMAYU Pada masyarakat Jawa, dikenal istilah Nyadran atau Nyekar. Sebuah istilah yang mengandung arti mengunjungi makam keluarga yang telah meninggal. Kegiatan Nyadran atau Nyekar marak dilakukan pada bulan-bulan menjelang bulan suci Ramadhan. Pada saat itu, biasanya peziarah menabur bunga di atas makam, sambil membaca doa bersama-sama. Kegiatan hampir serupa, namun berbeda dalam ritual, dilakukan di desa kecil bernama Tambi, bagian dari Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Nyandran atau Nyekar di desa ini dikenal dengan nama Munjungan. Keunikan Munjungan ini terletak pada tata ritualnya. Para peziarah makan bersama di kompleks makam sang leluhur, sambil menyaksikan pentas berbagai kesenian, macam wayang kulit, tari topeng, tarling, hingga dangdut. Yang mementaskan adalah para keluarga, anak dan cucu almarhum.
Usai Panen, Almarhum Ki Wisad, yang makamnya terletak di salah satu sudut desa Tambi, dulu adalah seorang dalang wayang kulit, dalang topeng, sekaligus seorang pelawak topeng. Maka, tidak mengherankan bila kemudian banyak anak-cucu keturunannya yang menjadi seniman. Yang membedakan lagi Munjungan dan Nyekar adalah waktu pelaksanaannya. Jika Nyekar hanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Munjungan tidak terbatas waktu. Kapan saja bisa. Namun, yang paling sering dilakukan pada bulan Jumadilakir dalam penanggalan Jawa.
Menurut Pak Taham, yang merupakan keturunan kelima belas almarhum Ki Wasad dan Nyi Nasilem, yang dijumpai di sela-sela acara Munjungan, 3 September 2001, bulan Jumadilakhir adalah bulan di saat panen kedua usai setiap tahun. Sehingga kegiatan Munjungan tersebut dapat berjalan lancar. Hal ini terkait juga dengan biaya yang ditanggung bersama oleh seluruh keluarga.
Selain makam Ki Wisad, terdapat juga makam Buyut Tambi, yang merupakan cikal bakal penduduk desa Tambi. Seperti Ki Wisad, Buyut Tambi pun adalah seorang dalang wayang kulit. Asal-muasal Buyut Tambi tak pernah diketahui secara pasti. Namun, dialah yang kemudian membuka lahan pemukiman yang saat itu masih kosong. Maka, sejak saat itu, berkembang anak-cucu Buyut Tambi di desa itu. Untuk menghormati almarhum Buyut Tambi, dinamakanlah desa itu sebagai Desa Tambi.
Meski sebagian besar penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai buruh tani, darah seni yang dimiliki Buyut Tambi ternyata tetap mengalir kuat. Maka, tidak heran bila di balik penampilan mereka yang sederhana, tersimpan kemahiran menari, menyanyi, memainkan berbagai alat musik, memahat, hingga mendalang. Ada kesepakatan tak tertulis, namun dipatuhi bersama di desa tersebut, yakni kegiatan Munjungan di makam-makam lain baru boleh diadakan, bila telah dilakukan Munjungan besar di makam Buyut Tambi, yang merupakan punden atau cikal bakal dari penduduk desa Tambi. Tidak terkecuali Munjungan di makam almarhum Ki Wisad dan Nyi Nasilem, dan Munjungan di desa-desa kecil sekitarnya.
Reuni Keluarga
Pada hari pelaksanaan Munjungan, biasanya seluruh keluarga besar, baik yang berada di wilayah Indramayu sendiri, maupun yang telah tersebar di lain tempat, akan berdatangan sejak beberapa hari sebelumnya, untuk mengadakan persiapan. Yang dilakukan adalah pembagian tugas, persiapan panggung, sampai urutan acara dan siapa saja yang akan unjuk kebolehan pada hari itu.
Maka pada hari yang telah ditentukan, sejak pagi para keluarga mulai datang berduyun-duyun membawa makanan khas, seperti tumpeng, ayam panggang, sampai urap (campuran beberapa macam sayuran rebus yang dibumbui cabai dan parutan kelapa).
Uniknya juga, tiap makanan yang dibawa, sebelumnya dilaporkan kepada salah seorang wakil keluarga yang berada tepat di sisi makam, untuk diambil sedikit dan ditaruh di atas daun pisang dan diletakkan di dekat makam yang telah harum karena aroma kemenyan yang dibakar. Makanan itu kemudian dibawa ke depan panggung, tempat para sanak keluarga telah berkumpul dengan bawaan masing-masing. Tanpa dikomando lagi, acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua ambil bagian untuk unjuk kebolehan sesuai urutan yang telah disepakati sebelumnya.
Berbagai kesenian ditampilkan, mulai dari nyanyi, tari, lawak, wayang, dangdut, dan lain-lain. Munjungan di makam Ki Wisad dan Nyi Nasilem tahun ini tampak istimewa dengan hadirnya penari topeng terkenal yang telah berusia 72 tahun, yakni Mimi Rasinah, asal desa Pekandangan, Kabupaten Indramayu.
Penari topeng yang telah malang-melintang selama puluhan tahun, dan sampai saat ini masih kerap manggung di luar negeri ini, menarikan dua macam tari topeng, yaitu Topeng Pamindo dan Topeng Kelana. Lengannya masih tampak liat dan gerakannya masih lincah ketika membawakan tarian dinamis ini.
Tepat pukul 12.00 WIB semua kegiatan dihentikan sejenak untuk memulai acara makan siang bersama. Maka berlangsunglah acara tukar-menukar lauk-pauk sembari diseling guyon di sana sini. Usai makan siang, acara pun dilanjutkan hingga malam hari, atau bahkan keesokan harinya, bila kesenian yang ditampilkan sangat banyak.
Semua orang bersuka-cita pada acara itu, tidak ada isak tangis dan air mata meski kegiatan dilakukan di komplek makam. Bahkan, masih menurut Pak Taham, Munjungan selain bermakna sebagai wujud terima kasih kepada almarhum leluhur, juga sekaligus menjadi ajang reuni keluarga besar yang telah tersebar di segala penjuru.