- Beranda
- Outdoor Adventure & Nature Clubs
Perpustakaan Pecinta Alam Dan Penggiat Ruang Terbuka..
...
TS
Tunjuk1Bintang
Perpustakaan Pecinta Alam Dan Penggiat Ruang Terbuka..
Quote:
Pendahuluan Definisi Pecinta Alam
Lebih dari 38 tahun lewat sudah, dimulai sejak dipancangkannya bendera pertama Pecinta Alam di tanah air ini, yang dipelopori di Bandung oleh kelompok Pendaki Gunung dan Penempuh rimba Wanadri, dan 3 bulan kemudian di Universitas Indonesia dengan kelompok Mapala UI - nya.
Saat ini, kepeloporan mereka telah dikuti oleh ribuan organisasi Pecinta Alam lain yang tersebar diseluruh pelosok tanah air, baik ditingkat Sekolah Menengah, Universitas maupun dari kalangan umum.
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 126 suara
Bermanfaatkah Trit ini??
Ya
71%
Tidak
29%
nona212 memberi reputasi
1
40.6K
141
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Outdoor Adventure & Nature Clubs
3KThread•5.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Tunjuk1Bintang
#6
Aspek-aspek pendekatan dalam sistem diklatdas pecinta alam
ASPEK-ASPEK PENDEKATAN
DALAM SISTEM DIKLATDAS PECINTA ALAM
Seperti yang kita ketahui, untuk membangun Pecinta Alam yang mengerti dan memahami kode etik Pecinta Alam tidaklah mudah, karena kita akan dihadapkan pada penurunan tataran nilai kualitatif Kode etik sebagai sebuah visi normatif, kedalam bentuk model sistemik yang serba terkuantifikasi.
Untuk memastikan hal itu terjadi dengan benar, atau setidaknya terdapat sebuah alat dan tolok ukur keberhasilan, maka model sistemik merupakan alternatif pilihan yang mampu memberikan peluang bagi pemikiran yang komprehensif, dan dituangkan kedalam bentuk kurikulum pendidikan dasar Pecinta Alam.
Kurikulum ini disusun atas dasar pendekatan-pendekatan awal sebagai acuan pokoknya, sehingga deviasi, distorsi, stagnasi, serta kendala lain yang mungkin kelak akan dihadapi, akan tetap dapat dipantau untuk dicarikan jalan keluarnya.
Pendekatan dimaksud adalah :
- Pendekatan pada aspek hakikat tujuan pendidikan itu sendiri
- Pendekatan pada aspek komponen kurikulum
dengan interprestasi sbb :
A. PENDEKATAN HAKIKAT TUJUAN PENDIDIKAN
Sesuai dengan yang dijabarkan oleh UNESCO-PBB mengenai sokoguru tujuan sebuah sistem pendidikan, harus mangacu setidaknya pada aspek-aspek :
1. Learn to do
2. Learn to think
3. Learn to be
4. Learn to live together.
Hal diatas pada akhirnya akan memuncaki tujuan pendidikan itu sendiri yaitu bukan sekedar untuk menciptakan keunggulan individualistik semata, namun terlebih jauh lagi adalah keunggulan partisi-patorik, karena tidak jarang sesuatu yang hanya bersifat individualistik, akhirnya akan membuat manusia menjadi serigala bagi sesamanya atau homo homini lupus.
DALAM SISTEM DIKLATDAS PECINTA ALAM
Seperti yang kita ketahui, untuk membangun Pecinta Alam yang mengerti dan memahami kode etik Pecinta Alam tidaklah mudah, karena kita akan dihadapkan pada penurunan tataran nilai kualitatif Kode etik sebagai sebuah visi normatif, kedalam bentuk model sistemik yang serba terkuantifikasi.
Untuk memastikan hal itu terjadi dengan benar, atau setidaknya terdapat sebuah alat dan tolok ukur keberhasilan, maka model sistemik merupakan alternatif pilihan yang mampu memberikan peluang bagi pemikiran yang komprehensif, dan dituangkan kedalam bentuk kurikulum pendidikan dasar Pecinta Alam.
Kurikulum ini disusun atas dasar pendekatan-pendekatan awal sebagai acuan pokoknya, sehingga deviasi, distorsi, stagnasi, serta kendala lain yang mungkin kelak akan dihadapi, akan tetap dapat dipantau untuk dicarikan jalan keluarnya.
Pendekatan dimaksud adalah :
- Pendekatan pada aspek hakikat tujuan pendidikan itu sendiri
- Pendekatan pada aspek komponen kurikulum
dengan interprestasi sbb :
A. PENDEKATAN HAKIKAT TUJUAN PENDIDIKAN
Sesuai dengan yang dijabarkan oleh UNESCO-PBB mengenai sokoguru tujuan sebuah sistem pendidikan, harus mangacu setidaknya pada aspek-aspek :
1. Learn to do
Spoiler for :
2. Learn to think
Spoiler for :
3. Learn to be
Spoiler for :
4. Learn to live together.
Spoiler for :
Hal diatas pada akhirnya akan memuncaki tujuan pendidikan itu sendiri yaitu bukan sekedar untuk menciptakan keunggulan individualistik semata, namun terlebih jauh lagi adalah keunggulan partisi-patorik, karena tidak jarang sesuatu yang hanya bersifat individualistik, akhirnya akan membuat manusia menjadi serigala bagi sesamanya atau homo homini lupus.
0